Dari Tambora ke Waterloo, 195 tahun yang lalu.

Oleh Budi Brahmantyo

(dimuat di Majalah Ilmiah Populer: EKSPEDISI GEOGRAFI INDONESIA 2010 NUSA TENGGARA BARAT – BAKOSURTANAL)

Apakah letusan dahsyat Tambora menjadi penyebab kekalahan Napoleon di Waterloo? Memang terlalu gegabah menyimpulkan hal itu. Namun marilah kita ikuti peristiwa-peristiwa bersejarah di sekitar 1815, tahun berakhirnya Perang Napoleon dan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis yang baru saja kabur dari pengasingannya di Pulau Elba dan merebut kembali tampuk kekuasaannya dari Louis XVIII, harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung dalam medan pertempuran Waterloo di Belgia. Saat itu tanggal 18 Juni 1815. Sial baginya, hujan deras yang mengguyur Belgia semalaman penuh menimbulkan banjir dan tanah menjadi becek sehingga tidak layak untuk dilalui meriam-meriam berat. Padahal untuk merebut kemenangan yang harus diraihnya dalam perang seratus hari setelah kebebasannya, pasukan Napoleon harus segera menggempur pasukan koalisi Inggris dikomandani Laksamana Wellington yang bertahan di Waterloo.

Sang Kaisar akhirnya mengundurkan waktu penyerbuan, menunggu tanah mengering. Seiring dengan itu, konsolidasi pasukan musuh akhirnya menjadi kuat ditambah datangnya pasukan Prusia. Lalu sejarah mencatat bahwa kegemilangan strategi perang Napoleon kandas di Waterloo dan Napoleon pulang ke Paris hanya untuk menandatangi pakta kekalahan dan pengasingan dirinya kembali. Ia dibuang ke pulau terpencil di Samudera Atlantik, St. Helena, hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821. Berakhirlah perang panjang 1799 – 1815 yang melanda seluruh Eropa yang dimulai ketika Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan di Perancis. .

Jauh di belahan dunia yang lain, di kepulauan yang saat itu masih bernama Hindia Timur Belanda (Netherlands East Indies), seiring berkuasanya Napoleon, ia menempatkan orang-orang pilihannya untuk menduduki tempat-tempat yang bahkan tidak terkena hiruk pikuk perang di Eropa. Diangkatlah Marcshalk Herman Willem Daendels pada tahun 1908 menjadi Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur sebagai representasi kekuasaan Perancis terhadap Negeri Belanda.

Kekuasaannya tidak lama karena dipanggil untuk membantu pasukan Perancis melawan Rusia pada tahun 1910. Ia digantikan Jan Willem Janssens. Namun Daendels telah mencatatkan sejarah pahit bagi bangsa yang dijajahnya yang setelah merdeka disebut Indonesia itu. Jalan ribuan kilometer antara Anyer – Panarukan berhasil dibangun dengan darah rakyat yang dilaluinya. Sebenarnya Daendels tidak membuat jalan baru. Kebanyakan ia hanya memperlebar dan atau memperkuat jalan lama atau jalan setapak sehingga bisa dilalui pedati. Semuanya untuk melancarkan arus kekuasaan militerismenya dan kelancaran transportasi komoditas kekayaan bumi Pulau Jawa yang tidak lain untuk biaya dan kepentingan Perang Napoleon juga.

Neraka Tambora 1815

Setelah Napoleon takluk di tangan Inggris dan ditawan di Pulau St. Helena, Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur adalah seorang bangsawan Inggris yang selain menjadi penguasa tampuk pemerintahan tertinggi, namun juga punya kepedulian terhadap ilmu pengetahuan. Dialah Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang kemudian menjadi seorang gubernur jenderal di Nusantara yang mempunyai perhatian akan peristiwa letusan gunungapi paling dahsyat di dalam sejarah umat manusia: letusan Gunung Tambora 10 April 1815.

Ialah yang kemudian memerintahkan bawahannya Letnan Phillips untuk langsung menuju lokasi bencana. Sang letnan mencatat apa yang dilihatnya ketika tiba di Dompu kira-kira sebagai berikut:

Dalam perjalananku, aku melewati hampir seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran melanda penduduk. Bencana telah  memberikan pukulan hebat. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda-tanda banyak lainnya telah terkubur. Desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh. Penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan. Diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga mati dalam jumlah yang besar…

Letusan Tambora 1815 karya Harlin & Harlin di www.smithsonianmag.com (unduh 03112011)

Raffles sendiri kemudian memberi catatan tentang letusan Tambora itu di bukunya yang terkenal “The History of Java.” Buku tebal dengan beberapa jilid itu diterbitkan pada tahun 1817 setelah ia dipanggil pulang ke Inggeris akibat dinilai salah manajemen dalam mengurus tanah jajahan di Nusantara.

Lalu bagaimana hubungan kekalahan Napoleon di Waterloo dengan letusan Tambora?

Bulan April 1815, rakyat di sekitar Semenanjung Sanggar, tempat beberapa kota ramai di bawah Kekuasaan Kerajaan Bima, gelisah dengan aktivitas Gunung Tambora. Gempa-gempa kecil terasa terus-menerus dan erupsi-erupsi permulaan terjadi dari kawah di puncak gunung yang saat itu diperkirakan mencapai ketinggian 4.000 m di atas muka laut. Buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979) mencatat aktifitas permulaan itu terjadi pada 5 April 1815 dengan suara gemuruh yang terdengar hingga Batavia (Jakarta sekarang, sejauh 1.250 km) dan Ternate (1.400 km).

Aktifitas volkanik semakin meningkat hingga mencapai puncaknya dengan suatu letusan paraksismal maha dahsyat pada tanggal 10 April 1815.  Letusan itu menghasilkan suara ledakan yang terdengar hingga Jawa dan Sumatera walaupun hanya dikira sebagai letusan meriam. Namun bagi rakyat Bima di Semenanjung Sanggar, ledakan itu tidak hanya sangat memekakkan telinga, tetapi segera disusul bencana maut. Hujan abu dan batu segera menghunjam mereka. Suatu aliran surge piroklastik awan panas yang cepat dan bersuhu di atas 500oC segera menerjang dan mengubur permukiman-permukiman yang berada di kaki-kaki gunung di sekeliling kawah Tambora.

Tidak pelak lagi, letusan-letusan dahsyat yang baru mulai reda pada 12 April 1815, mengubur seluruh lereng-lereng Tambora. Letusan itu jika mengacu kepada Indeks Eksplosivitas Volkanik (VEI: Volcanic Explosivity Index; Newhall dan Self, 1982) berada pada skala >7, skala letusan tertinggi di masa sejarah umat manusia. Volume batu yang dikeluarkan mencapai lebih dari 150 km-kubik, hampir sepuluh kali lipat dari letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Ketika letusan itu terjadi, abunya mengarah ke barat laut menyebabkan Sumbawa, Lombok, Bali, Madura dan sebagian Jawa Timur gelap gulita selama tiga hari.

Volcanic Explosivity Index (VEI) (Newhall & Self, 1982)

Korban yang berjatuhan langsung diperkirakan mencapai 10.000 orang. Dampak ikutannya berupa bencana penyakit dan kelaparan mencapai 38.000 di Sumbawa dan 44.000 di Lombok, sehingga diduga korban akibat letusan ini mencapai angka 92.000 korban meninggal.

Menurut buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979), Tambora masih bergelora walaupun aktivitasnya makin menurun hingga 15 Juli 1815. Namun Agustus 1819 masih terdengar suara gemuruh yang kuat disertai gempa bumi dan terlihatnya bara api dari kalderanya.

Letusan bertipe Plinian yang membentuk cerobong abu ke angkasa dan membentuk payung cendawan di atasnya, diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 25 km. Abunya di angkasa beredar terbawa angin stratosfer ke seluruh dunia, dan iklim dunia pun terpengaruh. Apakah abu Tambora yang beberapa minggu kemudian menyumblim di atas Eropa dan menghasilkan hujan deras di atas Waterloo? Sulit untuk mengaitkannya. Namun demikian, walaupun bulan Juni biasa terjadi hujan mengawali musim panas di Eropa, namun intensitas curah hujan tinggi tidak biasa yang luput dari perkiraan Napoleon, mungkin saja disebabkan pengaruh abu dari letusan Tambora itu.

Satu hal yang tidak terbantahkan di kalangan ilmuwan adalah perubahan iklim belahan bumi utara yang terjadi setahun kemudian pada 1816. Setelah Eropa reda dari kekacauan akibat Perang Napoleon, pemulihan kondisi ekonomi semakin terancam akibat perubahan cuaca. Gagal panen terjadi dimana-mana. Kelaparan dan wabah penyakit tak terhindarkan. Bahkan  pada waktu yang seharusnya tengah-tengah musim panas pada Juli – Agustus 1816, salju turun di beberapa tempat di belahan Bumi utara. Tahun 1816 kemudian tercatat dalam sejarah sebagai “the year without summer.” Begitulah bagaimana abu letusan Tambora mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Napoleon di Waterloo, dan benar-benar mempengaruhi iklim dunia serta tercatat menurunkan suhu Bumi sebesar 0,5oC.

Saat kami mendaki Tambora dan mencapai bibir kalderanya di pagi hari yang cerah, kami terpesona dengan kaldera luas dan dalam yang terbentang di bawah kaki kami. Dengan diameter kaldera mencapai hampir 7 km dan kedalaman hingga dasar mencapai hampir 1 km, kami hanyalah sekumpulan titik yang tidak berarti di lingkungan yang luar biasa itu. Tebing curam 70 – 90o di bawah kaki kami membuat kami ekstra hati-hati. Terpeleset sedikit tidak akan ada yang sanggup untuk selamat berguling-guling ke dasar kaldera yang sangat dalam itu.

Dinding barat kaldera Tambora dengan selang-seling lapisan lava – piroklastik berumur 500 – 1000 tahun.

Di dasar kaldera masih terlihat asap-asap solfatar dari kawah-kawah penghasil belerang. Gunungapi sekunder Doro Afitoi (secara harfiah dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil) tidak kelihatan dari dinding barat daya, tetapi itulah gunung baru yang muncul setelah letusan pembentuk kaldera 10 April 1815 itu. Selain itu pemandangan ke arah dinding barat yang waktu itu tersorot matahari pagi memperlihatkan lapisan-lapisan selang-seling antara lava dan piroklastik yang teratur rapi membentuk garis-garis lurus. Itulah lapisan-lapisan batuan yang lebih tua yang diperkirakan berumur 500 – 1000 tahun yang lalu (Heryadi dan Mujitahid, 2003).

Dalam perjalanan pulang menuruni lereng, endapan-endapan lava yang memanjang menuruni lereng dan punggungan pasir-pasir volkanik harus kami loncati, sesuatu yang tidak kami sadari saat perjalanan naik karena tidak terlihat saat hari masih gelap. Lembah-lembah dan punggungan-punggungan itu pastilah terbentuk setelah letusan dahsyat itu. Sambil berhati-hati menuruni lereng, di hadapan kami terbentang kaki gunung yang kerontang yang langsung berbatasan dengan Teluk Saleh yang tampak membiru dilatari langit yang juga membiru. Merekalah saksi kedahsyatan letusan 10 April 1815, dan bukti kesaksian itu didapatkan dari gundukan-gundukan yang tersebar luas di kaki gunung.

Batuapung di Mana-mana

Sambil terbayang sejarah sekitar tahun 1815 itu, dalam perjalanan kembali ke arah Dompu untuk menuju Sumbawabesar, tim EGI berhenti sejenak untuk mengambil foto kuda-kuda dan kerbau-kerbau yang dibiarkan bebas berkeliaran di kaki Tambora yang gersang. Saat itulah saya tertarik pada gundukan-gundukan kecil yang banyak tersebar di padang rumput itu. Gundukan-gundukan itu tampak tidak menarik perhatian tadinya, dan tidak begitu menonjol di atas permukaan tanah. Wah gundukan-gundukan apa ini?

Setelah dicongkel dengan palu geologi, ternyata gundukan-gundukan tersebut berisi kumpulan kerikil batu apung. Setelah mengamati secara lebih seksama padang rumput di kaki Tambora itu, rupanya gundukan-gundukan tersebut tersebar sangat luas dan ada di mana-mana.

Nah inilah bukti lain letusan paroksismal 10 April 1815 itu. Batu apung yang umumnya bersifat magmatis asam dengan kandungan silika tinggi, selalu berasosiasi dengan letusan gunung api bertipe Plinian pembentuk kaldera. Magma yang diletuskan oleh kekuatan dahsyat akan tersembur ke angkasa kemudian jatuh di sekeliling pusat letusan. Saat melayang jatuh butiran-butiran magma segera mendingin sambil melepaskan gas-gas yang terkandungnya. Begitulah bagaimana kemudian batu apung terbentuk dengan sifat seperti spons yang berpori dan ringan.

Gundukan-gundukan yang terjadi mempunyai bentuk yang menarik. Tingginya tidak lebih dari 30 cm dengan diameter rata-rata 100 cm. Morfologinya  melandai dari arah gunung dan mempunyai lereng curam di sisi yang lain. Dengan isi gundungan terdiri dari batu apung dapat diperkirakan bahwa gundukan-gundukan ini merupakan aliran surge awan panas yang meluncur menuruni lereng gunung setelah awan batu yang diletuskan kolaps akibat gravitasi. Saat awan bebatuan ini jatuh meluncur menuruni lereng, ia akan bergulung-gulung di atas permukaan untuk kemudian teronggokkan sebagai gundukan-gundukan itu.

Tidak dapat terbayangkan bagaimana proses ini terjadi melanda kaki gunung yang mungkin dihuni oleh perkampungan. Semuanya akan digulung dan dilumat habis oleh awan bebatuan yang suhunya diperkirakan masih sangat panas. Kondisi itulah yang kemudian terlihat pada situs-situs arkeologis yang tergali di kaki Tambora.

Pompeii di Sumbawa

Kita kembali dulu ke tahun 79. Tempatnya jauh di Italia, di Teluk Napoli. Tanggal 24 Agustus 79 terjadilah letusan tipe Plinian yang sebenarnya tidak sedahsyat Tambora tetapi tetap mematikan: letusan Gunung Vesuvius. Dua buah kota yang berada di pesisir Teluk Napoli, Herculanum dan Pompeii terkubur abu, pasir dan bebatuan dari letusan itu. Namun bencana maut yang kemudian datang ke kedua kota itu  adalah aliran piroklastik awan panas yang mematikan warga dua kota yang masih selamat dari gempuran bebatuan.

penggalian situs kampung yang terlanda awan panas Tambora 1815 (www.allvacationplace.com unduh 03112011)

Berribu tahun kemudian ketika tim ekskavasi arkeologis bekerja menggali endapan gunung api yang mengubur Pompeii pada tahun 1960an, mereka heran mendapati ruang-ruang kosong di dalam batuan. Mereka kemudian mencoba mengisi dengan cor-coran gips pada ruang-ruang kosong itu. Apa yang terjadi ketika cor-coran itu dikelupas? Tampaklah cetakan-cetakan berbentuk manusia dengan berbagai posisi yang mengenaskan. Merekalah warga Pompeii korban letusan 24 Agustus 79 yang sekarang menjadi saksi kedahsyatan letusan G. Vesuvius.

Itulah bayangan yang berkecamuk di dalam pikiran ketika melaju terguncang-guncang di atas ojek dari Dusun Pancasila, Kedindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Bima.

Keterampilan pengemudi ojek melalui jalan-jalan setapak di antara kebun kopi di lereng barat laut Tambora itu membawa kami menuju lokasi situs ekskavasi arkeologi yang sedang dikerjakan oleh Balai Arkeologi Denpasar. Sayang, ketika sampai di lokasi, kegiatan ekskavasi baru saja dihentikan dan menjadi hari terakhir setelah dua minggu berjalan. Padahal inilah situs arkeologis yang akan menjadikannya seperti di Pompeii.

Hasil ekskavasi pada tahun-tahun sebelumnya, tim Geologi dan Arkeologi menemukan sisa-sisa perkampungan yang terkubur dengan berbagai peralatan sehari-hari seperti pecahan-pecahan keramik cina, tombak, dan lain sebagainya. Tergali juga sisa-sisa beras yang sudah hitam mengarang, dan yang lebih spektakuler lagi adalah temuan kerangka-kerangka manusia korban letusan 10 April 1815 itu. Jika ekskavasi selesai sepenuhnya, maka situs ini bukan tidak mungkin akan menjadi Pompeii di Timur.

Pompeii, korban letusan plinian G. Vesuvius 79 AD (wikipedia)

Jika kita mengamati lapisan-lapisan yang menutupi galian situs itu, kita akan dapati kembali lapisan-lapisan piroklastik yang terdiri dari batuapung. Batuapung yang sama seperti dicongkel dari gundukan-gundukan di kaki barat daya. Batuapung yang sama pula ketika penduduk Doropeti membawa kami pada temuan fondasi rumah dan kuburan yang secara tidak sengaja tergali di sebuah ladang. Memang bencana yang tak terperikan yang melanda seluruh lereng di seputar Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar!

Dari pengemudi ojek dan beberapa tokoh masyarakat di sekitar Kecamatan Pekat, telah beredar luas sebuah legenda asal-usul nama Tambora, yang berasal dari kata bahasa Bima: ta’bora, yang artinya “menghilang.” Legenda itu bercerita tentang seorang ulama yang mencoba mengislamkan masyarakat animisme yang masih hidup di daerah itu. Tetapi sang ulama ditipu dengan sajian daging enak yang ternyata adalah daging anjing yang tentu saja haram untuk dimakan. Sang ulama yang marah segera berteriak “ta’ bora!” lalu menghilang seiring dengan meletusnya gunung dengan dahsyat. Begitulah asal-usul nama Tambora.

Namun kita harus kritis dengan asal-usul nama Tambora ini, jika itu mengacu kepada letusan 1815. Sudah pasti nama gunung sudah bernama Tambora sejak lama. Pada laporan berbahasa Belanda pada tahun 1815 setelah letusan itu, nama Tambora sudah digunakan untuk nama gunung ini. Laporan itu adalah “berichten over de eruptive van den Tambora op Sumbawa, van 5 – 12 April 1815, O.a. door den gezagvoerder van eep schip, dat zich toen Makassar bevond, en 19 den April op de roede van Bima aankwan, Java Government Gazette, May 20, n. 169, May 27, n. 170 1815” (dalam Kusumadinata, 1979). Jadi ada kemungkinan nama Tambora dan legenda yang mengacu pada namanya telah berlangsung sejak lama, tetapi kemudian berubah seiring perkembangan budaya manusia penuturnya.

Bagaimanapun, letusan paroksismal G. Tambora 10 April 1815 adalah catatan sejarah gunungapi dunia yang tiada taranya selama jaman sejarah umat manusia. Itulah letusan terbesar di dunia yang mungkin ikut menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, dan yang pasti mengakibatkan perubahan iklim global yang membuat tahun 1816, setahun setelah letusan, menjadi tahun tanpa musim panas. ***

Daftar Pustaka

Heryadi dan Mujitahid  (2003), Gunungapi Nusa Tenggara Barat, Publikasi Khusus No. 01 Okt 2003, IAGI Pengda Nusa Tenggara.

Kusumadinata, K., (1979), Data Dasar Gunungapi Indonesia, Penerbit Direktorat Vulkanologi, Bandung.

Newhall, C.G. and Self, S. (1982). The volcanic explosivity index (VEI): An estimate of explosive magnitude for historical volcanism, Journal of Geophysical Research 87 (C2): 1231–1238. http://www.agu.org/pubs/crossref/1982/JC087iC02p01231.shtml.

Smithsonian Institution (2010), Global Volcanism Program. Diakses pada 12 Agustus.

Wikipedia (2010), Perang Napoleon; Daendels; Raffles; Tambora. Diakses pada 9 Agustus.

‘Geological Mystery Tour’ di Karst Lengguru

ArtikelGeological Mystery Tour di Karst Lengguru‘ merupakan catatan ekspedisi geologi di karst Lengguru bersama IRD dan DKP di bulan Oktober – November 2010 lalu. Tulisan ini terbit sebagai bagian dari buku “HIDUP DI ATAS TIGA LEMPENG” yang diterbitkan oleh Badan Geologi, 2010. Terima kasih kepada Pak Oman Abdurrahman dan Parpar Priyatna yang menjadi editor buku tersebut.

Akhir Oktober 2010 bukanlah waktu yang nyaman untuk terbang ke arah Tanah Papua. Cuaca selalu mendung berawan. Hujan sekali-kali mulai tercurah di awal musim penghujan di kawasan khatulistiwa. Pesawat LionAir yang berangkat tengah malam dari Jakarta pun sempat terguncang-guncang di atas perairan Indonesia Timur. Tetapi mau bagaimana lagi? Jadwal Ekspedisi Intersains Lengguru-Kaimana 2010 yang dilaksanakan atas kerja sama Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia dan Institut de Recherche pour le Développement (IRD) Prancis dimulai di akhir Oktober yang berawan itu. Jadilah perjalanan ke Ambon dilalui dalam tidur di atas pesawat yang banyak guncangannya.

Pagi harinya di Bandara Pattimura Ambon, pesawat pengganti yang akan membawa ke Kaimana, Papua Barat bagian selatan tempat rendezvous tim ekspedisi, adalah pesawat baling-baling jenis ATR 25-700. Pesawat pun terbang rendah melintasi Laut Banda menuju Nabire terlebih dahulu, sebelum mendarat di Bandara Urarom, Kaimana, yang terkenal sebagai Kota Senja. Julukan kota ini mengacu pada lagu populer 1960-an yang dibawakan oleh Alfian, “Senja di Kaimana.”

Ketika terbang di atas “Leher Burung,” deretan pegunungan yang memanjang berbaris barat laut – tenggara sekali-kali terlihat saat awan-awan bulan Oktober tersibak. Itulah jajaran Pegunungan Emansri-Lamansiere yang tampak berrelief kasar dengan tebing-tebing terjal dan bukit-bukit runcing khas pegunungan karst. Di dalam geomorfologi karst Papua Barat, jalur pegunungan itu dikenal juga sebagai Pegunungan Karst Lengguru.

Pengaruh Tiga Lempeng

Pegunungan Karst Lengguru terbentuk dari satuan-satuan batugamping yang dipetakan sebagai Formasi Lengguru oleh Tobing, dkk (1990). Formasi ini tersusun terutama oleh kalkarenit, biokalkarenit, biomikrit ganggang-foraminifera, kalsilutit, kalkarenit pasiran, biokalsirudit, batupasir gampingan glaukonitan, batulanau, serta beberapa mengandung fragmen rijang. Lapisan-lapisannya sangat tebal mencapai lebih dari 2000 m dan umurnya terrentang dari awal Eosen hingga akhir Miosen Tengah. Sebarannya sangat luas, dimulai dari Teluk Arguni di bagian barat daya hingga tiga perempat bagian dari pegunungan ke arah timur laut berbatasan dengan formasi-formasi Pra-Tersier kira-kira pada kelurusan Sungai Urema di selatan dan Kampung Toro di utara.

Kondisi geologi struktur Pegunungan Lengguru sangat rumit. Jajaran-jajaran pegunungan itu merupakan ekspresi kondisi geologis yang sangat dipengaruhi oleh gejala-gejala perlipatan dan sesar naik yang mempunyai orientasi searah dengan morfologinya, yaitu barat laut – tenggara. Di samping itu, sesar-sesar geser mendatar memotong secara hampir tegak lurus pegunungan mengarah barat daya – timur laut. Dalam tektonik, pegunungan ini dikenal sebagai Sabuk Sesar Naik dan Lipatan Lengguru (Lengguru Fold-Thrust Belt).

Sangatlah wajar jika orientasi jajaran pegunungan, danau-danau, dan sungai juga mengarah barat laut – tenggara, atau barat daya – timur laut. Misalnya, kelurusan morfologi Teluk Bitsyari yang berada di timur Kaimana menerus ke arah utara menyambung ke Teluk Arguni setelah melalui celah G. Lowai. Kelurusan ini sangat jelas dikontrol oleh adanya sesar naik. Begitu pula Teluk Triton, Kayumerah, Lakahia dan Etna, tampak jelas dikontrol oleh sesar naik dan sesar geser mendatar sehingga garis-garis pantainya membentuk garis-garis lurus saling berpotongan hampir tegak lurus. Danau-danau di tengah pegunungan yang pastinya sulit dicapai (Sewiki, Perenusu, Aiwasa, Laamora, dan Mbuta), dari peta atau citra satelit, tampak pula merupakan produk gejala tektonik kedua jenis sesar tersebut.

Kondisi geologi dan tektonik itu rupanya merupakan hasil interaksi antara dua lempeng raksasa, yaitu Pasifik dan Australia, yang kemudian melibatkan pula lempeng kecil Kepala Burung. Dalam buku “An Outline of the Geology of Indonesia” (editor Darman dan Sidi, 2000), tabrakan oblik yang terjadi antara Lempeng Pasifik dan Australia yang terjadi selama evolusi tektonik Kenozoik telah menghasilkan pola-pola struktur geologi di bagian daratan utama Papua, termasuk Pegunungan Jayawijaya. Hasilnya secara umum adalah mandala geologi Papua yang terdiri dari tiga zona utama, yaitu: Zona Kontinental yang terdiri dari endapan-endapan sedimen dari kraton Australia, Zona Oseanik yang terdiri dari batuan ofiolit dan kompleks batuan volkanik busur kepulauan sebagai bagian dari Lempeng Pasifik, serta Zona Transisi yang terdiri dari batuan-batuan yang terdeformasi kuat dan batuan-batuan metamorfik regional yang merupakan produk interaksi antara kedua lempeng raksasa itu.

Zona-zona Geo-tektonik Papua (dari Darman dan Sidi, 2000)

Namun, tiga zona di atas rupanya sedikit berbeda untuk Leher dan Kepala Burung. Pola-pola struktur utama di daratan utama Papua yang cenderung berarah barat – timur, terputar barat laut – tenggara di Pegunungan Lengguru. Beberapa peneliti, salah satunya Satyana (2006), menyebutnya sebagai produk escape tectonics, yaitu efek tektonik yang terjadi akibat interaksi lempeng-lempeng raksasa yang untuk Indonesia (termasuk Leher dan Kepala Burung Papua) adalah akibat pengaruh tabrakan antara India dengan Eurasia.

Misteri Karst Lengguru

Sesampainya di Kaimana, ekspedisi tahap kedua (setelah 20 hari pertama di tahap kesatu yang menjelajah teluk-teluk di timur Kaimana), dilanjutkan ke arah Teluk Arguni. Kapal Airaha-02 milik Akademi Perikanan Sorong (Apsor) yang digunakan sebagai moda transportasi sekaligus base camp ekspedisi pun segera mengarah memasuki teluk sempit di utara Kaimana itu. Namun keinginan ketua tim ekspedisi, Laurent Pouyaud, agar kapal berpenetrasi terus ke utara Teluk Arguni, mentok karena dasar teluk yang dangkal. Akhirnya kapal buang sauh di sekitar koordinat UTM 0354115 – 9626696, tepat di tengah-tengah Teluk Arguni yang sempit memanjang seperti sungai besar diapit pegunungan berbatugamping di timur dan perbukitan berbatulempung di barat.

Kapal Airaha-2 yang membuang sauh di Teluk Arguni

Hari-hari berikutnya dimulailah ekspedisi di pegunungan berrelief kasar karst Lengguru yang tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga menguras fisik karena medannya yang berat, serta menguras emosi karena harus berhadapan dengan tata cara adat istiadat setempat yang cukup rumit, tetapi mau tidak mau harus dilalui. Sambil menunggu penyelesaian urusan adat, sementara izin administratif telah selesai, perahu speedboat mulai menjelajah dinding-dinding batuan tegak bagian timur Teluk Arguni.

Saat speedboat mendekati dinding batugamping berwarna putih, tampaklah gambar-gambar cadas yang dominan berwarna merah. Lukisan-lukisan purbakala yang digambar pada dinding tegak hampir 5 hingga 10 m di atas permukaan perairan menggambarkan profil-profil manusia atau coretan-coretan abstrak yang tidak begitu jelas maknanya. Di salah satu sudut dinding yang seluruhnya dilabur merah dari bahan oker (tanah merah oksida besi hematit) ditorehkan warna putih membentuk profil biawak besar. Menurut seorang arkeolog yang ikut dalam tim, hingga sekarang masyarakat Papua selatan masih percaya bahwa leluhur mereka adalah biawak.

Dinding batugamping dengan gambar cadas di Teluk Arguni

Pada kesempatan berikutnya ketika menjelajah gua yang mulutnya sejajar dengan permukaan laut, bau guano segera menyergap hidung ketika speedboat memasukinya. Gua ini rupanya tidak dalam. Ruangannya cukup besar, lebar 25 m, panjangnya mencapai 30 m, dan tinggi diperkirakan mencapai 40 m. Atap gua miring ke arah mulut gua dan kondisi ini dikontrol oleh bidang kemiringan lapisan batugamping. Bongkah-bongkah batugamping berasal dari dinding dan atap terendapkan membentuk lereng bebatuan yang kasar. Stalaktit tidak terlalu berkembang. Begitu pula stalagmit. Hiasan gua (speleotem) hampir-hampir tidak ada. Ketika asyik mengamati dan membuat sketsa ruangan gua itulah, tiba-tiba Lucas Janoma, pendamping tim asli orang Papua, berteriak nyaring agar semua mendekat. Sambil menyorotkan senternya, ia menunjuk satu jejak memanjang pada lumpur di dasar gua. Jejak badan buaya! Lebarnya 1 m, sehingga ia memperkirakan panjang buaya minimal 4 m! Rupanya gua itu dijadikan sarang buaya besar. Beruntunglah sketsa gua dan data sudah cukup terkumpul sehingga dengan sedikit tergesa-gesa tim segera keluar gua.

Lucas Janoma menunjukkan jejak buaya besar di sebuah gua di Teluk Arguni

Pegunungan Karst Lengguru yang mempunyai kisaran elevasi dari permukaan laut hingga lebih dari 1000 m di atas permukaan laut, rupanya miskin gua. Inilah misteri karst Lengguru yang pertama.

Dengan beda tinggi mencapai seribu meter, tadinya kami berpikir akan ada deretan gua pada elevasi-elevasi tertentu. Hal itu dianalogikan dengan karst Gunungsewu di Yogyakarta-Jateng, atau di Karangbolong, Gombong Selatan, Jateng, atau di Maros, Sulawesi Selatan. Contoh ketiga wilayah karst itu adalah contoh karst dengan banyak gua yang secara vertikal tersebar mengikuti level elevasi-elevasi tertentu dengan jaringan lorong gua yang panjang. Namun rupanya hal tersebut tidak terjadi di Lengguru. Ada dugaan kondisi struktur geologis yang membentuk jalur-jalur lipatan dan sesar-sesar naik, bertanggung jawab akan miskinnya gua di karst Lengguru. Hal ini berbeda dengan karst Gunungsewu, Karangbolong, dan Maros yang dikontrol oleh plateau dengan lapisan-lapisan batugamping yang hampir horisontal.

Memang, seperti kemudian terukur selain di Gua Sarang Buaya, yaitu di Gua Wababoko di Danau Sewiki sisi barat, gua dikontrol oleh lapisan batuan yang miring terjal dan lorongnya dikontrol oleh arah retakan pada batugamping. Gua Wababoko yang terdiri dari dua ruangan yang terpisah, seluruhnya mempunyai dasar gua yang kontak dengan permukaan air danau. Gua kedua dengan artefak arkeologis di endapan mulut guanya, merupakan galeri besar dengan dasar gua dipenuhi bongkah-bongkah batugamping runtuhan langit-langit gua. Adapun Gua Wababoko yang dasarnya tergenang air danau, oleh penduduk setempat juga dikenal sebagai sarang buaya. Selain itu, di satu celah batu di mulut gua, diletakkan tiga tengkorak manusia, sehingga sebelum melakukan penelitian ke dalam gua yang dikeramatkan ini, tim harus mengikuti ritual adat masyarakat suku setempat.

Tidak hanya Gua Sarang Buaya dan Wababoko, gua-gua yang berhasil disurvei dan juga ditanyakan kepada masyarakat setempat, umumnya terbentuk pada kontak antara kaki pegunungan dengan permukaan laut atau danau yang sebenarnya satu level juga dengan laut. Hal itu misalnya dijumpai di Gua Jamansan. Menurut bahasa suku setempat Irarutu, nama gua ini berarti “tempat orang-orang meninggal.” Gua ini berukuran kecil dengan lorong tidak lebih dari 10 m. Ketinggian lantai gua hanya kurang dari setengah meter dari rawa-rawa di sekelilingnya. Begitu pula gua-gua kecil yang berada di Weramura, tepi jalan lintas Papua Kaimana – Fakfak yang belum selesai, berada pada kontak dengan rawa-rawa pasang surut di selatan Teluk Arguni (Muka Arguni). Bahkan dalam perjalanan turun naik bukit-bukit karst ke Danau Perenusu dari Teluk Bitsyari, gua kecil baru ditemui tepat di tepi Danau Perenusu. Seluruh gua umumnya tidak membentuk lorong yang panjang. Satu-satunya gua dengan lorong agak panjang, yaitu 150 m, hanya ditemukan di sekitar Tanjung Boi, Teluk Kayumerah, sebelah timur Kaimana.

Elevasi gua yang cukup tinggi hanya dijumpai di daerah Kaimana. Deretan gua-gua pada dinding batugamping, lantai guanya terletak antara 5 m dari permukaan laut di Daerah Batulubang, Kaimana Selatan, hingga 20 – 30 m di daerah Batuputih. Besar kemungkinan gua-gua ini tadinya juga berada di dekat permukaan laut tetapi mengalami pengangkatan. Seluruh gua juga hanya berupa gua ceruk yang tidak mempunyai lorong yang panjang. Itulah misteri kedua di karst Lengguru.

Misteri ketiga adalah lubang-lubang sinkhole yang tampak jelas dari pengamatan melalui cetakan citra satelit. Sebuah lubang sinkhole besar yang tadinya diharapkan menjadi jalan air melalui lorong gua yang tembus ke Gua Wababoko, dijelajahi. Penjelajahan terpaksa melalui lereng-lereng terjal berpermukaan batugamping yang tajam dan mendakinya hingga pada ketinggian sekitar 650 m dari elevasi awal penjelajahan. Lubang sinkhole tersebut merupakan lubang sinkhole besar yang dindingnya dikelilingi oleh dinding batugamping vertikal. Tiga peneliti gua Prancis, Hubert Camus, Guilhem Maistre, dan Bruno Fromento mencoba menuruni dasarnya yang berada lebih kurang 100 – 200 m dari bibir lubang hanya untuk mendapati dasar yang kering. Kemana sungai-sungai bawah tanah yang biasanya sangat khas di wilayah karst? Ekspedisi kali ini belum mampu menjawabnya.

Longboat melaju di atas Danau Sewiki dengan latar belakang perbukitan karst Lengguru dengan lereng-lerengnya yang terjal

Lalu inilah misteri ke empat. Dalam sebuah penjelajahan ke arah Weramura menelusuri Jalan Lintas Papua Kaimana-Fakfak yang belum selesai, di bawah terik matahari Papua yang menyengat, sebuah sungai berwarna biru turquoise tampak mengalir tenang berkelok-kelok memasuki rawa-rawa pasang surut. Koordinatnya S 03o25.607’ – E 133o42.704’ disebut Sungai Lewaka.

Air biru sungai itu berasal dari dua mata air yang keluar dari celah batugamping dengan dua warna yang berbeda. Satu mata air karst mengeluarkan air jernih yang berwarna keputih-putihan. Dalam jarak 5 m, retakan berikutnya mengeluarkan air jenih berwarna kehijau-hijauan. Ketika keduanya bercampur, memberikan warna air biru yang mengalir sebagai Sungai Lewaka itu. Besar kemungkinan pewarnaan air sungai itu adalah karena pembiasan lumut berwarna yang terbentuk di dasar sungai.

Tetapi misteri belum selesai. Air yang keluar dari mata air berbau belerang yang menyengat. Misteri ke empat yang perlu diteliti lebih jauh karena di sekitar lokasi, atau bahkan di Papua secara keseluruhan, tidak dijumpai adanya gunung api. Tebakan satu-satunya, mata air tersebut tersambung pada retakan atau sesar yang sangat dalam.

Sungai Lewaka yang berair biru turquoise dan mata airnya berbau belerang

Ke empat misteri di karst Lengguru masih belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tebakan yang memuaskan sekali pun. Dengan wilayah pegunungan yang luas, tentu saja masih akan ada berpuluh-puluh atau berratus-ratus misteri yang akan muncul semakin jauh kita meneliti. Pegunungan Karst Lengguru itu sendiri adalah misteri geologis yang mencuat akibat interaksi antara lempeng-lempeng pembentuk daratan Papua.

Namun, misteri-misteri inilah yang akan membuat kita terus bergairah untuk terus meneliti, mencoba mengungkapkan rahasia alam. Kalaupun berhasil mengungkap satu misteri alam, itu mungkin hanya seperti pengungkapan setetes air saja dari samudera misteri alam yang sangat luas yang masih belum kita pecahkan. ***

Daftar Pustaka

Darman, H., dan Sidi, F.H. (eds), 2000, An Outline of the Geology of Indonesia, Indonesian Assoc. of Geologists (IAGI), Jakarta.

Satyana, A.H., 2006, Post-collisional Tectonic Escapes in Indonesia: Fashioning the Cenozoic History, Pros. PIT ke-35 IAGI 2006, Pekanbaru.

Tobing, S.L., Robinson,G.P., dan Ryburn, R.J., 1990, Peta Geologi Lembar Kaimana, Irian Jaya, skala 1:250.000, Puslitbang Geologi, Bandung.

Asal-usul Nama Sumatra (oleh Irfan Anshory)

Dimuat di Harian PR, 6 April 2009

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Peta dari Munster 1550 yg dimuat di Atlas Ptolemys (www.swaen.com)

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Sumatra oleh Valentijn 1726 (www.swaen.com)

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***

Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.

Sumber Tulisan:
http://irfananshory.blogspot.com/2007_05_01_archive.html (6 April 2009)

Mengenang Sahabat dan Guru: Irfan Anshory

Menjelang 17 Agustus 2011, 66 tahun kemerdekaan Indonesia, saya teringat satu tulisan yang sangat menarik yang saya dapat dengan cara googling di internet: “Asal-usul Nama Indonesia” yang ditulis Irfan Anshory. Artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat 16 Agustus 2004 sengaja saya simpan karena begitu pentingnya informasi sejarah penamaan Indonesia.

Nama “Indonesia” dipopulerkan ahli geografi Jerman Adolf Bastian, tetapi sebenarnya pengusul pertamanya adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865) yang menulis artikel berjudul “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Artikel itu dimuat pada tahun 1850 di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Vol. IV, yang terbit di Singapura dan dikelola oleh seorang Skotlandia James Richardson Logan (1819-1869). Logan-lah yang kemudian mengambil istilah “Indunesia” yang diusulkan Earl untuk kemudian menjadi “Indonesia.”

Ketika artikel Irfan Anshory itu ingin saya unggah ke media facebook dan blog “budibumi” agar dapat dibaca lebih luas, saya mencari  nama Irfan Anshory di facebook,  jangan-jangan ia mempunyai akun facebook, sekalian untuk meminta ijin pengunggahan artikelnya di notes facebook dan blog saya. Benar saja ada. Dengan segera saya add sebagai friend.

Namun saya rupanya harus menunggu begitu lama untuk mendapat konfirmasi. Apakah ia tidak begitu aktif di facebook? Sampai akhirnya, 5 September 2011, permintaan untuk menjadi friend di facebook terkonfirmasi. Saya pun segera menulis di wall-nya dalam bahasa Sunda: nuhun parantos dikonfirmasi (terima kasih telah dikonfirmasi).

Tetapi ketika saya masuk ke wall-nya dengan profile picture wajahnya yang ramah tersenyum lebar, saya terkejut bukan kepalang karena yang melakukan konfirmasi adalah puterinya. Posting terbarunya adalah sebagai berikut: “buat semua temen-temen Alm.papah reyna ucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H..Minal Aidin Walfaidzin..mohon maaf lahir dan batin..Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada kita semua dan menerima amal ibadah kita..Ammiiiiinnn ya Allah…^^ ~REINA FIDELITA (Anak Alm.IRFAN ANSHORY )”

Ketika saya scroll posting-postingnya, rupanya semua posting ditulis oleh puterinya dengan pernyataan bahwa papahnya (Irfan Anshory) telah meninggal dunia di Lampung pada bulan Maret 2011.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Saya seolah-olah tidak percaya membaca satu per satu posting tersebut yang sejak wafatnya ditulis oleh puterinya yang menjawab beberapa pertanyaan sahabat-sahabatnya tentang kepergian alm. Irfan Anshory. Merasa bersalah, saya segera menulis di wall-nya: doa untuk almarhum dan permohonan maaf kepada keluarganya karena ketidaktahuan bahwa beliau telah wafat hampir 6 bulan yang lalu.

Sambil termenung memandang wajah ramah yang tersenyum lebar di picture profile facebook itu, saya teringat sms dari almarhum yang saya simpan hingga sekarang: Abdi nembe rengse maos “Wisata Bumi Cekungan Bandung” . Lalaunan maosna ge, ngarah unggal wewengkon kacipta tur karaos wisatana, siga Bujangga Manik baheula. Sae pisan pisan pisan eta buku. Mugi janten amal sholeh ka nu nyeratna. Hatur nuhun. <irfan anshory=”">  sent: 14:18:59 29-07-2009.”</irfan>

Itulah sms apresiasi almarhum terhadap buku “Wisata Bumi Cekungan Bandung” yang saya tulis bersama T. Bachtiar dan diterbitkan Truedee dengan peluncuran di Gedung Merdeka 18 Mei 2009. Tejemahan Bahasa Indonesianya: “Saya baru saja selesai membaca “Wisata Bumi Cekungan Bandung”. Pelan-pelan membacanya juga, supaya setiap daerah terbayangkan dan terasa wisatanya, seperti Bujangga Manik dahulu. Sangat sangat sangat bagus buku tersebut. Semoga menjadi amal sholeh bagi penulisnya. Terima kasih.”

Rupanya beliau jugalah yang memberi pelajaran ilmu menjawab persoalan Kimia di Bimbingan Belajar Bandung College dahulu ketika saya mempersiapkan mengikuti Program Perintis I masuk perguruan tinggi (ITB). Pantesan saya tidak merasa asing dengan penampilan dan gayanya yang kocak dan mudah diterima ketika beliau mengajarkan persoalan Kimia. Beliau adalah alumni Farmasi ITB ’71.

Selamat jalan sahabatku, guruku. Semoga engkau mendapat tempat yang baik di sisi-Nya dan diberi ketenangan di alam kubur. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu. Amiiin.

Sesar Lembang, Heartquake di Jantung Cekungan Bandung

Tanggal 23 Agustus 2011, majalah baru diterbitkan oleh Badan Geologi “GEOMAGZ Majalah Geologi Populer” Vol. 1 No. 1 dengan mengambil tema utama “bencana” dan cover story “Sesar Lembang”.

Tanggal 28 Agustus 2011 terjadi gempa bumi di Cisarua (tepat di jalur Sesar Lembang) merusak 103 rumah. Semoga tulisan di GEOMAGZ ini bisa menjadi inspirasi untuk segera memitigasi bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi di Sesar Lembang.

Dengan terbentangnya robekan pada kerak bumi yang memanjang sedikitnya 22 km dari Cisarua di barat, melewati kota padat Lembang, hingga lereng G. Palasari di timur, para ahli Geologi mengkhawatirkan gempa bumi berkekuatan besar dapat mengguncang Bandung, dipicu aktivitas tektonik dan robekan itu. Gempa bumi besar itu (earthquake) dapat mengguncang hati (heartquake) para penghuni jantungnya Cekungan Bandung.

Bandung Terancam

Dalam suatu ceramah umum untuk masyarakat tentang Sesar Lembang yang diselenggarakan Program S2 Gempa Bumi dan Tektonik Aktif (GREAT: Graduate Research on Earthquake and Active Tectonik), Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB, tanggal 25 Maret 2011, peserta tidak disangka-sangka berdesakan memenuhi ruangan. Ada dugaan hal itu dipicu oleh gempa besar yang dua minggu sebelumnya melanda Jepang bagian timur yang diikuti terjangan tsunami dahsyat yang memorak-porandakan pantai-pantai di Perfektorat Miyagi tersebut. Dugaan lain adalah karena mungkin telah ada kesadaran masyarakat Bandung umumnya dan Lembang khususnya akan adanya potensi bencana alam besar karena keberadaan Sesar Lembang.

Kekhawatiran tentang aktifnya kembali Sesar Lembang pada tahun 2006 telah diliput harian Pikiran Rakyat. Liputan itu adalah hasil diskusi di aula redaksi Pikiran Rakyat tentang ancaman gempabumi terhadap Bandung setelah gempabumi yang melanda Yogyakarta 2006. Kini semakin banyak warga Kota Bandung dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kemungkinan Sesar Lembang aktif kembali dan menimbulkan gempa bumi besar.

Antusiasme masyarakat untuk mengetahui Sesar Lembang adalah sesuatu hal yang wajar karena selama ini informasi tentang Sesar Lembang hanya diketahui oleh mereka yang terlibat dalam bidang Ilmu Kebumian saja, yaitu Geologi, Geodesi, Geofisika, atau Geografi. Bahkan di samping itu, ada juga para ahli Geologi yang masih meragukan keaktifan Sesar Lembang.

Apakah Sesar Lembang Aktif?

Mungkin istilah “sesar” terasa asing ditelinga. Apakah sesar itu? Sesar, yang dalam bahasa Inggeris disebut “fault” merupakan retakan di kerak Bumi yang mengalami pergeseran atau pergerakan. Secara umum dikenal tiga jenis sesar, yaitu sesar normal (normal fault), sesar naik (reverse fault), dan sesar geser mendatar (strike-slip fault). Dalam bahasa sehari-hari, sesar sering disebut juga sebagai “patahan.” Di Lembang, sesar itu membentuk retakan tektonik memanjang lebih dari 22 km. Dengan melihat morfologi yang terbentuk, jenis sesarnya adalah sesar normal. Bagian utara bergerak relatif turun, sementara bagian selatan terangkat. Kota Lembang hingga Cisarua di barat dan Maribaya hingga Cibodas/Batuloceng di timur merupakan bagian yang mengalami penurunan tersebut. Akibat dari proses tektonik ini terbentang suatu gawir (lereng lurus) yang merupakan bidang gelincir Sesar Lembang yang dapat jelas terlihat dari Lembang ke arah timur.

Jika kita berdiri di daerah Cikole, kira-kira 3 km sebelah utara Lembang, kemudian memandang ke arah selatan, akan tampaklah fenomena geologis Sesar Lembang yang sangat jelas. Dari sini kita bisa menyaksikan segmen timur Sesar Lembang yang dimulai dari kira-kira jalan Bandung – Lembang sebagai pembagi utama dengan segmen barat. Pada segmen timur, tinggi gawir yang terbentuk dan mengangkat perbukitan dapat mencapai 450 m, terlihat jelas di lereng utara G. Palasari (+1859 m). Jajaran bukit-bukit memanjang itu dimulai dari G. Lembang tempat berdirinya Observatorium Bosscha sejak 1920. Kemudian tampak pula G. Batu, suatu bukit kecil dengan lereng tampak berbatu. Ke arah timur tampak sebuah celah di antara lereng-lereng terjal. Di sanalah Ci Gulung, sebuah sungai yang berhulu dari lereng timur G. Tangkubanparahu bergabung dengan Ci Kapundung yang bersama-sama menerobos batuan keras di gawir sesar. Di ujung timur, gawir menoreh dalam di sisi utara G. Palasari. Tingginya gawir berubah ke arah barat yaitu hanya mencapai 40 m di sekitar Cihideung. Semakin ke arah barat, gawir menjadi tidak terlihat terkubur endapan gunung api muda produk letusan G. Tangkubanparahu (+2084 m).

Pertanyaan para ahli Geologi dan diikuti masyarakat yang peduli bencana adalah, “Apakah Sesar Lembang aktif?” Sejak jaman sejarah hingga sekarang memang belum ada catatan yang mendeteksi adanya gempa bumi besar yang berpusat di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan adalah adanya gempabumi merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang boleh dikatakan berada pada zona ujung barat Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi.

Di dalam Geologi, kategori sesar aktif mula-mula merujuk kepada sesar yang terbentuk pada Zaman Kuarter, yaitu rentang waktu dari sekarang hingga 2 juta tahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini kategori keaktifan sesar dipersempit hingga Kala Holosen, hingga 10.000 tahun yang lalu. Hasil penelitian yang pernah dilakukan para peneliti Belanda Nossin, dan kawan-kawan pada 1996 menduga kemungkinan pergeseran Sesar Lembang, khususnya segmen timur, bertepatan dengan pembentukan kaldera Sunda 100.000 tahun yang lalu.

Pendapat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penelitian sangat awal yang dilakukan R.W. van Bemmelen yang kemudian dibukukan dalam “The Geology of Indonesia” yang diterbitkan tahun 1949. Namun untuk segmen barat, penelitian Nossin dan kawan-kawannya di daerah Panyairan, Cihideung, terhadap endapan gambut, menunjukkan bahwa segmen barat diperkirakan terakhir aktif sekitar 27.000 tahun yang lalu. Jika kategorinya 10.000 tahun sebagai batasan sesar aktif, informasi ini akan membuat Sesar Lembang berkategori “tidak aktif.” Sampai kemudian muncullah hasil-hasil temuan dari penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang dimotori Eko Yulianto selama 2007 – 2010.

Dampak Aktifnya Sesar Lembang

Eko Yulianto meneliti keaktifan sesar melalui apa yang disebut sebagai endapan sag-pond. Sag pond adalah genangan yang terbentuk akibat terhambatnya drainase sungai yang terjadi akibat pembentukan dinding penghalang karena pergerakan sesar. Air sungai akan tergenang dan pembentukan lumpur serta endapan gambut akan terjadi di dalamnya. Jika endapan-endapan ini terjadi berlapis-lapis di bawah tanah, dapat diperkirakan bahwa pembentukan genangan terjadi berkali-kali melalui mekanisme pergerakan sesar. Begitulah apa yang ditemukan Eko Yulianto dari hasil pengeboran endapan di sekitar Pasir Sereh, Cihideung.

interpretasi lineaments (BB dan TB, 2009, Wisata Bumi Cek Bdg, Truedee)

Dari temuannya itu, sekalipun dalam data yang masih terbatas, Eko Yulianto memperkirakan bahwa sedikitnya 1000 tahun yang lalu, Sesar Lembang pernah aktif. Ketika keaktifannya membentuk genangan luas, diperkirakan hal tersebut terbentuk oleh mekanisme pergerakan sesar yang menimbulkan gempabumi berkekuatan tinggi. Informasi ini dengan pasti menunjukkan bahwa Sesar Lembang tergolong sesar aktif sekalipun belum ada gempa besar selama masa manusia modern yang melanda kawasan ini. Tetapi lebih jauh lagi, hasil penelitian Geodesi ITB melalui pengamatan titik-titik yang diukur melalui GPS, memang telah dan sedang terjadi pergeseran di sekitar Sesar Lembang.

Sebuah cetakan citra SPOT pengambilan Juli 2006 sangat jelas menggambarkan citra udara wilayah sekitar G. Tangkubanparahu, Sesar Lembang, dan dataran Cekungan Bandung. Dari citra itu, interpretasi kelurusan-kelurusan menunjukkan kemungkinan adanya retakan-retakan yang terbentuk di permukaan bumi wilayah itu. Kelurusan paling mencolok tentu saja garis hampir berarah timur-barat, yaitu jalur struktural Sesar Lembang. Namun selain itu, banyak kelurusan dapat diinterpretasi yang umumnya juga berarah barat-timur sejajar Sesar Lembang di sekitar Perbukitan Dago (Bandung Utara), sekitar kota Lembang hingga lereng selatan jajaran G. Burangrang – G. Tangkubanparahu – G. Bukittunggul. Hasil interpretasi juga menunjukkan adanya kemenerusan Sesar Lembang ke arah Ci Meta di baratlaut Padalarang. Perkiraan lain, pertemuan Sesar Lembang dengan Sesar Cimandiri di sekitar Padalarang berupa perpotongan antara retakan-retakan itu. Apapun kaitan antara fenomena-fenomena geologis itu, kedua sesar itu mempunyai hubungan yang oleh satu dan sebab lain akan menjadikan keduanya menjadi media rambat gelombang gempa bumi.

hasil penelitian GPS (Meilano dkk, Kuliah Umum GREAT 25 Maret 2011)

Belajar dari Jepang

Gempa yang menghantam perkotaan terbukti sangat parah dan berresiko tinggi. Tokyo 1923, Kobe 1995, Yogyakarta 2006, Padang 2009, atau Haiti dan Christchurch 2010 adalah beberapa contoh kehancuran perkotaan akibat gempabumi. Lalu, Jumat 11 Maret 2011, sebuah hentakan tektonik kuat pada Lempeng Pasifik yang berinteraksi dengan Lempeng Amerika Utara di timur laut Jepang menimbulkan gempabumi berkekuatan 9,0 Mw. Tetapi dari tayangan-tayangan di televisi beberapa jam kemudian kita melihat bagaimana masyarakat Jepang begitu tenang menghadapi gempa bumi merusak ini. Para kru televisi NHK memang sedikit khawatir ketika kantor mereka berguncang hebat menggetarkan komputer dan peralatan yang ada di atas meja dan lemari. Tetapi para anggota kabinet Jepang yang sedang rapat dengan tenang meninggalkan ruangan rapat satu per satu. Tidak ada yang terlihat bersikap panik.

Beberapa menit kemudian, gempa bumi itu memicu tsunami dahsyat yang meluluhlantakan pantai-pantai di timur Jepang yang menghadap Samudera Pasifik. Kembali pemirsa televisi di seluruh dunia disuguhi tayangan fenomena alam yang mengerikan. Gelombang laut dahsyat menghantam permukiman, merubuhkan bangunan, dan menghanyutkan apa saja yang berada di pantai.

Ada yang perlu dicontoh dari siaran televisi Jepang. Sekalipun korban hingga dua minggu setelah kejadian dilaporkan menewaskan 12.000 jiwa, tetapi tidak ada satu tayangan pun di layar televisi (juga pada foto-foto di media cetak) yang memperlihatkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tayangan yang ada adalah bagaimana rakyat Jepang begitu tabah dan kuat menghadapi musibah itu, dan semangat bergotong-royong serta tolong-menolong di antara mereka yang hidup justru menjadi suguhan utama di layar televisi. Kita pun menyaksikan bahwa dengan gempa bumi dan tsunami yang begitu dahsyat dan melanda perkotaan yang padat penduduk, namun korban jiwa dapat dikatakan “lebih sedikit.” Tidak dapat dibayangkan apabila kejadian gempa bumi dan tsunami itu melanda perkotaan di sebuah negeri yang masyarakatnya kurang memiliki budaya dan perilaku siap menghadapi gempa.

Perlu Mitigasi

Kekhawatiran terpicunya gempabumi besar karena keberadaan Sesar Lembang sudah mulai diperhitungkan. Selain sebagai media rambat gelombang gempabumi dari sesar-sesar aktif lainnya di Jawa Barat, Sesar Lembang dapat juga menjadi sumber gempabumi itu sendiri. Untuk itulah peta-peta kerawanan bencana gempabumi ke arah Kota Bandung yang berpenduduk padat mulai dibuat. Di antaranya peta percepatan gempabumi yang menunjukkan daerah rawan bencana selain di sepanjang jalur sesar, juga merambat ke arah selatan Bandung, pada daerah-daerah bekas endapan danau yang bertanah fondasi kurang mantap. Peta-peta ini sudah cukup berharga untuk membuat kita waspada, karena gempa bumi sulit diprediksi! Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, maka usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Itulah usaha mitigasi bencana, yaitu usaha untuk meminimalkan resiko atau akibat dari bencana.

Mitigasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan, dan secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari bencana. Saran-saran arsitek perlu diperhatikan dalam membangun bangunan di kawasan rawan bencana akibat gempabumi. Di antaranya adalah tiang yang kuat, struktur yang sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman (misalnya tidak di tebing atau pada jalur sesar aktif). Begitulah mitigasi struktural yang mencakup syarat bangunan dan tata perwilayahan ruangnya.

Adapun mitigasi non-struktural adalah kiat-kiat bagaimana selamat dari bencana gempa. Kiat-kiat Jepang atau Chile perlu dipertimbangkan. Setelah bangunan kuat, belum tentu selamat dari musibah. Di dalam rumah yang digoncang-goncang, isinya akan seperti dikocok-kocok. Berlindung melindungi kepala adalah tanggap darurat yang pertama-tama perlu dilakukan.

Mengikuti cara Jepang, beginilah selamat dari gempa bumi, dengan asumsi kode bangunan telah sesuai teraplikasikan di daerah rawan gempabumi:

  1. Segera matikan sumber api
  2. Segera berlindung di bawah bentukan/furnitur yang kuat, misalnya di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada, segera berbaring dengan melindungi kepala sejajar bentukan kokoh, misalnya tempat tidur atau rak pendek.  Ketika atap atau lemari rubuh, diharapkan terbentuk ruang segitiga tempat kita berbaring.
  3. Tidak terburu-buru keluar rumah karena di luar rumah ancaman dijatuhi berbagai benda akan lebih dahsyat. Lift atau tangga adalah bagian bangunan yang rawan runtuh.
  4. Siapkan tas berisi peralatan P3K, air dalam botol, makanan ringan tahan lama, peluit, radio kecil, dll. dan segera sambar begitu gempa semakin kuat dan bersembunyi di kolong meja kokoh. Dalam gempa yang dahsyat, kemanapun bahaya akan mengancam jiwa. Pengalaman Jerpang, berlindung di kolong meja banyak menyelamatkan nyawa. Ketika kemudian bangunan ambruk, jiwa yang selamat di kolong meja tinggal menunggu pertolongan. Itulah gunanya tas yang perlu disambar ikut berlindung.
  5. Jika berada di luar rumah, merapatlah pada struktur bangunan yang dinilai kokoh (bukan pagar tembok), keluar dari kendaraan dan berbaring sejajar kendaraan, dan hindari tebing (baik di bawah atau di atas kita).
  6. Harus ditentukan tempat berkumpul yang pasti (assembly point) supaya koordinasi dan pencarian warga lebih terkontrol.

pamflet selamat dari gempa bumi di Jepang

Namun apakah cara-cara itu sesuai untuk Indonesia? Apakah berlari keluar rumah begitu guncangan awal terjadi lebih cocok untuk budaya Indonesia? Itulah yang harus diuji berkali-kali melalui latihan dan simulasi. Jangan sampai kita terlena karena lama sekali tidak diuji oleh alam. Kita harus selalu siap siaga!

Alam telah begitu ramah kepada kita, namun sekali-kali datang memberi peringatan. Itu bagian dari sistem alam sendiri agar kita selalu cermat membaca alam, memahami, dan menghormatinya. Gempa bumi earthquake akan selalu menjadi heartquake yang mengguncang hati. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan persisnya waktu terjadinya gempa bumi, cara terbaik untuk meredam guncangan hati tiada lain kecuali dengan membangun kesiapan dan perilaku yang waspada terhadap “serangan” gempa bumi. ***

Budi Brahmantyo, dosen matakuliah Geologi Lingkungan dan Geologi Cekungan Bandung di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB; koordinator KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung).

Ketika Manusia Menghilang dari Atas Bumi

Resensi buku Alan Weisman “Dunia Tanpa Manusia” dimuat di GEOMAGZ Majalah Geologi Populer, Badan Geologi, Vol.1 No.1

Data Buku:

Judul                             : Dunia Tanpa Manusia

Pengarang                   : Alan Weisman

Penerbit                       : Gramedia

Tahun Terbit              : 2009

Tebal                             : 430 halaman

Judul Asli                    : The World Without Us

Tahun Terbit              : 2007

Bumi ini mungkin bukan planet yang sama seandainya manusia tidak beranak-pinak. Demikian salah satu kalimat pada bab pembuka buku “Dunia Tanpa Manusia” (The World Without Us) yang dikarang oleh wartawan Amerika, Alan Weisman. Ia berandai-andai, jika manusia tiba-tiba menghilang meninggalkan seluruh peradabannya di Bumi ini secara tiba-tiba dan bersama-sama, apa yang akan terjadi pada Bumi yang ditinggalkannya?

Weisman tergelitik untuk menulis buku itu ketika seorang editor Discover Magazine, Josie Glausiusz, terinspirasi karya tulisnya tentang pulihnya lingkungan setelah kaburnya orang-orang dari Chernobyl. Weisman kemudian memulai riset panjang untuk memujudkan bukunya itu. Banyak ilmuwan dihubunginya. Bahkan ia beberapa kali ikut terlibat riset dengan para ahli atau ilmuwan tersebut.

Sebanyak 225 makalah dari berbagai tema telah dilahapnya, dan 86 buku menjadi acuannya. Tema-temanya sangat luas tersebar dari berbagai bidang ilmu, mulai dari Geologi, Geografi, Biologi, Kimia, Fisika, Statistik, Teknik Sipil, Ekologi, Lingkungan, Sosial, Budaya, Politik, Sejarah, bahkan Agama, dan lain sebagainya.

Dari beberapa kasus yang dipikirkannya, di antaranya adalah bagaimana peran besar manusia dalam membangun Terusan Panama, yang menghubungkan Lautan Pasifik dengan Atlantik, dan menjadi urat nadi ekonomi Amerika Serikat. Terusan yang memanfaatkan sistem hidrolik untuk melintasi perbukitan di tanah genting Panama itu, tanpa campur tangan manusia akan mudah putus dan hancur. Proses-proses longsor, banjir dan erosi akan dengan segera menyatukan kembali Amerika bagian utara dan selatan, jika manusia lalai merawatnya.

Sesuai dengan risetnya yang luas, banyak kasus lingkungan lainnya menjadi perhatiannya. Contohnya peristiwa di suatu malam yang masih sangat dingin di Chernobyl, Uni Sovyet saat itu, April 1986, ketika kelalaian operator mengakibatkan meledaknya salah satu reaktor nuklir, menyemburkan awan radioaktif yang menjadi bencana bagi kota kecil dan sebagian wilayah Ukraina. Setelah itu Chernobyl menjadi kota mati. Namun pada musim semi tahun berikutnya, kehidupan seakan-akan mulai pulih. Burung-burung berdatangan dan bersarang. Tumbuhan menghijau kembali.

Begitu pula bagaimana suatu daerah demiliterisasi antara Korea Utara dan Selatan yang merupakan ladang ranjau, justru menjadi kawasan ekologis yang lengkap dengan kehidupan liarnya setelah perang berakhir 1953. Atau suatu kawasan wisata di Siprus yang kembali menjadi liar dengan cepat setelah perubahan lingkungan laut menjadikan kawasan tersebut ditinggalkan para wisatawan. Weisman juga membayangkan apa yang terjadi ketika pompa-pompa air berhenti bekerja di New York. Saluran-saluran kereta api bawah tanah akan segera dibanjiri air laut, dan dalam sekejap New York akan kembali menjadi daerah rawa-rawa seperti pada awalnya.

Banyak lagi contoh yang Weisman kemukakan di bukunya setebal 430 halaman edisi Indonesia terbitan Gramedia (2009), seperti pengaruh pertanian, ladang-ladang minyak, tempat pembuangan sampah nuklir, pulau sampah plastik di tengah-tengah Samudera Pasifik, terjaganya hutan asli Eropa di Polandia, paradoks kehidupan liar di Afrika, atau misteri punahnya suku Maya di Amerika Tengah. Ia juga membahas bagaimana sejarah Bumi ketika bangsa manusia belum muncul menguasai kehidupan. Sayangnya, kalimatnya cenderung panjang-panjang sehingga agak melelahkan untuk menamatkan buku tebal ini.

Namun, buku ini dapat menjadi seperti ilustrasi suatu teori yang telah dikenalkan pada 1979 oleh James Lovelock pada bukunya “Gaia: A New Look at Life on Earth.” Teori Gaia Lovelock menyatakan bahwa Bumi sangat dinamis sehingga apapun proses perubahan atau kerusakan yang terjadi padanya, Bumi akan memulihkan dirinya sendiri.

Teori Gaia yang bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Bumi yang Hidup, Pandangan Baru Kehidupan di Bumi” (Penerbit Obor, 1988) pernah diinterpretasikan secara gegabah oleh salah seorang ahli Geologi Indonesia, bahwa kita dapat melakukan eksploitasi habis-habisan terhadap sumber daya Bumi. Toh dengan menyimak teori itu, Bumi akan pulih dengan sendirinya. Ia mungkin lupa bahwa produk-produk geologis berjalan secara evolutif.

Benar Bumi akan dapat pulih dengan sendirinya, tetapi diperlukan waktu puluhan ribu hingga ratusan juta tahun. Selama masa pemulihan itu, manusia yang hidup dalam rentang waktu yang sangat pendek, akan menjadi korban pertama.

Alan Weisman adalah mantan editor di Los Angeles Times Magazine. Ia seorang wartawan yang menulis di antaranya untuk Harper’s, The New York Times Magazines, The Atlantic Monthly, dan Discover. Melalui tulisannya di Discover edisi Februari 2005 “Earth Without People” ia terpilih mendapatkan penghargaan Best American Science Writing 2006 yang kemudian ia perluas menjadi buku “The World Without Us” yang terbit pada 2007.

(Budi Brahmantyo, FITB, ITB).

Asal Usul Nama Indonesia (oleh Irfan Anshory)

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia ke-66, berikut sebuah artikel bagus dari seorang sahabat, Irfan Anshory, alumni ITB 1971 tentang asal-usul nama Indonesia. Artikel lama ini dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Selamat membaca! Indonesia Merdekaaaa!!! (merdeka dari korupsi, kemiskinan, kebodohan, kejorokan, ketidakpedulian, ketidakdisiplinan… Kapan yaaa?)

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”.

Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau “Hindia Timur” *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin *insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer.

Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians. *

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan.

Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel*sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!

Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut

Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku! ***

Penulis, Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”

Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam

Senin 1 Agustus saya mengirim artikel ini ke Redaksi Pikiran Rakyat, dengan judul aslinya Kolom Batuan, Sering Disangka Buatan Manusia. Oleh redaksi PR judulnya diubah seperti termuat di Harian Pikiran Rakyat, Rabu 3 Agustus 2011.

Bermula dari situs megalitik Gunung Padang di Cianjur. Bagi kita yang mengunjungi situs tersebut akan selalu mengagumi karya leluhur masyarakat megalitik yang diperkirakan hidup 1000 tahun Sebelum Masehi di Kecamatan Campaka itu. Bangunan situs kokoh yang disusun dari ribuan kolom-kolom batu membentuk lima undak yang seluruhnya diarahkan ke utara persis menghadap ke puncak Gunung Gede.

Kekaguman itu sangatlah beralasan. Bayangkan bagaimana masyarakat yang dapat dikatakan masih menggunakan teknologi sederhana dibandingkan kita sekarang, dapat menyusun kolom batu sedemikian rupa membentuk undak-undak, terutama di undak pertama dan kedua seluas kira-kira 600 meter persegi. Mereka berhasil menyusun kolom-kolom batu andesit-basaltis yang berdiameter 30 hingga 50 cm.  Berat sebuah kolom batu sepanjang 1 m dapat mencapai setengah ton. Padahal banyak kolom yang panjangnya mencapai 2 m lebih dengan berat sekitar 1 ton lebih.

Dari bentuk kolom batuan yang sempurna dengan permukaan membentuk segi lima atau enam, banyak yang menyangka kolom-kolom batu berwarna abu-abu gelap itu sengaja dibuat pembangun situs megalitik dengan dipahat satu demi satu. Padahal proses geologis pendinginan dan pembekuan batuan yang tadinya berbentuk cairan silika sangat panas, dapat membentuk kolom-kolom batuan tersebut secara alamiah.

kolom2 batu di situs megalitik G. Padang (Cianjurkab.go.id)

Dalam Geologi, kolom-kolom batuan itu terbentuk akibat adanya kekar-kekar (retakan sistematis). Sistem retakan itu dikenal sebagai kekar kolom (columnar joint). Kekar kolom akan meretakkan tubuh batuan selama proses pendinginannya dari suhu awal sekitar 1000 derajat Celcius secara tegak lurus ke bidang pendinginan, yaitu dasar tempat magma mengalir. Para peneliti mengemukakan bahwa terbentuknya kekar-kekar kolom adalah karena terjadi kontraksi batuan pada saat pendinginannya dari sisi yang mulai mendingin ke arah dalam yang masih sangat panas. Retakan akan terbentuk ketika tekanan-tekanan kontraksi termal berkembang melampaui batas kekuatan massa batuan. Sekali retakan terbentuk, ia akan terus merambat tegak lurus ke arah bidang pendinginan.

Selain kolom-kolom tegak lurus dengan bidang pendinginan, dalam proses yang bersamaan akan terbentuk juga kekar-kekar yang paralel terhadap bidang pendinginan akibat adanya kontak batuan yang telah mendingin dengan bagian di dalamnya yang masih panas. Di beberapa tempat di lapangan, kedua jenis kekar ini sering dijumpai bersama-sama, seperti misalnya di Gunung Batu, Lembang, Bandung Utara, atau di Gunung Koromong, Bale Endah, Bandung Selatan. Banyak juga para geolog yang tadinya menduga kekar-kekar paralel pada tubuh batuan beku yang berlembar-lembar adalah akibat proses regangan ketika terjadi kehilangan beban berat di atasnya.

Kolom-kolom batu situs Gunung Padang terjadi secara alamiah. Sebuah intrusi magma dangkal diperkirakan menerobos wilayah Kecamatan Campaka 1 hingga 2 juta tahun yang lalu, dan satu terobosan tersebut di antaranya menyembul ke permukaan membentuk Gunung Padang sekarang ini. Berribu-ribu tahun kemudian setelah proses penerobosan magma yang mendingin itu, masyarakat megalitik yang luar biasa tekun menemukan warisan alam kolom-kolom batu ini. Mereka mendapatkan sebuah bukit dengan kolom-kolom tegak memanjang yang tersebar di kaki bukitnya. Lalu, diperkirakan dengan perhitungan geografis dan astronomis yang sesuai dengan kepercayaan mereka, kolom-kolom batu berat itu diangkat satu per satu ke atas puncak bukit untuk dibentuk bangunan berundak-undak yang mengarah ke Gunung Gede seperti yang kita lihat sekarang.

Kolom Batu di Dunia

Kolom-kolom batu yang terbentuk dengan sudut empat (tetragonal), lima (pentagonal) atau umumnya enam (heksagonal) membuat setiap orang yang melihatnya akan kagum karena dimensinya begitu sempurna. Dari pandangan awam, batu-batu tersebut dengan mudah disimpulkan sebagai buatan manusia. Di Irlandia, kolom-kolom batu basalt dengan permukaan heksagonal berdiameter besar membentuk undak-undak alamiah sehingga tempat tersebut dikenal sebagai Titian Raksasa (the Giant’s Causeway).

Giant's Causeway di Irlandia (irelandtourismguide.com)

Di negara bagian Wyoming, Amerika Serikat, sebuah monumen nasional bernama Devil’s Tower (Menara Setan) menjulang dengan lereng tegak bergaris-garis yang dibentuk dari kolom-kolom batu basalt. Dari garis-garis yang dibentuk memanjang dari puncak gunung hingga dasarnya, masyarakat asli Amerika (Indian) mempunyai legenda yang menarik. Menurut legenda tersebut, jaman dulu garis-garis tersebut terbentuk akibat goresan cakar-cakar beruang raksasa yang mencoba mengejar para pejuang Indian itu yang berlindung di puncak bukit. Usaha beruang raksasa untuk naik ke lereng terjal gunung itulah yang membentuk garis-garis di gunung tersebut dan pecahannya yang terserak di kaki bukit.

devil's tower di Wyoming, AS (travel-notes.com)

Banyak lagi tempat di dunia yang berkaitan dengan kolom-kolom batuan tersebut. Karena ukurannya yang luar biasa, gunung-gunung berkolom batu sisa-sisa aktifitas magmatik itu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat gigantik dan kejadian yang adi-kodrati. Apakah itu merupakan titian para raksasa, beruang raksasa, atau hasil buatan setan atau dewa.

legenda devil's tower (indiantodaymedianet.com)

Di Indonesia yang merupakan kepulauan yang dibentuk dari rangkaian gunung-gunung api, jika digali lebih lanjut, cerita yang berkaitan dengan kolom-kolom batu yang tersebar di banyak tempat, umumnya selalu berkaitan dengan sesuatu yang bersifat keramat. Kepercayaan tersebut rupanya sudah diyakini oleh para leluhur kita, terutama pada Zaman Neolitikum yang satu masanya dikenal sebagai budaya megalitik, yaitu kepercayaan yang direpresentasikan dengan pembangunan arca-arca atau pendirian kolom-kolom batu tegak menhir.

Menhir tersebar luas di Indonesia. Bersesuaian dengan lingkungan geologinya, banyak menhir dengan memanfaatkan kolom-kolom batu basalt yang tersedia secara alamiah untuk dibawa, diangkut, dan diberdirikan pada tempat-tempat yang dianggap suci bagi mereka. Situs-situs purbakala di Flores, Kerinci, Lahat, Purbalingga, hingga Palabuhanratu dan Gunung Padang jelas merupakan pemanfaatan kolom batu alamiah sebagai menhir yang merupakan simbol kekuatan yang di masa kemudian, terutama masa-masa agama Hindu, dikenal sebagai lingga.

Gunung Lalakon

Baru-baru ini masyarakat kita dibuat penasaran dengan suatu pendapat dari satu kelompok yang mengklaim telah menemukan bangunan piramida di Gunung Lalakon, utara Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kelompok tersebut berkeyakinan atas dasar interpretasi warisan para leluhur yang kemudian dikonfirmasi dengan penelitian geolistrik, bahwa Gunung Lalakon yang dua sisinya membentuk bidang menyudut mirip piramida, adalah tinggalan kehebatan para leluhur yang selama ini disembunyikan (decoy).

Untuk membuktikan itu, Maret 2011 lalu mereka melakukan penggalian di puncak Gunung Lalakon, hanya 4 m dari fondasi menara listrik tegangan tinggi yang membentang dari PLTA Saguling. Dari galian sedalam lebih kurang 2 m, mereka mengklaim menemukan bronjong-bronjong batu yang dianggap sebagai bagian dari bangunan piramida tersebut.

Terlepas dari keyakinan mereka yang tidak mendasarkan pada temuan-temuan dan penelitian arkeologis sebelumnya yang sebenarnya cukup luas di Indonesia, secara geologis, Gunung Lalakon merupakan satu dari banyak bukit di utara Soreang atau selatan Cimahi yang merupakan produk aktifitas magmatik selama Kala Pliosen, sekitar 4 juta tahun yang lalu. Dalam kala itu, aktifitas magmatik di sekitar Gunung Lalakon merupakan indikasi awal bergesernya jajaran magmatik-vulkanik ke arah utara di Jawa Barat. Maka di kawasan tersebut, selain Gunung Lalakon yang memang membentuk morfologi kerucut, kita akan menjumpai kerucut-kerucut lain, di antaranya Pasir Salam Masoro di rangkaian Gunung Lagadar – Gunung Bohong Cimahi, Pasir Selacau di Batujajar, Gunung Pancir dan Gunung Paseban di Cipatik, hingga Gunung Singa dan Gunung Sadu di Soreang. Ke arah Cililin, sisa-sisa kompleks gunung api purba ini semakin meluas.

Di Gunung Pancir, Paseban, Salam Masoro, dan Selacau, aktifitas galian batu andesit intensif dilakukan sejak tahun 1980-an. Galian-galian itu menyingkap enigma perbukitan yang di dalam Geologi Cekungan Bandung dikenal sebagai Kompleks Selacau – Lagadar. Di Pasir Salam Masoro dan Selacau, galian batu menyingkap susunan kolom-kolom andesit-basaltis tegak yang mirip Menara Setan Wyoming. Di Gunung Pancir, persis bersebelahan dengan Gunung Lalakon, galian batu memperlihatkan kolom-kolom batu yang tampak miring.


kolom-kolom andesit alamiah di Pr. Salam, Lagadar, yg bisa dianggap
bronjong oleh orang awam (Foto: Andri SS MUbandi)


kolom-kolom batu di G. Pancir, tetangga G. Lalakon
(Foto BB 2005)

Jadi bukan tidak mungkin bahwa bronjong-bronjong batu yang digali untuk membuktikan sebagai bagian dari bangunan piramida di Gunung Lalakon, sebenarnya hanyalah bagian dari kolom-kolom batu alamiah yang membentuk kerucut gunung itu. Memang, kolom-kolom batu itu membentuk struktur dan bentuk yang sempurna, sehingga banyak yang terkecoh menganggapnya sebagai buatan manusia. Padahal hukum alam pun telah bekerja dengan begitu sempurna, bahkan lebih sempurna dari buatan manusia. ***


G. Lalakaon berbentuk kerucut yg oleh orang Kp Mahmud disebut
G. Aseupan (Kukusan).

Budi Brahmantyo, geolog dan dosen Teknik Geologi di FITB, ITB; anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Bertemu Palindo, Sang Penghibur dari Lembah Bada

Suparman dengan sok yakin mengatakan bahwa soal perjalanan di pelosok Sulawesi Tengah, dialah jagonya. Ketika ditanya, “Apakah pernah ke Bewa?”, dengan raut muka ceria sambil tersenyum ia menjawab meyakinkan, “Pernah. Dari Tentena ke Bewa kira-kira sama lamanya dari Poso ke Tentena. Satu setengah jam!” Lalu inilah perjalanan satu setengah jam yang menjadi hampir seharian.

thx Widya Np atas peta ini

Pengemudi mobil rental itu memang namanya berbau Jawa. Namun ia sendiri mengaku nama itu “dipinjam” bapaknya dari nama Jawa. Ia sebenarnya asli Kaili, suku bangsa mayoritas yang mendiami sekitar Kota Palu. Nama keluarganya Lahajiro. Suparman Lahajiro akhirnya hanya tergelak mengaku bahwa angan-angannya saja yang pernah melanglang ke Bewa.

Mau bagaimana lagi, jalan ke Bewa berjarak lebih kurang 60 km dari Tentena dengan Avanza akhirnya ditempuh selama 6 jam! Tetapi dengan kecepatan rata-rata hanya 10 km/jam itu, terobati dengan pemandangan hutan asri Pegunungan Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Untunglah Suparman yang pernah bekerja sebagai supir truk logging, sangat terampil mengemudi. Avanza pun terguncang-guncang di jalan yang umumnya berbatu, tidak rata, sekali-kali aspal mulus, tetapi lebih banyak harus berhati-hati melalui jalan ambles akibat longsor, atau hancur karena tanah lapuk menjadi lempung.

Bagaimana jalan tidak hancur? Jalurnya melewati relief kasar dengan lereng-lereng terjal pada batugamping abu-abu yang mengalami proses metamorfosis sehingga menjadi marmer (pualam), tetapi mengalami retakan yang intensif akibat deformasi yang kuat khas jalur patahan Sesar Palu-Koro. Setelah melewati batugamping marmer abu-abu, jalan melewati jalur yang lebih parah pada Kompleks Pompangeo yang terdiri dari batuan ofiolit, terutama didominasi sabak, filit dan sekis yang seluruhnya mudah melapuk dan longsor. Seluruh bebatuan ini umurnya sangat tua, yaitu Kapur Akhir hingga Tersier Awal (sekitar 65 juta tahun yang lalu).

Perjalanan parah dimulai dari suatu tinggian tempat kita bisa memandang Danau Poso, Petirorano, yang berarti “tempat memandang danau.” Setelah melalui dua jembatan sungai besar Salo Malei dan turunan hancur (yang pada perjalanan pulang akan menjadi tanjakan lempung licin), akhirnya sampailah pada tinggian lain yang disebut Petirobada (tempat memandang Lembah Bada). Ketika matahari mulai tergelincir ke barat, Desa Bomba dijumpai pertama di Lembah Bada itu.

Arca Megalitik Lembah Bada

Entah kapan saya pernah membaca di koran atau majalah tentang tinggalan arca-arca Megalitik di hutan ilalang Sulawesi Tengah. Ingatan akan foto arca pada artikel itu rasanya langsung menyergap ketika Bakosurtanal mengajak saya untuk survei lapangan dalam rangka Penyusunan Atlas Bentang Lahan Sulawesi Tengah. Sekalipun tadinya pada rencana awal tidak ada satu titik observasi di Lembah Bada, saya sedikit membujuk pak Turmudi yang bertanggung jawab di projek itu untuk memasukkan Lembah Bada sebagai satu wilayah yang penting untuk diobservasi. Untunglah negosiasi berhasil. Jadilah satu hari diperuntukan ke Lembah Bada yang ternyata pencapaiannya sedikit perlu perjuangan.

Lembah Bada sore itu telah menjelang. Memasuki Bomba, berseliweran beberapa motor yang di antaranya dikendarai gadis-gadis. Ada yang menarik dari gadis-gadis itu. Mereka tampak putih, manis, dan cantik. Sedikit berbeda dengan kebanyakan gadis di Kabupaten Poso pada umumnya.

Lepas dari perhatian gadis-gadis yang menawan itu, di perempatan Desa Bewa yang menjadi tujuan utama, arca Megalitik menyambut kami. Arca yang terbuat dari batu sekis itu sengaja dipindahkan dari tempat aslinya di Padang Sepe sebagai penanda Lembah Bada, rumah bagi arca-arca artistik tinggalan Megalitik. Wajahnya sengaja dihadapkan ke utara, tempat arca itu berasal. Dari satu situs blog didapat nama arca batu sekis ini: Ariimpohi; yang artinya “pos tengah.”

Atas jasa seorang gadis manis juga akhirnya ditunjukkan di mana Padang Sepe berada. Mengejar sore yang mulai teduh, tanpa buang waktu kami mengejar Desa Lengkeka, ke arah Gintu, menyeberangi jembatan Salo Lairiang, menyusuri jalan batu, sampai akhirnya tibalah di suatu padang ilalang terbuka. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa bangunan tradisional baru sebagai daya tarik wisata. Dan, gambar arca yang mengembara di sudut-sudut memori ini  akhirnya mulai terwujud nyata di depan mata. Arca Palindo!

3 arca yg dikunjungi

Arca itu sangat menawan. Wujudnya seperti menhir dengan panjang lingkar hampir 4 m dan tinggi 4 m juga. Arca yang dipahat pada batu granit putih yang sangat keras itu miring 30o ke arah selatan. Kemiringan ini mungkin tidak disengaja oleh si pendirinya. Besar kemungkinan akibat amblesan tanah fondasi tempat arca tersebut diberdirikan. Ternyata satu foto tua yang didapat dari situs infowisatasulawesitengah.com memperlihatkan orang-orang Belanda pada 1930-an berfoto di arca Palindo yang juga sudah dalam posisi miring.

 
infowisatasulawesitengah.wordpress.com

Palindo yang berarti “sang penghibur” berwajah ceria dan ramah. Secara sekilas saya agak heran karena mirip satu karakter pada serial anak-anak dari TV BBC “teletubbies.” Kesan penghibur begitu kuat ketika pahatan hidungnya yang menonjol memberikan gambaran mulut yang sedang tersenyum. Arca Palindo (dan arca Megalitik lain di Lembah Bada) sejatinya tidak bermulut. Kesan adanya mulut yang tersenyum di arca Palindo adalah akibat air hujan yang tidak “mengotori” bagian bawah hidung sehingga masih tampak putih dari wajah sekitarnya.

Kekaguman terhadap hasil karya budaya Megalitik mengkristal karena sebagai geolog saya tahu persis betapa kerasnya batu granit yang menjadi bahan pembuatan arca ini. Dengan mineral dominan kuarsa yang mempunyai kekerasan 7 pada skala Mohs, pemahatannya harus dengan bahan yang lebih keras daripada kuarsa: topaz, korundum, atau … intan!

Apakah masyarakat Megalitik Lembah Bada telah memasuki budaya logam? Zaman Besi? Namun sekalipun sudah mengenal besi, betapa susahnya memahat granit dengan besi yang kekerasannya hanya setara antara 5 dan 6 skala Mohs. Sayangnya laporan arkeologi belum lengkap. Belum ada laporan apakah mereka meninggalkan peralatan besi. Saya menduga mereka memahat lengkungan dahi-hidung yang sempurna itu dengan menggunakan granit juga. Atau boleh jadi mereka telah menemukan topaz, korundum atau intan yang lebih memudahkan pekerjaan mereka.

Dari Sang Penghibur Palindo di Padang Sepe, ketika matahari semakin condong, dengan terpaksa kami hanya bisa mengunjungi satu arca lagi di Bomba: Langka Bulawa. Jika arca Palindo jelas berkelamin laki-laki dengan gambaran penis yang dipahat di bagian bawah arca, Langka Bulawa berjenis kelamin perempuan. Tanda kelaminnya juga dipahat di bagian bawah arca yang sedikit terkubur tanah. Keterangan di plank menyatakan bahwa Langka Bulawa berarti Ratu Bergelang Kaki Emas. Entah bagaimana penamaan arca ini karena arca-arca Lembah Bada tidak menunjukkan adanya kaki.

Tetapi satu hal yang jelas dan menarik adalah bahwa kedua wajah arca yang jaraknya berjauhan, kira-kira terpisah 5 km, dihadapkan ke arah barat. Sayangnya para pengunjung lain yang mengunjungi arca-arca lain kurang rajin menggunakan kompas untuk mengetahui orientasi wajah arca-arca Megalitik ini. Jika dari dua arca Palindo dan Langka Bulawa saja dapat dijadikan acuan, maka ada pendapat bahwa wajah arca yang dihadapkan ke arah barat diduga sebagai penghormatan masyarakat Megalitik atas asal-usul mereka yang datang dari arah barat.

Selain di Lembah Bada, arca-arca Megalitik dengan lumpang-lumbang batu ditemukan di Lembah Behoa, sebelah utara Bada. Temuan lumpang-lumpang batu juga dijumpai dan dikumpulkan menjadi Taman Purbakala di Desa Vatunonju (artinya batu berlubang), Biromaru, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi, lebih kurang 5 km sebelah tenggara Kota Palu.

Dari fakta ini saya kemudian menerawang dari mana kiranya jalur migrasi masyarakat Megalitik ini. Mungkinkah mereka mendarat di Teluk Bone, muara Salo Lairiang di selatan? Ketika penyebaran tinggalan Megalitik lebih menyebar ke utara, dugaan paling kuat adalah mereka mendarat di Teluk Palu, lalu bergerak ke selatan ke arah Lembah Bada, melalui lembah Sungai Palu yang lurus dibelah Sesar Palu-Koro. Lalu jangan-jangan mereka terus bergerak semakin ke selatan hingga mencapai Toraja. Budaya Toraja di kalangan antropolog masih dianggap sisa-sisa peninggalan budaya Megalitik.

Lembah Bada masih menyimpan banyak tinggalan arca. Memang sedikitnya perlu satu dua hari lagi untuk bisa menjelajah Lembah Bada dengan seluruh arca-arcanya. Sebaran arca-arca lain akhirnya hanya terlacak melalui selancar di internet. Namun bertemu arca Ariimpohi, Palindo, dan Langka Bulawa sudah sangat memuaskan dalam kunjungan sangat singkat itu.

infowisatasulawesitengah.wordpress.com

Lembah Bada yang dikelilingi pegunungan Lore Selatan yang didominasi batuan granit dan ofiolit metamorfosis, nyata sekali merupakan cekungan depresional yang kemungkinan besar dikontrol oleh sesar-sesar yang centang-perentang di Sulawesi Tengah. Melaju di dataran antara Bomba – Bewa – Gintu dengan sawah-sawah yang luas, rawa-rawa yang masih tersisa, dan Salo Lairiang yang bermeander, dapat diduga dulunya lembah ini kemungkinan merupakan danau pula; seperti halnya Danau Lindu di utaranya dan Danau Poso di timurnya. Arca Palindo dan Langka Bulawa sangat jelas ditempatkan pada kaki-kaki bukit yang diperkirakan kawasan kering dari genangan danau (pantai danau).

Jika rekonstruksi imajinasi ini benar, betapa indahnya 3500 tahun yang lalu, ketika masyarakat Megalitik di sekitar Danau Bada menjalani kehidupan mereka. Pantai danau dihiasi arca-arca di sekelilingnya yang pandangan wajahnya mengingatkan asal-usul dari arah mana kedatangan para leluhur mereka.

Ketika langit semakin meredup, kami segera bergerak kembali menuju Tentena melalui jalan yang pagi dan siang dilewati dengan susah payah. Di tanjakan licin, saat mobil-mobil lain membelitkan rantai di ban mereka, Suparman bersusah payah melewatinya dengan tambahan tenaga dorong. Bergelut naik dengan beberapa kali menggelincir disertai bau angus karet ban karena slip di permukaan yang licin, akhirnya Suparman berhasil melewati halangan berat itu tepat ketika gelap menyelimuti pegunungan.

Suparman Lahajiro akhirnya sekarang benar-benar pernah ke Bewa, Lembah Bada. Di Palu dengan bangga ia membual kepada Mulyadi temannya sesama pengemudi mobil rental yang tidak percaya bahwa Avanza dengan mulus berhasil masuk dan keluar dari Lembah Bada. ***

Reinder Fennema: Geolog yang Tenggelam di Danau Poso 1897

fennema (www.biografischportaal.nl)

Nama Fennema tidak begitu dikenal dalam Geologi Indonesia. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang mendalami Geologi, nama itu tenggelam di antara nama-nama geolog Belanda lainnya seperti R.W. van Bemmelen, R.D.M. Verbeek, Th. F.Klompe, Ch. E. Stehn, B.G. Escher, atau bahkan oleh geolog Indonesia sendiri, J.A. Katili. Di antara nama-nama itu, van Bemmelen dan Katili lebih mudah dirujuk karena buku-buku yang ditulisnya.

Namun ketika survei untuk penyusunan Atlas Bentang Lahan (Landscape) Sulawesi bersama Bakosurtanal, awal Juli 2011, tiba-tiba nama Reinder Fennema muncul begitu saja di Tentena. Sebenarnya sudah berkali-kali kami melewati tugu di pertigaan Tentena pada jalan Trans-Sulawesi Timur itu ketika secara samar-samar saya teringat pada buku fotokopi pemberian T.Bachtiar: 125 Tahun Penyelidikan Geologi Indonesia, Perkenalan dengan Beberapa Perintis Geologi di Indonesia, yang diterbitkan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 di Bandung, 1975.

Tulisan yang diterbitkan pada tahun ketika saya masih pakai celana pendek abu-abu kelas 1 SMPN 3 Bandung, mengingatkan saya akan suatu peristiwa adanya seorang geolog Belanda yang tenggelam di Danau Poso. Di hari terakhir survei, kebetulan mobil antre panjang di SPBU Tentena untuk bensin yang melangka di Sulawesi Tengah. Saya segera menyempatkan untuk melihat tugu itu. Jangan-jangan tugu itu untuk memperingati peristiwa tenggelamnya geolog Belanda itu.

Tugu Tenggelamnya Fennema di Tentena

Ah betul saja! Di prasasti marmer tertulis dalam bahasa Belanda:

Herrinnering aan

REINDER FENNEMA

hoofdingenieur by het mynwezen

verdronken in het Posso Meer

27 November 1897.

Kalimat itu melalui Google-translate disarankan diubah sebagai berikut: Herinnering aan REINDER FENNEMA hoofdingenieur bij het mijnwezen verdronken in het Posso Meer 27 November 1897; yang diartikan: peringatan Fennema REINDERS chief engineer untuk pertambangan tenggelam di Posso Lebih 27 November 1897.

Memang google sering rada ngaco juga :) Ya artinya pasti begini: peringatan kepada Reinder Fennema insinyur kepala  untuk pertambangan, tenggelam di Danau Poso 27 November 1897.

Dari buku IAGI 1975 itulah diceritakan bagaimana Fennema bersama J.F. de Corte dan empat orang pembantu dari Minahasa pada sore 27 November 1897 bertolak dengan perahu dari pantai barat untuk menuju Peura di pantai timur. Cuaca yang tadinya tenang tiba-tiba berubah. Angin kencang bertiup dan gelombang besar datang menggulingkan perahu. Semua selamat dengan berpegangan pada badan perahu yang terbalik. Pada sekitar pukul 8 malam, di antara cuaca yang hitam pekat dan angin menderu-deru, de Corte mendengar teriakan lemah dari arah Fennema. Namun sebelum semua sempat menyadari, mereka telah mendapati Fennema hilang tidak berpegangan lagi pada perahu. Mereka hanya pasrah, mengingat tenaga mereka yang sama-sama lemah yang hanya sanggup untuk berpegangan di badan perahu selama lebih dari lima jam dalam suhu air yang sangat dingin.

sketsa Danau Poso, dan kira2 lokasi Peura dan Tentena (arah utara ke kiri gambar)

Dua jam kemudian, cuaca membaik. Susah payah mereka membalikkan perahunya. Dengan sisa-sia tenaga, satu per satu naik ke perahu.  Saat matahari subuh menyingsing, barulah mereka tahu bahwa pantai barat ternyata tidak begitu jauh. Masyarakat segera menolong dan kembali mencoba mencari Fennema. Namun sia-sia. Tubuh Fennema hilang ditelan kedalaman Danau Poso, bersama segala peralatan eksplorasi geologi dan contoh-contoh batuan yang dikumpulkannya. Sampai kini mayatnya tidak pernah ditemukan. Sungguh tragis.

Tetapi di balik peristiwa mengenaskan itu, penjelajahan eksplorasi geologi memang selalu menantang. Medan-medan yang berat dan jauh justru menantang untuk dijelajahi. Zaman sekarang kesadaran akan keselamatan sudah cukup tinggi. Prosedur keselamatan dan asesoris pendukungnya disiapkan. Tentu saja pada beberapa kasus, sekalipun antisipasi terhadap kecelakan sudah maksimal, kadang-kadang peristiwa alam yang berubah tidak terduga, bisa membawa kecelakaan fatal. Apalagi kalau kita sembrono dan tanpa persiapan.

Dari catatan Verbeek 1903: Levensbericht van Reinder Fennema yang dikutip buku IAGI 1975, Fennema terlahir di Sneek, Friesland, Belanda, 21 Oktober 1849. Ia masuk sekolah politeknik pertambangan di Delft. Pada masa itu, ia lebih banyak studi dan magang dalam eksplorasi mineral, seperti di Jerman, Inggris dan Skotlandia. Studinya berlanjut ke Mijnakademie Clausthal, Pegunungan Hartz, Jerman, sebelum kemudian lulus ujian C di Delft 1872. Setahun kemudian ia mulai bekerja di banyak tempat di Eropa dan mulai bertugas di Jakarta pada April 1874 dengan diangkat sebagai insinyur kelas 3.

Ia sempat membantu R.D.M. Verbeek (geolog yang kemudian terkenal dengan penyelidikannya atas letusan Krakatau 1883) dalam pemetaan geologi Sumatra Barat. Rupanya Fennema dapat dikatakan sebagai seorang ahli hidrogeologi pertama di Indonesia dengan menyandang insinyur kelas 2. Eksplorasi air tanah dengan pengeboran ia lakukan di Jakarta dan Jawa Tengah 1878; Surabaya, Pasuruan, Lasem dan Rembang 1879; dan Gombong 1880, serta beberapa tahun kemudian di Medan 1886. Pada 1880 dengan teman mahasiswanya Hooze, dan Verbeen melakukan eksplorasi emas di Jasinga, Banten. Namun bulan September 1880 ia ditugaskan ke Bengkulu untuk eksplorasi batubara. Rupanya tugas di Bengkulu sangat berat. Fennema sakit dan mengambil cuti kembali ke Belanda selama dua setengah tahun berikutnya. Sudah suratan nasibnya ia tidak menjadi saksi letusan Krakatau 27 Agustus 1883 yang kemudian mencuatkan nama seniornya, Verbeek.

Oktober 1884, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Ijo, Pegunungan Karst Karangbolong, untuk kemudian ke Priangan. Januari 1885 ia diangkat menjadi insinyur kelas 1. Tahun itu juga pada bulan November, ia menikah dengan E. de Bruine. Pada 1886 ia ditugasi untuk studi kelayakan Langkat dalam bidang migas dan 1888 kembali bersama Verbeek menyusun Peta Geologi Jawa dan Madura.

Fennema diangkat menjadi insinyur kepala pada November 1893 dan tugas pertamanya sebagai insinyur kepala adalah penyelidikan G. Galunggung yang meletus 18 – 19 Oktober 1893. Setelah cuti di Belanda, ia kembali diangkat sebagai insinyur kepala pada 1896 untuk banyak tugas eksplorasi mineral di Sulawesi. Setahun kemudian, pada eksplorasi geologi bersamaan dengan penyelidikan apakah Daerah Poso berada pada wilayah Kerajaan Luwuk, terbaliknya perahu yang ditumpanginya di Danau Poso mengakhiri hidupnya selama 48 tahun.

Tentena, kota yang berada di tepi Danau Poso, pada saat saya kunjungi terlihat aman dan damai. Kota kecamatan di Kabupaten Poso ini selama masa konflik SARA pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, terimbas juga sekalipun tidak segawat Poso kota. Ketika saya tanyakan kepada pemilik toko yang berada persis di depan Tugu Fennema apakah maksud tugu peringatan itu, mereka menggelengkan kepalanya tidak tahu.

Jangankan dalam Bahasa Belanda, sekalipun ditulis dengan Bahasa Indonesia, mungkin sekali mereka pun tidak tahu satu peristiwa bersejarah di dekat kediamannya. Bagi mereka, siapa Fennema, mungkin hanyalah seorang Belanda biasa. Bagi mahasiswa geologi pun, tidak banyak yang tahu siapa Fennema. Namun bagi Pemerintah Hindia Belanda, jasa Fennema  sang insinyur kepala itu begitu dihargai. Selain di Tentena, satu prasasti juga terpajang di Museum Geologi Bandung:

aan

de gedachtenis

van

den hoofdingenieur van het mijnwezen

in Nederlandsch Indie

REINDER FENNEMA

den trouwe vriend

den edelan mensch

den bescheided geleerde

(Mengenang insinyur kepala pada Jawatan Pertambangan di Hindia Belanda REINDER FENNEMA, kawan yang setia, manusia yang mulia, sarjana yang rendah hati).