Gunung Dempo Kiblat Arca-arca Megalitik

Sumbangan tulisan saya di buku Ekspedisi Bukit Barisan 2011. Sayangnya di buku itu tidak dicantumkan masing-masing penyumbang tulisan. Ini adalah versi asli tanpa penyuntingan untuk buku tersebut.

Sehari memang tidak cukup untuk menjelajah Lahat yang kaya dengan sebaran arca-arca raksasa tinggalan budaya megalitik. Tapi apa mau dikata, hanya satu hari itulah waktu yang tersedia, terutama bagi sahabat saya asli Lahat, Mario. Iapun berkorban minta izin dari tempat bekerjanya di Bengkulu hanya untuk mengantar saya berkeliling ke tempat-tempat situs megalitik di Kabupaten Lahat yang sangat luas. Maka petualangan sehari pun dimulai dari kota Lahat untuk kemudian bergerak ke arah barat menuju Pagaralam dan Gunung Dempo.

Untuk Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Kopassus ini, sebenarnya tugas utama saya adalah mendeteksi gejala-gejala bencana alam bersumber dari fenomena geologis. Namun kesempatan untuk mempelajari arca-arca tinggal budaya megalitik dari sisi Geologi, baik juga sebagai sumbangan bagi tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 yang memang khusus mendekatinya dari sisi sosial-budaya atau antropologis. Dan ternyata, pengamatan secara rekonaisans atau survei tinjau sedikitnya membawa suatu wawasan baru tentang keberadaan arca-arca batu dan kubur-kubur batu, serta posisinya dalam konteks bentang alam Lahat dan G. Dempo. Ada dugaan Gunung Dempo menjadi kiblat masyrakat megalitik yang pernah berjaya di Lahat dan Dataran Tinggi Besemah ini.

Petualangan sehari dimulai di Lahat, sejauh kira-kira 200 km ke arah barat dari Palembang, Gunung Jempol akan segera kita lihat saat memasuki batas Kabupaten Lahat dari Kabupaten Muaraenim. Siapapun pasti akan tertawan matanya saat menjumpai suatu gunung yang bentuknya seperti genggaman tangan yang mengacungkan jempol. Memang, masyarakat Lahat lebih banyak menyebutnya sebagai Gunung Jempol, alih-alih nama aslinya Bukit Serelo. Bentuk morfologinya yang unik menjadikan Bukit Serelo terpilih sebagai ikon Kabupaten Lahat dan menjadi lambang kabupaten.

Arca-arca Batu Megalitik

Tidak seberapa jauh dari batas kabupaten, memasuki kota Lahat, di Kecamatan Merapi Barat, terdapat suatu arca peninggalan megalitik, beserta dolmen dan menhir. Tinggalan megalitik ini berada di pelataran SMPN 2 Merapi Barat. Arca tersebut dikenal sebagai Batu Putri atau secara resmi seperti tertulis di plank: Arca Manusia Tanjungtelang. Arah hadap arca yang berbahan batupasir volkanik ini berada dalam satu garis lurus dengan diagonal dolmen dalam arah barat daya, atau selatan-74o- barat (S74oB). Dolmen yang juga terbuat dari lapisan batupasir berwarna kuning keputih-putihan, berbentuk seperti meja berukuran 1,5 x 1,5 m. Dolmen ini tergeletak berjarak 20 m dari tempat arca berdiri. Agak terpisah jauh, sebuah menhir dari batu andesit dengan tinggi 80 cm berdiri tegak di halaman depan SMP itu.

Kompleks tinggalan megalitik ini berada di sebelah utara dari sebuah sungai yang menjadi sungai utama di Lahat, yaitu Aek Lematang. Sungai ini di dataran Lahat mulai menunjukkan pola aliran berkelok-kelok atau bermeander, dengan teras-teras sungai di bantaran kanan dan kirinya. Ada dugaan, teras sungai ini – sebagaimana teras-teras sungai besar di peradaban-peradaban kuno – merupakan tempat yang paling layak menjadi lantai kehidupan masyarakat purbakala. Di Kabupaten Lahat, tinggalan arca megalitik yang tersebar sangat luas, cenderungan berada di sekitar Aek Lematang, walapun beberapa di antaranya terpisah sangat jauh di perbukitan yang mungkin mempunyai makna lain tersendiri.

Arca-arca megalitik ini umumnya menggambarkan raksasa bersama hewan-hewan seperti gajah, harimau, atau ular. Arca Batu Putri atau Manusia Tanjungtelang misalnya menggambarkan seorang raksasa dengan kepala yang tidak jelas, bahkan hampir seperti menggunakan helmet. Posisi kepalanya lurus, dengan tangan sedang memangku seekor gajah. Kesan masyarakat awam akan melihat seolah-olah arca ini belum selesai dipahat dan ditinggalkan begitu saja sebelum detailnya selesai. Ada kesan kemesraan yang tertangkap antara raksasa dan gajak di pangkuannya. Seolah-olah gajah itu adalah anak yang diasuhnya.

Arca yang lain di antaranya apa yang disebut sebagai Batu Macan di Desa Pagaralam, Pagergunung. Arca ini menunjukkan seekor macan yang memeluk mesra dari belakang suatu figur yang kurang begitu jelas, apakah seekor macan yang lain, seekor kera besar, atau seorang raksasa. Adapun di Desa Muaradanau, di antara perkebunan karet, dijumpai arca batu seerang raksasa yang sedang duduk bersila dengan satu kaki tertekuk dipeluk lengannya yang memegang sesuatu yang mirip pisang. Raksasa ini menindih mahluk mirip manusia yang lebih kecil yang seperti ditikam di punggung dengan pisau yang dipegang tangan kirinya. Arca ini disebut sebagai Batu Buto.

Di Desa Gunungmegang, Kecamatan Jarai, masih di Kabupaten Lahat, berbatasan dengan Kota Pagaralam, beberapa tinggalan magalitiknya lebih bervariasi. Selain arca, dijumpai juga ruang-ruangan yang dindingnya tersusun dari batu, sehingga dikenal sebagai kubur batu atau bilik batu. Ahmad Rivai, warga Desa

Gunungmegang yang diangkat sebagai juru pelihara oleh Balai Pelestarian Peninggalan Prasejarah (BP3) Jambi mengatakan bahwa kubur-kubur batu dan arca-arca tersebar luas dan sangat banyak di kaki Gunung Dempo. Di Gunung Megang saja sedikitnya terdapat tiga situs yang menjadi tanggunungjawabnya, yaitu Kubur Batu Gunungmegang, Batu Putri, dan Batu Orang.

Semua arca umumnya dipahat pada batupasir atau breksi volkanik, yaitu batu yang terbentuk secara sedimentasi dari hasil letusan gunung api. Batunya memang keras dan kompak. Tetapi dengan peralatan logam, bahkan batu lain yang dipipihkan atau dibuat runcing, jenis batu arca dapat mudah dikerjakan. Begitulah mengapa arca-arca ini dipilih dari bahan batu itu karena kemudahannya untuk dipahat dan diukir. Adapun kubur dan bilik batu, umumnya menggunakan batu-batu yang lebih keras seperti andesit. Pada umumnya, batu-batu untuk bangunan ini sedikit sekali mengalami rekayasa, keculai lubang kecil atau goresan-goresan dangkal.

Dempo sebagai kiblat

Menariknya, arah kubur batu dengan sangat tepat mengarah ke puncak Gunung Dempo. Hal yang sama terukur dari wajah Batu Orang yang seolah-olah tengadah mengamati puncak Gunung Dempo, sementara ia menindih seekor gajah yang belalainya ia cengkeram dengan kuat. Keganjilan ada di arca Batu Putri yang posisi kepalanya berada pada permukaan tanah, sehingga hampir seluruh badannya berada di bawah tanah. Arca Batu Putri seperti dalam posisi meringkuk dengan badan tertekuk membelakangi Gunung Dempo di arah barat daya, dan kepalanya berpaling ke arah utara.

Arca lain di kaki Gunung Dempo disebut sebagai Batu Manusia Dililit Ular. Arca ini berada di tengah-tengah tegalan dan sawah yang sangat datar di Desa Tanjungaro, Pagaralam. Arca ini setinggi 1,5 m dengan diameter kira-kira 1 m, menggambarkan dua orang manusia yang sedang bergelut dan dililit ular. Anehnya ular-ular yang melilit mereka adalah kepanjangan lengan-lengan mereka sendiri. Di sini, arca ini tidak memiliki orientasi tertentu. Tetapi bersama-sama dengan batu besar lainnya, seluruhnya berjajar dalam satu orientasi yang lurus tepat ke puncak Gunung Dempo.

Sekali pada beberapa arca arah hadapnya berbeda, tetapi secara umum posisi hadap arca-arca ini hampir seluruhnya ke arah barat, atau lebih tepatnya lagi arah barat daya (selatan-barat). Sehingga mungkin kita dapat bertanya: mengapa arah barat daya? Wajah arca Manusia Tanjungtelang di Merapi Barat misalnya mengapa tidak dihadapkan ke timur arah Bukit Serelo yang berbentuk jempol yang bermorfologi cukup menonjol dan menarik perhatian, serta sangat dekat dan jelas terlihat dari tempat arca ini berada? Jika kita mengukur orientasi arca-arca ini dengan teliti, ada perkiraan bahwa semua arca megalitik tersebut dihadapkan ke barat daya karena mengarah ke Gunung Dempo (+ 3159 m). Gunung Dempo adalah satu-satunya gunung api aktif di Sumatera Selatan pada Pegunungan Bukit Barisan.

Seperti telah disebut di atas, hal tersebut semakin pasti ketika kita mengamati arac-arca yang berada pada kaki dan lereng Gunung Dempo. Di sekitar Kota Pagaralam yang udaranya sesejuk Kota Bandung waktu dulu, arca-arca tersebar di Kecamatan Pajarbulan dan Jarai, juga bilik atau kubur batu, dengan pasti terukur melalui kompas, teroreintasi ke Gunung Dempo. Menarik sekali ketika arah poros bilik batu, selain juga arah wajah arca-arca berbentuk raksasa, dengan tepat menghadap ke arah kerucut G. Dempo yang tampak megah menjulang di dataran tinggi di mana Pagaralam berada, atau yang lebih dikenal sebagai dataran tinggi Pasemah (sekarang disebut juga Besemah). Selain itu, suatu kumpulan menhir (batu tegak) sebanyak enam buah di Kecamatan Tanjungsakti yang berada di sisi barat daya Gunung Dempo, porosnya mengarah ke timur laut yang tidak lain adalah puncak Gunung Dempo.

Dengan melihat hasil obsevasi ini, ada dugaan Gunung Dempo dijadikan kiblat bangunan suci masyarakat megalitik Besemah. Gunung, terutama gunung api aktif, di wilayah nusantara umumnya selalu menjadi tempat yang sakral atau disucikan. Gunung api yang berbentuk kerucut yang puncaknya menjulang tinggi menggapai langit, dipercaya sebagai tempat para dewa, atau bahkan perwujudan dari dewa itu sendiri. Sesembahan selalu diberikan pada kawah-kawah gunung api aktif. Misalnya pada masyarakat Hindu Bali. Hingga sekarang, orang-orang bali selalu menempatkan arah pura ke arah gunung besar utama. Misalnya di Pulau bali sendiri ke arah Gunung Agung. Bahkan, orientasi posisi gunung selalu merupakan arah utara (kaja) bagi masyarakat Hindu Bali. Contoh lain, masyarakat Hindu Tengger selalu melemparkan sesajen dan hewan-hewan kurban pada Hari Kesodo ke kawah Gunung Bromo yang bergelok dan selalu berasap. Di Jawa Barat, di kabupaten Cianjur, sebuah bangunan megalitik yang tersusun dari kalom-kolom batu, juga diarahkan ke puncak Gunung Gede, gunung yang memang dianggap sakral bahkan hingga Kerajaan Sunda dan Pajajaran berkuasa di Jawa bagian barat.

Secara geologis, gunung api yang sedang tidak aktif memberi manfaat besar bagi masyarakat yang hidup di kaki-kakinya. Tanahnya umumnya subur karena limpahan dari letusan memberikan unsur-unsur kimia baru yang segar dari perut bumi. Hal ini menjadikan tanah yang terbentuk nantinya kaya akan unsur yang diperlukan bagi pertumbuhan tumbuhan. Selain itu, karena puncaknya yang tinggi, gunung api juga seolah-olah menjadi seperti magnet untuk awan-awan sehingga mendekat dan mencurahkan hujan di atasnya. Akibatnya, sumber daya air melimpah ruah dari badan gunung api. Mata air akan keluar di kaki-kakinya. Sungai-sungai berair bersih mengalir dari lereng-lerengnya. Udara gunung api juga nyaman dan sejuk.

Tetapi ketika aktif, letusannya sangat mengerikan dan mengancam kehidupan. Ledakannya menggelegar luar biasa, menciutkan nyali para penghuni di bawahnya. Magma, berupa cairan batu pijar bersuhu sekitar 1000oC, ketika diletuskan menciptakan suatu fenomena kembang api yang sesungguhnya indah tapi mengerikan. Aliran magma yang kemudian merayapi lembah-lembah ke arah hilir sebagai aliran lava, masih bisa menghanguskan apa yang dilewatinya dengan suhu masih 700oC. Belum lagi aliran sangat cepat awan panas yang menrejang lereng masih bersuhu 500oC. Tidak akan ada yang dapat selamat dari gunung api yang sedang murka ini. Personifikasi sebagai dewa yang di satu waktu begitu pemurah dan di waktu yang lain menunjukkan angkara murkanya, mungkin akhirnya membuat masyarakat megalitik menganggap gunung api sebagai representasi yang maha kuasa, yang selain memberi berkah, juga sekaligus musibah.

Dengan menggunakan analogi seperti itulah, masyarakat megalitik di Nusantara menjadikan gunung api menjadi sesuatu yang patut dihormati. Maka ada dugaan bahwa di Dataran Tinggi Besemah pembangun arca-arca dan bangunan-bangunan megalitik mengarahkannya ke Gunung Dempo, karena gunung api itu hingga sekarang masih aktif. Tanggal 25 September 2006, lima tahun yang lalu, dari kawah aktifnya yang dikenal sebagai Gunung Merapi, Gunung Dempo meletus menghasilkan awan debu setinggi 1 km di atas puncaknya. Di antara ketenangan yang sangat lama, sekali-kali gunung api ini mengingatkan adanya kekuatan alam yang sangat luar biasa dan bisa membinasakan. Berribu-ribu tahun lalu, kondisi itulah yang mungkin dirasakan oleh masyarakat megalitik di sekitar Besemah saat Gunung Dempo kemungkinan lebih aktif daripada kondisi tenang sekarang ini.

Pada saat itulah rasa hormat ditunjukkan dengan pembuatan arca-arca yang wajahnya dihadapkan ke Gunung Dempo. Rasa hormat yang sama ketika masyarakat megalitik Cianjur membangun punden berundak Gunung Padang dengan mengarahkannya ke Gunung Gede. ***

Bukit Barisan: Sebuah Catatan Perjalanan

Catatan:

Dua minggu lalu ketika jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia, terpana dengan buku berjudul EKSPEDISI BUKIT BARISAN 2011, PEDULI DAN LESTARIKAN ALAM INDONESIA. Waah, ternyata buku hasil kegiatan ekspedisi yang saya ikuti di bulan Maret 2011 lalu di bawah komando KOPASSUS, sudah terbit dalam format buku besar. Harganya? Mahal. Rp. 350.000,- Tapi saya terkejut bahagia ketika membuka halaman-halaman awal. Tulisan saya dimuat sebagai pengantar keseluruhan buku. Saya segera kontak penanggung jawab ekspedisi, Letkol Inf Iwan Setiawan. Alhamdulillah akhirnya dua eksemplar buku terkirim ke Geologi ITB. Berikut ini tulisan kontribusi saya yang telah diedit dengan baik oleh penyunting dari drfat asli yang saya kirim. Selamat membaca.

Sumatra bisa dikatakan pulau tidak seimbang. Ujung barat dihiasi gunung-gunung tinggi dan perbukitan berrelief kasar. Sedangkan sisi timur, kita hanya akan menjumpai dataran sangat luas dengan sungai-sungai yang bermeander berkelok-kelok genit seperti penari, sebelum bermuara ke Selat Malaka atau Selat Karimata. Sisi barat yang bergunung-gunung dikenal dengan nama Pegunungan Bukit Barisan, sebuah nama yang sebenarnya rancu: di satu sisi disebut pegunungan, tetapi juga disebut bukit. Maka tidaklah mengejutkan jika nama pegunungan ini dalam Bahasa Inggeris selalu menjadi Barisan Range atau Barisan Mountain saja. Nama Bukit Barisan yang semula hanya untuk perbukitan tinggi di sekitar Lampung-Bengkulu, akhirnya dipakai untuk keseluruhan pegunungan yang memanjang di sisi barat Sumatra itu.

Pegunungan Bukit Barisan yang memiliki beberapa gunung api aktif, dikenal sebagai Cincin Api Pasifik dalam konteks vulkanologi dunia. Di kalangan geolog, sisi-sisi benua yang menghadap ke Samudra Pasifik memang dikenal akan untaian gunung berapi aktifnya — mulai dari Chile di selatan Amerika, Kolumbia, San Salvador, Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, Alaska, berputar ke arah Benua Asia ke Jepang, Kepulauan Mariana, Filipina, Kepulauan Indonesia, hingga ke Selandia Baru. Secara geografis, Kepulauan Indonesia pun menjadi titik bertemunya dua rangkaian pegunungan utama: Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik dan Maditerania. Pegunungan Bukit Barisan sendiri adalah bagian dari Rangkaian Maditerania yang dimulai dari Pegunungan Pirenina di Spanyol-Prancis, Pegunungan Alpen di Eropa Barat, Pegungan Kaukasus di Eropa Timur, Pegunungan Zagros di utara Irak-Iran, Pegunungan Himalaya, menerus melewati utara Myanmar, menyeberang di Laut Andaman, hingga menyentuh Sumatra di utara Aceh.

Lantas, proses geologis apa yang menyebabkan terbentuknya Pegunungan Bukit Barisan yang menyebabkan potongan timur-barat Pulau Sumatra menjadi seolah-olah tidak seimbang? Jawabannya terletak pada sutau peristiwa maha dahsyat di masa lampau, ketika Lempeng India-Australia bergerak dan menunjam di bagian bawah Lempeng Eurasia. Ketika kontak dua lempeng raksasa ini terjadi di Sumatra, keduanya membentuk sudut yang berakibat kecepatan penunjaman menjadi berkurang (Verstappen, 2000). Hal itulah yang mungkin menyebabkan gunung api di Sumatra tidak sebanyak Pulau Jawa yang interaksi lempeng-lempengnya berarah tegak lurus.

Interaksi antara kedua lempeng itu emlahirkan sebuah robekan pada permukaan bumi Sumatra yang terletak di antara Pegunungan Bukit Barisan, dikenal se bagai dextral transcurrent fault system, atau Sesar Besar Sumatra. Sesaran ini mematah dalam zona yang rumit, berawal dari pulau-pulau di ujung utara Sumatra di Aceh, membentuk lembah-lembah memanjang di daratan, dan di antaranya membentuk deretan danau-danau besar di sepanjang jalur yang dilintasinya, hingga ke ujung selatannya di Teluk Semangko, Lampung.

Karena adanya sesar itu pula, di sepanjang jalur yang dilintasinya, bermunculan pusat-pusat gempa bumi bersama-sama dengan pusat-pusat erupsi gunung api. Tak ayal lagi, Pegunungan Bukit Barisan menjadi kecantikan yang mematikan: menyimpan sumber daya bumi yang kaya dan berlimpah (mulai dari sumber-sumber mineral, batubara, air, minyak bumi, batu mulia, dan lain sebagainya) dan menyajikan panorama alam yang memukau, serta lahan-lahan yang subur untuk hidup bertani, tetapi di sisi lain, memendam potensi bahaya bencana kebumian yang sulit diprediksi.

Gempa bumi tercatat hampir di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, beberapa di antaranya berakhir sebagai tragedi. Pesisirnya pun sering terlanda tsunami akibat gempa bumi yang berpusat di dasar laut, sedangkan perbukitannya yang berrelief kasar  sering dilanda bencana longsor atau banjir bandang. Sekalipun letusan gunung api relatif jarang, tetapi secara geologis dan dari rekaman sejarah letusan gunung api, beberapa gunung api aktif selalu menjadi ancaman jika meletus pada permukiman di kaki-kakinya. Bukit Barisan jelas tidak mengenal istilah ‘daerah aman.’

Bentang alam Pegunungan Bukit Barisan adalah gabungan dari berbagai bentuk muka bumi yang bervariasi. Jajaran perbukitan-pegunungan memanjang yang umumnya dikontrol secara geologis oleh proses perlipatan batuan-batuan sedimen berumur Mesozoik hingga Tersier, terrentang sepanjang pegunungan tengah di Aceh, barat daya Sumatra Utara, jalur tengah Sumatra Barat di sepanjang jalur yang melalui Danau Singkarak, termasuk di antaranya Ombilin dan Sawahlunto penghasil batubara, menerus ke Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan. Disamping itu terdapat perbukitan-pegunungan berrelief kasar yang didominasi oleh batuan metamorf yang mengisi Pegunungan Leuser di Aceh hingga Sumatra Utara.

Akibat sistem patahan rumit yang terjadi di daerah ini, lahirlah pembumbungan morfologi berupa perbukitan memanjang. Tetapi kekayaan geografis Bukit Barisan tidak berhenti di sana; selain pembumbungan, terjadi pula penarikan pada arah yang berlawanan sehingga menghasilkan lembah-lemabha yang kemudian menjadi danau-danau yang memanjang di sepanjang jalur ini. Danau Lauttawar, Danau Toba, Danau Singkarak, Danau Kerinci, hingga Danau Ranau adalah beberapa danau yang terbentuk di sepanjang jalur patahan ini.

Di samping perbukitan-pegunungan dan lembah yang memanjang itu, muncul pula kerucut-kerucut gunung api, suatu terobosan magma aktif yang menyembul di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Sekalipun tidak intensif baik dari sisi jumlah mau keaktifan, beberapa gunung api tetap menjadi ancaman bahaya bencana letusan yang sangat mengkhawatirkan. Gunung api Sinabung yang tadinya digolongkan sebagai gunung api tipe B (yang tidak pernah tercatat meletus sejak 1600), tahun 2010 lalu tiba-tiba meletus cukup besar, memancarkan abunya hingga berratus-ratus meter ke angkasa. Kondisi terbaru itu menyebabkan Gunung Sinabung menaikkan statusnya menjadi gunung api tipe A (Aktif; atau pernah meletus sejak 1600).

Gunung-gunung api aktif justru terkonsentrasi di Sumatra Barat. Tercatat beberapa gunung api, di antaranya yang terbesar adalah G. Merapi, G. Singgalang, dan G. Talang. Beberapa gunung api dalam kondisi yang boleh dikatakan mati, misalnya sisa-sisa gunung api yang membentuk Danau Maninjau. Walaupun G. Merapi gunung terbesar yang kawahnya masih mengepulkan asap solfatarnya, tetapi gunung api teraktif adalah G. Talang di Solok. Gunung api ini beberapa kali meletus dan mengancam penduduk yang mendiami kaki gunung, terutama ke arah utara.

Gunung Kerinci (sekitar 3805 meter di atas permukaan laut) merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia. Gunung api ini terletak di perbatasan Sumatra Barat dan Jambi. Pos pemantauan di Kayuaro, Kerinci, beberapa kali mencatat adanya gejal-gejala tremor dari aktivitas vulkanik gunung ini. Tahun 2010 tercatat meletus kecil dengan memuntahkan asapnya sekitar 500 m dari kawah. Ke arah selatan, gunung api berikutnya yang cukup aktif adalah G. Dempo di Sumatera Selatan, dan Suoh di Lampung. Gunung Dempo tercatat beberapa kali meletus, sehingga aktivitasnya juga dipantau melalui pos gunung api dari Kabupaten Lahat (*)

* Penulis, staf dosen Teknik Geologi ITB, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (FITB, ITB); anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Tiga Museum Geologi di Jepang

GEOMAGZ, Majalah Geologi Populer terbitan Badan Geologi telah masuk ke terbitan nomor 2 (Juni 2011) dengan tema “Museum Geologi” untuk menyambut HUT Museum Geologi Bandung 16 Mei 1929. Artikel saya ini adalah salah satunya, dengan isi pengalaman mengunjungi tiga museum geologi di Akita, Niigata, dan Saitama, Jepang.

sampul Geomagz Vol 1/No 2 Juni 2011 dan 3 foto/artikel di dalamnya

Masyarakat Jepang adalah masyarakat yang berbudaya luhur. Salah satu ciri bagaimana mereka menjunjung tinggi budayanya adalah dengan menghormati para leluhur mereka, terutama leluhur yang telah menciptakan karya-karya yang dianggap monumental, bernilai sejarah tinggi, atau bermanfaat/berpengaruh bagi masyarakat luas. Tidak jarang tokoh yang dianggap luar biasa bahkan bisa didewakan. Patungnya akan menghiasi kuil Shinto utama di suatu desa atau wilayah yang lebih luas, dan disembah-sembah.

Penghormatan kepada leluhur mereka yang sangat ditekankan dalam kepercayaan Shinto tidak lepas juga dari penghormatan terhadap lingkungan tempat para leluhur pernah hidup. Rumah tempat tinggal leluhur dan lingkungannya, bahkan kadang-kadang binatang peliharaannya, ikut kecipratan dipuja-puja. Tentu saja hasil karya leluhur ikut dipelihara sebagai bagian dari penghormatan itu.

Kondisi mental masyarakat Jepang tersebut telah menciptakan suatu kondisi jiwa kepedulian terhadap warisan atau peninggalan leluhur. Tidak heran, di setiap kota besar atau kecil di Jepang, selalu terdapat museum, besar atau kecil juga. Bahkan terhadap lokasi-lokasi bersejarah, mereka lestarikan dengan mendirikan museum, atau semacam museum.

Misalnya sebuah jembatan utama yang melintasi Shinanogawa, sungai utama Kota Niigata di tepi Laut Jepang, 400 km utara Tokyo, dianggap jembatan bersejarah. Jembatan yang dikenal sebagai Bandai ini berkali-kali runtuh akibat gempa besar. Semua foto-foto atau lukisan gaya Jepang lama tentang jembatan ini direproduksi, kemudian dipajang di salah satu tepi jembatan ini. Setiap orang, terutama orang baru, yang akan melewati jembatan ini, selalu tertarik untuk sedikitnya memperhatikan pajangan tentang sejarah jembatan ini. Begitulah contoh paling sederhana sebuah museum.

Contoh lain adalah setiap selesai membangun suatu bangunan fenomenal, orang Jepang selalu menyediakan pojok yang berfungsi sebagai museum. Di pojok ini mereka menunjukkan bagaimana kronologi pembangunan, siapa saja orang-orang yang terlibat, desainnya, hingga pada peristiwa-peristiwa yang dianggap penting, dan sebagainya. Pada sebuah terowongan yang menembus Pegunungan Alpen Jepang sepanjang kira-kira 11 km tanpa putus, sejarah pembangunannya diabadikan pada pojok museum kecil pada tempat istirahat di pintu masuk terowongan ini dari arah Tokyo.

Begitu pula hampir di setiap universitas mempunyai pojok yang menceritakan sejarah perkembangan universitas tersebut. Banyak contoh lain, misalnya bendungan besar, bangunan pencakar langit, stadion sepak bola, bahkan hingga hal yang paling sepele seperti jembatan itu tadi, atau sejarah alam desa tempat mereka tinggal! Tentu saja, peristiwa-peritiwa alam besar selalu diabadikan dalam museum: gempa besar yang merusak, longsor yang menghancurkan satu desa, banjir besar, atau kebakaran yang sangat luas, dan sebagainya.

Tidaklah heran jika museum tersebar di seluruh pelosok Jepang, dan museum geologi adalah salah satu jenis museum yang hampir selalu ada di setiap perfektorat (daerah otonom setingkat provinsi), sekalipun umumnya merupakan bagian dari museum sejarah alam (natural history museum). Tetapi pada kondisi geologi khusus, banyak museum geologi didirikan. Tiga diantaranya yang sempat saya kunjungi adalah Museum Geologi dan Tambang Univerisitas Akita, Museum Fossa Magna di Itoigawa, Niigata, dan Museum Nagatoro di Saitama.

Museum Geologi dan Tambang Universitas Akita adalah contoh museum universitas yang berada di perfektorat barat laut Pulau Honshu, Akita. Museum ini mengoleksi hasil-hasil riset Departemen Geologi dan Pertambangan universitas tersebut, dan menjadi sangat bermakna setelah ditutupnya Departemen Pertambangan di universitas itu sejak tahun 1980an. Museum ini terletak di dalam komplek univeritas tetapi dapat diakses dari luar tanpa harus masuk lingkungan kampus.

Dengan membayar tiket masuk 100 yen, kita bisa dengan leluasa menjelajah empat lantai museum itu. Sebagaimana umumnya museum, ruang-ruangnya yang berarsitektur spiral seperti rumah keong, dibagi dalam beberapa tema: geologi (mineral, batuan, fosil, peta-peta geologi, peralatan eksplorasi), tambang (model miniatur lokasi tambang, sejarah pertambangan, peralatan tambang, gambar-gambar kuno tentang para penambang rakyat), dan aplikasi (kegunaan mineral logam, peralatan yang dibuat dari mineral tertentu, dan sebagainya).

arsitektur spiral spt kamar keong di Museum Geologi dan Pertambangan Univ Akita

Lain lagi dengan Museum Fossa Magna. Museum yang terletak di Perfektorat Niigata, kira-kira 400 km sebelah barat lautTokyo, menandai satu fenomena geologis besar di Pulau Honshu, yaitu pertemuan dua lempeng yang saling berinteraksi dalam proses tektonik yang menghasilkan zona deformasi besar. Zona ini membagi Pulau Honshu bagian timur dan barat, kira-kira tepat pada tekukan bentuk pulau ini yang mirip huruf J. Itulah mengapa kawasan itu disebut Fossa Magna, yang berarti Retakan Besar.

Tema Museum Fossa Magna mengoleksi dan menyajikan berbagai jenis batuan dan fosil yang didapat sejak penelitian orang Jerman Naumann di abad ke-19 hingga temuan mutakhir di zona tektonik itu. Displainya sangat menarik. Di antaranya kupasan asli batuan sedimen sepanjang hampir 10 m yang dipotong langsung dari lapangan. Masuk museum ini kita harus membayar tiket masuk cukup mahal, yaitu 500 yen. Museum Fossa Magna sekarang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Itoigawa Geopark.

Museum terakhir yang menjadi topik di tulisan ini adalah museum sejarah alam di Nagatoro, Perfektorat Saitama, kira-kira 70 km utara Tokyo. Museum ini menyatu dengan lingkungan sekitarnya yang merupakan cagar alam batuan sekis-filit. Dengan demikian, bagian luar museum juga merupakan kawasan museum yang batuan metamorfosisnya dilindungi dan dilarang untuk dikoleksi pengunjung.

Museum ini mengingatkan kita pada Kampus Geologi Lapangan Karangsambung. Apalagi di kawasan ini terdapat sebuah sungai berair tenang di antara tebing-tebing sekis-filit yang akan mengingatkan kita ke situasi Kali Lukulo. Kawasan ini di Nagatoro dikenal sebagai Iwadadami, atau Batu Tatami. Hal itu karena sekis-filit yang terhampar mirip seperti tatami, tikar khas Jepang. Menurut pemandu, zaman dulu, mahasiswa-mahasiswa Geologi dari berbagai universitas di Jepang pernah berkampus lapangan di sini. Ya, Nagatoro pernah menjadi Karangsambungnya Geologi Jepang.

Batu Tatami (Iwadadami) di Nagatoro (japan-travelnews.info)

Sama seperti di Indonesia, pengunjung museum relatif sepi. Bedanya, museum besar di Jepang berfungsi juga sebagai lembaga penelitian dengan seorang direktur yang merangkap sebagai seorang kurator. Di tangannyalah program museum ditentukan. Tentu saja tampilan dan displainya sangat baik, tidak sekedar pajangan saja. Beberapa sudut museum diperuntukan bagi wahana interaksi antara pengunjung dan benda-benda museum tertentu.

Satu hal umum pada setiap museum di Jepang adalah membayar tiket masuk. Tiket dan pamflet biasanya dihiasi karakter-karakter kartun yang lucu khas Jepang. Selain itu selalu ada toko souvenir yang menjual replika atau memorabiliti/barang kenangan museum. Hal yang belum ada di Indonesia adalah stempel museum yang gratis dicapkan pada buku catatan atau kertas yang bisa dibawa pulang pengunjung. Ini menjadi kenangan yang sangat unik karena cap tersebut tentu saja hanya tersedia di museum itu. Daripada stiker yang bisa dibeli banyak dan dibagi-bagikan, stempel lebih mengena sebagai bukti otentik kunjungan. Tentu saja supaya tidak hilang, stempelnya sendiri dirantai ***

sutampu (begitu orang Jepang menyebut "stamp") stempel gratis di museum2 di Jepang

Plato and a Platypus, Walk into a Bar (By Thomas Catchcart & Daniel Klein)

Please find below some jokes quoted from a book full-titled “Plato and a Platypus, walk into a bar: understanding philosophy through jokes ” by Thomas Catchcart & Daniel Klein

The comments in the message are made especially for consultants in any field and in any place. Clients can enjoy the jokes also.

Joke #1.
Ted meets his friend Al and exclaims, “Al! I heard you died!”
“Hardly” says Al, laughing, “As you can see I’m very much alive.”
“Impossible,” says Ted. “The man who told me is much more reliable than you.”
(page 44)

Message:
It does not matter what the fact is. Credibility is number one. Therefore,
it is very important you gain credibility in whatever field you are consulting. Once you get it you can even insult the hard real data.

Joke #2.
A man walks into a pet store and asks to see the parrots.
The store owner shows him two beautiful ones out on the floor.
“This one is $5,000 and the other is $10,000,” he says.
“Wow!” says the man. “What does the $5,000 one do?”
“This parrot can sing every aria Mozart wrote,” says the store owner.
“And the other?”
“He sings Wagner’s entire Ring cycle. There’s another parrot out back for $30,000.”
“Holey moley! What does he do?”
“Nothing that I’ve heard, but the other two call him “Maestro”.
(page 44)

Message:
Network is important. Especially if you can have references from the “known”
or / proven” experts.
Rumour tends to work the other way around though.

Joke #3.
Salesman: “Ma’am this vacuum cleaner will cut your work in half.”
Customer: “Terrific! Give me two of them.”
(page 47)

Message:
Be careful with client who thinks that the more consultants in a project the
faster it will be finished,because the other way around is the truth.

Joke #4.
A man is worried that his wife is losing her hearing, so he consults a doctor. The doctor suggests that he tried a simple at-home test on her:
Stand behind her and ask her a question, first from twenty feet away, next
from ten feet, and finally right behind her.

So the man goes home and sees his wife in the kitchen facing the stove.
He says from the door, “What’s for dinner tonight”
No answer.
Ten feet behind her he repeats, “What’s for dinner tonight?”
Still no answer.
Finally, right behind her he says, “What’s for dinner tonight?”
And his wife turn around and says:
“For the third time –Chicken”
(page 55)

Message:
If your client is completely lost with your explanation or your work; sit
back and check your work again. It might be you who are completely screw up.

Joke #5.
Joe: What a fabulous singer, huh?
Blow: Ha, if I had his voice, I’d be just as good.
(page 69)

Message:
Admit it! Some consultants is better than other in one type of work/specialties.

Joke #6.
There’s a surefire way to live to a ripe old age – eat a meatball a day for a hundred years
(page 68).

Message:
This one is for clients. Make sure you understand the conclusions / recommendations of your consultant.He might not have done anything and just
Play with words to convince you.

Joke #7.
A young married couple moves into a new apartment and decides to repaper the
dining room. They call on a neighbor who has a dining room the same size and
ask, “How many rolls of wallpaper did you buy when you papered your dining room?”
“Seven”, he says.

So the couple buys seven rolls of expensive paper, and they start papering.
When they get to the end of the fourth rol, the dining room is finished.

Annoyed, he go back to the neighbor, and say, “ We followed your advice,
but we ended up with three extra rolls.”

“So”, he says, “that happened to you too”
(page 128 -129)

Message:
make sure you ask the right question

Joke #8.
A 911 dispatcher receives a panicky call from hunter.
“I’ve just come across a bloodstained body in the woods! It’s a man, and I
think he’s dead! What should I do?”

The dispatcher calmly replies, “It’s going to be alright sir. Just follow my
instructions. The first thing is to put the phone down and make sure he’s dead.”

There is a silence on the phone, followed by the sound of a shot.

The man’s voice returns, “Okay. Now what do I do?”

Message:
be careful with your instructions. This is true for both the clients and consultants

(By Thomas Catchcart & Daniel Klein; Plato and a Platypus, walk into a bar)

This is a review of the book  in wikipedia (downloaded Dec 6th 2011, 11 AM West Indonesia Time):

Plato and a Platypus Walk Into a Bar – Understanding Philosophy Through Jokes is a book that explains basic philosophical concepts through classic jokes. Thomas Cathcart and Daniel Klein, graduates of Harvard in philosophy, collaborated on the book. After being rejected by 40 publishers, the book was accepted by Abrams Image, an imprint of Abrams Books, and immediately became a bestseller. It has been translated into 20 languages and appeared on bestseller lists in the U.S., France, and Israel.

Plato and a Platypus examines the classic categories of philosophy, with concepts explained or illustrated by jokes. The chapter titles — “Metaphysics,” “Logic,” “Epistemology,” “Ethics,” “Existentialism,” and “Philosophy of Language” — are serious, but the approach is a mix of serious and comic.

The authors explain the philosophy behind their book this way: “The construction and payoff of jokes and the construction and payoff of philosophical concepts are made out of the same stuff. They tease the mind in the same ways…philosophy and jokes proceed from the same impulse: to confound our sense of the way things are, to flip our worlds upside down, and to ferret out hidden, often uncomfortable, truths about life. What the philosopher calls an insight, the gagster calls a zinger.[1]

The book also features a conversation between two fictional ancient Greek philosophers named Dimitri and Tasso

Di Puncak-puncak Himalaya, Apa yang Engkau Cari, Sieling?

Entah kekuatan apa yang menggerakkan seorang ibu rumah tangga meninggalkan suami dan tiga anak-anaknya untuk pergi ke Nepal dan menjelajahi puncak-puncak tinggi, terjal, dingin, dan berbahaya di Pegunungan Himalaya. Namun itulah Sieling Go, seorang perempuan pendaki yang anggota pecinta alam Mahitala UNPAR Bandung, mempunyai tekad yang kuat, semangat baja, dan kecintaan kepada gunung, jiwa nasionalisme dan kebanggaan akan Sang Saka Merah Putih, plus sedikit keras kepala, yang membawanya beberapa kali menjelajahi lereng-lereng dan puncak-puncak Pegunungan Himalaya yang umumnya berada di atas elevasi 4000 m di atas permukaan laut. Lalu hebatnya, pengalamannya mendaki solo pada musim semi 2007, menjelma menjadi buku bagus berjudul “Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya” (Grasindo, 2011).

"Nyanyian Angin Himalaya" (Foto: Sieling)

Membaca buku itu seolah-oleh kita mendengarkan langsung Sieling menceritakan pengalamannya menggapai beberapa puncak di Pegunungan Khumbu Himal, lereng-lereng selatan puncak tertinggi di Bumi ini, Gunung Everest 8848 m. Bayangkan Sieling duduk di depan forum, bercerita, sambil memperlihatkan foto-foto hasil jepretannya, ditambah sketsa-sketsa kartunnya, selama petualangannya di Nepal. Membaca bukunya juga seolah-olah kita membaca diary buku harian perjalanannya yang penuh dengan foto. Buku ini jadinya seperti buku cerita bergambar dan kadang-kadang menjadi begitu komikal melalui kartun-kartun yang melengkapi buku ini.

Gaya bahasanya lugas, seperti bertutur, mengalir begitu saja seolah-olah bercerita di depan teman-temannya. Para pembaca serius dan pengikut berbahasa Indonesia yang baik dan benar mungkin jengkel dengan pilihan kata-kata dan kalimat-kalimatnya yang tidak mengikuti kaidah-kaidah EYD. Namun justru di situlah menariknya buku ini. Ia bertutur tentang pendakiannya yang kadang-kadang sulit, berbahaya, tetapi terselip humor-humor yang menyentil. Struktur bukunya disusun secara kronologis dan kaleidoskopis dari hari ke-hari, karena Sieling rupanya memang  ingin berbagi pengalaman tentang petualangannya dari awal sampai akhir. Rasa berbaginya juga ia sampaikan tentang berbagai tips jika ingin mendaki Himalaya, termasuk berapa ongkos yang harus dikeluarkan, serta peralatan dan bekal apa saja yang harus dipersiapkan.

Mungkin karena gaya bertutur ini pula, terdapat beberapa pertanyaan menarik yang dikutip sebagai awal bab, tidak diberikan jawabannya. Apakah lupa, atau disengaja, entahlah. Misalnya Sieling mempertanyakan sendiri mengapa penduduk Thame yang indah tidak begitu ramah, dingin, tidak tersenyum, dan tidak menyapa balik salam bahasa Nepali namaste (Hari  ke-4, halaman 75). Sampai habis bab ini, pembaca tidak diberi jawabannya. Contoh lain misalnya insiden yang hampir merenggut nyawanya pada ekspedisi sebelumnya bersama Mahitala, yang diceritakan pada Hari ke-11 (halaman 219) juga tidak jelas insiden seperti apa. Kemudian bagaimana ia selamat. Pembaca sebenarnya sangat penasaran untuk mengetahui insiden itu. Begitu pula pada Hari ke-12 (halaman 233). Bab ini dimulai dengan lead “Riwayat seorang Nepali, perjuangannya meningkatkan taraf hidup dan cita-citanya yang tinggi” baru kira-kira terjawab di akhir buku, yang mungkin merujuk kepada Sujan sang pemandu atau kepada Bhimsen, Big Pasang, atau Small Pasang, para porter sherpa-nya.

Di akhir buku, pendapatnya terhadap makhluk misterius Pegunungan Himalaya Yeti, menarik untuk disimak. Bagi Sieling yang terkejut karena tumbuhnya kumis selama petualangannya, memberi ide kalau makhluk Yeti bisa saja seorang pendaki yang tersesat yang kemudian mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dingin ekstrim dengan cara menumbuhkan bulu dan rambut yang lebat, seperti kerbau khas Himalaya yak atau dzopkyo. Bagi Sieling bisa saja makhluk Yeti itu tadinya bernama Budi. Nah, terima kasih Sieling telah mengapresiasi nama saya di buku yang menarik ini :)

Seperti halnya pengantar buku yang ditulis oleh Prof. MT Zen, bagi saya yang seorang ahli geologi, terdapat rasa kepenasaranan tentang jenis batuan apa yang dipegang Sieling untuk ditumpuk menjadi signstone atau tombstone. Ketika mendaki Kongma La Pass dengan batuannya yang berwarna hitam, Sieling tidak menjelaskan nama batuannya. Dari foto mungkin dapat diduga semacam batulempung abu-abu. Beberapa bagian di puncak-puncak runcingnya diperkirakan batugamping atau dolomit yang berlapis-lapis seperti terlihat pada beberapa foto Gunung Ama Dablam. Ada rasa iri ketika Sieling dengan baik dapat mengidentifikasi flora dan fauna, bahkan lengkap dengan nama Latinnya, tetapi sama sekali tidak menyebutkan secara spesifik nama batu. Lain kali Sieling harus belajar Geologi!

Begitu pula bentuk-bentuk geomorfologi khas pegunungan glasiasi akan lebih bermakna jika disebut secara spesifik. Adanya lembah U besar yang merupakan bekas aliran gletser, endapan-endapan kerakal dan bongkah-bongkah lepas yang sempat membuat Sieling terpeleset, mungkin adalah endapan-endapan batuan yang tergerus di bagian bawah aliran gletser yang kini telah hilang mencair. Lembah-lembah membundar yang digenangi air membentuk danau bisa jadi suatu cekungan cirque; atau gundukan-gundukan berbatu lepas memanjang, atau bongkah batu  besar (erratic blocks) yang diduga merupakan endapan till atau moraine hasil proses aliran gletser yang telah menghilang.

Sumber: Lobeck, 1939 (Geomorphology, Introduction to the Study of Landscape)

Pengetahuan geologi dan geomorfologi umum seperti itu niscaya akan membuat buku Sieling menjadi lebih bermakna. Pertanyaan Sieling yang tak terjawab tentang dinding gletser yang membentuk danau juga mungkin akan mendapatkan jawabannya. Mudah-mudahan pada buku-buku berikutnya, Sieling akan memasukkan informasi geologi dan geomorfologi ini.

Dalam perjalanan terakhirnya kembali di Namche Bazzar, Sieling bertemu dengan seorang trekker yang telah satu bulan tinggal di kota di kaki Himalaya itu untuk menulis buku. Namun bagi Sieling bagaimana bisa menulis buku di antara puncak-puncak menantang yang selalu memanggilnya untuk mendaki. Mengutip pengantar MT Zen yang bertanya kepada para pendaki untuk apa mendaki puncak-puncak yang tinggi dan berbahaya itu, jawabannya “karena puncak itu berada di sana.” Mungkin itulah jawaban Sieling juga. Mudah-mudah apa yang dicari Sieling di lereng-lereng terjal, tinggi, dingin, dan berbahaya di Himalaya, sudah ditemukan***

Geotrek Timah Bangka, Melabrak Mitos Waktu Rawan

Hotel Aston, awal Geotrek Timah

Waktu rawan. Itulah yang saya dengar dari Ita seorang operator wisata asli Bangka sambil menerangkan mengenai Pulau Bangka di atas bus pariwisata yang membawa kami dari Pangkalpinang menuju titik perhentian berikutnya di Tirta Tapta, Pemali, Sungailiat. Wisata itu adalah satu rangkaian dari acara besar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Bangka Belituing (Babel) yang menyelenggarakan Seminar Internasional Wisata Bahari (International Seminar on Marine Toursim) 21 – 22 September 2011.

Saya sebagai Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB diminta untuk menjadi moderator salah satu sesi seminar bersubtema “eco(marine)tourism.” Tentu cukup moderator. Tidak menjadi pembicara. Sebagai seorang ahli Geologi, saya tidak mau “sok tahu” tentang wisata bahari. Tetapi tugas berikutnya benar-benar sesuai kompetensi: menjadi interpreter  salah satu wisata yang diberi judul “Tin Geo Track.”

“Tin Geo Track” alias Geotrek Timah tadinya dirancang oleh panitia hanya sebagai sebuah ‘test case” apa yang pernah diusulkan oleh P-P2Par 2009 lalu. Untuk itulah, pesertanya dibatasi hanya bagi para operator wisata di Babel. Namun rupanya para peserta seminar tidak mau tahu. Mereka mendaftar juga pada pilihan Geotrek Timah, sehingga panitia tidak dapat menolak. Jadilah wisata yang tadinya hanya untuk 20 peserta, membengkak menjadi 36 peserta.

Penjelasan singkat di halaman teduh Hotel Aston yang baru berdiri 2010 lalu bersama-sama dengan Hotel Novotel dan Santika di Pangkalpinang, memberi gambaran terlebih dahulu kondisi geologi Pulau Bangka yang merupakan bagian dari batuan dasar granit. Granit yang membawa mineral kasiterit SnO2 sebagai mineral bijih timah semakin diperkaya ketika granit melapuk, tererosi dan endapan pasir kasiteritnya terakumulasi di endapan sungai, pantai, atau lepas pantai.

Begitulah, dengan kandungan timahnya ini, bagaimana sejak abad-abad ke 4 hingga 5, Bangka telah dieksploitasi oleh para pendatang dari Cina yang jago di dalam eksplorasi, menambang, dan mengolah timah. Nama Bangka pun konon berasal dari bahasa Cina ‘wangka’ yang berarti timah. Bahasa Sansakerta pun menyebut timah dengan ‘vanka,’ yang  mungkin mengadopsi dari bahasa Cina.

Museum Timah Indonesia di Pangkalpinang

Lokasi kedua bergeser ke Museum Timah Indonesia di tengah Kota Pangkalpinang. Museum yang didirikan oleh PT Timah menyajikan secara lengkap sejarah eksplorasi dan eksploitasi timah di Bangka dan Belitung. Bangka yang maju sekarang ini bagaimana pun tidak lepas dari peran para penambang timah, walaupun  menghasilkan permukaan pulau yang bopeng penuh lubang galian timah (dikenal sebagai ‘kolong’)yang cenderung liar, dimana-mana, dan tidak terkendali.

Ketika melihat wajah Bangka seperti itu, mungkin sangat cocok mengambil peribahasa “nasi telah menjadi bubur” dengan konotasi positif. Apa salahnya jika kemudian buburnya diberi bumbu dan ditambah lauk-pauk yang tepat, malah mungkin akan menjadi hidangan yang lebih nikmat daripada nasi. Begitulah geotrek timah Bangka menganalogikan kondisi yang dianggap rusak karena keberadaan kolong dan aktivitas tambang timah untuk dimanfaatkan sebagai objek geowisata (yang mudah-mudah jika dikelola dengan baik dapat menguntungkan secara ekonomi).

diorama penambangan timah tradisionil di Museum Timah

Selesai dari Museum Timah, bus beranjak ke arah Sungailiat. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 10.20. Di atas bus dalam perjalanan sekitar satu jam lebih ke stop berikutnya, matahari yang panas di pagi hari semakin terasa menyengat di luar bus wisata yang ber-AC ini. Saat itulah, pegiat wisata Ita mengemukan bahwa jam-jam 11 hingga 13 akan menjadi waktu rawan untuk kegiatan wisata. Wisatawan biasanya sudah merasa capek, mengantuk, apalagi hawa di luar bus di Bangka begitu terik menyengat.

Setelah berhenti sebentar di tempat wisata mata air panas Tirta Tapta (yang airnya terasa hangat karena hawa di luar panas), geotrek menuju stoptrek berikutnya yang bakal menjadi ujian geowisata di jam-jam rawan tersebut: lokasi tambang timah aktif di Pemali.

Open Pit tambang timah Pemali

Ketika bus berhenti di jalan tambang yang panas dan berdebu, benar saja para penumpang enggan untuk keluar bus. Namun dengan dipelopori saya, panitia, dan beberapa rekan yang telah saya tulari virus geotrek, akhirnya semua keluar. Ketika mendapat pembagian pinjaman helm proyek sebagai standar keselamatan di lokasi tambang, antusiasme berwisata timbul kembali. Berfoto dengan helm proyek berlatar belakang lokasi tambang menjadi sentuhan pertama melabrak waktu rawan itu.

proses pemisahan kasiterit

Dan alhamdulillah, minat ingin mengetahui kegiatan tambang timah dengan sistem open-pit (galian terbuka) tinggi. Bahkan jika panitia tidak ketat dengan waktu, para peserta kelihatan merasa kurang waktu dan sedikit terburu-buru menyaksikan aktivitas penambangan serta pengolahan pemisahan kasiterit dari pasir dan batu. Lucunya, banyak orang Bangka asli sendiri belum pernah tahu dan menyaksikan bagaimana timah ditambang dan diolah.

granit Pantai Parai

Geoterk berikutnya setelah makan siang di lokasi wisata pantai Tanjung Pesona adalah penjelajahan batu-batu granit yang muncul  baik di Tanjung Pesona, ataupun di stop terakhir, Pantai Parai. Memang, batu-batu granit ini tidak seeksotis batu yang sama di Belitung, namun dengan interpretasi, semua bisa menjadi menarik. Geotrek Timah “Tin Geo-Track” pun ditutup di Rock Island, Pantai Parai.

Mudah-mudahan virus geotrek terus mewabah di Bangka dan Belitung.

foto keluarga geotrek timah Bangka. Bravo Babel!

Dari Tambora ke Waterloo, 195 tahun yang lalu.

Oleh Budi Brahmantyo

(dimuat di Majalah Ilmiah Populer: EKSPEDISI GEOGRAFI INDONESIA 2010 NUSA TENGGARA BARAT – BAKOSURTANAL)

Apakah letusan dahsyat Tambora menjadi penyebab kekalahan Napoleon di Waterloo? Memang terlalu gegabah menyimpulkan hal itu. Namun marilah kita ikuti peristiwa-peristiwa bersejarah di sekitar 1815, tahun berakhirnya Perang Napoleon dan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis yang baru saja kabur dari pengasingannya di Pulau Elba dan merebut kembali tampuk kekuasaannya dari Louis XVIII, harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung dalam medan pertempuran Waterloo di Belgia. Saat itu tanggal 18 Juni 1815. Sial baginya, hujan deras yang mengguyur Belgia semalaman penuh menimbulkan banjir dan tanah menjadi becek sehingga tidak layak untuk dilalui meriam-meriam berat. Padahal untuk merebut kemenangan yang harus diraihnya dalam perang seratus hari setelah kebebasannya, pasukan Napoleon harus segera menggempur pasukan koalisi Inggris dikomandani Laksamana Wellington yang bertahan di Waterloo.

Sang Kaisar akhirnya mengundurkan waktu penyerbuan, menunggu tanah mengering. Seiring dengan itu, konsolidasi pasukan musuh akhirnya menjadi kuat ditambah datangnya pasukan Prusia. Lalu sejarah mencatat bahwa kegemilangan strategi perang Napoleon kandas di Waterloo dan Napoleon pulang ke Paris hanya untuk menandatangi pakta kekalahan dan pengasingan dirinya kembali. Ia dibuang ke pulau terpencil di Samudera Atlantik, St. Helena, hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821. Berakhirlah perang panjang 1799 – 1815 yang melanda seluruh Eropa yang dimulai ketika Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan di Perancis. .

Jauh di belahan dunia yang lain, di kepulauan yang saat itu masih bernama Hindia Timur Belanda (Netherlands East Indies), seiring berkuasanya Napoleon, ia menempatkan orang-orang pilihannya untuk menduduki tempat-tempat yang bahkan tidak terkena hiruk pikuk perang di Eropa. Diangkatlah Marcshalk Herman Willem Daendels pada tahun 1908 menjadi Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur sebagai representasi kekuasaan Perancis terhadap Negeri Belanda.

Kekuasaannya tidak lama karena dipanggil untuk membantu pasukan Perancis melawan Rusia pada tahun 1910. Ia digantikan Jan Willem Janssens. Namun Daendels telah mencatatkan sejarah pahit bagi bangsa yang dijajahnya yang setelah merdeka disebut Indonesia itu. Jalan ribuan kilometer antara Anyer – Panarukan berhasil dibangun dengan darah rakyat yang dilaluinya. Sebenarnya Daendels tidak membuat jalan baru. Kebanyakan ia hanya memperlebar dan atau memperkuat jalan lama atau jalan setapak sehingga bisa dilalui pedati. Semuanya untuk melancarkan arus kekuasaan militerismenya dan kelancaran transportasi komoditas kekayaan bumi Pulau Jawa yang tidak lain untuk biaya dan kepentingan Perang Napoleon juga.

Neraka Tambora 1815

Setelah Napoleon takluk di tangan Inggris dan ditawan di Pulau St. Helena, Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur adalah seorang bangsawan Inggris yang selain menjadi penguasa tampuk pemerintahan tertinggi, namun juga punya kepedulian terhadap ilmu pengetahuan. Dialah Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang kemudian menjadi seorang gubernur jenderal di Nusantara yang mempunyai perhatian akan peristiwa letusan gunungapi paling dahsyat di dalam sejarah umat manusia: letusan Gunung Tambora 10 April 1815.

Ialah yang kemudian memerintahkan bawahannya Letnan Phillips untuk langsung menuju lokasi bencana. Sang letnan mencatat apa yang dilihatnya ketika tiba di Dompu kira-kira sebagai berikut:

Dalam perjalananku, aku melewati hampir seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran melanda penduduk. Bencana telah  memberikan pukulan hebat. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda-tanda banyak lainnya telah terkubur. Desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh. Penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan. Diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga mati dalam jumlah yang besar…

Letusan Tambora 1815 karya Harlin & Harlin di www.smithsonianmag.com (unduh 03112011)

Raffles sendiri kemudian memberi catatan tentang letusan Tambora itu di bukunya yang terkenal “The History of Java.” Buku tebal dengan beberapa jilid itu diterbitkan pada tahun 1817 setelah ia dipanggil pulang ke Inggeris akibat dinilai salah manajemen dalam mengurus tanah jajahan di Nusantara.

Lalu bagaimana hubungan kekalahan Napoleon di Waterloo dengan letusan Tambora?

Bulan April 1815, rakyat di sekitar Semenanjung Sanggar, tempat beberapa kota ramai di bawah Kekuasaan Kerajaan Bima, gelisah dengan aktivitas Gunung Tambora. Gempa-gempa kecil terasa terus-menerus dan erupsi-erupsi permulaan terjadi dari kawah di puncak gunung yang saat itu diperkirakan mencapai ketinggian 4.000 m di atas muka laut. Buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979) mencatat aktifitas permulaan itu terjadi pada 5 April 1815 dengan suara gemuruh yang terdengar hingga Batavia (Jakarta sekarang, sejauh 1.250 km) dan Ternate (1.400 km).

Aktifitas volkanik semakin meningkat hingga mencapai puncaknya dengan suatu letusan paraksismal maha dahsyat pada tanggal 10 April 1815.  Letusan itu menghasilkan suara ledakan yang terdengar hingga Jawa dan Sumatera walaupun hanya dikira sebagai letusan meriam. Namun bagi rakyat Bima di Semenanjung Sanggar, ledakan itu tidak hanya sangat memekakkan telinga, tetapi segera disusul bencana maut. Hujan abu dan batu segera menghunjam mereka. Suatu aliran surge piroklastik awan panas yang cepat dan bersuhu di atas 500oC segera menerjang dan mengubur permukiman-permukiman yang berada di kaki-kaki gunung di sekeliling kawah Tambora.

Tidak pelak lagi, letusan-letusan dahsyat yang baru mulai reda pada 12 April 1815, mengubur seluruh lereng-lereng Tambora. Letusan itu jika mengacu kepada Indeks Eksplosivitas Volkanik (VEI: Volcanic Explosivity Index; Newhall dan Self, 1982) berada pada skala >7, skala letusan tertinggi di masa sejarah umat manusia. Volume batu yang dikeluarkan mencapai lebih dari 150 km-kubik, hampir sepuluh kali lipat dari letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Ketika letusan itu terjadi, abunya mengarah ke barat laut menyebabkan Sumbawa, Lombok, Bali, Madura dan sebagian Jawa Timur gelap gulita selama tiga hari.

Volcanic Explosivity Index (VEI) (Newhall & Self, 1982)

Korban yang berjatuhan langsung diperkirakan mencapai 10.000 orang. Dampak ikutannya berupa bencana penyakit dan kelaparan mencapai 38.000 di Sumbawa dan 44.000 di Lombok, sehingga diduga korban akibat letusan ini mencapai angka 92.000 korban meninggal.

Menurut buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979), Tambora masih bergelora walaupun aktivitasnya makin menurun hingga 15 Juli 1815. Namun Agustus 1819 masih terdengar suara gemuruh yang kuat disertai gempa bumi dan terlihatnya bara api dari kalderanya.

Letusan bertipe Plinian yang membentuk cerobong abu ke angkasa dan membentuk payung cendawan di atasnya, diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 25 km. Abunya di angkasa beredar terbawa angin stratosfer ke seluruh dunia, dan iklim dunia pun terpengaruh. Apakah abu Tambora yang beberapa minggu kemudian menyumblim di atas Eropa dan menghasilkan hujan deras di atas Waterloo? Sulit untuk mengaitkannya. Namun demikian, walaupun bulan Juni biasa terjadi hujan mengawali musim panas di Eropa, namun intensitas curah hujan tinggi tidak biasa yang luput dari perkiraan Napoleon, mungkin saja disebabkan pengaruh abu dari letusan Tambora itu.

Satu hal yang tidak terbantahkan di kalangan ilmuwan adalah perubahan iklim belahan bumi utara yang terjadi setahun kemudian pada 1816. Setelah Eropa reda dari kekacauan akibat Perang Napoleon, pemulihan kondisi ekonomi semakin terancam akibat perubahan cuaca. Gagal panen terjadi dimana-mana. Kelaparan dan wabah penyakit tak terhindarkan. Bahkan  pada waktu yang seharusnya tengah-tengah musim panas pada Juli – Agustus 1816, salju turun di beberapa tempat di belahan Bumi utara. Tahun 1816 kemudian tercatat dalam sejarah sebagai “the year without summer.” Begitulah bagaimana abu letusan Tambora mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Napoleon di Waterloo, dan benar-benar mempengaruhi iklim dunia serta tercatat menurunkan suhu Bumi sebesar 0,5oC.

Saat kami mendaki Tambora dan mencapai bibir kalderanya di pagi hari yang cerah, kami terpesona dengan kaldera luas dan dalam yang terbentang di bawah kaki kami. Dengan diameter kaldera mencapai hampir 7 km dan kedalaman hingga dasar mencapai hampir 1 km, kami hanyalah sekumpulan titik yang tidak berarti di lingkungan yang luar biasa itu. Tebing curam 70 – 90o di bawah kaki kami membuat kami ekstra hati-hati. Terpeleset sedikit tidak akan ada yang sanggup untuk selamat berguling-guling ke dasar kaldera yang sangat dalam itu.

Dinding barat kaldera Tambora dengan selang-seling lapisan lava – piroklastik berumur 500 – 1000 tahun.

Di dasar kaldera masih terlihat asap-asap solfatar dari kawah-kawah penghasil belerang. Gunungapi sekunder Doro Afitoi (secara harfiah dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil) tidak kelihatan dari dinding barat daya, tetapi itulah gunung baru yang muncul setelah letusan pembentuk kaldera 10 April 1815 itu. Selain itu pemandangan ke arah dinding barat yang waktu itu tersorot matahari pagi memperlihatkan lapisan-lapisan selang-seling antara lava dan piroklastik yang teratur rapi membentuk garis-garis lurus. Itulah lapisan-lapisan batuan yang lebih tua yang diperkirakan berumur 500 – 1000 tahun yang lalu (Heryadi dan Mujitahid, 2003).

Dalam perjalanan pulang menuruni lereng, endapan-endapan lava yang memanjang menuruni lereng dan punggungan pasir-pasir volkanik harus kami loncati, sesuatu yang tidak kami sadari saat perjalanan naik karena tidak terlihat saat hari masih gelap. Lembah-lembah dan punggungan-punggungan itu pastilah terbentuk setelah letusan dahsyat itu. Sambil berhati-hati menuruni lereng, di hadapan kami terbentang kaki gunung yang kerontang yang langsung berbatasan dengan Teluk Saleh yang tampak membiru dilatari langit yang juga membiru. Merekalah saksi kedahsyatan letusan 10 April 1815, dan bukti kesaksian itu didapatkan dari gundukan-gundukan yang tersebar luas di kaki gunung.

Batuapung di Mana-mana

Sambil terbayang sejarah sekitar tahun 1815 itu, dalam perjalanan kembali ke arah Dompu untuk menuju Sumbawabesar, tim EGI berhenti sejenak untuk mengambil foto kuda-kuda dan kerbau-kerbau yang dibiarkan bebas berkeliaran di kaki Tambora yang gersang. Saat itulah saya tertarik pada gundukan-gundukan kecil yang banyak tersebar di padang rumput itu. Gundukan-gundukan itu tampak tidak menarik perhatian tadinya, dan tidak begitu menonjol di atas permukaan tanah. Wah gundukan-gundukan apa ini?

Setelah dicongkel dengan palu geologi, ternyata gundukan-gundukan tersebut berisi kumpulan kerikil batu apung. Setelah mengamati secara lebih seksama padang rumput di kaki Tambora itu, rupanya gundukan-gundukan tersebut tersebar sangat luas dan ada di mana-mana.

Nah inilah bukti lain letusan paroksismal 10 April 1815 itu. Batu apung yang umumnya bersifat magmatis asam dengan kandungan silika tinggi, selalu berasosiasi dengan letusan gunung api bertipe Plinian pembentuk kaldera. Magma yang diletuskan oleh kekuatan dahsyat akan tersembur ke angkasa kemudian jatuh di sekeliling pusat letusan. Saat melayang jatuh butiran-butiran magma segera mendingin sambil melepaskan gas-gas yang terkandungnya. Begitulah bagaimana kemudian batu apung terbentuk dengan sifat seperti spons yang berpori dan ringan.

Gundukan-gundukan yang terjadi mempunyai bentuk yang menarik. Tingginya tidak lebih dari 30 cm dengan diameter rata-rata 100 cm. Morfologinya  melandai dari arah gunung dan mempunyai lereng curam di sisi yang lain. Dengan isi gundungan terdiri dari batu apung dapat diperkirakan bahwa gundukan-gundukan ini merupakan aliran surge awan panas yang meluncur menuruni lereng gunung setelah awan batu yang diletuskan kolaps akibat gravitasi. Saat awan bebatuan ini jatuh meluncur menuruni lereng, ia akan bergulung-gulung di atas permukaan untuk kemudian teronggokkan sebagai gundukan-gundukan itu.

Tidak dapat terbayangkan bagaimana proses ini terjadi melanda kaki gunung yang mungkin dihuni oleh perkampungan. Semuanya akan digulung dan dilumat habis oleh awan bebatuan yang suhunya diperkirakan masih sangat panas. Kondisi itulah yang kemudian terlihat pada situs-situs arkeologis yang tergali di kaki Tambora.

Pompeii di Sumbawa

Kita kembali dulu ke tahun 79. Tempatnya jauh di Italia, di Teluk Napoli. Tanggal 24 Agustus 79 terjadilah letusan tipe Plinian yang sebenarnya tidak sedahsyat Tambora tetapi tetap mematikan: letusan Gunung Vesuvius. Dua buah kota yang berada di pesisir Teluk Napoli, Herculanum dan Pompeii terkubur abu, pasir dan bebatuan dari letusan itu. Namun bencana maut yang kemudian datang ke kedua kota itu  adalah aliran piroklastik awan panas yang mematikan warga dua kota yang masih selamat dari gempuran bebatuan.

penggalian situs kampung yang terlanda awan panas Tambora 1815 (www.allvacationplace.com unduh 03112011)

Berribu tahun kemudian ketika tim ekskavasi arkeologis bekerja menggali endapan gunung api yang mengubur Pompeii pada tahun 1960an, mereka heran mendapati ruang-ruang kosong di dalam batuan. Mereka kemudian mencoba mengisi dengan cor-coran gips pada ruang-ruang kosong itu. Apa yang terjadi ketika cor-coran itu dikelupas? Tampaklah cetakan-cetakan berbentuk manusia dengan berbagai posisi yang mengenaskan. Merekalah warga Pompeii korban letusan 24 Agustus 79 yang sekarang menjadi saksi kedahsyatan letusan G. Vesuvius.

Itulah bayangan yang berkecamuk di dalam pikiran ketika melaju terguncang-guncang di atas ojek dari Dusun Pancasila, Kedindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Bima.

Keterampilan pengemudi ojek melalui jalan-jalan setapak di antara kebun kopi di lereng barat laut Tambora itu membawa kami menuju lokasi situs ekskavasi arkeologi yang sedang dikerjakan oleh Balai Arkeologi Denpasar. Sayang, ketika sampai di lokasi, kegiatan ekskavasi baru saja dihentikan dan menjadi hari terakhir setelah dua minggu berjalan. Padahal inilah situs arkeologis yang akan menjadikannya seperti di Pompeii.

Hasil ekskavasi pada tahun-tahun sebelumnya, tim Geologi dan Arkeologi menemukan sisa-sisa perkampungan yang terkubur dengan berbagai peralatan sehari-hari seperti pecahan-pecahan keramik cina, tombak, dan lain sebagainya. Tergali juga sisa-sisa beras yang sudah hitam mengarang, dan yang lebih spektakuler lagi adalah temuan kerangka-kerangka manusia korban letusan 10 April 1815 itu. Jika ekskavasi selesai sepenuhnya, maka situs ini bukan tidak mungkin akan menjadi Pompeii di Timur.

Pompeii, korban letusan plinian G. Vesuvius 79 AD (wikipedia)

Jika kita mengamati lapisan-lapisan yang menutupi galian situs itu, kita akan dapati kembali lapisan-lapisan piroklastik yang terdiri dari batuapung. Batuapung yang sama seperti dicongkel dari gundukan-gundukan di kaki barat daya. Batuapung yang sama pula ketika penduduk Doropeti membawa kami pada temuan fondasi rumah dan kuburan yang secara tidak sengaja tergali di sebuah ladang. Memang bencana yang tak terperikan yang melanda seluruh lereng di seputar Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar!

Dari pengemudi ojek dan beberapa tokoh masyarakat di sekitar Kecamatan Pekat, telah beredar luas sebuah legenda asal-usul nama Tambora, yang berasal dari kata bahasa Bima: ta’bora, yang artinya “menghilang.” Legenda itu bercerita tentang seorang ulama yang mencoba mengislamkan masyarakat animisme yang masih hidup di daerah itu. Tetapi sang ulama ditipu dengan sajian daging enak yang ternyata adalah daging anjing yang tentu saja haram untuk dimakan. Sang ulama yang marah segera berteriak “ta’ bora!” lalu menghilang seiring dengan meletusnya gunung dengan dahsyat. Begitulah asal-usul nama Tambora.

Namun kita harus kritis dengan asal-usul nama Tambora ini, jika itu mengacu kepada letusan 1815. Sudah pasti nama gunung sudah bernama Tambora sejak lama. Pada laporan berbahasa Belanda pada tahun 1815 setelah letusan itu, nama Tambora sudah digunakan untuk nama gunung ini. Laporan itu adalah “berichten over de eruptive van den Tambora op Sumbawa, van 5 – 12 April 1815, O.a. door den gezagvoerder van eep schip, dat zich toen Makassar bevond, en 19 den April op de roede van Bima aankwan, Java Government Gazette, May 20, n. 169, May 27, n. 170 1815” (dalam Kusumadinata, 1979). Jadi ada kemungkinan nama Tambora dan legenda yang mengacu pada namanya telah berlangsung sejak lama, tetapi kemudian berubah seiring perkembangan budaya manusia penuturnya.

Bagaimanapun, letusan paroksismal G. Tambora 10 April 1815 adalah catatan sejarah gunungapi dunia yang tiada taranya selama jaman sejarah umat manusia. Itulah letusan terbesar di dunia yang mungkin ikut menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, dan yang pasti mengakibatkan perubahan iklim global yang membuat tahun 1816, setahun setelah letusan, menjadi tahun tanpa musim panas. ***

Daftar Pustaka

Heryadi dan Mujitahid  (2003), Gunungapi Nusa Tenggara Barat, Publikasi Khusus No. 01 Okt 2003, IAGI Pengda Nusa Tenggara.

Kusumadinata, K., (1979), Data Dasar Gunungapi Indonesia, Penerbit Direktorat Vulkanologi, Bandung.

Newhall, C.G. and Self, S. (1982). The volcanic explosivity index (VEI): An estimate of explosive magnitude for historical volcanism, Journal of Geophysical Research 87 (C2): 1231–1238. http://www.agu.org/pubs/crossref/1982/JC087iC02p01231.shtml.

Smithsonian Institution (2010), Global Volcanism Program. Diakses pada 12 Agustus.

Wikipedia (2010), Perang Napoleon; Daendels; Raffles; Tambora. Diakses pada 9 Agustus.

‘Geological Mystery Tour’ di Karst Lengguru

ArtikelGeological Mystery Tour di Karst Lengguru‘ merupakan catatan ekspedisi geologi di karst Lengguru bersama IRD dan DKP di bulan Oktober – November 2010 lalu. Tulisan ini terbit sebagai bagian dari buku “HIDUP DI ATAS TIGA LEMPENG” yang diterbitkan oleh Badan Geologi, 2010. Terima kasih kepada Pak Oman Abdurrahman dan Parpar Priyatna yang menjadi editor buku tersebut.

Akhir Oktober 2010 bukanlah waktu yang nyaman untuk terbang ke arah Tanah Papua. Cuaca selalu mendung berawan. Hujan sekali-kali mulai tercurah di awal musim penghujan di kawasan khatulistiwa. Pesawat LionAir yang berangkat tengah malam dari Jakarta pun sempat terguncang-guncang di atas perairan Indonesia Timur. Tetapi mau bagaimana lagi? Jadwal Ekspedisi Intersains Lengguru-Kaimana 2010 yang dilaksanakan atas kerja sama Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia dan Institut de Recherche pour le Développement (IRD) Prancis dimulai di akhir Oktober yang berawan itu. Jadilah perjalanan ke Ambon dilalui dalam tidur di atas pesawat yang banyak guncangannya.

Pagi harinya di Bandara Pattimura Ambon, pesawat pengganti yang akan membawa ke Kaimana, Papua Barat bagian selatan tempat rendezvous tim ekspedisi, adalah pesawat baling-baling jenis ATR 25-700. Pesawat pun terbang rendah melintasi Laut Banda menuju Nabire terlebih dahulu, sebelum mendarat di Bandara Urarom, Kaimana, yang terkenal sebagai Kota Senja. Julukan kota ini mengacu pada lagu populer 1960-an yang dibawakan oleh Alfian, “Senja di Kaimana.”

Ketika terbang di atas “Leher Burung,” deretan pegunungan yang memanjang berbaris barat laut – tenggara sekali-kali terlihat saat awan-awan bulan Oktober tersibak. Itulah jajaran Pegunungan Emansri-Lamansiere yang tampak berrelief kasar dengan tebing-tebing terjal dan bukit-bukit runcing khas pegunungan karst. Di dalam geomorfologi karst Papua Barat, jalur pegunungan itu dikenal juga sebagai Pegunungan Karst Lengguru.

Pengaruh Tiga Lempeng

Pegunungan Karst Lengguru terbentuk dari satuan-satuan batugamping yang dipetakan sebagai Formasi Lengguru oleh Tobing, dkk (1990). Formasi ini tersusun terutama oleh kalkarenit, biokalkarenit, biomikrit ganggang-foraminifera, kalsilutit, kalkarenit pasiran, biokalsirudit, batupasir gampingan glaukonitan, batulanau, serta beberapa mengandung fragmen rijang. Lapisan-lapisannya sangat tebal mencapai lebih dari 2000 m dan umurnya terrentang dari awal Eosen hingga akhir Miosen Tengah. Sebarannya sangat luas, dimulai dari Teluk Arguni di bagian barat daya hingga tiga perempat bagian dari pegunungan ke arah timur laut berbatasan dengan formasi-formasi Pra-Tersier kira-kira pada kelurusan Sungai Urema di selatan dan Kampung Toro di utara.

Kondisi geologi struktur Pegunungan Lengguru sangat rumit. Jajaran-jajaran pegunungan itu merupakan ekspresi kondisi geologis yang sangat dipengaruhi oleh gejala-gejala perlipatan dan sesar naik yang mempunyai orientasi searah dengan morfologinya, yaitu barat laut – tenggara. Di samping itu, sesar-sesar geser mendatar memotong secara hampir tegak lurus pegunungan mengarah barat daya – timur laut. Dalam tektonik, pegunungan ini dikenal sebagai Sabuk Sesar Naik dan Lipatan Lengguru (Lengguru Fold-Thrust Belt).

Sangatlah wajar jika orientasi jajaran pegunungan, danau-danau, dan sungai juga mengarah barat laut – tenggara, atau barat daya – timur laut. Misalnya, kelurusan morfologi Teluk Bitsyari yang berada di timur Kaimana menerus ke arah utara menyambung ke Teluk Arguni setelah melalui celah G. Lowai. Kelurusan ini sangat jelas dikontrol oleh adanya sesar naik. Begitu pula Teluk Triton, Kayumerah, Lakahia dan Etna, tampak jelas dikontrol oleh sesar naik dan sesar geser mendatar sehingga garis-garis pantainya membentuk garis-garis lurus saling berpotongan hampir tegak lurus. Danau-danau di tengah pegunungan yang pastinya sulit dicapai (Sewiki, Perenusu, Aiwasa, Laamora, dan Mbuta), dari peta atau citra satelit, tampak pula merupakan produk gejala tektonik kedua jenis sesar tersebut.

Kondisi geologi dan tektonik itu rupanya merupakan hasil interaksi antara dua lempeng raksasa, yaitu Pasifik dan Australia, yang kemudian melibatkan pula lempeng kecil Kepala Burung. Dalam buku “An Outline of the Geology of Indonesia” (editor Darman dan Sidi, 2000), tabrakan oblik yang terjadi antara Lempeng Pasifik dan Australia yang terjadi selama evolusi tektonik Kenozoik telah menghasilkan pola-pola struktur geologi di bagian daratan utama Papua, termasuk Pegunungan Jayawijaya. Hasilnya secara umum adalah mandala geologi Papua yang terdiri dari tiga zona utama, yaitu: Zona Kontinental yang terdiri dari endapan-endapan sedimen dari kraton Australia, Zona Oseanik yang terdiri dari batuan ofiolit dan kompleks batuan volkanik busur kepulauan sebagai bagian dari Lempeng Pasifik, serta Zona Transisi yang terdiri dari batuan-batuan yang terdeformasi kuat dan batuan-batuan metamorfik regional yang merupakan produk interaksi antara kedua lempeng raksasa itu.

Zona-zona Geo-tektonik Papua (dari Darman dan Sidi, 2000)

Namun, tiga zona di atas rupanya sedikit berbeda untuk Leher dan Kepala Burung. Pola-pola struktur utama di daratan utama Papua yang cenderung berarah barat – timur, terputar barat laut – tenggara di Pegunungan Lengguru. Beberapa peneliti, salah satunya Satyana (2006), menyebutnya sebagai produk escape tectonics, yaitu efek tektonik yang terjadi akibat interaksi lempeng-lempeng raksasa yang untuk Indonesia (termasuk Leher dan Kepala Burung Papua) adalah akibat pengaruh tabrakan antara India dengan Eurasia.

Misteri Karst Lengguru

Sesampainya di Kaimana, ekspedisi tahap kedua (setelah 20 hari pertama di tahap kesatu yang menjelajah teluk-teluk di timur Kaimana), dilanjutkan ke arah Teluk Arguni. Kapal Airaha-02 milik Akademi Perikanan Sorong (Apsor) yang digunakan sebagai moda transportasi sekaligus base camp ekspedisi pun segera mengarah memasuki teluk sempit di utara Kaimana itu. Namun keinginan ketua tim ekspedisi, Laurent Pouyaud, agar kapal berpenetrasi terus ke utara Teluk Arguni, mentok karena dasar teluk yang dangkal. Akhirnya kapal buang sauh di sekitar koordinat UTM 0354115 – 9626696, tepat di tengah-tengah Teluk Arguni yang sempit memanjang seperti sungai besar diapit pegunungan berbatugamping di timur dan perbukitan berbatulempung di barat.

Kapal Airaha-2 yang membuang sauh di Teluk Arguni

Hari-hari berikutnya dimulailah ekspedisi di pegunungan berrelief kasar karst Lengguru yang tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga menguras fisik karena medannya yang berat, serta menguras emosi karena harus berhadapan dengan tata cara adat istiadat setempat yang cukup rumit, tetapi mau tidak mau harus dilalui. Sambil menunggu penyelesaian urusan adat, sementara izin administratif telah selesai, perahu speedboat mulai menjelajah dinding-dinding batuan tegak bagian timur Teluk Arguni.

Saat speedboat mendekati dinding batugamping berwarna putih, tampaklah gambar-gambar cadas yang dominan berwarna merah. Lukisan-lukisan purbakala yang digambar pada dinding tegak hampir 5 hingga 10 m di atas permukaan perairan menggambarkan profil-profil manusia atau coretan-coretan abstrak yang tidak begitu jelas maknanya. Di salah satu sudut dinding yang seluruhnya dilabur merah dari bahan oker (tanah merah oksida besi hematit) ditorehkan warna putih membentuk profil biawak besar. Menurut seorang arkeolog yang ikut dalam tim, hingga sekarang masyarakat Papua selatan masih percaya bahwa leluhur mereka adalah biawak.

Dinding batugamping dengan gambar cadas di Teluk Arguni

Pada kesempatan berikutnya ketika menjelajah gua yang mulutnya sejajar dengan permukaan laut, bau guano segera menyergap hidung ketika speedboat memasukinya. Gua ini rupanya tidak dalam. Ruangannya cukup besar, lebar 25 m, panjangnya mencapai 30 m, dan tinggi diperkirakan mencapai 40 m. Atap gua miring ke arah mulut gua dan kondisi ini dikontrol oleh bidang kemiringan lapisan batugamping. Bongkah-bongkah batugamping berasal dari dinding dan atap terendapkan membentuk lereng bebatuan yang kasar. Stalaktit tidak terlalu berkembang. Begitu pula stalagmit. Hiasan gua (speleotem) hampir-hampir tidak ada. Ketika asyik mengamati dan membuat sketsa ruangan gua itulah, tiba-tiba Lucas Janoma, pendamping tim asli orang Papua, berteriak nyaring agar semua mendekat. Sambil menyorotkan senternya, ia menunjuk satu jejak memanjang pada lumpur di dasar gua. Jejak badan buaya! Lebarnya 1 m, sehingga ia memperkirakan panjang buaya minimal 4 m! Rupanya gua itu dijadikan sarang buaya besar. Beruntunglah sketsa gua dan data sudah cukup terkumpul sehingga dengan sedikit tergesa-gesa tim segera keluar gua.

Lucas Janoma menunjukkan jejak buaya besar di sebuah gua di Teluk Arguni

Pegunungan Karst Lengguru yang mempunyai kisaran elevasi dari permukaan laut hingga lebih dari 1000 m di atas permukaan laut, rupanya miskin gua. Inilah misteri karst Lengguru yang pertama.

Dengan beda tinggi mencapai seribu meter, tadinya kami berpikir akan ada deretan gua pada elevasi-elevasi tertentu. Hal itu dianalogikan dengan karst Gunungsewu di Yogyakarta-Jateng, atau di Karangbolong, Gombong Selatan, Jateng, atau di Maros, Sulawesi Selatan. Contoh ketiga wilayah karst itu adalah contoh karst dengan banyak gua yang secara vertikal tersebar mengikuti level elevasi-elevasi tertentu dengan jaringan lorong gua yang panjang. Namun rupanya hal tersebut tidak terjadi di Lengguru. Ada dugaan kondisi struktur geologis yang membentuk jalur-jalur lipatan dan sesar-sesar naik, bertanggung jawab akan miskinnya gua di karst Lengguru. Hal ini berbeda dengan karst Gunungsewu, Karangbolong, dan Maros yang dikontrol oleh plateau dengan lapisan-lapisan batugamping yang hampir horisontal.

Memang, seperti kemudian terukur selain di Gua Sarang Buaya, yaitu di Gua Wababoko di Danau Sewiki sisi barat, gua dikontrol oleh lapisan batuan yang miring terjal dan lorongnya dikontrol oleh arah retakan pada batugamping. Gua Wababoko yang terdiri dari dua ruangan yang terpisah, seluruhnya mempunyai dasar gua yang kontak dengan permukaan air danau. Gua kedua dengan artefak arkeologis di endapan mulut guanya, merupakan galeri besar dengan dasar gua dipenuhi bongkah-bongkah batugamping runtuhan langit-langit gua. Adapun Gua Wababoko yang dasarnya tergenang air danau, oleh penduduk setempat juga dikenal sebagai sarang buaya. Selain itu, di satu celah batu di mulut gua, diletakkan tiga tengkorak manusia, sehingga sebelum melakukan penelitian ke dalam gua yang dikeramatkan ini, tim harus mengikuti ritual adat masyarakat suku setempat.

Tidak hanya Gua Sarang Buaya dan Wababoko, gua-gua yang berhasil disurvei dan juga ditanyakan kepada masyarakat setempat, umumnya terbentuk pada kontak antara kaki pegunungan dengan permukaan laut atau danau yang sebenarnya satu level juga dengan laut. Hal itu misalnya dijumpai di Gua Jamansan. Menurut bahasa suku setempat Irarutu, nama gua ini berarti “tempat orang-orang meninggal.” Gua ini berukuran kecil dengan lorong tidak lebih dari 10 m. Ketinggian lantai gua hanya kurang dari setengah meter dari rawa-rawa di sekelilingnya. Begitu pula gua-gua kecil yang berada di Weramura, tepi jalan lintas Papua Kaimana – Fakfak yang belum selesai, berada pada kontak dengan rawa-rawa pasang surut di selatan Teluk Arguni (Muka Arguni). Bahkan dalam perjalanan turun naik bukit-bukit karst ke Danau Perenusu dari Teluk Bitsyari, gua kecil baru ditemui tepat di tepi Danau Perenusu. Seluruh gua umumnya tidak membentuk lorong yang panjang. Satu-satunya gua dengan lorong agak panjang, yaitu 150 m, hanya ditemukan di sekitar Tanjung Boi, Teluk Kayumerah, sebelah timur Kaimana.

Elevasi gua yang cukup tinggi hanya dijumpai di daerah Kaimana. Deretan gua-gua pada dinding batugamping, lantai guanya terletak antara 5 m dari permukaan laut di Daerah Batulubang, Kaimana Selatan, hingga 20 – 30 m di daerah Batuputih. Besar kemungkinan gua-gua ini tadinya juga berada di dekat permukaan laut tetapi mengalami pengangkatan. Seluruh gua juga hanya berupa gua ceruk yang tidak mempunyai lorong yang panjang. Itulah misteri kedua di karst Lengguru.

Misteri ketiga adalah lubang-lubang sinkhole yang tampak jelas dari pengamatan melalui cetakan citra satelit. Sebuah lubang sinkhole besar yang tadinya diharapkan menjadi jalan air melalui lorong gua yang tembus ke Gua Wababoko, dijelajahi. Penjelajahan terpaksa melalui lereng-lereng terjal berpermukaan batugamping yang tajam dan mendakinya hingga pada ketinggian sekitar 650 m dari elevasi awal penjelajahan. Lubang sinkhole tersebut merupakan lubang sinkhole besar yang dindingnya dikelilingi oleh dinding batugamping vertikal. Tiga peneliti gua Prancis, Hubert Camus, Guilhem Maistre, dan Bruno Fromento mencoba menuruni dasarnya yang berada lebih kurang 100 – 200 m dari bibir lubang hanya untuk mendapati dasar yang kering. Kemana sungai-sungai bawah tanah yang biasanya sangat khas di wilayah karst? Ekspedisi kali ini belum mampu menjawabnya.

Longboat melaju di atas Danau Sewiki dengan latar belakang perbukitan karst Lengguru dengan lereng-lerengnya yang terjal

Lalu inilah misteri ke empat. Dalam sebuah penjelajahan ke arah Weramura menelusuri Jalan Lintas Papua Kaimana-Fakfak yang belum selesai, di bawah terik matahari Papua yang menyengat, sebuah sungai berwarna biru turquoise tampak mengalir tenang berkelok-kelok memasuki rawa-rawa pasang surut. Koordinatnya S 03o25.607’ – E 133o42.704’ disebut Sungai Lewaka.

Air biru sungai itu berasal dari dua mata air yang keluar dari celah batugamping dengan dua warna yang berbeda. Satu mata air karst mengeluarkan air jernih yang berwarna keputih-putihan. Dalam jarak 5 m, retakan berikutnya mengeluarkan air jenih berwarna kehijau-hijauan. Ketika keduanya bercampur, memberikan warna air biru yang mengalir sebagai Sungai Lewaka itu. Besar kemungkinan pewarnaan air sungai itu adalah karena pembiasan lumut berwarna yang terbentuk di dasar sungai.

Tetapi misteri belum selesai. Air yang keluar dari mata air berbau belerang yang menyengat. Misteri ke empat yang perlu diteliti lebih jauh karena di sekitar lokasi, atau bahkan di Papua secara keseluruhan, tidak dijumpai adanya gunung api. Tebakan satu-satunya, mata air tersebut tersambung pada retakan atau sesar yang sangat dalam.

Sungai Lewaka yang berair biru turquoise dan mata airnya berbau belerang

Ke empat misteri di karst Lengguru masih belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tebakan yang memuaskan sekali pun. Dengan wilayah pegunungan yang luas, tentu saja masih akan ada berpuluh-puluh atau berratus-ratus misteri yang akan muncul semakin jauh kita meneliti. Pegunungan Karst Lengguru itu sendiri adalah misteri geologis yang mencuat akibat interaksi antara lempeng-lempeng pembentuk daratan Papua.

Namun, misteri-misteri inilah yang akan membuat kita terus bergairah untuk terus meneliti, mencoba mengungkapkan rahasia alam. Kalaupun berhasil mengungkap satu misteri alam, itu mungkin hanya seperti pengungkapan setetes air saja dari samudera misteri alam yang sangat luas yang masih belum kita pecahkan. ***

Daftar Pustaka

Darman, H., dan Sidi, F.H. (eds), 2000, An Outline of the Geology of Indonesia, Indonesian Assoc. of Geologists (IAGI), Jakarta.

Satyana, A.H., 2006, Post-collisional Tectonic Escapes in Indonesia: Fashioning the Cenozoic History, Pros. PIT ke-35 IAGI 2006, Pekanbaru.

Tobing, S.L., Robinson,G.P., dan Ryburn, R.J., 1990, Peta Geologi Lembar Kaimana, Irian Jaya, skala 1:250.000, Puslitbang Geologi, Bandung.

Asal-usul Nama Sumatra (oleh Irfan Anshory)

Dimuat di Harian PR, 6 April 2009

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Peta dari Munster 1550 yg dimuat di Atlas Ptolemys (www.swaen.com)

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Sumatra oleh Valentijn 1726 (www.swaen.com)

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***

Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.

Sumber Tulisan:
http://irfananshory.blogspot.com/2007_05_01_archive.html (6 April 2009)

Mengenang Sahabat dan Guru: Irfan Anshory

Menjelang 17 Agustus 2011, 66 tahun kemerdekaan Indonesia, saya teringat satu tulisan yang sangat menarik yang saya dapat dengan cara googling di internet: “Asal-usul Nama Indonesia” yang ditulis Irfan Anshory. Artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat 16 Agustus 2004 sengaja saya simpan karena begitu pentingnya informasi sejarah penamaan Indonesia.

Nama “Indonesia” dipopulerkan ahli geografi Jerman Adolf Bastian, tetapi sebenarnya pengusul pertamanya adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865) yang menulis artikel berjudul “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Artikel itu dimuat pada tahun 1850 di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Vol. IV, yang terbit di Singapura dan dikelola oleh seorang Skotlandia James Richardson Logan (1819-1869). Logan-lah yang kemudian mengambil istilah “Indunesia” yang diusulkan Earl untuk kemudian menjadi “Indonesia.”

Ketika artikel Irfan Anshory itu ingin saya unggah ke media facebook dan blog “budibumi” agar dapat dibaca lebih luas, saya mencari  nama Irfan Anshory di facebook,  jangan-jangan ia mempunyai akun facebook, sekalian untuk meminta ijin pengunggahan artikelnya di notes facebook dan blog saya. Benar saja ada. Dengan segera saya add sebagai friend.

Namun saya rupanya harus menunggu begitu lama untuk mendapat konfirmasi. Apakah ia tidak begitu aktif di facebook? Sampai akhirnya, 5 September 2011, permintaan untuk menjadi friend di facebook terkonfirmasi. Saya pun segera menulis di wall-nya dalam bahasa Sunda: nuhun parantos dikonfirmasi (terima kasih telah dikonfirmasi).

Tetapi ketika saya masuk ke wall-nya dengan profile picture wajahnya yang ramah tersenyum lebar, saya terkejut bukan kepalang karena yang melakukan konfirmasi adalah puterinya. Posting terbarunya adalah sebagai berikut: “buat semua temen-temen Alm.papah reyna ucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H..Minal Aidin Walfaidzin..mohon maaf lahir dan batin..Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada kita semua dan menerima amal ibadah kita..Ammiiiiinnn ya Allah…^^ ~REINA FIDELITA (Anak Alm.IRFAN ANSHORY )”

Ketika saya scroll posting-postingnya, rupanya semua posting ditulis oleh puterinya dengan pernyataan bahwa papahnya (Irfan Anshory) telah meninggal dunia di Lampung pada bulan Maret 2011.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Saya seolah-olah tidak percaya membaca satu per satu posting tersebut yang sejak wafatnya ditulis oleh puterinya yang menjawab beberapa pertanyaan sahabat-sahabatnya tentang kepergian alm. Irfan Anshory. Merasa bersalah, saya segera menulis di wall-nya: doa untuk almarhum dan permohonan maaf kepada keluarganya karena ketidaktahuan bahwa beliau telah wafat hampir 6 bulan yang lalu.

Sambil termenung memandang wajah ramah yang tersenyum lebar di picture profile facebook itu, saya teringat sms dari almarhum yang saya simpan hingga sekarang: Abdi nembe rengse maos “Wisata Bumi Cekungan Bandung” . Lalaunan maosna ge, ngarah unggal wewengkon kacipta tur karaos wisatana, siga Bujangga Manik baheula. Sae pisan pisan pisan eta buku. Mugi janten amal sholeh ka nu nyeratna. Hatur nuhun. <irfan anshory=”">  sent: 14:18:59 29-07-2009.”</irfan>

Itulah sms apresiasi almarhum terhadap buku “Wisata Bumi Cekungan Bandung” yang saya tulis bersama T. Bachtiar dan diterbitkan Truedee dengan peluncuran di Gedung Merdeka 18 Mei 2009. Tejemahan Bahasa Indonesianya: “Saya baru saja selesai membaca “Wisata Bumi Cekungan Bandung”. Pelan-pelan membacanya juga, supaya setiap daerah terbayangkan dan terasa wisatanya, seperti Bujangga Manik dahulu. Sangat sangat sangat bagus buku tersebut. Semoga menjadi amal sholeh bagi penulisnya. Terima kasih.”

Rupanya beliau jugalah yang memberi pelajaran ilmu menjawab persoalan Kimia di Bimbingan Belajar Bandung College dahulu ketika saya mempersiapkan mengikuti Program Perintis I masuk perguruan tinggi (ITB). Pantesan saya tidak merasa asing dengan penampilan dan gayanya yang kocak dan mudah diterima ketika beliau mengajarkan persoalan Kimia. Beliau adalah alumni Farmasi ITB ’71.

Selamat jalan sahabatku, guruku. Semoga engkau mendapat tempat yang baik di sisi-Nya dan diberi ketenangan di alam kubur. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu. Amiiin.