Reinder Fennema: Geolog yang Tenggelam di Danau Poso 1897

fennema (www.biografischportaal.nl)

Nama Fennema tidak begitu dikenal dalam Geologi Indonesia. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang mendalami Geologi, nama itu tenggelam di antara nama-nama geolog Belanda lainnya seperti R.W. van Bemmelen, R.D.M. Verbeek, Th. F.Klompe, Ch. E. Stehn, B.G. Escher, atau bahkan oleh geolog Indonesia sendiri, J.A. Katili. Di antara nama-nama itu, van Bemmelen dan Katili lebih mudah dirujuk karena buku-buku yang ditulisnya.

Namun ketika survei untuk penyusunan Atlas Bentang Lahan (Landscape) Sulawesi bersama Bakosurtanal, awal Juli 2011, tiba-tiba nama Reinder Fennema muncul begitu saja di Tentena. Sebenarnya sudah berkali-kali kami melewati tugu di pertigaan Tentena pada jalan Trans-Sulawesi Timur itu ketika secara samar-samar saya teringat pada buku fotokopi pemberian T.Bachtiar: 125 Tahun Penyelidikan Geologi Indonesia, Perkenalan dengan Beberapa Perintis Geologi di Indonesia, yang diterbitkan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 di Bandung, 1975.

Tulisan yang diterbitkan pada tahun ketika saya masih pakai celana pendek abu-abu kelas 1 SMPN 3 Bandung, mengingatkan saya akan suatu peristiwa adanya seorang geolog Belanda yang tenggelam di Danau Poso. Di hari terakhir survei, kebetulan mobil antre panjang di SPBU Tentena untuk bensin yang melangka di Sulawesi Tengah. Saya segera menyempatkan untuk melihat tugu itu. Jangan-jangan tugu itu untuk memperingati peristiwa tenggelamnya geolog Belanda itu.

Tugu Tenggelamnya Fennema di Tentena

Ah betul saja! Di prasasti marmer tertulis dalam bahasa Belanda:

Herrinnering aan

REINDER FENNEMA

hoofdingenieur by het mynwezen

verdronken in het Posso Meer

27 November 1897.

Kalimat itu melalui Google-translate disarankan diubah sebagai berikut: Herinnering aan REINDER FENNEMA hoofdingenieur bij het mijnwezen verdronken in het Posso Meer 27 November 1897; yang diartikan: peringatan Fennema REINDERS chief engineer untuk pertambangan tenggelam di Posso Lebih 27 November 1897.

Memang google sering rada ngaco juga :) Ya artinya pasti begini: peringatan kepada Reinder Fennema insinyur kepala  untuk pertambangan, tenggelam di Danau Poso 27 November 1897.

Dari buku IAGI 1975 itulah diceritakan bagaimana Fennema bersama J.F. de Corte dan empat orang pembantu dari Minahasa pada sore 27 November 1897 bertolak dengan perahu dari pantai barat untuk menuju Peura di pantai timur. Cuaca yang tadinya tenang tiba-tiba berubah. Angin kencang bertiup dan gelombang besar datang menggulingkan perahu. Semua selamat dengan berpegangan pada badan perahu yang terbalik. Pada sekitar pukul 8 malam, di antara cuaca yang hitam pekat dan angin menderu-deru, de Corte mendengar teriakan lemah dari arah Fennema. Namun sebelum semua sempat menyadari, mereka telah mendapati Fennema hilang tidak berpegangan lagi pada perahu. Mereka hanya pasrah, mengingat tenaga mereka yang sama-sama lemah yang hanya sanggup untuk berpegangan di badan perahu selama lebih dari lima jam dalam suhu air yang sangat dingin.

sketsa Danau Poso, dan kira2 lokasi Peura dan Tentena (arah utara ke kiri gambar)

Dua jam kemudian, cuaca membaik. Susah payah mereka membalikkan perahunya. Dengan sisa-sia tenaga, satu per satu naik ke perahu.  Saat matahari subuh menyingsing, barulah mereka tahu bahwa pantai barat ternyata tidak begitu jauh. Masyarakat segera menolong dan kembali mencoba mencari Fennema. Namun sia-sia. Tubuh Fennema hilang ditelan kedalaman Danau Poso, bersama segala peralatan eksplorasi geologi dan contoh-contoh batuan yang dikumpulkannya. Sampai kini mayatnya tidak pernah ditemukan. Sungguh tragis.

Tetapi di balik peristiwa mengenaskan itu, penjelajahan eksplorasi geologi memang selalu menantang. Medan-medan yang berat dan jauh justru menantang untuk dijelajahi. Zaman sekarang kesadaran akan keselamatan sudah cukup tinggi. Prosedur keselamatan dan asesoris pendukungnya disiapkan. Tentu saja pada beberapa kasus, sekalipun antisipasi terhadap kecelakan sudah maksimal, kadang-kadang peristiwa alam yang berubah tidak terduga, bisa membawa kecelakaan fatal. Apalagi kalau kita sembrono dan tanpa persiapan.

Dari catatan Verbeek 1903: Levensbericht van Reinder Fennema yang dikutip buku IAGI 1975, Fennema terlahir di Sneek, Friesland, Belanda, 21 Oktober 1849. Ia masuk sekolah politeknik pertambangan di Delft. Pada masa itu, ia lebih banyak studi dan magang dalam eksplorasi mineral, seperti di Jerman, Inggris dan Skotlandia. Studinya berlanjut ke Mijnakademie Clausthal, Pegunungan Hartz, Jerman, sebelum kemudian lulus ujian C di Delft 1872. Setahun kemudian ia mulai bekerja di banyak tempat di Eropa dan mulai bertugas di Jakarta pada April 1874 dengan diangkat sebagai insinyur kelas 3.

Ia sempat membantu R.D.M. Verbeek (geolog yang kemudian terkenal dengan penyelidikannya atas letusan Krakatau 1883) dalam pemetaan geologi Sumatra Barat. Rupanya Fennema dapat dikatakan sebagai seorang ahli hidrogeologi pertama di Indonesia dengan menyandang insinyur kelas 2. Eksplorasi air tanah dengan pengeboran ia lakukan di Jakarta dan Jawa Tengah 1878; Surabaya, Pasuruan, Lasem dan Rembang 1879; dan Gombong 1880, serta beberapa tahun kemudian di Medan 1886. Pada 1880 dengan teman mahasiswanya Hooze, dan Verbeen melakukan eksplorasi emas di Jasinga, Banten. Namun bulan September 1880 ia ditugaskan ke Bengkulu untuk eksplorasi batubara. Rupanya tugas di Bengkulu sangat berat. Fennema sakit dan mengambil cuti kembali ke Belanda selama dua setengah tahun berikutnya. Sudah suratan nasibnya ia tidak menjadi saksi letusan Krakatau 27 Agustus 1883 yang kemudian mencuatkan nama seniornya, Verbeek.

Oktober 1884, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Ijo, Pegunungan Karst Karangbolong, untuk kemudian ke Priangan. Januari 1885 ia diangkat menjadi insinyur kelas 1. Tahun itu juga pada bulan November, ia menikah dengan E. de Bruine. Pada 1886 ia ditugasi untuk studi kelayakan Langkat dalam bidang migas dan 1888 kembali bersama Verbeek menyusun Peta Geologi Jawa dan Madura.

Fennema diangkat menjadi insinyur kepala pada November 1893 dan tugas pertamanya sebagai insinyur kepala adalah penyelidikan G. Galunggung yang meletus 18 – 19 Oktober 1893. Setelah cuti di Belanda, ia kembali diangkat sebagai insinyur kepala pada 1896 untuk banyak tugas eksplorasi mineral di Sulawesi. Setahun kemudian, pada eksplorasi geologi bersamaan dengan penyelidikan apakah Daerah Poso berada pada wilayah Kerajaan Luwuk, terbaliknya perahu yang ditumpanginya di Danau Poso mengakhiri hidupnya selama 48 tahun.

Tentena, kota yang berada di tepi Danau Poso, pada saat saya kunjungi terlihat aman dan damai. Kota kecamatan di Kabupaten Poso ini selama masa konflik SARA pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, terimbas juga sekalipun tidak segawat Poso kota. Ketika saya tanyakan kepada pemilik toko yang berada persis di depan Tugu Fennema apakah maksud tugu peringatan itu, mereka menggelengkan kepalanya tidak tahu.

Jangankan dalam Bahasa Belanda, sekalipun ditulis dengan Bahasa Indonesia, mungkin sekali mereka pun tidak tahu satu peristiwa bersejarah di dekat kediamannya. Bagi mereka, siapa Fennema, mungkin hanyalah seorang Belanda biasa. Bagi mahasiswa geologi pun, tidak banyak yang tahu siapa Fennema. Namun bagi Pemerintah Hindia Belanda, jasa Fennema  sang insinyur kepala itu begitu dihargai. Selain di Tentena, satu prasasti juga terpajang di Museum Geologi Bandung:

aan

de gedachtenis

van

den hoofdingenieur van het mijnwezen

in Nederlandsch Indie

REINDER FENNEMA

den trouwe vriend

den edelan mensch

den bescheided geleerde

(Mengenang insinyur kepala pada Jawatan Pertambangan di Hindia Belanda REINDER FENNEMA, kawan yang setia, manusia yang mulia, sarjana yang rendah hati).

Dunia Lain bagi Gadis Estonia dan 16 Mahasiswa Asing

Naskah lama baru ditemukan dari sudut-sudut direktori. Sayang kalau dibuang.

Hari itu, empat tahun yang lalu, Sabtu pagi 11 Agustus 2007, sebuah bus pariwisata berkapasitas 30 tempat duduk meluncur dari kawasan perbukitan Dago Pakar. Dalam udara pagi Bandung yang masih dingin menggigit di tengah musim kemarau itu, bus menuju ke arah barat Bandung. Tujuan pertamanya: Gua Pawon.

Meski masih menyisakan kantuk, para penumpang bus kelihatan bersemangat ketika saya menjelaskan bahwa Bukit Dago Pakar tempat mereka menginap, dulunya merupakan hunian purbakala masyarakat Bandung jaman batu. Para penumpang bus itu, 17 di antaranya adalah para mahasiswa asing, didampingi delapan mahasiswa Indonesia yang menjadi tuan rumah. Mereka datang ke Bandung melalui suatu program pertukaran kunjungan yang dikoordinasi oleh satu kelompok independen mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Isafis (Indonesia Student Association for International Studies).

Dari ke-17 mahasiswa asing itu, sebelas adalah para mahasiswi, yaitu Barbara Asu (Estonia, 23 tahun), Elis Allas (Estonia, 22), Deng Yilin (China, 21), Zhou Yan Bing (China, 20), Xue Song (China, 20), Keiko Kishimoto (Jepang, 19), Atsuko Tanaka (Jepang, 20), Yuki Kurokawa (Jepang, 21), Katharina Maria Zweng (Austria, 23), Xiaohan Li (Finlandia asal China, 25), dan Kirsten Yara van der Poel (Belanda, 23). Para mahasiswanya adalah Arjen Jonk (Belanda, 24), Boris Cencen (Slovenia, 23), Jakub Razowski (Polandia, 20), Oscar Monino Marquez (Spanyol, 23), Peng Yan (Finlandia asal China, 28), dan Pier Paolo D’Angelo (Italia, 29).

Amazing

Lokasi limbah pabrik tepung karbonat Bukit Ashar di G. Masigit

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Situs Gua Pawon yang terletak di perbukitan kars Citatah 24 km dari Bandung. Saat tiba di sana, matahari sudah cukup tinggi dan udara sudah hangat. “This is the tropical rythm,”

komentar Oscar dari Spanyol. Seperti kunjungan-kunjungan treking ke bukit Pawon, rombongan turun di Cisaladah dan berjalan kaki menyusuri jalan tambang yang berdebu putih.

Di sinilah mereka tercenung bagaimana perbukitan kars yang mestinya indah, ternyata porak poranda oleh penambangan batu kapur. Limbah pecahan batu dan tepung kapur yang dibuang di satu lekukan dekat bukit Gunungmasigit, menjadi bukti bagaimana pabrik-pabrik batu kapur sangat tidak ramah lingkungan dalam kegiatan industrinya.

di atas Puncak Pawon dg ltr blk G.Masigit

Kondisi tempat pembuangan limbah yang kotor berdebu ditambah panas menyengat membuat muka-muka bule mereka langsung kemerahan. Keringat mengucur deras. Sebotol air mineral sudah tampak makin menipis. Namun di sela-sela kepanasan itu, beberapa mahasiswa masih

sempat-sempatnya menanyakan nama tumbuhan dan tanaman. Mereka begitu takjub dengan pohon pisang! Tahu buahnya tetapi tidak menyangka kalau pohonnya seperti yang pertama kali mereka lihat itu. Mereka pun berebutan berfoto di bawah pohon pisang. Seorang petani yang ada di situ agak heran melihat kelakuan bule-bule itu. Mungkin dalam pikirnya, “tangkal-tangkal cau wae meni heboh....”

di Gua Ruang Tujuh, Gua Pawon

Di atas puncak Pawon yang terkenal sebagai Stone Garden, panas matahari yang semakin menyengat sedikit terobati dengan pemandangan yang mempesona. Keterpesonaan juga berlanjut di dalam Gua Pawon. Cerita Gua Pawon sebagai gua hunian manusia purbakala menjadi diskusi menarik.

Lokasi berikutnya setelah Citatah adalah Kawah Putih, G. Patuha, selatan Ciwidey. Setelah kekacauan giliran naik mobil ontang-anting yang untuk orang-orang Indonesia tidak pernah bisa berbudaya antre, akhirnya seluruh peserta tiba di Kawah Putih hampir menjelang pkl. 17.00. Udara sangat dingin dan kabut mulai menyelimuti G. Patuha. Tapi di sini semua terpana. Sampai menjelang maghrib, mereka belum mau beranjak turun.

Sebagai wakil keterpanaan mereka, Elis Allas dari Estonia yang negaranya tidak mempunyai gunung api berkomentar bahwa ia merasa ada di dunia lain yang berbeda. Bahkan peserta asal Jepang pun, yang di negaranya banyak gunung api seperti Indonesia, justru baru pertama kali mengunjungi kawah.

Kawah Putih

Begitulah bagaimana gunung api yang tidak dipunyai oleh negara-negara Eropa atau Amerika Utara umumnya, seharusnya gencar dipromosikan sebagai destinasi wisata utama Indonesia. Tapi yah.. kita umumnya sudah merasa genah di zona nyaman. Tidak berani keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang baru.

Inilah beberapa komentar peserta:

Kirsten van der Poel (The Netherlands)
The trip to bandung with the guide was organized well. He really knew a lot about the history of the environment. I have experienced lots of new sights of the nature of Java.

Atsuko Tanaka (Japan)
I really enjoyed our trip to Bandung. We could see the scenery of countryside and everything is new for me, so it is very exciting. Especially, I enjoyed trekking to the cave. It was very great! And the scenery from the top of the mountain also good. I felt I like Indonesia!

Elis Allas & Barbara Asu (Estonia)
The trip to Bandung was very exotic for us because we can’t see anything like this in Estonia. Especially we love the volcano. It was amazing. Also the ride up to the volcano was an extremelly different experience for us. The guide answer all our questions in a professional way, so that we really feel that we got smarter.

Boris Cencen (Slovenia)
It was a nice opportunity to see different things like country side at caves and Bandung was quite different than Jakarta. I was expecting that we also gonna see the old temples. Otherwise it was a nice experience!

Zhou Yan Bing (China)
It’s a good chance to know more about Indonesia. And I found many things new and interesting in this country. The people in this country is kind. I really enjoy the trip here. Wish this country more beautiful!

Deng Yilin (China)
Indonesia is a beautiful country and the people here are very friendly. Our trip is wonderful and we have a good chance to know the traditional culture. And I think it will be a good experience for my life.

Yuki Kurokawa (Japan)
The trip of Bandung was really exciting. I enjoyed so much. The hiking to the mountain was very hard, but I could find that the plants were so different from Japanese plants. We can’t enjoy those sights that is really wide because Japan is not so large like this country. I also enjoyed the sights of the white crater lake. We also have a kind of lake in Hokkaido, Japan, but I’ve never been there so I enjoyed it so much. It was a really beautiful color. The smell of the sulfur was like the Japanese crater. I just thought that I would like to go to hot spring in Japan when I got back.

Oscar Monino (Spain)
The tour around the mountains in Bandung was nice. We enjoyed the beautiful views of the small villages and also the caves, however, the caves were a bit dirty from my point of view. Furthermore the visit to the white crater was amazing. During all the visit the guide was really professional.

Onigiri Monogatari

Catatan Perjalanan ke Akita, Jepang, 23 Juni – 5 Juli 2010. Naskah lama – hampir setahun – yang terus diedit sebelum diunggah.

JAL-726 dari Jakarta mendarat di Narita jam 8 pagi waktu Tokyo. Setelah semua urusan imigrasi selesai dan masuk ke lobby bandara, mungkin karena sedikit celingukan mencari counter JICA, kami Budi Brahmantyo (Geologi ITB),Nyoman Sumawijaya (Geoteknologi LIPI), dan Sunyoto (profesor Teknik Sipil UGM), didatangi dua orang Jepang berjas rapi. Sambil memperlihatkan lencana mereka di balik jas, dalam bahasa Inggris yang baik, mereka meminta kami memperlihatkan paspor. Polisi imigrasi.

Dengan sangat ramah seperti berbasa-basi, mereka menanyakan tujuan kami datang ke Jepang. Setelah tahu semua ijin entry memang valid dan ada surat pengantar dari JICA bahwa kami adalah peserta training “Partnership Project on Geotechnical Disaster Prevention Technology in Hilly and Mountainous Area,” mereka menyerahkan paspor kami dan menunjukkan counter JICA yang hanya beberapa langkah saja dari tempat kami celingukan. Lalu semua urusan mengalir lancar dengan gaya Jepang yang cepat dan tepat waktu.

Dengan bus limousine, kami meluncur ke TCAT (Tokyo City Air Terminal). Di sana sudah ada taksi yang telah menunggu yang kemudian membawa kami ke kantor JICA. Semalam menginap di pusat pelatihan JICA di Tokyo yang sangat internasional, esoknya dengan shinkansen melaju cepat – sangat cepat – ke Akita, lebih kurang 800 km utara Tokyo.

Shinkansen Komachi-13 tiba di Stasiun Akita

Dalam mengejar jadwal keberangkatan dari Stasiun Tokyo, Tokyo Rush Hour harus kami tembus. Berdesak-desakan di kereta api bawah tanah dan berlarian di stasiun penghubung. Akhirnya sebelum naik ke shinkansen, pilihan makan siang di atas kereta yang paling aman dan praktis adalah onigiri. Dan itu adalah pilihan beberapa kali makan siang (bahkan makan malam) selama di Jepang!

onigiri si bola nasi berbentuk segitiga, dan sebotol teh pahit oolong: makan siang di atas shinkansen

Onigiri adalah panganan yang sangat Jepang sekali. Panganan itu hanyalah nasi yang berisi ikan (berbagai jenis), kadang-kadang telur ikan, atau bahkan sesederhana buah cherry asam. Sekarang-sekarang ini sudah bervariasi dengan daging ayam cincang. Tetapi yang jelas, tidak (belum) pernah mendapati isi daging sapi atau babi. Bagian luar diselimuti dengan lembar tipis nori, rumput laut kering khas Jepang. Dengan pilihan isi ikan, bagi muslim, onigiri adalah pilihan yang aman, enak, dan nyaman.

Onigiri yang selalu tersedia di toko-toko kombini (convenient store) dikemas sangat canggih. Dengan hanya merobek dan menarik satu pita plastik, kita sudah dapat mengeluarkan onigiri lengkap dengan bungkus nori untuk kita makan. Sambil melaju di atas kereta api shinkansen yang berkecepatan 200 – 250 km/jam, makan siang tiga buah onigiri dan teh oolong ternyata tidak membuat perut kenyang… Begitulah kisah awal di Jepang ditemani si penganan bola nasi. Onigiri monogatari.

Kota Akita yang Sepi

Hanya 2,5 jam jarak 800 km Tokyo-Akita ditempuh Shinkansen. Setiba di Akita, kami merasakan udara yang sejuk di awal musim panas Jepang yang biasanya sangat gerah karena kelembapan yang tinggi. Wajar, karena Akita berada mendekati lintang utara 40 derajat. Kesejukan itu ditambah suasana kota yang tenang bahkan sepi untuk suatu kota seukuran ibukota perfektorat (setingkat provinsi). Bagi saya, ini adalah kunjungan ke Akita yang kedua kali sejak dulu di tahun 1997 ketika tugas belajar untuk meraih gelar master di Niigata University, kira-kira 200 km di selatan Akita.

Ritual welcome party khas Jepang dan kunjungan ke berbagai kantor yang mirip silaturahim di Indonesia menjadi tradisi yang tidak terelakkan di Jepang. Kami pun berkesempatan bertemu dengan pejabat-pejabat kota, universitas, bahkan disambut Wakil Gubernur Perfektorat Akita yang sempat-sempatnya diliput surat kabar lokal Akita.

potongan Akita Shinbun yang memuat kunjungan ke Wakil Gubernur Akita.

Tradisi lain yang saya rasakan selalu menjadi bagian dari acara kunjungan orang asing ke Jepang adalah mengunjungi museum dan situs-situs atau artefak-artefak kebudayaan Jepang. Ini mungkin cara Jepang untuk menjalin keterikatan orang asing dengan cara mengenalkan Jepang melalui kebudayaannya. Jadilah di antara tujuan utama kami mempelajari penanggulangan longsor di Jepang, selama perjalanan itu banyak juga menjadi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata alam dan budaya Jepang yang memang cantik.

Penanggulanagn Longsor yang Extravaganza

Pada awalnya tujuan training ini adalah memperkenalkan teknologi Jepang dalam penanggulangan longsor. Kami tentu saja senang mendapat pengetahuan baru dalam penanggulangan longsor. Akan tetapi terdapat beberapa hal yang membuat kami terheran-heran dan bertanya-tanya.

Pertama, longsoran besar memang terjadi dan potensial menjadi bencana besar. Namun lokasi longsor kebanyakan adalah hutan lindung. Bencana yang terjadi “hanya” menimpa satu hotel spa di Plateau Hachimantai. Longsoran Yachi yang luar biasa besar umumnya bersifat merayap (creep) walaupun beberapa bagian menjadi sangat besar dengan ancaman utama terhadap beberapa kampung, pesawahan, dan jalan provinsi yang tidak terlalu ramai. Longsoran yang terpicu gempa bumi memang sangat rawan mengancam keberlangsungan bendungan yang terdapat di perbatasan Perfektorat Iwate dan Miyagi. Baru di sinilah penanganan longsor memang sangat diperlukan mengingat keberlangsungan bendungan yang harus dipertahankan.

penanganan longsor raksasa Yachi yang extravaganza dan sangat mahal

Kedua, cara penanganannya benar-benar extravaganza dan berbiaya besar. Teknologi penanaman berpuluh-puluh angker, pengupasan dan pembuatan drainase di badan longsoran yang nantinya akan ditutup tanah kembali, pembuatan dinding-dinding tebal penahan lereng, serta pembuatan sumur-sumur vertikal raksasa dengan bagian bawah dibor untuk sumur-sumur horizontal, benar-benar memakan biaya yang sangat mahal. Bahkan para insinyur Jepang pun mengakui kalau usaha penanggulangan dengan teknologi tersebut sangat mahal. Apalagi jika dihitung dengan kurs rupiah yang mendekati 90 kali lipatnya!

Terakhir, JICA berharap bahwa pengetahuan yang didapat selama kunjungan ke Jepang dapat ditransfer kepada mahasiswa-mahasiswa di Indonesia. Tentu saja tidak ada masalah dengan harapan ini. Dengan mudah saya menyampaikan hal tersebut dalam kuliah saya yang kebetulan mengampu mata kuliah Geologi Lingkungan. Beberapa materi kuliah tentang bencana alam sudah memasukkan pengalaman kunjungan ke Jepang walaupun tetap dengan menyertakan kedua pertanyaan besar di atas sebagai bahan pemikiran mahasiswa: adakah metoda yang lebih efektif dan efisien dalam penanggulangan longsoran di tengah keterbatasan dana dan lebih-lebih ketidakpedulian mitigasi bencana?

Kisah si bola nasi berakhir ketika kami sudah mendapat tiket dari Sendai ke Tokyo. Kami pun kembali menginap semalam di JICA Tokyo setelah siangnya sempat berjalan-jalan ke Kuil Asakusa yang terkenal di Tokyo dan mencari oleh-oleh di Akihabara. Keesokan harinya, bus limousine dari TCAT kembali membawa kami ke Bandara Internasional Tokyo di Narita, dan JAL-725 menerbangkan kami kembali ke Jakarta.

dari kiri: Prof. Ito, Budi Brahmantyo, Nyoman Sumawijaya, dan Prof Sunyoto di kawah Hachimantai-Osarizawa

Hampir setahun setelah kunjungan ke Jepang, 11 Maret 2011, gempa berbesaran 9.0 dan menimbulkan tsunami dahsyat melanda pantai-pantai Sendai (Miyagi) dan pantai-pantai timur Pulau Honshu yang berhadapan dengan Samudera Pasifik. Ketika tayangan-tayangan televisi memperlihatkan the killer wave tersebut menghantam pantai, ingatan segera melayang ke pantai Matsushima, 25 km dari Sendai. Entah bagaimana nasib pantai wisata yang ramai itu sekarang. Dengan gelombang sedahsyat itu, tak terbayangkan apa yang terjadi dengan pantai, toko-toko, dan kuil kuno di pantai itu.

Matsushima. Apa jadinya sekarang setelah tsunami 11 Maret 2011?

Di jalur pejalan kaki di Matsushima banyak tertulis dalam dua bahasa (Jepang dan Inggris) tentang peringatan tsunami.   Dalam bahasa Inggris: “tunami evacuation route” dengan tanda panah. TUNAMI. Ya huruf hiragana “tsu” oleh orang Jepang sendiri sering ditulis dalam alfabet sebagai “tu.”

Mudah-mudahan peringatan tersebut menyelamatkan banyak warga Jepang yang ramah-ramah di pantai Matsushima itu. ***

Dua Jenis Guru (oleh Rhenald Kasali)

Tulisan menarik dari Rhenald Kasali di Seputar Indonesia (Kamis, 5 Mei 2011) untuk kita (terutama saya) renungkan.

Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan.Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.

Sebaliknya, guru kreatif lebihbanyaktersenyum,namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.

Guru Kognitif

Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya.Dia berbicara panjang lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi. Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory.Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.

Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guruguru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS),sangat patuh pada ”tupoksi”.Saya sering menyebut mereka sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan babbab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas,mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.

Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anakanak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit.Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya.Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.

Saya sering menyebut anakanak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi,bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya,sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.

Guru Kreatif

Ini guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru kognitif.Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya.Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism,merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya.

Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan (context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.

Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan para neuroscientistmodern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak (muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan,disiplin diri,dan seterusnya.

Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya. Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat peraga,kita akan buat sendiri dari limbah.

Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan. Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke rumah Bapak,”ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar.

Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan. Saat membuat disertasi di University of Illinois, para guru besar saya bukan memaksa saya membuat tesis apa yang mereka inginkan, melainkan mereka menggali dalam-dalam minat dan objektif masa depan saya. Sewaktu saya bertanya, mereka menjawab begini: ”Anda tidak memaksakan badan Anda pada baju kami, kami hanya membantu setiap orang untuk membuat bajunya sendiri yang sesuai dengan kebutuhannya.” Selamat merayakan Hari Pendidikan dan jadilah guru yang mengantarkan kaum muda ke jendela masa depan mereka.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Dance On A Volcano: Catatan dari Jelajah Geotrek Bersama Matabumi

Through a crack in Mother Earth, Blazing hot, the molten rock

Spills out over the land. And the lava’s the lover who licks your boots away

Di antara banyak acara-acara geotrek yang mulai mengetop, salah satunya adalah Jelajah Geotrek yang diorganisasi oleh Matabumi, kumpulan alumni Geografi UPI. Jelajah Geotrek dipilih kawasan gunung api. Pertama ke Kawah Putih, Gunung Patuha, kedua ke Situ Lembang, Kaldera Gunung Sunda, dan ketiga ke Gunung Papandayan, Garut.

Jelajah Geotrek Kawah Putih 2 Okt 2010 (foto: Ayu Kuke)

Volcanotrekking pada gunungapi aktif sebenarnya penuh resiko. Pertama, kawah-kawah gunung api umumnya berada pada ketinggian di atas 1000 m. Bagi mereka yang mempunyai fisik yang peka terhadap ketinggian, bergeotrek akan teras cepat melelahkan. Kedua, medan gunung api umumnya berlereng terjal. Beberapa bagian biasanya mempunyai permukaan yang ditutupi oleh pasir atau kerikil lepas. Kemungkinan terpeleset adalah hal yang perlu diantisipasi penyelenggara. Ketiga, berkaitan dengan lapangan yang dipenuhi kawah. Kawah gunung api di Jawa umumnya solfatara yaitu kawah yang menghembuskan gas-gas belerang. Di beberapa bagian kawah-kawah ini begitu aktif dan dapat menyebarkan konsentrasi gas belerang yang tinggi membuat mereka yang tidak tahan akan baunya akan terbatuk-batuk dan sesak.

Jelajah Geotrek Situ Lembang 12 Feb 2011 (foto: Matabumi)

Terakhir, perilaku gunung api kadang-kadang sulit diprediksi. Sekali pun pada umumnya peningkatan gejala aktivitas gunung api akan didahului oleh peningkatan yang terpantau misalnya dari tremor alat seismometer, peningkatan suhu gas atau air kawah, dan anomali-anomali lainnya (umumnya selalu terpantau oleh pengamat pos vulkanologi), namun pada beberapa peristiwa kejadiannya begitu mendadak. Peristiwa eksplosi gas CO di Sinila, Dieng, Jawa Tengah tahun 1970-an yang menewaskan belasan petani kentang adalah contohnya. Atau tewasnya beberapa peneliti gunung api, satu di antaranya dari USGS (United States Geological Survey), di G. Semeru beberapa tahun lalu, yang diberondong kerikil-kerikil sangat panas letusan tiba-tiba dari satu lubang kawah. Atau juga korban para pelajar Belanda di Tangkubanparahu pada tahun 1930-an yang terpapar gas berracun.

Jelajah Geotrek G. Papandayan 23 Apr 2011 (foto: Ayu Kuke)

Merupakan keniscayaan jika bergeotrek di kawasan gunung api harus tetap mengutamakan keselamatan. Jika perlu, jalur yang dianggap akan berbahaya, dibatalkan untuk dijejaki. Prinsip keselamatan yang dikutip dari PT Chevron mungkin cukup jitu untuk menjadi prinsip bergeotrek di jalur-jalur yang tidak biasa: Do it savely or not at all. There’s always time to do it right.

Gunung api memang eksotik. Kawah Putih dengan kabutnya yang kerap kali menutupi pemandangan, justru menjadi daya tarik yang luar biasa, selain warna air kawahnya yang hijau toska. Situ Lembang, danau buatan yang membendung aliran Ci Mahi, beserta hutan hujan tropisnya, dan terutama sejarah letusannya yang juga berkaitan dengan Legenda Sangkuriang, menjadi daya tarik yang tidak ada habisnya. Gunung Papandayan yang meletus terakhir November 2002 yang menghasilkan bukaan lanskap kawah yang luas, menjadi wahana geotrek yang menantang dari lanskap yang lain daripada yang biasa kita lihat sehari-hari. Di samping itu, suara gemuruh dari Kawah Baru, mengundang ketertarikan dan kengerian sekaligus.

Begitulah alam gunung api, kita menjadi ringkih dihadapannya.

Lagu Genesis “Dance on a Volcano” menjadi lagu tema untuk catatan ini. Lagu ciptaan sisa anggota band Mike Rutherford, Phil Collins, dan Steve Hacket yang dimuat pada album “A Trick of the Tail” (1976) memulai debut Phil Collins sebagai vokalis band setelah ditinggal Peter Gabriel. Lagu ini menceritakan pendakian ke gunung api aktif dan bagaimana kita harus berdansa menghindari jilatan-jilatan lava yang akan menghanguskan.

Pencipta lagu barat punya ide untuk menulis lirik seperti ini yang jarang dikerjakan oleh para penulis lagu kita. Silakan disimak.

Holy Mother of God

You’ve got to go faster than that to get to the top.

Dirty old mountain

All covered in smoke, she can turn you to stone

So you better start doing it right

better start doing it right.

You’re halfway up and you’re halfway down

And the pack on your back is turning you around.

Throw it away, you won’t need it up there, and remember

You don’t look back whatever you do.

Better start doing it right.

On your left and on your right

Crosses are green and crosses are blue

Your friends didn’t make it through.

Out of the night and out of the dark

Into the fire and into the fight

Well that’s the way the heroes go, Ho! Ho! Ho!

Through a crack in Mother Earth,

Blazing hot, the molten rock

Spills out over the land.

And the lava’s the lover who licks your boots away. Hey! Hey! Hey!

If you don’t want to boil as well.

B-B-Better start the dance

D-D-Do you want to dance with me.

You better start doing it right.

The music’s playing, the notes are right

Put your left foot first and move into the light.

The edge of this hill is the edge of the world

And if you’re going to cross you better start doing it right

better start doing it right.

You better start doing it right.

Let the dance begin.

Masa Kecilku: Petualangan Sepulang Sekolah

Tulisan ini adalah ide pak Mikrajuddin Abdullah (dosen Fisika ITB) untuk mengumpulkan pengalaman masa kecil dosen-dosen ITB, yang katanya, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran atau diambil hikmahnya bagi mahasiswa-mahasiswa ITB. Mimpi pak Mikra, kumpulan tulisan itu nantinya terbit sebagai buku.

Untuk sementara, kumpulan tulisan ttg masa kecil dosen-dosen ITB dikumpulkan di http://masakecildosenitb.blogspot.com/

Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat membaca.

Di bawah ini kontribusi saya untuk ide brilian pak Mikra itu: Petualangan Sepulang Sekolah.

SD Moch Toha VI

Ini adalah cerita masa kecil dalam rentang waktu 1969 – 1974. Masa-masa ketika saya bersekolah di SD Moch Toha VI di Jl. Moch Toha, Bandung. Tempat ini tidak jauh dari ITC Kebon Kalapa sekarang, yang dulunya adalah terminal. Sekolah itu menempati bangunan kuno. Mungkin peninggalan Belanda. Isu-isunya bekas rumah sakit. Memang di depan setiap kelas, terdapat selasar dan bak air, mirip sal-sal rumah sakit gaya Belanda dulu.

Rumah orangtua saya dulu di Jl. Pasundan. Rumah kecil berdinding papan. Ruang tamu hingga dapurnya masih berlantai tanah. Hanya ruang tidur yang berlantaikan papan. Kamar mandi dan WC-nya bersama-sama dengan tetangga lain. Airnya harus ditimba dari sebuah sumur yang airnya bening dan segar. Antara kamar mandi/WC dengan sumur berjarak kurang lebih 20 m. Rupanya penduduk blok Jl. Pasundan dulu, yang walaupun hidup sederhana, sudah menyadari sanitasi lingkungan dengan baik.

Sebenarnya ada SD yang lebih dekat dari rumah, yaitu SD Asmi di Jl. Asmi. Tetapi orang tua memasukkan saya (dan kemudian adik saya) ke SD Moch Toha karena kualitas pendidikannya katanya lebih baik. Bagi si Budi kecil waktu itu, sekolah di mana saja rasanya tidak masalah. Tetapi ketika semakin besar dan mulai menyadari keterkenalan SD Moch Toha di wilayah selatan Bandung, terselip rasa bangga juga bisa bersekolah di SD itu.

Berangkat ke sekolah tentu saja jalan kaki. Sering tidak mandi dulu, cukup cuci muka. Bandung saat itu masih terasa sangat dingin. Bahkan kabut pegunungan dari utara kadang-kadang masih menyelinap jauh ke selatan. Kadang-kadang seiring dengan langkah-langkah kaki kecil saya, kabut masih menyelimuti pagi. Perjalanan berangkat sekolah pun kadang-kadang harus memakai jaket. Rutenya menelusuri gang pintas yang kemudian tembus ke Jl. Asmi di samping lapangan Gereja Santo Paulus. Dari sana tinggal menyusuri Jl. Asmi dan tembus ke Jl. Moch Toha tepat di depan pasar. Berbelok ke kiri, dan tinggal beberapa puluh langkah lagi, sampailah di gerbang SD.

Di Jl. Moch Toha inilah yang saat itu tidak selebar sekarang, masih rapat dinaungi jajaran pohon tanjung. Ketika musim berbunga dan bunga-bunga tanjung berjatuhan ke atas jalan, menutupi jalan dengan warna keputih-putihan, harumnya sungguh semerbak. Hingga sekarang saat berada di bawah pohon tanjung dan bunga putih kekuning-kuningannya jatuh dan menyebarkan harum, ingatan saya langsung tertuju ke masa-masa berangkat sekolah itu.

Selain harumnya bunga tanjung, bagi saya kenangan akan Jl. Moch Toha justru didapat dari tukang beca yang kencing di selokan jalan. Rasa ingin tahu apa yang sedang dilakukan si tukang beca dengan berjongkok di pinggir selokan, akhirnya sempat ditiru juga. Tetapi lama-lama mengerti juga, bagi anak lelaki, kencing yang paling enak ya sambil berdiri.

Pindah Rumah

Ketika sedang di kelas III, kehidupan harus berubah. Lahan tempat rumah orangtua ternyata bukan tanah sendiri, tetapi milik seseorang yang bernama Haji Omo. Si pemilik lahan bermaksud mengambil haknya kembali. Saya masih ingat bagaimana bapak saya dan beberapa tetangga sibuk mengurus masalah ini. Bahkan rasanya sempat masuk ke pengadilan segala. Tetapi karena memang bukti kepemilikan tanah lebih kuat dipunyai Haji Omo itu, akhirnya seluruh penghuni yang kira-kira terdiri dari puluhan kepala keluarga yang sudah mendiami tempat itu selama berpuluh-puluh tahun harus rela tergusur. Jika tidak salah, kasus penggusuran ini yang kemudian juga mengubah nama Jl. Abdul Muis (blok yang digusur berada pada pojok Jl. Pasundan – Jl. Abdul Muis), kembali ke namanya dulu, Jl. Pungkur.

Sebagai seorang anak SD kelas III yang masih lugu, ya sedikit lucu dan guoblok, kehilangan rumah sebenarnya tidak begitu terasa. Hal yang terasa adalah kehilangan teman-teman bermain sepulang sekolah yang biasanya dipusatkan di lapangan yang dulu rasanya sangat lega, Buruan Dadang, yang berarti Halaman Dadang. Entah siapa yang pertama memberi lapangan kecil ini sebagai Buruan Dadang. Mungkin mengacu pada satu rumah milik Dadang dengan halamannya itu.

Maka, selamat tinggal kenangan penelusuran gang ke sekolah. Juga tidak akan ada lagi perburuan layangan putus (saya lebih asyik memburu layangan putus daripada memainkannya, rasanya ada rasa asyik berebutan dengan anak-anak lain), atau main gatriks (bisa sampai ke Alun-alun), sondah, loncat tali, dan slepdur (sebenarnya untuk anak perempuan, tapi ikut main juga), atau berburu selebaran iklan bioskop yang ditabur dari bemo yang berjalan, main petak-umpet di klinik Bidan Mimi, juga melempar mangga muda punya tetangga, dan lain-lain kenangan masa kecil…

Ketergusuran rumah dari Jl. Pasundan mendapatkan pengganti rumah dinas PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) tempat ayah saya bekerja sebagai pegawai menengahan di Balai Besar Kereta Api beralamat Jl. Gereja (dulu), sekarang Jl. Perintis Kemerdekaan, dekat via-duct. Pindah dari rumah gubuk ke rumah gedong di Jl. Rajawali adalah kegembiraan tersendiri. Saat itu, rasanya sudah berubah jadi orang kaya. Tapi orang tua memutuskan tidak memindahkan sekolah dan meneruskan sekolah tetap di SD Moch Toha. Jaraknya ke sekolah dari rumah sekarang mencapai hampir delapan kilometer. Dimulailah petualangan si Budi kecil pergi dan pulang sekolah.

8 km pulang sekolah berjalan kaki

Pergi ke sekolah dari rumah baru, tidak begitu ingat. Pastinya pertama-tama ibu saya yang mengantar. Tetapi justru perjalanan pulang ke rumah masih terrekam dengan baik di memori. Karena hidup keluarga pas-pasan, dengan lima adik yang masih kecil-kecil, pulang sekolah harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer itu. Perjalanan pulang inilah yang merekam bagaimana kehidupan jalanan Bandung tahun 1971 – 1974.

Rute pulang yang saya lalui, sambil membimbing adik saya yang dua tahun lebih muda, adalah ke arah terminal Kebon Kalapa, kemudian menyusuri Jl. Pasirkoja ke arah Jl. Astanaanyar. Nikreuh (berjalan kaki cukup jauh) ke utara sepanjang Jl. Astanaanyar, bisa belok menyusuri Jl. Cibadak, atau diteruskan hingga perempatan Jl. Gardujati – Jend. Sudirman, dan kemudian nikreuh menyusuri Jl. Jend. Sudirman ke arah barat, melalui Kelenteng Andir, Pasar Andir, Jamika, pertigaan Jl. Suryani, Gedung Perdatam (jadi PPTM, sekarang Puslitbang TekMira), lalu berbelok ke Jl. Garuda (pernah disebut Jl. Laksamana Muda Nurtanio; lalu sekarang kembali menjadi Jl. Garuda), hingga sampailah di rumah. Perjalanan jauh itu rasanya asyik saja, tidak terkesan ada rasa capek.

Inilah rekaman beberapa peristiwa berkesan. Keinginan seorang anak kecil untuk dapat membeli koleksi stiker bendera negara-negara dunia tidak dapat dipenuhi orang tua. Ketika itu, barang itu tergolong mahal. Saya tidak habis akal. Dalam perjalanan pulang sekolah, selalu mampir ke satu etalase toko yang memajang kumpulan bendera negara dunia itu. Dengan kertas dan pensil saya menyalin satu-per-satu bendera-bendera itu. Di depan etalase itu saya cukup membuat kotak (kecuali bendera Nepal yang bentuknya aneh) dan mensketsa pola bendera, dan kemudian memberi keterangan warnanya. Di rumah, baru digambar ulang, dan diwarnai dengan pensil warna sesuai catatan warna di oret-oretan. Rupanya kebiasaan ini berguna juga ketika sekarang menjadi seorang geolog. Mengamati singkapan batuan, atau sayatan batuan di bawah mikroskop, atau bentang alam yang luas, mendeskripsinya dan membuat sketsanya, seolah-olah sebuah default masa kecil ketika menyalin bendera-bendera itu.

Di Jl. Cibadak sempat tertarik pula pada judi bola. Si bandar memainkan bola kecil yang dipindah-pindahkan dengan tutupan kerucut dengan tangannya, dan si penjudi memasang taruhan bola ada di kerucut mana. Bersama-sama dengan orang lainnya yang rasa-rasanya para tukang beca atau pedagang asongan, saya si anak SD tertarik mencoba karena kelihatannya gampang. Benar saja, pilihan saya selalu benar. Taruhan awal Rp. 1,- (satu rupiah!) bisa berhasil membawa Rp. 10,-. Lama-lama ketika menyadari si bandar berwajah tidak senang, judi itu tidak pernah dicoba lagi.

Di Jl. Astanaanyar, dekat Jl.Pagarsih, dulu ada gedung bioskop bernama Siliwangi. Saya selalu mengagumi para pelukis poster-poster bioskop yang besar-besar itu. Poster-poster film koboi adalah yang paling saya suka. Di satu pojokan dekat bioskop itu terdapat penjual koran dan majalah. Di sanalah saya selalu melihat-lihat majalah, kadang-kadang cukup dengan melihat-lihat sampulnya saja yang berwarna-warni. Di toko kecil inilah, saat pulang sekolah saya sudah tahu bagaimana sampul Majalah Bobo terbitan minggu itu, apakah Bobo si kelinci yang riang gembira itu sedang berkostum bajak laut, indian, tentara, polisi, pemadam kebakaran, atau lainnya. Jadi saat hari Rabu ketika majalah itu terbit dan dibawa pulang ayah dari kantor sekitar jam 14.30 saya sudah lebih dulu menikmati gambar sampulnya di perjalanan pulang sekolah.

Dari Oplet ke Honda

Perjalanan jalan kaki pulang sekolah akhirnya digantikan dengan naik oplet. Itupun setelah orangtua mulai memberi uang ongkos naik oplet. Oplet adalah mobil kuno yang spakbornya bulat menonjol. Mereknya ya Opel. Tetapi rasanya beberapa mobil bermerk Fiat atau mungkin Chevrolet. Lama-lama oplet digantikan oleh bus-bus mini dari Jepang yang dikenal sekarang sebagai “angkot.” Nah, karena dulu angkot-angkot ini umumnya menggunakan mobil merk Honda, masyarakat Bandung mengenalnya sebagai “honda,” sekalipun kemudian datang merk-merk lain seperti Suzuki.

Ongkosnya dari terminal Kebon Kalapa ke Jl. Garuda awalnya hanya Rp. 5,-. Tapi hingga kelas VI terasa ongkos itu beranjak naik hingga Rp. 15,- atau lebih. Bahkan pernah seorang kenek marah dan melemparkan uang Rp. 10,- yang saya berikan dengan terburu-buru karena saya langsung ngacir. Harga-harga mulai beranjak naik. Orangtua akhirnya menaikkan bekal jajan dan ongkos naik honda. Tetapi saya dan adik saya sudah menandai mana angkot dengan supir dan kenek yang baik, mana yang tidak. Tentu “honda galak” – begitu saya dan adik saya menjulukinya – tidak pernah jadi pilihan. Petualangan sepulang sekolah sepanjang 8 km mulai digantikan duduk di atas “honda.” Supaya hemat, saya dan adik saya berpangkuan supaya dihitung satu.

Lalu lintas saat itu boleh dikatakan masih lengang. Di jalanan yang berseliweran hanyalah beberapa mobil, beberapa bus antar kota, dan lebih banyak sepeda onthel, dan delman, selain mulai maraknya angkutan kota yang disebut “honda” itu. Kadang-kadang ada juga pedati kuda pengangkut barang (umumnya bambu) yang dikenal sebagai “Impala Udin.” Sebuah pelesetan nama merk mobil sedan Chevrolet mewah “Impala.” Di Bandung tahun 1970-an pernah terjadi kerusuhan berbau SARA ketika semua toko dan rumah milik keturunan Cina dihancurkan perusuh. Gara-garanya seorang pengemudi sedan mewah yang warga keturunan menghajar sais “Impala Udin” yang menggores mobil mewahnya.

Begitulah sekelumit petualangan sepulang sekolah masa SD yang menjadi memoar juga terhadap Kota Bandung sekitar pertengahan 1970-an. ***

Gede dan Dempo: Gunung Api yang Menjadi Kiblat Megalitik

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, Selasa 29 Maret 2011 tepat pada hari penjajagan kereta api wisata ke Gunung Padang yang diselenggarakan oleh Disbudpar Kab. Cianjur dan diikuti oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf Efendi; Kadisparbud Jabar, Bupati Cianjur, Wakil Walikota Bandung, Kadisbudpar Bandung dan Cianjur, Ka DaOp II Bandung, dan banyak pejabat pemda lainnya. Artikel ini saya tulis sebagai oleh-oleh Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Kopassus di G. Dempo, Sumatera Selatan. Selamat membaca.

Setiap ke Gunung Padang, cuaca selalu tertutup awan. Namun kondisi cuaca itu justru ikut membantu mengurangi kelelahan saat harus meniti 350 anak tangga batu bersudut 45 derajat menuju situs utama di puncak bukit. Ketika mencapai ujung titian batu terakhir, tampaklah konstruksi batu yang luar biasa.

Situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, diakui para arkeolog sebagai bangunan megalitik terbesar di Asia Tenggara. Bangunannya dikenal sebagai punden berundak. Terdapat lima undak yang tersusun oleh kolom-kolom batu andesit-basaltis.

Kolom-kolom batu yang umumnya bersegi lima atau enam disusun sedemikian rupa sehingga membangun pelataran pertama dan kedua dalam tumpukan yang kokoh. Sebagai dasar pelataran, kolom-kolom batu disusun secara horisontal. Sebagian dipasang tegak berdiri membentuk pagar atau ruang-ruang. Pada undak ke-3 hingga ke-5, kolom-kolom batu berfungsi sebagai pembatas dengan permukaan undak berupa tanah. Ruang-ruang tertentu itu sampai sekarang belum diketahui peruntukannya.

Punden berundak lima ini berbentuk memanjang dengan orientasi utara – selatan. Satu hal yang sangat mengagumkan adalah arah memanjang Gunung Padang persis menghadap utara ke arah Gunung Gede (2.958 m). Masyarakat megalitik yang diperkirakan hidup antara 3000 – 3500 tahun yang lalu mungkin menganggap Gunung Gede sebagai gunung suci dan menghadapkan bangunan yang bersifat transendental-spiritual ini ke arahnya.

Di sinilah letak kecerdasan masyarakat megalitik yang pernah hidup di Jawa Barat itu. Mereka telah memilih Gunung Padang yang menyediakan kolom-kolom batu alamiah, lalu menarik dan mengangkat kolom-kolom batu itu ke puncak bukit dan membangun punden berundak lima seperti sekarang dapat kita lihat. Bayangkan, untuk satu meter panjang kolom batu dengan diameter 40 cm, mereka harus mengangkat batu seberat kira-kira setengah ton. Teknologinya mungkin dengan menggunakan tali dan batang-batang pohon sehingga kolom batu yang sangat berat tersebut dapat ditarik naik setinggi lebih dari 50 m.

Mengapa Gunung Gede dijadikan kiblat bangunan suci mereka? Gunung api yang sedang tidak aktif memberi manfaat besar bagi masyarakat yang hidup di kakinya. Udaranya nyaman dan sejuk. Tanahnya umumnya subur. Air bersih biasanya melimpah ruah. Tetapi ketika aktif, letusannya sangat mengerikan dan mengancam kehidupan. Itulah yang mungkin akhirnya membuat masyarakat megalitik menganggap gunung api sebagai representasi yang maha kuasa, yang memberi berkah, sekaligus musibah.

Hal lain yang sangat dihormati dari suatu gunung api selain keaktifannya adalah dimensinya yang besar. Selain itu puncaknya yang menjulang ke langit dianggap sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa atau para leluhur.

Dengan analogi seperti itulah, masyarakat megalitik di Jawa Barat pembangun punden berundak Gunung Padang diperkirakan menjadikan Gunung Gede sebagai gunung sucinya dan mengarahkan bangunan suci mereka ke arah di mana Gunung Gede berada. Rupanya mereka tidak sendirian. Masyarakat megalitik yang diduga sejaman di Sumatera Selatan mempunyai kepercayaan yang serupa

Wagub Jabar, Pak (Dede) Yusuf Effendi, di G.Padang: menamakannya The Galaxy Stone of Megalithic Complex of Mt. Padang

Arca-arca Raksasa Pasemah

Jika berkesempatan jalan-jalan ke Lahat di Sumatera Selatan, anda akan menjumpai suatu gunung yang pasti menarik perhatian. Bentuknya seperti genggaman tangan yang mengacungkan jempol. Begitulah masyarakat akhirnya mengenalnya sebagai Gunung Jempol alih-alih nama aslinya Bukit Serelo. Karena keunikannya, gunung ini menjadi ikon Kabupaten Lahat dan menjadi lambang kabupaten.

Sejauh kira-kira 200 km ke arah barat dari Palembang, Gunung Jempol akan segera kita lihat saat memasuki batas Kabupaten Lahat dari Kabupaten Muaraenim. Memasuki kota Lahat, di pelataran SMPN 2 Kecamatan Merapi Barat, terdapat suatu arca peninggalan megalitik, beserta dolmen dan menhir. Arca itu dikenal sebagai Batu Putri atau Arca Manusia Tanjungtelang.

Dengan asumsi bahwa masyarakat megalitik Lahat pasti tidak sembarangan membuat arca, arah hadap wajah arca terukur melalui kompas ke arah barat daya. Arah hadap arca yang berbahan batupasir volkanik ini segaris dengan diagonal dolmen berbentuk seperti meja berukuran 1,5 x 1,5 m yang tergeletak berjarak 20 m arah barat daya arca.

Di Kabupaten Lahat, tinggalan arca megalitik ternyata tersebar sangat luas. Terdapat kecenderungan bahwa arca-arca yang umumnya menggambarkan raksasa atau hewan-hewan seperti gajah, harimau atau ular, berada di sekitar sungai utama yang menoreh Kabupaten Lahat, yaitu Aek Lematang. Posisi arca-arca ini hampir seluruhnya dihadapkan pada arah barat daya.

Ada apa pada arah barat daya? Mengapa tidak dihadapkan ke timur arah Bukit Serelo yang berbentuk jempol yang bermorfologi cukup menonjol dan menarik perhatian? Ada perkiraan bahwa semua arca megalitik tersebut dihadapkan ke barat daya karena mengarah ke Gunung Dempo (+ 3159 m), gunung api aktif di Sumatera Selatan pada Pegunungan Bukit Barisan.

Hal tersebut semakin pasti ketika kita makin mendekati lereng Gunung Dempo. Di sekitar Kota Pagaralam yang sesejuk Kota Bandung, arca-arca tersebar cukup banyak terutama di Kecamatan Pajarbulan dan Jarai. Selain arca terdapat tinggalan megalitik lain yang unik, yaitu bilik atau kubur batu, suatu ruangan di bawah tanah yang disusun dari dinding-dinding bongkah batu andesit.

Semua arca umumnya berbahan batupasir atau breksi volkanik, yaitu batu yang terbentuk secara sedimentasi dari hasil letusan gunung api. Batunya kompak dan keras, tetapi mudah dipahat. Adapun batu-batu yang lebih keras seperti andesit umumnya dimanfaatkan sebagai dinding bilik batu dengan rekayasa minimal, misalnya hanya berupa lubang kecil saja. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran batu tertentu ikut menentukan sebaran tinggalan megalitik di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam.

Menariknya, arah poros bilik batu, selain juga arah wajah arca-arca berbentuk raksasa, dengan tepat menghadap ke arah kerucut G. Dempo yang tampak megah menjulang di dataran tinggi di mana Pagaralam berada, atau yang lebih dikenal sebagai dataran tinggi Pasemah (sekarang disebut juga Besemah). Tidak itu saja, suatu kumpulan menhir (batu tegak) sebanyak enam buah yang terdapat di Kecamatan Tanjungsakti yang berada di sisi barat daya Gunung Dempo, porosnya mengarah ke timur laut yang tidak lain adalah puncak Gunung Dempo.

Tanggal 25 September 2006 Gunung Dempo meletus menghasilkan awan debu setinggi 1000 m di atas puncaknya. Di antara ketenangan yang sangat lama, sekali-kali gunung api ini mengingatkan adanya kekuatan alam yang sangat luar biasa dan bisa membinasakan. Berribu-ribu tahun lalu, kondisi itulah yang mungkin dirasakan oleh masyarakat megalitik di sekitar Besemah saat Gunung Dempo kemungkinan lebih aktif daripada kondisi tenang sekarang ini.

Pada saat itulah rasa hormat ditunjukkan dengan pembuatan arca-arca yang wajahnya dihadapkan ke Gunung Dempo. Rasa hormat yang sama ketika masyarakat megalitik Cianjur membangun punden berundak Gunung Padang dengan mengarahkannya ke Gunung Gede. ***

Penulis, staf dosen Teknik Geologi ITB, tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Kopassus.

Arca Batu Orang di Kab. Lahat

Memoar Dua Kota: Istanbul dan Bandung

Kota kelahiran akan menimbulkan kenangan bagi setiap orang. Sekalipun mungkin hanya sebagai tempat kelahiran saja, keingintahuan akan kota itu pastilah tinggi, apalagi jika di kota itu seseorang besar, menjadi dewasa, dan tetap tinggal.  Ulasan buku kali ini adalah tentang kenangan penulisnya pada kota-kota tempat mereka dilahirkan dan tumbuh besar bersama kotanya.

Buku pertama adalah “Istanbul” karya pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006, Orhan Pamuk, orang Turki asli Istanbul dan masih tinggal di kota kelahirannya. Aslinya ditulis dalam bahasa Turki lalu diterjemahkan ke Inggeris dan bahasa-bahasa lain. Terjemahan Indonesia buku ini diterbitkan oleh Serambi (2009).

Buku kedua adalah “Basa Bandung Halimunan” karya orang asli Bandung yang seorang jurnalis dan pernah menduduki jabatan Ketua PWI  Jawa Barat masa bakti 1998 – 2003 dan 2003-2007, Us Tiarsa. Bukunya diterbitkan dalam Bahasa Sunda oleh Yayasan Galura (2001). Us Tiarsa masih tinggal di Bandung sekarang ini.

Istanbul. Mengapa tertarik dengan buku tentang kota yang pernah berkunjung pun tidak? Saat itu hari terakhir Pesta Buku Bandung 15 Februari 2011 ketika di antara tumpukan buku-buku yang dijual sangat murah, mulai dari Rp. 10.000,- oleh satu stand dari Yogyakarta, tergolek buku Istanbul itu. Penulisnya, Orhan Pamuk, pemenang Nobel Sastra adalah daya tariknya. Tetapi mungkin juga karena disain sampul yang berwarna-warni dengan gambar Aya Sofya, masjid Usmani yang tadinya suatu katredal dan sekarang dijadikan museum,  yang membuat tangan saya segera meraihnya. Ingatan masa kecil ketika suka menggunting dan mengkliping ikon-ikon dunia, salah satunya Aya Sofya Istanbul itu, mungkin ikut juga mendorong tangan mengambil buku itu.

Di luar itu, gambaran Turki sebagai negara mayoritas muslim di Eropa Barat yang sekuler serta keindahan destinasi wisatanya yang eksotik ikut juga mempengaruhi mengapa akhirnya buku itu dibeli juga dengan harga murah, Rp. 30.000,- Lalu, abstrak dan beberapa testimoni  di sampul belakang dan di halaman pembukalah yang membawa pada keyakinan bahwa buku ini bagus untuk dibaca.

“Sebagai seorang novelis terkemuka, Pamuk secara cemerlang mampu membuat memoar ini jauh dari membosankan kendati dia bercerita tentang hal-hal sederhana dan kenangan masa silam kota kelahirannya. Dia menghubungkan benda-benda, lanskap, penanda kota, bangunan kuno, sungai, rumah, buku-buku, dan jalanan bisu dengan berbagai dongeng, mitos, kisah fantasi, legenda, fakta historis, tragedi kehidupan, sengketa politik, biografi orang ternama, kisah-kisah cinta – termasuk kisah cinta pertamanya – dan berbagai khazanah tersembunyi lainnya.”

Cover buku "Istanbul" dalam bahasa Turki (turkeytravelplanner.com)

Sesuai dengan promosinya di sampul belakang tersebut, memoar Pamuk tentang Istambul memang menarik karena mendasarkan pada dirinya sebagai saksi akan kotanya sendiri. Buku ini menjadi semacam oto-biografi Orhan Pamuk sendiri yang bercerita dengan jujur tentang dirinya, orang tuanya yang perkawinannya tidak bahagia, keluarga besarnya yang hidup dalam satu apartemen, fantasi-fantasi masa kecilnya, dan pandangan serta penilaiannya ketika telah dewasa terhadap berbagai hal, di antaranya tentang agama Islam, cita-citanya menjadi pelukis, serta perdebatan sengit dengan ibunya tentang masa depannya. Seluruhnya dikaitkan dengan Istambul, kota yang melahirkan dan membesarkannya.

Tidak seperti buku-buku wisata, misalnya yang diterbitkan oleh Lonely Planets atau Periplus yang mempromosikan keindahan kota dengan tempat-tempat atau adat istiadat yang menarik dan turistik, buku memoar Pamuk tentang Istambul justru memotret Istanbul secara muram. Buku ini non-fiksi walaupun Pamuk dikenal sebagai seorang novelis. Ia bercerita kesaksiannya tentang Istanbul sejak ia sudah mampu mengingat sekitar umur 5 tahun pada 1950 hingga 1990an. Tetapi ungkapan-ungkapannya jelas adalah pemikiran dewasa. Mungkin ia mengingat masa kecilnya, tetapi jelas dalam bingkai orang dewasa yang sangat kritis dan cenderung menilai kotanya dalam kondisi jiwa yang tidak bahagia. Tetapi justru di situlah keindahan buku ini. Keindahan sebuah kota yang timbul dari kejujuran pandangan salah seorang warganya.

Buku ini dihiasi banyak foto hitam-putih yang semakin menegaskan kemuramannya. Tetapi seperti diakui oleh penulisnya sendiri, justru dari perasaan muram (melankolik, atau hüzün dalam bahasa Turki yang berasal dari bahasa Arab yang bermakna kemurungan) ia semakin mencintai kotanya. Pamuk senagaja menulis bab tersendiri tentang perasaan murung ini ditambah bab mengenai para penulis Istanbul yang berjiwa melankolik yang sama. Ia pun mengutip kalimat seorang pengarang pujaannya Ahmet Rasim, “keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya.”

Orhan Pamuk (sekarang) dan cover buku versi Inggeris (balkantravellers.com)

Istanbul yang berada di tepi dua benua yang dipisahkan oleh Selat Bosphorus yang tidak dapat lepas dari pananda kota (landmark) itu sendiri, menjadi jembatan bagi Barat (Eropa) untuk mengenal Timur (Asia). Where West meets East. Dan mungkin begitu pula sebaliknya. Buku ini memotret dengan baik situasi itu, terutama setelah kejatuhan Kesultanan Usmani dan digantikan oleh pemerintahan republik melalui revolusi Kemal Ataturk yang sekuler.

Bagaimana pandangan keluarga Pamuk yang kaya, menganggap modernitas Barat sebagai martabat tertinggi. Keluarganya mengaku muslim, tetapi tidak menjalankan syariat Islam. Bagi mereka, agama (Islam) hanyalah bagi mereka yang miskin dan lemah yang memerlukan pegangan kepada Tuhan. Namun batin Orhan Pamuk mengakui kekosongan jiwanya dari nilai-nilai spiritualitas dan merasa iri (atau takut) kepada pengasuhnya yang taat menjalankan syariat Islam.

Ketika Orhan kecil 11 tahun secara diam-diam mencoba berpuasa di bulan Ramadhan, ia hanya berterus terang kepada ibunya sendiri yang terkejut dan campur aduk antara perasaan senang dan khawatir. Ibunya segera menyiapkan hidangan berbuka dengan makanan kesukaan Orhan kecil. Setelah berbuka, Orhan kecil malah langsung pergi nonton bioskop! Atau neneknya yang bermain kartu bersama teman-teman sebayanya sambil menunggu ledakan meriam tanda berbuka. Mereka menahan lapar dan menyiapkan hidangan berbuka  yang lezat, tetapi sebenarnya mereka tidak sedang menjalankan puasa Ramadhan.

Bagi para penggemar novel Orhan Pamuk, misalnya The White Castle, My Name is Red, atau Snow; latar belakang penulisan novel-novelnya mungkin dapat difahami dari suasana kejiwaan masa tumbuh berkembang Pamuk di buku ini.

Buku kedua “Basa Bandung Halimunan” oleh Us Tiarsa sama sekali jauh berbeda dengan “Istanbul” walaupun semangatnya sama: kenangan akan masa kecil terhadap kota tempat tinggal penulisnya.  Buku Us Tiarsa yang diterbitkan oleh Yayasan Galura (2001)dengan Bahasa Sunda lebih bersifat ceria, riang gembira dengan kesan Kota Bandung tahun 1950-1960an yang indah, bersih, dan teratur rapi, ketika Bandung masih berselimutkan kabut (seperti arti judul bukunya).

Buku itu betul-betul hanya menceritakan pengalaman masa kecil Us Tiara yang bahagia dari kaca mata kenangan dewasanya  dan menghindari opini-opini berlatar belakang politik, ekonomi, sosial, dan budaya pada masa itu. Us Tiarsa betul-betul hanya bercerita masa kecil yang selayaknya indah dari sudut pandang anak kecil pada umumnya, dan banyak bermain menjeljahi sudut kota.

Inilah yang juga membedakan dengan Orhan Pamuk yang akan membuat kita heran, mengapa pada masa kecilnya Orhan Pamuk sudah mempunyai pandangan yang  sangat murung. Jangan-jangan itu adalah pandangan dewasa yang kemudian dicangkokkan ke kenangan masa kecilnya, walaupun ia mengklaim bahwa kesan murungnya melanda seluruh warga Istanbul. Pada salah satu bab di halaman-halaman terakhir ia akhirnya mengakui adanya pikiran ia sendiri yang sudah berumur 50 tahunan dalam memahami pikiran masa remajanya.

Buku Us Tiara memang tidak sepopuler dua buku tentang Bandung oleh Haryoto Kunto yang legendaris, yaitu Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984, 2008) dan Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Mungkin karena buku Us Tiarsa ditulis dalam Bahasa Sunda. Mestinya buku Us lebih jujur tentang Bandung daripada kedua buku Kang Harry yang lebih banyak nostalgia kepada Bandung baheula yang indah tetapi lebih banyak melalui studi literatur.

Bagaimana pun, buku tentang sebuah kota yang ditulis penulisnya yang lahir dan besar di kotanya akan menjadi dokumentasi sejarah yang sangat bagus. Buku-buku itu akan menjadi pengingat akan masa-masa penceritaan si penulis. Tentu dalam masa yang sama dari penulis berbeda dapat lahir memoar  yang jauh berbeda. Bisa saja ada penulis lain seusia Orhan Pamuk yang justru menulis dalam suasana riang tentang Istambul. Atau bisa ada juga penulis seumur Us Tiarsa yang justru menuliskan masa kecilnya yang suram di Bandung.

Buku Istanbul dan Basa Bandung Halimunan membuat kita merenung, “seharusnya setiap warga kota yang pandai menulis, membuat buku memoar akan kotanya sendiri;  dari generasi ke generasi  dengan pandangan-pandangan yang pasti berbeda pula. Memoar itu akan menjadi pengingat dan pengikat akan sejarah sebuah kota.”

Memoar sebuah kota sebenarnya adalah kenangan dari latar belakang dan sudut pandang para warganya yang mencintai kotanya apa adanya .  Namun seperti dikutip oleh Pamuk dari karya Walter Benjamin “The Return of the Flaneur,”  … karangan yang ditulis oleh penduduk asli yang mengamati kotanya sendiri sangatlah sedikit.

Mudah-mudahan tulisan ini menggugah kita, siapa pun yang pandai menulis, untuk membuat memoar terhadap kota kelahirannya. ***

Take the A Train: Catatan dari Jajal Geotrek VII

Take the A Train. Ketika Duke Ellington memainkan komposisi karya Billy Strayhorn (1939) ini, denting pianonya membawa kepada suasana para commuters di New York menggunakan kereta api tercepat yang akan membawa mereka ke Sugar Hill di Harlem.

Sabtu 19 Februari 2011, kereta api tercepat yang akan mengantar peserta Jajal Geotrek VII ke Lampegan semestinya adalah kereta api yang dibercandakan sebagai Argo Peuyeum. Sayang dengan kondisi rel peninggalan 1884, jalur ini sangat terbatas dikembangkan, apalagi dengan satu segmen yang cukup menanjak dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Tagogapu dengan kemiringan 36 permil, atau dengan kelerengan lebih dari 3%, batas maksimum kemiringan rel keretaapi.

KA Argo Peuyeum yang menurut Agha si junior Komunitas Edan Sepur, istilahnya menerap karena kereta api ini digunakan untuk menjual peuyeum (tape singkong) ke Bandung (atau mungkin karena melewati Stasiun Cipeuyeum), hanya berhenti sampai Stasiun Cianjur saja. Take the Argo-peuyeum Train; take the A Train.

Jalur Sukabumi – Lampegan – Cianjur sebenarnya telah diperbaiki. Stasiun Lampegan telah berbenah, tetapi sinyal-sinyal belum lengkap, sehingga PT KAI belum mendapatkan ijin untuk mengoperasikan jalur ini dari Dirjen Perhubungan Darat. Dengan lokomotof jenis BB yang lebih ringan, dengan dua gerbong, the A Train akhirnya hanya sampai Cianjur. Jalur rel ini sebenarnya kemudian bisa menerus sampai Sukabumi, Bogor, dan Jakarta. Jalur ini sejatinya jalur pertama dari Jakarta yang mencapai Bandung pada 1884, jauh sebelum jalur sekarang via Purwakarta yang baru selesai terhubung di awal 1900-an.

Selajambe-Maleber-Cianjur-Lampegan

Di Stasiun Langen, dekat Banjar 28 Januari 2011 pagi buta: dhuaaaar!! Kereta api Mutiara Selatan dari Surabaya menabrak buntut kereta api Kutojaya Selatan yang sedang berhenti di jalur 3. Tidak ayal, masyarakat mencap perjalanan kereta api sekarang sudah tidak aman lagi. Masinis atau kepala stasiun kecil, dengan gaji kecil tetapi tanggung jawab besar, akhirnya menjadi terpidana. Manajemen PT KAI pun disorot masyarakat karena tidak henti-hentinya peristiwa tabrakan antar kereta api selalu terjadi.

Fakta menunjukkan bahwa korban tewas pada setiap tabrakan kereta api adalah mereka yang tergencet di ruang bordes. Bordes adalah ruang yang terletak antara sambungan gerbong dan kabin penumpang. Bordes seharusnya kosong. Penumpang dilarang berada di bordes, karena memang bordes diperuntukan sebagai peredam ketika benturan gerbong terjadi.

Namun apa mau di kata, jangankan di bordes, di atap gerbong pun yang sangat berbahaya, para penumpang kereta api kita berani melakukannya. Akhirnya PT KAI mengambil keputusan yang agak “aneh,” setiap rangkaian kereta api harus dilengkapi gerbong kosong terkunci di depan dan belakang. Itulah dua gerbong yang akan menjadi peredam jika terjadi tabrakan kembali.

Argo Peuyeum menjadi korban pertama dengan keputusan tersebut. Bagaimana menambah dua gerbong lagi sehingga menjadi empat, sementara loko BB memang hanya sanggup menarik dua gerbong saja. Direksi PT KAI cenderung menutup saja jalur itu. Toh memang merugikan. Dengan harga karcis jauh-dekat hanya Rp. 1500,- Argo Peuyeum betul-betul adalah layanan sosial, tidak mendapatkan untung.

Namun Kepala DaOp II Bandung Ir. Hendy Hendratno Adji rupanya masih berpihak kepada masyarakat. Ia meminta dispensasi karena jalur Bandung Cianjur hanya dilayani Argo Peuyuem saja yang bolak-balik sehingga tidak mungkin ada tabrakan kereta api. Jadi the A Train tetap berjalan tanpa dua gerbong kosong tambahan. Dengan syarat, stasiun pemberangkatan digeser ke Padalarang dari tadinya Ciroyom. Hal itu karena Padalarang – Ciroyom adalah jalur padat yang dilalui banyak kereta api.

Jadilah peserta JG VII dari tempat kumpul di Taman Ganesha, naik bus yang ternyata padat karena ada yang bayar di tempat, menuju Padalarang. KA Argo Peuyeum rupanya tepat waktu. Teng pukul 8.40 berangkat.

Di jalur Padalarang – Tagogapu –Cipatat – Rajamandala – Jembatan Ci Tarum – Cipeuyeum, saya masih bisa banyak cerita interpretasi geologis karena jalur itu sejajar dengan aliran Ci Meta sebagai lembah underfit Ci Tarum purba, dan perbukitan karst Citatah. Tetapi ketika memasuki dataran pesawahan antara Cipeuyeum – Ciranjang – Selajambe – Maleber – Cianjur, tidak ada yang bisa diceritakan. Untunglah Agha, si junior Edan Sepur dapat mengambil alih interpretasi dengan pengetahuannya yang baik tentang perkerataapian. Bravo Agha!

Agha in action (Foto: Ummy Latifah)

Tahun 1944, komposisi Take the A Train mendapatkan lirik yang diciptakan oleh Joya Sherill. Untuk catatan ini, gantilah Sugar Hill dengan Gunung Padang, dan Harlem dengan Lampegan:

You must take the A Train

To go to Sugar Hill up in Harlem

If you miss the A Train

You’ll find you’ve missed the quickest way to Harlem

Hurry, get on, now, it’s coming

Listen to those rails a-thrumming (All Aboard!)

Get on the A Train

Soon you will be on Sugar Hill in Harlem

G. Padang (foto: Razid Arief Faizal)

Keterangan: semua informasi “Take the A Train” bersumber dari wikipedia.

Lusi di Langit dengan Intan-intan

Artikel di buku “EKSPEDISI GEOGRAFI INDONESIA 2010 JAWA TIMUR” BAKOSURTANAL, 2011.

Hari sudah larut malam ketika kami melewati Porong. Namun tidak ada keinginan untuk berhenti dan mengamati tanggul lumpur. Selain pandangan terbatas di malam hari, tim sudah sangat kelelahan setelah siangnya menjelajah Kawah Ijen dan kemudian kembali ke Surabaya melalui perjalanan yang panjang. Masih ada hari esok untuk pengamatan fenomena semburan lumpur panas di Porong, hari terakhir EGI VII Jawa Timur, begitu rencana tim.

Tetapi apa yang kami dapat keesokan harinya adalah berita buruk. Jalan ke arah Porong macet total karena banjir dan munculnya gelembung-gelembung gas yang semakin banyak. Artinya sulit untuk berkesempatan mengeksplor semburan lumpur di Porong dalam keterbatasan waktu kembali ke Jakarta siang harinya. Akhirnya diputuskan tidak ada kunjungan ke Porong.

Sambil membaca koran pagi Radar Surabaya dan Media Indonesia yang memberitakan tentang Jalan Raya Porong yang tenggelam, saya teringat bahwa pada hari pertama EGI VII Jawa Timur pun terpaksa melewatkan kunjungan ke Porong dengan masalah yang sama, banjir dan gelembung gas, seperti diberitakan di Kompas keesokan harinya.

Mungkin tim EGI VII memang bukan jodohnya dengan semburan lumpur di Porong, Sidoarjo. Akhirnya informasi tentang semburan lumpur hanya didapat dari literatur dan sebuah kesempatan melalui penjelasan dari Bapak Ir. Mochammad Soffian Hadi Djojopranoto, Deputi Bidang Operasional BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo).

Gambar 1. Beberapa surat kabar yang memberitakan banjir di jalan raya Porong akibat lusi, serta pertemuan di BPLS Surabaya bersama pak Soffian Hadi.

Ya, Lumpur Sidoarjo alias lusi! Itulah istilah yang digunakan secara informal untuk fenomena gunung api lumpur (mud volcano) yang terjadi di Porong, Sidoarjo ini. Tetapi kalangan media massa dan yang kontra lebih suka menyebutnya sebagai “lumpur Lapindo,” merujuk kepada nama perusahaan pengeboran migas yang dituduh bertanggung jawab atas meletusnya fenomena gunung api lumpur itu.

Empat tahun berlalu sudah sejak fenomena lusi itu menyembur pertama kalinya pada 29 Mei 2006 sekitar pukul 05.00 pagi di persawahan di Desa Siring, Kecamatan Porong. Pusat semburan lusi hanya berjarak sekitar 150 m barat daya dari sumur pengeboran migas Banjarpanji-1 (BJP-1) milik Lapindo Brantas Inc. Kecurigaan penyebab menyemburnya lumpur panas itu langsung tertuding ke sumur itu. Tetapi ada fakta lain yang menarik. Dua hari sebelumnya, 27 Mei 2006, gempa bumi 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Apakah semburan lusi terkait dan terpicu juga oleh guncangan gempa bumi Yogyakarta?

Perdebatan Tiada Akhir

Bapak Soffian Hadi ketika menerima kunjungan tim EGI VII di kantor BPLS Jl. Gayung Kebonsari 48 Surabaya dengan santai menjelaskan tentang mekanisme terjadinya lusi atau mud volcano itu. Tersembur pulalah istilah-istilah teknis geologis secara tak terhindarkan yang membuat sebagain besar peserta EGI VII yang tidak berlatar belakang geologi, sedikit mengerenyitkan dahi. Beberapa temuan baru yang belum boleh dipublikasikan disampaikannya pula.

Dari beberapa sumber dapatlah disimpulkan bahwa kejadian semburan lusi secara sederhana merupakan eksplosi suatu massa batuan terdiri dari lumpur di bawah permukaan tanah yang didorong oleh kondisi hidrologis bertekanan abnormal tinggi. Pada kondisi normal, kondisi itu aman karena tertutupi di atasnya oleh lapisan-lapisan batuan.

Tetapi ketika lapisan pelindung di atasnya retak, maka lapisan bertekanan tinggi itu segera menekan ke atas lalu menarik lapisan batulempung dan kemudian terletuskan ke permukaan. Proses seperti inilah yang dikenal sebagai gunung api lumpur. Beberapa ahli geologi menyebutkan pula asal muasal gunung api lumpur ini didahului terbentuknya shale diapir, yaitu bentukan seperti intrusi (terobosan) di bawah permukaan tetapi yang menerobos adalah endapan serpih (lumpur) dengan tekanan tinggi (Asikin, 2006).

Di bawah Sidoarjo, secara geologis lapisan lumpur itu berasal dari Formasi Kalibeng, sebuah formasi batulempung dengan sebaran sangat luas. Formasi ini berada pada kedalaman 510 m sampai 1.830 m (1.700 – 6.100 ft). Ke arah barat, formasi ini tersingkap di Daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Dapat dikatakan bahwa selama Kala Pliosen (5 hingga 2 juta tahun yang lalu), sebuah teluk terusan dari Selat Madura pada kala itu menjorok ke arah barat hingga ke selatan Semarang, Jawa Tengah. Pada zaman Kuarter, endapan lumpur lautan itu segera ditutupi oleh lapisan-lapisan yang lebih muda di atasnya, kemudian bersama-sama terangkat menjadi daratan.

Kondisi stratigrafis tersebut ditambah dengan proses-proses tektonik aktif telah membentuk geologi di sekitar Sidoarjo menjadi rumit. Proses peretakan batuan dan penyesaran memunculkan patahan-patahan yang intensif. Banyak para kontraktor pengeboran migas yang telah mengenal rumitnya geologi di sini, biasanya sangat berhati-hati dalam melakukan pengeborannya. Namun dengan kondisi geologi rumit ini pula, kemungkinan terjadinya gunung api lumpur seperti lusi, merupakan keniscayaan alamiah.

Perdebatan yang sepertinya tiada akhir itu bagaimana pun akan berdampak pada Lapindo Brantas Inc. Jika pihak yang menyatakan semburan lusi itu dipicu oleh pengeboran, maka Lapindo dipersalahkan. Tetapi jika pemicunya adalah gempa bumi Yogyakarta yang mengaktivasi sesar-sesar lokal di sekitar Sidoarjo, maka Lapindo bebas dari tuduhan, dan kejadiannya akan dinilai sebagai force majeur.

Dari perdebatan sengit itu dapatlah diambil dua kubu yang saling bertentangan dan dipublikasikan secara internasional. Kubu pertama digawangi oleh Davies dkk. (2007, 2008) yang menyatakan beberapa alasan bahwa lusi tidak mungkin dipicu oleh gempa bumi Yogyakarta dua hari sebelumnya. Mereka menyatakan di antaranya bahwa pada saat yang bersamaan dengan gempa bumi Yogyakarta, tidak tercatat adanya erupsi gunung api lumpur lainnya di Pulau Jawa. Selain itu jaraknya terlalu jauh dan intensitasnya tidak besar. Apalagi banyak gempa bumi yang tercatat lebih dekat ke Sidoarjo sebelumnya, tidak memunculkan fenomena gunung api lumpur.

Lebih jauh Davis dkk (2007) menjadi pengusung berat teori terjadinya lusi sebagai dipicu oleh aktivitas pengeboran sumur eksplorasi BJP-1. Mereka mensinyalir adanya kondisi lubang bor tanpa casing sedalam 1,7 km yang telah menjadi penghubung tekanan antara formasi sumber tekanan air tinggi dengan formasi lumpur di atasnya yang kemudian tergerus naik dan meletus sebagai lusi. Kartun proses itu bisa diamati pada Gambar 2 kiri.

Kubu kedua yang bertolak belakang dengan opini kubu pertama didukung oleh Mazzani dkk. (2007). Dengan data pengeboran yang berbeda, mereka membantah pendapat Davies dkk (2007) dan di antaranya mencatat adanya subsidence memanjang yang searah dengan orientasi patahan regional Watukosek sebagai penyebab lusi. Fakta lain yang menunjang opini mereka adalah adanya singkapan di Watukosek, pembelokan arah Sungai Porong yang diduga akibat terpengaruh patahan, serta kemunculan gunung api lumpur yang segaris seperti Gunung Anyar, Pulungan, Kalang Anyar dan Bangkalan (Gambar 2 kanan).

Gambar 2. perdebatan tiada akhir penyebab lusi: akibat sumur bor BJP-1 (kiri; Davies dkk 2007), dan akibat gempa bumi Yogyakarta (Mazzani dkk 2007)

Perdebatan ini bahkan terbawa ke forum internasional pada konferensi American Association of Petroleum Geologists (AAPG) di Cape Town, Afrika Selatan, 26-29 Oktober 2008. Tetapi ada hal yang tidak lazim pada konferensi ini ketika moderator mengambil cara voting untuk mengetahui pendapat para pakar tentang penyebab lusi. Lalu inilah hasilnya: 42 orang peserta setuju bahwa lusi dipicu oleh aktivitas pengeboran BJP-1, tiga orang setuju lusi dipicu gempa bumi, dan 16 orang menyatakan bahwa diskusi belum tuntas.

Moderator berkilah bahwa pemungutan suara yang diambil bukan untuk menguji benar tidaknya argumen ilmiah dari masing-masing kubu melalui suara terbanyak, tetapi hanyalah untuk mengetahui berapa jumlah peserta yang setuju kepada masing-masing argumen yang berbeda tersebut. Dan… perdebatan itu akan tiada akhir dan masih terbuka hingga kini.

Penanggulangan Tiada Henti

Di atas perdebatan ilmiah yang sepanas lusi, usaha-usaha penanggulangan akibat lusi dilakukan tiada henti. Sejak lusi tersembur keluar rata-rata 50.000 m3/hari, berbagai cara dilakukan untuk menghentikan semburan. Usaha pertama adalah dengan melakukan pengeboran dari samping dengan relief well untuk menghentikan blow-out (semburan gas liar pada lubang bor) jika ini yang terjadi. Ketika kemudian usaha ini tidak diteruskan karena berbagai alasan, pernah pula dicoba dengan memasukkan bola-bola beton ke dalam sumber semburan, yang akhirnya juga tidak diteruskan.

Volume lusi malah semakin membesar. Hingga tim EGI VII bertandang ke BPLS, Ir. Soffian Hadi menjelaskan bahwa semburan lusi sekarang mencapai rata-rata 150.000 m3/hari. Tidak ada jalan lain selain terus membuat dan memperkuat tanggul. Apalagi ketika usaha menggelontorkan lumpur melalui Kali Porong juga tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kini tinggallah kawah lumpur yang telah menenggelamkan delapan desa dan terpaksa mengungsikan banyak penduduk dari tempat tinggalnya. Gelembung-gelembung gas baru muncul dan menghilang beberapa kali. Wacana Porong akan ambles menjadi ancaman yang mengkhawatirkan. Tentu saja, persoalan kemanusiaan dan sosial yang muncul kemudian harus menjadi prioritas penanganan yang utama selain usaha-usaha penanggulangan yang terus-menerus tiada henti. Baru-baru ini telah terbit sebuah buku tentang kesaksian seorang korban lusi yang menyamakannya sebagai tragedi tenggelamnya kapal Titanic. Empati sangat dalam bagi para korban, semoga musibah ini cepat selesai, sedikitnya menghilangkan perasaan traumatis para korbannya.

Terakhir, ketika ingat lusi jadi teringat pula lagu the Beatles “Lucy in the Sky with Diamonds.” Lagu ini telah menginspirasi tim ekskavasi Johanson dan Gray ketika malam hari di tenda mereka di Etiopia pada tahun 1974 menyadari bahwa tengkorak Australopithecus afarensis yang baru ditemukan ternyata berjenis perempuan, tepat saat lagu itu berkumandang. Akhirnya fosil tengkorak itu sampai sekarang terkenal sebagai Lucy.

Tapi Lucy di Sidorajo bukanlah anak perempuan cantik Australopithecus afarensis, atau seperti si Timun Mas, legenda yang mungkin terkait dengan fenomena gunung api lumpur. Lucy, eh lusi muncul dengan nyata dari Bumi sebagai lumpur abu-abu pembawa musibah yang terus menjadi masalah yang perlu ditangani dari berbagai aspek.

Namun mudah-mudahan suatu saat lusi akan berada di langit pengetahuan dengan intan-intannya yang berkilauan yang memperkaya khazanah kebumian Indonesia, tidak berhenti hanya sebatas khayalan seorang John Lennon saja:

Picture yourself in a boat on a river,
With tangerine trees and marmalade skies
Somebody calls you, you answer quite slowly,
A girl with kaleidoscope eyes.
….
Lucy in the sky with diamonds.

Daftar Pustaka

  • Asikin, S. (2006), Lumpur Sidoarjo Produk Erupsi Mud Volcano, wawancara dengan Media Center Lusi, Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, Edisi II Oktober 2006.
  • Davies, R.J., R.E. Swarbrick, R.J. Evans, and M. Huuse (2007), Birth of a mud volcano: East Java, 29 May 2006, in Geological Society of America TODAY Vol. 17, No.2.
  • Davies, R.J., M. Brumm, M. Manga, R. Rubiandini, R. Swabrick, and M. Tingay (2008), The East Java mud volcano (2006 to present): An earthquake or drilling trigger?” in Earth and Planetary Science Letters 272 (3-4) , ELSEVIER, p. 627-638.
  • Mazzani, A., H. Svensen, S. Planke, A. Malthe-Sǿrenssen, G. Aloisi, and B. Istadi (2007), Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano, Indonesia, in Earth and Planetary Science Letters 261, ELSEVIER p. 375-388.