Plato and a Platypus, Walk into a Bar (By Thomas Catchcart & Daniel Klein)

Please find below some jokes quoted from a book full-titled “Plato and a Platypus, walk into a bar: understanding philosophy through jokes ” by Thomas Catchcart & Daniel Klein

The comments in the message are made especially for consultants in any field and in any place. Clients can enjoy the jokes also.

Joke #1.
Ted meets his friend Al and exclaims, “Al! I heard you died!”
“Hardly” says Al, laughing, “As you can see I’m very much alive.”
“Impossible,” says Ted. “The man who told me is much more reliable than you.”
(page 44)

Message:
It does not matter what the fact is. Credibility is number one. Therefore,
it is very important you gain credibility in whatever field you are consulting. Once you get it you can even insult the hard real data.

Joke #2.
A man walks into a pet store and asks to see the parrots.
The store owner shows him two beautiful ones out on the floor.
“This one is $5,000 and the other is $10,000,” he says.
“Wow!” says the man. “What does the $5,000 one do?”
“This parrot can sing every aria Mozart wrote,” says the store owner.
“And the other?”
“He sings Wagner’s entire Ring cycle. There’s another parrot out back for $30,000.”
“Holey moley! What does he do?”
“Nothing that I’ve heard, but the other two call him “Maestro”.
(page 44)

Message:
Network is important. Especially if you can have references from the “known”
or / proven” experts.
Rumour tends to work the other way around though.

Joke #3.
Salesman: “Ma’am this vacuum cleaner will cut your work in half.”
Customer: “Terrific! Give me two of them.”
(page 47)

Message:
Be careful with client who thinks that the more consultants in a project the
faster it will be finished,because the other way around is the truth.

Joke #4.
A man is worried that his wife is losing her hearing, so he consults a doctor. The doctor suggests that he tried a simple at-home test on her:
Stand behind her and ask her a question, first from twenty feet away, next
from ten feet, and finally right behind her.

So the man goes home and sees his wife in the kitchen facing the stove.
He says from the door, “What’s for dinner tonight”
No answer.
Ten feet behind her he repeats, “What’s for dinner tonight?”
Still no answer.
Finally, right behind her he says, “What’s for dinner tonight?”
And his wife turn around and says:
“For the third time –Chicken”
(page 55)

Message:
If your client is completely lost with your explanation or your work; sit
back and check your work again. It might be you who are completely screw up.

Joke #5.
Joe: What a fabulous singer, huh?
Blow: Ha, if I had his voice, I’d be just as good.
(page 69)

Message:
Admit it! Some consultants is better than other in one type of work/specialties.

Joke #6.
There’s a surefire way to live to a ripe old age – eat a meatball a day for a hundred years
(page 68).

Message:
This one is for clients. Make sure you understand the conclusions / recommendations of your consultant.He might not have done anything and just
Play with words to convince you.

Joke #7.
A young married couple moves into a new apartment and decides to repaper the
dining room. They call on a neighbor who has a dining room the same size and
ask, “How many rolls of wallpaper did you buy when you papered your dining room?”
“Seven”, he says.

So the couple buys seven rolls of expensive paper, and they start papering.
When they get to the end of the fourth rol, the dining room is finished.

Annoyed, he go back to the neighbor, and say, “ We followed your advice,
but we ended up with three extra rolls.”

“So”, he says, “that happened to you too”
(page 128 -129)

Message:
make sure you ask the right question

Joke #8.
A 911 dispatcher receives a panicky call from hunter.
“I’ve just come across a bloodstained body in the woods! It’s a man, and I
think he’s dead! What should I do?”

The dispatcher calmly replies, “It’s going to be alright sir. Just follow my
instructions. The first thing is to put the phone down and make sure he’s dead.”

There is a silence on the phone, followed by the sound of a shot.

The man’s voice returns, “Okay. Now what do I do?”

Message:
be careful with your instructions. This is true for both the clients and consultants

(By Thomas Catchcart & Daniel Klein; Plato and a Platypus, walk into a bar)

This is a review of the book  in wikipedia (downloaded Dec 6th 2011, 11 AM West Indonesia Time):

Plato and a Platypus Walk Into a Bar – Understanding Philosophy Through Jokes is a book that explains basic philosophical concepts through classic jokes. Thomas Cathcart and Daniel Klein, graduates of Harvard in philosophy, collaborated on the book. After being rejected by 40 publishers, the book was accepted by Abrams Image, an imprint of Abrams Books, and immediately became a bestseller. It has been translated into 20 languages and appeared on bestseller lists in the U.S., France, and Israel.

Plato and a Platypus examines the classic categories of philosophy, with concepts explained or illustrated by jokes. The chapter titles — “Metaphysics,” “Logic,” “Epistemology,” “Ethics,” “Existentialism,” and “Philosophy of Language” — are serious, but the approach is a mix of serious and comic.

The authors explain the philosophy behind their book this way: “The construction and payoff of jokes and the construction and payoff of philosophical concepts are made out of the same stuff. They tease the mind in the same ways…philosophy and jokes proceed from the same impulse: to confound our sense of the way things are, to flip our worlds upside down, and to ferret out hidden, often uncomfortable, truths about life. What the philosopher calls an insight, the gagster calls a zinger.[1]

The book also features a conversation between two fictional ancient Greek philosophers named Dimitri and Tasso

Di Puncak-puncak Himalaya, Apa yang Engkau Cari, Sieling?

Entah kekuatan apa yang menggerakkan seorang ibu rumah tangga meninggalkan suami dan tiga anak-anaknya untuk pergi ke Nepal dan menjelajahi puncak-puncak tinggi, terjal, dingin, dan berbahaya di Pegunungan Himalaya. Namun itulah Sieling Go, seorang perempuan pendaki yang anggota pecinta alam Mahitala UNPAR Bandung, mempunyai tekad yang kuat, semangat baja, dan kecintaan kepada gunung, jiwa nasionalisme dan kebanggaan akan Sang Saka Merah Putih, plus sedikit keras kepala, yang membawanya beberapa kali menjelajahi lereng-lereng dan puncak-puncak Pegunungan Himalaya yang umumnya berada di atas elevasi 4000 m di atas permukaan laut. Lalu hebatnya, pengalamannya mendaki solo pada musim semi 2007, menjelma menjadi buku bagus berjudul “Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya” (Grasindo, 2011).

"Nyanyian Angin Himalaya" (Foto: Sieling)

Membaca buku itu seolah-oleh kita mendengarkan langsung Sieling menceritakan pengalamannya menggapai beberapa puncak di Pegunungan Khumbu Himal, lereng-lereng selatan puncak tertinggi di Bumi ini, Gunung Everest 8848 m. Bayangkan Sieling duduk di depan forum, bercerita, sambil memperlihatkan foto-foto hasil jepretannya, ditambah sketsa-sketsa kartunnya, selama petualangannya di Nepal. Membaca bukunya juga seolah-olah kita membaca diary buku harian perjalanannya yang penuh dengan foto. Buku ini jadinya seperti buku cerita bergambar dan kadang-kadang menjadi begitu komikal melalui kartun-kartun yang melengkapi buku ini.

Gaya bahasanya lugas, seperti bertutur, mengalir begitu saja seolah-olah bercerita di depan teman-temannya. Para pembaca serius dan pengikut berbahasa Indonesia yang baik dan benar mungkin jengkel dengan pilihan kata-kata dan kalimat-kalimatnya yang tidak mengikuti kaidah-kaidah EYD. Namun justru di situlah menariknya buku ini. Ia bertutur tentang pendakiannya yang kadang-kadang sulit, berbahaya, tetapi terselip humor-humor yang menyentil. Struktur bukunya disusun secara kronologis dan kaleidoskopis dari hari ke-hari, karena Sieling rupanya memang  ingin berbagi pengalaman tentang petualangannya dari awal sampai akhir. Rasa berbaginya juga ia sampaikan tentang berbagai tips jika ingin mendaki Himalaya, termasuk berapa ongkos yang harus dikeluarkan, serta peralatan dan bekal apa saja yang harus dipersiapkan.

Mungkin karena gaya bertutur ini pula, terdapat beberapa pertanyaan menarik yang dikutip sebagai awal bab, tidak diberikan jawabannya. Apakah lupa, atau disengaja, entahlah. Misalnya Sieling mempertanyakan sendiri mengapa penduduk Thame yang indah tidak begitu ramah, dingin, tidak tersenyum, dan tidak menyapa balik salam bahasa Nepali namaste (Hari  ke-4, halaman 75). Sampai habis bab ini, pembaca tidak diberi jawabannya. Contoh lain misalnya insiden yang hampir merenggut nyawanya pada ekspedisi sebelumnya bersama Mahitala, yang diceritakan pada Hari ke-11 (halaman 219) juga tidak jelas insiden seperti apa. Kemudian bagaimana ia selamat. Pembaca sebenarnya sangat penasaran untuk mengetahui insiden itu. Begitu pula pada Hari ke-12 (halaman 233). Bab ini dimulai dengan lead “Riwayat seorang Nepali, perjuangannya meningkatkan taraf hidup dan cita-citanya yang tinggi” baru kira-kira terjawab di akhir buku, yang mungkin merujuk kepada Sujan sang pemandu atau kepada Bhimsen, Big Pasang, atau Small Pasang, para porter sherpa-nya.

Di akhir buku, pendapatnya terhadap makhluk misterius Pegunungan Himalaya Yeti, menarik untuk disimak. Bagi Sieling yang terkejut karena tumbuhnya kumis selama petualangannya, memberi ide kalau makhluk Yeti bisa saja seorang pendaki yang tersesat yang kemudian mampu beradaptasi dengan lingkungan yang dingin ekstrim dengan cara menumbuhkan bulu dan rambut yang lebat, seperti kerbau khas Himalaya yak atau dzopkyo. Bagi Sieling bisa saja makhluk Yeti itu tadinya bernama Budi. Nah, terima kasih Sieling telah mengapresiasi nama saya di buku yang menarik ini :)

Seperti halnya pengantar buku yang ditulis oleh Prof. MT Zen, bagi saya yang seorang ahli geologi, terdapat rasa kepenasaranan tentang jenis batuan apa yang dipegang Sieling untuk ditumpuk menjadi signstone atau tombstone. Ketika mendaki Kongma La Pass dengan batuannya yang berwarna hitam, Sieling tidak menjelaskan nama batuannya. Dari foto mungkin dapat diduga semacam batulempung abu-abu. Beberapa bagian di puncak-puncak runcingnya diperkirakan batugamping atau dolomit yang berlapis-lapis seperti terlihat pada beberapa foto Gunung Ama Dablam. Ada rasa iri ketika Sieling dengan baik dapat mengidentifikasi flora dan fauna, bahkan lengkap dengan nama Latinnya, tetapi sama sekali tidak menyebutkan secara spesifik nama batu. Lain kali Sieling harus belajar Geologi!

Begitu pula bentuk-bentuk geomorfologi khas pegunungan glasiasi akan lebih bermakna jika disebut secara spesifik. Adanya lembah U besar yang merupakan bekas aliran gletser, endapan-endapan kerakal dan bongkah-bongkah lepas yang sempat membuat Sieling terpeleset, mungkin adalah endapan-endapan batuan yang tergerus di bagian bawah aliran gletser yang kini telah hilang mencair. Lembah-lembah membundar yang digenangi air membentuk danau bisa jadi suatu cekungan cirque; atau gundukan-gundukan berbatu lepas memanjang, atau bongkah batu  besar (erratic blocks) yang diduga merupakan endapan till atau moraine hasil proses aliran gletser yang telah menghilang.

Sumber: Lobeck, 1939 (Geomorphology, Introduction to the Study of Landscape)

Pengetahuan geologi dan geomorfologi umum seperti itu niscaya akan membuat buku Sieling menjadi lebih bermakna. Pertanyaan Sieling yang tak terjawab tentang dinding gletser yang membentuk danau juga mungkin akan mendapatkan jawabannya. Mudah-mudahan pada buku-buku berikutnya, Sieling akan memasukkan informasi geologi dan geomorfologi ini.

Dalam perjalanan terakhirnya kembali di Namche Bazzar, Sieling bertemu dengan seorang trekker yang telah satu bulan tinggal di kota di kaki Himalaya itu untuk menulis buku. Namun bagi Sieling bagaimana bisa menulis buku di antara puncak-puncak menantang yang selalu memanggilnya untuk mendaki. Mengutip pengantar MT Zen yang bertanya kepada para pendaki untuk apa mendaki puncak-puncak yang tinggi dan berbahaya itu, jawabannya “karena puncak itu berada di sana.” Mungkin itulah jawaban Sieling juga. Mudah-mudah apa yang dicari Sieling di lereng-lereng terjal, tinggi, dingin, dan berbahaya di Himalaya, sudah ditemukan***

Geotrek Timah Bangka, Melabrak Mitos Waktu Rawan

Hotel Aston, awal Geotrek Timah

Waktu rawan. Itulah yang saya dengar dari Ita seorang operator wisata asli Bangka sambil menerangkan mengenai Pulau Bangka di atas bus pariwisata yang membawa kami dari Pangkalpinang menuju titik perhentian berikutnya di Tirta Tapta, Pemali, Sungailiat. Wisata itu adalah satu rangkaian dari acara besar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Provinsi Bangka Belituing (Babel) yang menyelenggarakan Seminar Internasional Wisata Bahari (International Seminar on Marine Toursim) 21 – 22 September 2011.

Saya sebagai Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB diminta untuk menjadi moderator salah satu sesi seminar bersubtema “eco(marine)tourism.” Tentu cukup moderator. Tidak menjadi pembicara. Sebagai seorang ahli Geologi, saya tidak mau “sok tahu” tentang wisata bahari. Tetapi tugas berikutnya benar-benar sesuai kompetensi: menjadi interpreter  salah satu wisata yang diberi judul “Tin Geo Track.”

“Tin Geo Track” alias Geotrek Timah tadinya dirancang oleh panitia hanya sebagai sebuah ‘test case” apa yang pernah diusulkan oleh P-P2Par 2009 lalu. Untuk itulah, pesertanya dibatasi hanya bagi para operator wisata di Babel. Namun rupanya para peserta seminar tidak mau tahu. Mereka mendaftar juga pada pilihan Geotrek Timah, sehingga panitia tidak dapat menolak. Jadilah wisata yang tadinya hanya untuk 20 peserta, membengkak menjadi 36 peserta.

Penjelasan singkat di halaman teduh Hotel Aston yang baru berdiri 2010 lalu bersama-sama dengan Hotel Novotel dan Santika di Pangkalpinang, memberi gambaran terlebih dahulu kondisi geologi Pulau Bangka yang merupakan bagian dari batuan dasar granit. Granit yang membawa mineral kasiterit SnO2 sebagai mineral bijih timah semakin diperkaya ketika granit melapuk, tererosi dan endapan pasir kasiteritnya terakumulasi di endapan sungai, pantai, atau lepas pantai.

Begitulah, dengan kandungan timahnya ini, bagaimana sejak abad-abad ke 4 hingga 5, Bangka telah dieksploitasi oleh para pendatang dari Cina yang jago di dalam eksplorasi, menambang, dan mengolah timah. Nama Bangka pun konon berasal dari bahasa Cina ‘wangka’ yang berarti timah. Bahasa Sansakerta pun menyebut timah dengan ‘vanka,’ yang  mungkin mengadopsi dari bahasa Cina.

Museum Timah Indonesia di Pangkalpinang

Lokasi kedua bergeser ke Museum Timah Indonesia di tengah Kota Pangkalpinang. Museum yang didirikan oleh PT Timah menyajikan secara lengkap sejarah eksplorasi dan eksploitasi timah di Bangka dan Belitung. Bangka yang maju sekarang ini bagaimana pun tidak lepas dari peran para penambang timah, walaupun  menghasilkan permukaan pulau yang bopeng penuh lubang galian timah (dikenal sebagai ‘kolong’)yang cenderung liar, dimana-mana, dan tidak terkendali.

Ketika melihat wajah Bangka seperti itu, mungkin sangat cocok mengambil peribahasa “nasi telah menjadi bubur” dengan konotasi positif. Apa salahnya jika kemudian buburnya diberi bumbu dan ditambah lauk-pauk yang tepat, malah mungkin akan menjadi hidangan yang lebih nikmat daripada nasi. Begitulah geotrek timah Bangka menganalogikan kondisi yang dianggap rusak karena keberadaan kolong dan aktivitas tambang timah untuk dimanfaatkan sebagai objek geowisata (yang mudah-mudah jika dikelola dengan baik dapat menguntungkan secara ekonomi).

diorama penambangan timah tradisionil di Museum Timah

Selesai dari Museum Timah, bus beranjak ke arah Sungailiat. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 10.20. Di atas bus dalam perjalanan sekitar satu jam lebih ke stop berikutnya, matahari yang panas di pagi hari semakin terasa menyengat di luar bus wisata yang ber-AC ini. Saat itulah, pegiat wisata Ita mengemukan bahwa jam-jam 11 hingga 13 akan menjadi waktu rawan untuk kegiatan wisata. Wisatawan biasanya sudah merasa capek, mengantuk, apalagi hawa di luar bus di Bangka begitu terik menyengat.

Setelah berhenti sebentar di tempat wisata mata air panas Tirta Tapta (yang airnya terasa hangat karena hawa di luar panas), geotrek menuju stoptrek berikutnya yang bakal menjadi ujian geowisata di jam-jam rawan tersebut: lokasi tambang timah aktif di Pemali.

Open Pit tambang timah Pemali

Ketika bus berhenti di jalan tambang yang panas dan berdebu, benar saja para penumpang enggan untuk keluar bus. Namun dengan dipelopori saya, panitia, dan beberapa rekan yang telah saya tulari virus geotrek, akhirnya semua keluar. Ketika mendapat pembagian pinjaman helm proyek sebagai standar keselamatan di lokasi tambang, antusiasme berwisata timbul kembali. Berfoto dengan helm proyek berlatar belakang lokasi tambang menjadi sentuhan pertama melabrak waktu rawan itu.

proses pemisahan kasiterit

Dan alhamdulillah, minat ingin mengetahui kegiatan tambang timah dengan sistem open-pit (galian terbuka) tinggi. Bahkan jika panitia tidak ketat dengan waktu, para peserta kelihatan merasa kurang waktu dan sedikit terburu-buru menyaksikan aktivitas penambangan serta pengolahan pemisahan kasiterit dari pasir dan batu. Lucunya, banyak orang Bangka asli sendiri belum pernah tahu dan menyaksikan bagaimana timah ditambang dan diolah.

granit Pantai Parai

Geoterk berikutnya setelah makan siang di lokasi wisata pantai Tanjung Pesona adalah penjelajahan batu-batu granit yang muncul  baik di Tanjung Pesona, ataupun di stop terakhir, Pantai Parai. Memang, batu-batu granit ini tidak seeksotis batu yang sama di Belitung, namun dengan interpretasi, semua bisa menjadi menarik. Geotrek Timah “Tin Geo-Track” pun ditutup di Rock Island, Pantai Parai.

Mudah-mudahan virus geotrek terus mewabah di Bangka dan Belitung.

foto keluarga geotrek timah Bangka. Bravo Babel!

Dari Tambora ke Waterloo, 195 tahun yang lalu.

Oleh Budi Brahmantyo

(dimuat di Majalah Ilmiah Populer: EKSPEDISI GEOGRAFI INDONESIA 2010 NUSA TENGGARA BARAT – BAKOSURTANAL)

Apakah letusan dahsyat Tambora menjadi penyebab kekalahan Napoleon di Waterloo? Memang terlalu gegabah menyimpulkan hal itu. Namun marilah kita ikuti peristiwa-peristiwa bersejarah di sekitar 1815, tahun berakhirnya Perang Napoleon dan meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa.

Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis yang baru saja kabur dari pengasingannya di Pulau Elba dan merebut kembali tampuk kekuasaannya dari Louis XVIII, harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung dalam medan pertempuran Waterloo di Belgia. Saat itu tanggal 18 Juni 1815. Sial baginya, hujan deras yang mengguyur Belgia semalaman penuh menimbulkan banjir dan tanah menjadi becek sehingga tidak layak untuk dilalui meriam-meriam berat. Padahal untuk merebut kemenangan yang harus diraihnya dalam perang seratus hari setelah kebebasannya, pasukan Napoleon harus segera menggempur pasukan koalisi Inggris dikomandani Laksamana Wellington yang bertahan di Waterloo.

Sang Kaisar akhirnya mengundurkan waktu penyerbuan, menunggu tanah mengering. Seiring dengan itu, konsolidasi pasukan musuh akhirnya menjadi kuat ditambah datangnya pasukan Prusia. Lalu sejarah mencatat bahwa kegemilangan strategi perang Napoleon kandas di Waterloo dan Napoleon pulang ke Paris hanya untuk menandatangi pakta kekalahan dan pengasingan dirinya kembali. Ia dibuang ke pulau terpencil di Samudera Atlantik, St. Helena, hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821. Berakhirlah perang panjang 1799 – 1815 yang melanda seluruh Eropa yang dimulai ketika Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan di Perancis. .

Jauh di belahan dunia yang lain, di kepulauan yang saat itu masih bernama Hindia Timur Belanda (Netherlands East Indies), seiring berkuasanya Napoleon, ia menempatkan orang-orang pilihannya untuk menduduki tempat-tempat yang bahkan tidak terkena hiruk pikuk perang di Eropa. Diangkatlah Marcshalk Herman Willem Daendels pada tahun 1908 menjadi Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur sebagai representasi kekuasaan Perancis terhadap Negeri Belanda.

Kekuasaannya tidak lama karena dipanggil untuk membantu pasukan Perancis melawan Rusia pada tahun 1910. Ia digantikan Jan Willem Janssens. Namun Daendels telah mencatatkan sejarah pahit bagi bangsa yang dijajahnya yang setelah merdeka disebut Indonesia itu. Jalan ribuan kilometer antara Anyer – Panarukan berhasil dibangun dengan darah rakyat yang dilaluinya. Sebenarnya Daendels tidak membuat jalan baru. Kebanyakan ia hanya memperlebar dan atau memperkuat jalan lama atau jalan setapak sehingga bisa dilalui pedati. Semuanya untuk melancarkan arus kekuasaan militerismenya dan kelancaran transportasi komoditas kekayaan bumi Pulau Jawa yang tidak lain untuk biaya dan kepentingan Perang Napoleon juga.

Neraka Tambora 1815

Setelah Napoleon takluk di tangan Inggris dan ditawan di Pulau St. Helena, Gubernur Jenderal baru di Hindia Timur adalah seorang bangsawan Inggris yang selain menjadi penguasa tampuk pemerintahan tertinggi, namun juga punya kepedulian terhadap ilmu pengetahuan. Dialah Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang kemudian menjadi seorang gubernur jenderal di Nusantara yang mempunyai perhatian akan peristiwa letusan gunungapi paling dahsyat di dalam sejarah umat manusia: letusan Gunung Tambora 10 April 1815.

Ialah yang kemudian memerintahkan bawahannya Letnan Phillips untuk langsung menuju lokasi bencana. Sang letnan mencatat apa yang dilihatnya ketika tiba di Dompu kira-kira sebagai berikut:

Dalam perjalananku, aku melewati hampir seluruh Dompo dan banyak bagian dari Bima. Kesengsaraan besar-besaran melanda penduduk. Bencana telah  memberikan pukulan hebat. Masih terdapat mayat di jalan dan tanda-tanda banyak lainnya telah terkubur. Desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh. Penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan. Diare menyerang warga di Bima, Dompo, dan Sang’ir. Diduga penduduk minum air yang terkontaminasi abu, dan kuda juga mati dalam jumlah yang besar…

Letusan Tambora 1815 karya Harlin & Harlin di www.smithsonianmag.com (unduh 03112011)

Raffles sendiri kemudian memberi catatan tentang letusan Tambora itu di bukunya yang terkenal “The History of Java.” Buku tebal dengan beberapa jilid itu diterbitkan pada tahun 1817 setelah ia dipanggil pulang ke Inggeris akibat dinilai salah manajemen dalam mengurus tanah jajahan di Nusantara.

Lalu bagaimana hubungan kekalahan Napoleon di Waterloo dengan letusan Tambora?

Bulan April 1815, rakyat di sekitar Semenanjung Sanggar, tempat beberapa kota ramai di bawah Kekuasaan Kerajaan Bima, gelisah dengan aktivitas Gunung Tambora. Gempa-gempa kecil terasa terus-menerus dan erupsi-erupsi permulaan terjadi dari kawah di puncak gunung yang saat itu diperkirakan mencapai ketinggian 4.000 m di atas muka laut. Buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979) mencatat aktifitas permulaan itu terjadi pada 5 April 1815 dengan suara gemuruh yang terdengar hingga Batavia (Jakarta sekarang, sejauh 1.250 km) dan Ternate (1.400 km).

Aktifitas volkanik semakin meningkat hingga mencapai puncaknya dengan suatu letusan paraksismal maha dahsyat pada tanggal 10 April 1815.  Letusan itu menghasilkan suara ledakan yang terdengar hingga Jawa dan Sumatera walaupun hanya dikira sebagai letusan meriam. Namun bagi rakyat Bima di Semenanjung Sanggar, ledakan itu tidak hanya sangat memekakkan telinga, tetapi segera disusul bencana maut. Hujan abu dan batu segera menghunjam mereka. Suatu aliran surge piroklastik awan panas yang cepat dan bersuhu di atas 500oC segera menerjang dan mengubur permukiman-permukiman yang berada di kaki-kaki gunung di sekeliling kawah Tambora.

Tidak pelak lagi, letusan-letusan dahsyat yang baru mulai reda pada 12 April 1815, mengubur seluruh lereng-lereng Tambora. Letusan itu jika mengacu kepada Indeks Eksplosivitas Volkanik (VEI: Volcanic Explosivity Index; Newhall dan Self, 1982) berada pada skala >7, skala letusan tertinggi di masa sejarah umat manusia. Volume batu yang dikeluarkan mencapai lebih dari 150 km-kubik, hampir sepuluh kali lipat dari letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Ketika letusan itu terjadi, abunya mengarah ke barat laut menyebabkan Sumbawa, Lombok, Bali, Madura dan sebagian Jawa Timur gelap gulita selama tiga hari.

Volcanic Explosivity Index (VEI) (Newhall & Self, 1982)

Korban yang berjatuhan langsung diperkirakan mencapai 10.000 orang. Dampak ikutannya berupa bencana penyakit dan kelaparan mencapai 38.000 di Sumbawa dan 44.000 di Lombok, sehingga diduga korban akibat letusan ini mencapai angka 92.000 korban meninggal.

Menurut buku Data Dasar Gunungapi Indonesia (Kusumadinata, 1979), Tambora masih bergelora walaupun aktivitasnya makin menurun hingga 15 Juli 1815. Namun Agustus 1819 masih terdengar suara gemuruh yang kuat disertai gempa bumi dan terlihatnya bara api dari kalderanya.

Letusan bertipe Plinian yang membentuk cerobong abu ke angkasa dan membentuk payung cendawan di atasnya, diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 25 km. Abunya di angkasa beredar terbawa angin stratosfer ke seluruh dunia, dan iklim dunia pun terpengaruh. Apakah abu Tambora yang beberapa minggu kemudian menyumblim di atas Eropa dan menghasilkan hujan deras di atas Waterloo? Sulit untuk mengaitkannya. Namun demikian, walaupun bulan Juni biasa terjadi hujan mengawali musim panas di Eropa, namun intensitas curah hujan tinggi tidak biasa yang luput dari perkiraan Napoleon, mungkin saja disebabkan pengaruh abu dari letusan Tambora itu.

Satu hal yang tidak terbantahkan di kalangan ilmuwan adalah perubahan iklim belahan bumi utara yang terjadi setahun kemudian pada 1816. Setelah Eropa reda dari kekacauan akibat Perang Napoleon, pemulihan kondisi ekonomi semakin terancam akibat perubahan cuaca. Gagal panen terjadi dimana-mana. Kelaparan dan wabah penyakit tak terhindarkan. Bahkan  pada waktu yang seharusnya tengah-tengah musim panas pada Juli – Agustus 1816, salju turun di beberapa tempat di belahan Bumi utara. Tahun 1816 kemudian tercatat dalam sejarah sebagai “the year without summer.” Begitulah bagaimana abu letusan Tambora mungkin menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Napoleon di Waterloo, dan benar-benar mempengaruhi iklim dunia serta tercatat menurunkan suhu Bumi sebesar 0,5oC.

Saat kami mendaki Tambora dan mencapai bibir kalderanya di pagi hari yang cerah, kami terpesona dengan kaldera luas dan dalam yang terbentang di bawah kaki kami. Dengan diameter kaldera mencapai hampir 7 km dan kedalaman hingga dasar mencapai hampir 1 km, kami hanyalah sekumpulan titik yang tidak berarti di lingkungan yang luar biasa itu. Tebing curam 70 – 90o di bawah kaki kami membuat kami ekstra hati-hati. Terpeleset sedikit tidak akan ada yang sanggup untuk selamat berguling-guling ke dasar kaldera yang sangat dalam itu.

Dinding barat kaldera Tambora dengan selang-seling lapisan lava – piroklastik berumur 500 – 1000 tahun.

Di dasar kaldera masih terlihat asap-asap solfatar dari kawah-kawah penghasil belerang. Gunungapi sekunder Doro Afitoi (secara harfiah dalam bahasa Bima berarti gunung api kecil) tidak kelihatan dari dinding barat daya, tetapi itulah gunung baru yang muncul setelah letusan pembentuk kaldera 10 April 1815 itu. Selain itu pemandangan ke arah dinding barat yang waktu itu tersorot matahari pagi memperlihatkan lapisan-lapisan selang-seling antara lava dan piroklastik yang teratur rapi membentuk garis-garis lurus. Itulah lapisan-lapisan batuan yang lebih tua yang diperkirakan berumur 500 – 1000 tahun yang lalu (Heryadi dan Mujitahid, 2003).

Dalam perjalanan pulang menuruni lereng, endapan-endapan lava yang memanjang menuruni lereng dan punggungan pasir-pasir volkanik harus kami loncati, sesuatu yang tidak kami sadari saat perjalanan naik karena tidak terlihat saat hari masih gelap. Lembah-lembah dan punggungan-punggungan itu pastilah terbentuk setelah letusan dahsyat itu. Sambil berhati-hati menuruni lereng, di hadapan kami terbentang kaki gunung yang kerontang yang langsung berbatasan dengan Teluk Saleh yang tampak membiru dilatari langit yang juga membiru. Merekalah saksi kedahsyatan letusan 10 April 1815, dan bukti kesaksian itu didapatkan dari gundukan-gundukan yang tersebar luas di kaki gunung.

Batuapung di Mana-mana

Sambil terbayang sejarah sekitar tahun 1815 itu, dalam perjalanan kembali ke arah Dompu untuk menuju Sumbawabesar, tim EGI berhenti sejenak untuk mengambil foto kuda-kuda dan kerbau-kerbau yang dibiarkan bebas berkeliaran di kaki Tambora yang gersang. Saat itulah saya tertarik pada gundukan-gundukan kecil yang banyak tersebar di padang rumput itu. Gundukan-gundukan itu tampak tidak menarik perhatian tadinya, dan tidak begitu menonjol di atas permukaan tanah. Wah gundukan-gundukan apa ini?

Setelah dicongkel dengan palu geologi, ternyata gundukan-gundukan tersebut berisi kumpulan kerikil batu apung. Setelah mengamati secara lebih seksama padang rumput di kaki Tambora itu, rupanya gundukan-gundukan tersebut tersebar sangat luas dan ada di mana-mana.

Nah inilah bukti lain letusan paroksismal 10 April 1815 itu. Batu apung yang umumnya bersifat magmatis asam dengan kandungan silika tinggi, selalu berasosiasi dengan letusan gunung api bertipe Plinian pembentuk kaldera. Magma yang diletuskan oleh kekuatan dahsyat akan tersembur ke angkasa kemudian jatuh di sekeliling pusat letusan. Saat melayang jatuh butiran-butiran magma segera mendingin sambil melepaskan gas-gas yang terkandungnya. Begitulah bagaimana kemudian batu apung terbentuk dengan sifat seperti spons yang berpori dan ringan.

Gundukan-gundukan yang terjadi mempunyai bentuk yang menarik. Tingginya tidak lebih dari 30 cm dengan diameter rata-rata 100 cm. Morfologinya  melandai dari arah gunung dan mempunyai lereng curam di sisi yang lain. Dengan isi gundungan terdiri dari batu apung dapat diperkirakan bahwa gundukan-gundukan ini merupakan aliran surge awan panas yang meluncur menuruni lereng gunung setelah awan batu yang diletuskan kolaps akibat gravitasi. Saat awan bebatuan ini jatuh meluncur menuruni lereng, ia akan bergulung-gulung di atas permukaan untuk kemudian teronggokkan sebagai gundukan-gundukan itu.

Tidak dapat terbayangkan bagaimana proses ini terjadi melanda kaki gunung yang mungkin dihuni oleh perkampungan. Semuanya akan digulung dan dilumat habis oleh awan bebatuan yang suhunya diperkirakan masih sangat panas. Kondisi itulah yang kemudian terlihat pada situs-situs arkeologis yang tergali di kaki Tambora.

Pompeii di Sumbawa

Kita kembali dulu ke tahun 79. Tempatnya jauh di Italia, di Teluk Napoli. Tanggal 24 Agustus 79 terjadilah letusan tipe Plinian yang sebenarnya tidak sedahsyat Tambora tetapi tetap mematikan: letusan Gunung Vesuvius. Dua buah kota yang berada di pesisir Teluk Napoli, Herculanum dan Pompeii terkubur abu, pasir dan bebatuan dari letusan itu. Namun bencana maut yang kemudian datang ke kedua kota itu  adalah aliran piroklastik awan panas yang mematikan warga dua kota yang masih selamat dari gempuran bebatuan.

penggalian situs kampung yang terlanda awan panas Tambora 1815 (www.allvacationplace.com unduh 03112011)

Berribu tahun kemudian ketika tim ekskavasi arkeologis bekerja menggali endapan gunung api yang mengubur Pompeii pada tahun 1960an, mereka heran mendapati ruang-ruang kosong di dalam batuan. Mereka kemudian mencoba mengisi dengan cor-coran gips pada ruang-ruang kosong itu. Apa yang terjadi ketika cor-coran itu dikelupas? Tampaklah cetakan-cetakan berbentuk manusia dengan berbagai posisi yang mengenaskan. Merekalah warga Pompeii korban letusan 24 Agustus 79 yang sekarang menjadi saksi kedahsyatan letusan G. Vesuvius.

Itulah bayangan yang berkecamuk di dalam pikiran ketika melaju terguncang-guncang di atas ojek dari Dusun Pancasila, Kedindi, Kecamatan Pekat, Kabupaten Bima.

Keterampilan pengemudi ojek melalui jalan-jalan setapak di antara kebun kopi di lereng barat laut Tambora itu membawa kami menuju lokasi situs ekskavasi arkeologi yang sedang dikerjakan oleh Balai Arkeologi Denpasar. Sayang, ketika sampai di lokasi, kegiatan ekskavasi baru saja dihentikan dan menjadi hari terakhir setelah dua minggu berjalan. Padahal inilah situs arkeologis yang akan menjadikannya seperti di Pompeii.

Hasil ekskavasi pada tahun-tahun sebelumnya, tim Geologi dan Arkeologi menemukan sisa-sisa perkampungan yang terkubur dengan berbagai peralatan sehari-hari seperti pecahan-pecahan keramik cina, tombak, dan lain sebagainya. Tergali juga sisa-sisa beras yang sudah hitam mengarang, dan yang lebih spektakuler lagi adalah temuan kerangka-kerangka manusia korban letusan 10 April 1815 itu. Jika ekskavasi selesai sepenuhnya, maka situs ini bukan tidak mungkin akan menjadi Pompeii di Timur.

Pompeii, korban letusan plinian G. Vesuvius 79 AD (wikipedia)

Jika kita mengamati lapisan-lapisan yang menutupi galian situs itu, kita akan dapati kembali lapisan-lapisan piroklastik yang terdiri dari batuapung. Batuapung yang sama seperti dicongkel dari gundukan-gundukan di kaki barat daya. Batuapung yang sama pula ketika penduduk Doropeti membawa kami pada temuan fondasi rumah dan kuburan yang secara tidak sengaja tergali di sebuah ladang. Memang bencana yang tak terperikan yang melanda seluruh lereng di seputar Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar!

Dari pengemudi ojek dan beberapa tokoh masyarakat di sekitar Kecamatan Pekat, telah beredar luas sebuah legenda asal-usul nama Tambora, yang berasal dari kata bahasa Bima: ta’bora, yang artinya “menghilang.” Legenda itu bercerita tentang seorang ulama yang mencoba mengislamkan masyarakat animisme yang masih hidup di daerah itu. Tetapi sang ulama ditipu dengan sajian daging enak yang ternyata adalah daging anjing yang tentu saja haram untuk dimakan. Sang ulama yang marah segera berteriak “ta’ bora!” lalu menghilang seiring dengan meletusnya gunung dengan dahsyat. Begitulah asal-usul nama Tambora.

Namun kita harus kritis dengan asal-usul nama Tambora ini, jika itu mengacu kepada letusan 1815. Sudah pasti nama gunung sudah bernama Tambora sejak lama. Pada laporan berbahasa Belanda pada tahun 1815 setelah letusan itu, nama Tambora sudah digunakan untuk nama gunung ini. Laporan itu adalah “berichten over de eruptive van den Tambora op Sumbawa, van 5 – 12 April 1815, O.a. door den gezagvoerder van eep schip, dat zich toen Makassar bevond, en 19 den April op de roede van Bima aankwan, Java Government Gazette, May 20, n. 169, May 27, n. 170 1815” (dalam Kusumadinata, 1979). Jadi ada kemungkinan nama Tambora dan legenda yang mengacu pada namanya telah berlangsung sejak lama, tetapi kemudian berubah seiring perkembangan budaya manusia penuturnya.

Bagaimanapun, letusan paroksismal G. Tambora 10 April 1815 adalah catatan sejarah gunungapi dunia yang tiada taranya selama jaman sejarah umat manusia. Itulah letusan terbesar di dunia yang mungkin ikut menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, dan yang pasti mengakibatkan perubahan iklim global yang membuat tahun 1816, setahun setelah letusan, menjadi tahun tanpa musim panas. ***

Daftar Pustaka

Heryadi dan Mujitahid  (2003), Gunungapi Nusa Tenggara Barat, Publikasi Khusus No. 01 Okt 2003, IAGI Pengda Nusa Tenggara.

Kusumadinata, K., (1979), Data Dasar Gunungapi Indonesia, Penerbit Direktorat Vulkanologi, Bandung.

Newhall, C.G. and Self, S. (1982). The volcanic explosivity index (VEI): An estimate of explosive magnitude for historical volcanism, Journal of Geophysical Research 87 (C2): 1231–1238. http://www.agu.org/pubs/crossref/1982/JC087iC02p01231.shtml.

Smithsonian Institution (2010), Global Volcanism Program. Diakses pada 12 Agustus.

Wikipedia (2010), Perang Napoleon; Daendels; Raffles; Tambora. Diakses pada 9 Agustus.

‘Geological Mystery Tour’ di Karst Lengguru

ArtikelGeological Mystery Tour di Karst Lengguru‘ merupakan catatan ekspedisi geologi di karst Lengguru bersama IRD dan DKP di bulan Oktober – November 2010 lalu. Tulisan ini terbit sebagai bagian dari buku “HIDUP DI ATAS TIGA LEMPENG” yang diterbitkan oleh Badan Geologi, 2010. Terima kasih kepada Pak Oman Abdurrahman dan Parpar Priyatna yang menjadi editor buku tersebut.

Akhir Oktober 2010 bukanlah waktu yang nyaman untuk terbang ke arah Tanah Papua. Cuaca selalu mendung berawan. Hujan sekali-kali mulai tercurah di awal musim penghujan di kawasan khatulistiwa. Pesawat LionAir yang berangkat tengah malam dari Jakarta pun sempat terguncang-guncang di atas perairan Indonesia Timur. Tetapi mau bagaimana lagi? Jadwal Ekspedisi Intersains Lengguru-Kaimana 2010 yang dilaksanakan atas kerja sama Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia dan Institut de Recherche pour le Développement (IRD) Prancis dimulai di akhir Oktober yang berawan itu. Jadilah perjalanan ke Ambon dilalui dalam tidur di atas pesawat yang banyak guncangannya.

Pagi harinya di Bandara Pattimura Ambon, pesawat pengganti yang akan membawa ke Kaimana, Papua Barat bagian selatan tempat rendezvous tim ekspedisi, adalah pesawat baling-baling jenis ATR 25-700. Pesawat pun terbang rendah melintasi Laut Banda menuju Nabire terlebih dahulu, sebelum mendarat di Bandara Urarom, Kaimana, yang terkenal sebagai Kota Senja. Julukan kota ini mengacu pada lagu populer 1960-an yang dibawakan oleh Alfian, “Senja di Kaimana.”

Ketika terbang di atas “Leher Burung,” deretan pegunungan yang memanjang berbaris barat laut – tenggara sekali-kali terlihat saat awan-awan bulan Oktober tersibak. Itulah jajaran Pegunungan Emansri-Lamansiere yang tampak berrelief kasar dengan tebing-tebing terjal dan bukit-bukit runcing khas pegunungan karst. Di dalam geomorfologi karst Papua Barat, jalur pegunungan itu dikenal juga sebagai Pegunungan Karst Lengguru.

Pengaruh Tiga Lempeng

Pegunungan Karst Lengguru terbentuk dari satuan-satuan batugamping yang dipetakan sebagai Formasi Lengguru oleh Tobing, dkk (1990). Formasi ini tersusun terutama oleh kalkarenit, biokalkarenit, biomikrit ganggang-foraminifera, kalsilutit, kalkarenit pasiran, biokalsirudit, batupasir gampingan glaukonitan, batulanau, serta beberapa mengandung fragmen rijang. Lapisan-lapisannya sangat tebal mencapai lebih dari 2000 m dan umurnya terrentang dari awal Eosen hingga akhir Miosen Tengah. Sebarannya sangat luas, dimulai dari Teluk Arguni di bagian barat daya hingga tiga perempat bagian dari pegunungan ke arah timur laut berbatasan dengan formasi-formasi Pra-Tersier kira-kira pada kelurusan Sungai Urema di selatan dan Kampung Toro di utara.

Kondisi geologi struktur Pegunungan Lengguru sangat rumit. Jajaran-jajaran pegunungan itu merupakan ekspresi kondisi geologis yang sangat dipengaruhi oleh gejala-gejala perlipatan dan sesar naik yang mempunyai orientasi searah dengan morfologinya, yaitu barat laut – tenggara. Di samping itu, sesar-sesar geser mendatar memotong secara hampir tegak lurus pegunungan mengarah barat daya – timur laut. Dalam tektonik, pegunungan ini dikenal sebagai Sabuk Sesar Naik dan Lipatan Lengguru (Lengguru Fold-Thrust Belt).

Sangatlah wajar jika orientasi jajaran pegunungan, danau-danau, dan sungai juga mengarah barat laut – tenggara, atau barat daya – timur laut. Misalnya, kelurusan morfologi Teluk Bitsyari yang berada di timur Kaimana menerus ke arah utara menyambung ke Teluk Arguni setelah melalui celah G. Lowai. Kelurusan ini sangat jelas dikontrol oleh adanya sesar naik. Begitu pula Teluk Triton, Kayumerah, Lakahia dan Etna, tampak jelas dikontrol oleh sesar naik dan sesar geser mendatar sehingga garis-garis pantainya membentuk garis-garis lurus saling berpotongan hampir tegak lurus. Danau-danau di tengah pegunungan yang pastinya sulit dicapai (Sewiki, Perenusu, Aiwasa, Laamora, dan Mbuta), dari peta atau citra satelit, tampak pula merupakan produk gejala tektonik kedua jenis sesar tersebut.

Kondisi geologi dan tektonik itu rupanya merupakan hasil interaksi antara dua lempeng raksasa, yaitu Pasifik dan Australia, yang kemudian melibatkan pula lempeng kecil Kepala Burung. Dalam buku “An Outline of the Geology of Indonesia” (editor Darman dan Sidi, 2000), tabrakan oblik yang terjadi antara Lempeng Pasifik dan Australia yang terjadi selama evolusi tektonik Kenozoik telah menghasilkan pola-pola struktur geologi di bagian daratan utama Papua, termasuk Pegunungan Jayawijaya. Hasilnya secara umum adalah mandala geologi Papua yang terdiri dari tiga zona utama, yaitu: Zona Kontinental yang terdiri dari endapan-endapan sedimen dari kraton Australia, Zona Oseanik yang terdiri dari batuan ofiolit dan kompleks batuan volkanik busur kepulauan sebagai bagian dari Lempeng Pasifik, serta Zona Transisi yang terdiri dari batuan-batuan yang terdeformasi kuat dan batuan-batuan metamorfik regional yang merupakan produk interaksi antara kedua lempeng raksasa itu.

Zona-zona Geo-tektonik Papua (dari Darman dan Sidi, 2000)

Namun, tiga zona di atas rupanya sedikit berbeda untuk Leher dan Kepala Burung. Pola-pola struktur utama di daratan utama Papua yang cenderung berarah barat – timur, terputar barat laut – tenggara di Pegunungan Lengguru. Beberapa peneliti, salah satunya Satyana (2006), menyebutnya sebagai produk escape tectonics, yaitu efek tektonik yang terjadi akibat interaksi lempeng-lempeng raksasa yang untuk Indonesia (termasuk Leher dan Kepala Burung Papua) adalah akibat pengaruh tabrakan antara India dengan Eurasia.

Misteri Karst Lengguru

Sesampainya di Kaimana, ekspedisi tahap kedua (setelah 20 hari pertama di tahap kesatu yang menjelajah teluk-teluk di timur Kaimana), dilanjutkan ke arah Teluk Arguni. Kapal Airaha-02 milik Akademi Perikanan Sorong (Apsor) yang digunakan sebagai moda transportasi sekaligus base camp ekspedisi pun segera mengarah memasuki teluk sempit di utara Kaimana itu. Namun keinginan ketua tim ekspedisi, Laurent Pouyaud, agar kapal berpenetrasi terus ke utara Teluk Arguni, mentok karena dasar teluk yang dangkal. Akhirnya kapal buang sauh di sekitar koordinat UTM 0354115 – 9626696, tepat di tengah-tengah Teluk Arguni yang sempit memanjang seperti sungai besar diapit pegunungan berbatugamping di timur dan perbukitan berbatulempung di barat.

Kapal Airaha-2 yang membuang sauh di Teluk Arguni

Hari-hari berikutnya dimulailah ekspedisi di pegunungan berrelief kasar karst Lengguru yang tidak hanya menguras pikiran, tetapi juga menguras fisik karena medannya yang berat, serta menguras emosi karena harus berhadapan dengan tata cara adat istiadat setempat yang cukup rumit, tetapi mau tidak mau harus dilalui. Sambil menunggu penyelesaian urusan adat, sementara izin administratif telah selesai, perahu speedboat mulai menjelajah dinding-dinding batuan tegak bagian timur Teluk Arguni.

Saat speedboat mendekati dinding batugamping berwarna putih, tampaklah gambar-gambar cadas yang dominan berwarna merah. Lukisan-lukisan purbakala yang digambar pada dinding tegak hampir 5 hingga 10 m di atas permukaan perairan menggambarkan profil-profil manusia atau coretan-coretan abstrak yang tidak begitu jelas maknanya. Di salah satu sudut dinding yang seluruhnya dilabur merah dari bahan oker (tanah merah oksida besi hematit) ditorehkan warna putih membentuk profil biawak besar. Menurut seorang arkeolog yang ikut dalam tim, hingga sekarang masyarakat Papua selatan masih percaya bahwa leluhur mereka adalah biawak.

Dinding batugamping dengan gambar cadas di Teluk Arguni

Pada kesempatan berikutnya ketika menjelajah gua yang mulutnya sejajar dengan permukaan laut, bau guano segera menyergap hidung ketika speedboat memasukinya. Gua ini rupanya tidak dalam. Ruangannya cukup besar, lebar 25 m, panjangnya mencapai 30 m, dan tinggi diperkirakan mencapai 40 m. Atap gua miring ke arah mulut gua dan kondisi ini dikontrol oleh bidang kemiringan lapisan batugamping. Bongkah-bongkah batugamping berasal dari dinding dan atap terendapkan membentuk lereng bebatuan yang kasar. Stalaktit tidak terlalu berkembang. Begitu pula stalagmit. Hiasan gua (speleotem) hampir-hampir tidak ada. Ketika asyik mengamati dan membuat sketsa ruangan gua itulah, tiba-tiba Lucas Janoma, pendamping tim asli orang Papua, berteriak nyaring agar semua mendekat. Sambil menyorotkan senternya, ia menunjuk satu jejak memanjang pada lumpur di dasar gua. Jejak badan buaya! Lebarnya 1 m, sehingga ia memperkirakan panjang buaya minimal 4 m! Rupanya gua itu dijadikan sarang buaya besar. Beruntunglah sketsa gua dan data sudah cukup terkumpul sehingga dengan sedikit tergesa-gesa tim segera keluar gua.

Lucas Janoma menunjukkan jejak buaya besar di sebuah gua di Teluk Arguni

Pegunungan Karst Lengguru yang mempunyai kisaran elevasi dari permukaan laut hingga lebih dari 1000 m di atas permukaan laut, rupanya miskin gua. Inilah misteri karst Lengguru yang pertama.

Dengan beda tinggi mencapai seribu meter, tadinya kami berpikir akan ada deretan gua pada elevasi-elevasi tertentu. Hal itu dianalogikan dengan karst Gunungsewu di Yogyakarta-Jateng, atau di Karangbolong, Gombong Selatan, Jateng, atau di Maros, Sulawesi Selatan. Contoh ketiga wilayah karst itu adalah contoh karst dengan banyak gua yang secara vertikal tersebar mengikuti level elevasi-elevasi tertentu dengan jaringan lorong gua yang panjang. Namun rupanya hal tersebut tidak terjadi di Lengguru. Ada dugaan kondisi struktur geologis yang membentuk jalur-jalur lipatan dan sesar-sesar naik, bertanggung jawab akan miskinnya gua di karst Lengguru. Hal ini berbeda dengan karst Gunungsewu, Karangbolong, dan Maros yang dikontrol oleh plateau dengan lapisan-lapisan batugamping yang hampir horisontal.

Memang, seperti kemudian terukur selain di Gua Sarang Buaya, yaitu di Gua Wababoko di Danau Sewiki sisi barat, gua dikontrol oleh lapisan batuan yang miring terjal dan lorongnya dikontrol oleh arah retakan pada batugamping. Gua Wababoko yang terdiri dari dua ruangan yang terpisah, seluruhnya mempunyai dasar gua yang kontak dengan permukaan air danau. Gua kedua dengan artefak arkeologis di endapan mulut guanya, merupakan galeri besar dengan dasar gua dipenuhi bongkah-bongkah batugamping runtuhan langit-langit gua. Adapun Gua Wababoko yang dasarnya tergenang air danau, oleh penduduk setempat juga dikenal sebagai sarang buaya. Selain itu, di satu celah batu di mulut gua, diletakkan tiga tengkorak manusia, sehingga sebelum melakukan penelitian ke dalam gua yang dikeramatkan ini, tim harus mengikuti ritual adat masyarakat suku setempat.

Tidak hanya Gua Sarang Buaya dan Wababoko, gua-gua yang berhasil disurvei dan juga ditanyakan kepada masyarakat setempat, umumnya terbentuk pada kontak antara kaki pegunungan dengan permukaan laut atau danau yang sebenarnya satu level juga dengan laut. Hal itu misalnya dijumpai di Gua Jamansan. Menurut bahasa suku setempat Irarutu, nama gua ini berarti “tempat orang-orang meninggal.” Gua ini berukuran kecil dengan lorong tidak lebih dari 10 m. Ketinggian lantai gua hanya kurang dari setengah meter dari rawa-rawa di sekelilingnya. Begitu pula gua-gua kecil yang berada di Weramura, tepi jalan lintas Papua Kaimana – Fakfak yang belum selesai, berada pada kontak dengan rawa-rawa pasang surut di selatan Teluk Arguni (Muka Arguni). Bahkan dalam perjalanan turun naik bukit-bukit karst ke Danau Perenusu dari Teluk Bitsyari, gua kecil baru ditemui tepat di tepi Danau Perenusu. Seluruh gua umumnya tidak membentuk lorong yang panjang. Satu-satunya gua dengan lorong agak panjang, yaitu 150 m, hanya ditemukan di sekitar Tanjung Boi, Teluk Kayumerah, sebelah timur Kaimana.

Elevasi gua yang cukup tinggi hanya dijumpai di daerah Kaimana. Deretan gua-gua pada dinding batugamping, lantai guanya terletak antara 5 m dari permukaan laut di Daerah Batulubang, Kaimana Selatan, hingga 20 – 30 m di daerah Batuputih. Besar kemungkinan gua-gua ini tadinya juga berada di dekat permukaan laut tetapi mengalami pengangkatan. Seluruh gua juga hanya berupa gua ceruk yang tidak mempunyai lorong yang panjang. Itulah misteri kedua di karst Lengguru.

Misteri ketiga adalah lubang-lubang sinkhole yang tampak jelas dari pengamatan melalui cetakan citra satelit. Sebuah lubang sinkhole besar yang tadinya diharapkan menjadi jalan air melalui lorong gua yang tembus ke Gua Wababoko, dijelajahi. Penjelajahan terpaksa melalui lereng-lereng terjal berpermukaan batugamping yang tajam dan mendakinya hingga pada ketinggian sekitar 650 m dari elevasi awal penjelajahan. Lubang sinkhole tersebut merupakan lubang sinkhole besar yang dindingnya dikelilingi oleh dinding batugamping vertikal. Tiga peneliti gua Prancis, Hubert Camus, Guilhem Maistre, dan Bruno Fromento mencoba menuruni dasarnya yang berada lebih kurang 100 – 200 m dari bibir lubang hanya untuk mendapati dasar yang kering. Kemana sungai-sungai bawah tanah yang biasanya sangat khas di wilayah karst? Ekspedisi kali ini belum mampu menjawabnya.

Longboat melaju di atas Danau Sewiki dengan latar belakang perbukitan karst Lengguru dengan lereng-lerengnya yang terjal

Lalu inilah misteri ke empat. Dalam sebuah penjelajahan ke arah Weramura menelusuri Jalan Lintas Papua Kaimana-Fakfak yang belum selesai, di bawah terik matahari Papua yang menyengat, sebuah sungai berwarna biru turquoise tampak mengalir tenang berkelok-kelok memasuki rawa-rawa pasang surut. Koordinatnya S 03o25.607’ – E 133o42.704’ disebut Sungai Lewaka.

Air biru sungai itu berasal dari dua mata air yang keluar dari celah batugamping dengan dua warna yang berbeda. Satu mata air karst mengeluarkan air jernih yang berwarna keputih-putihan. Dalam jarak 5 m, retakan berikutnya mengeluarkan air jenih berwarna kehijau-hijauan. Ketika keduanya bercampur, memberikan warna air biru yang mengalir sebagai Sungai Lewaka itu. Besar kemungkinan pewarnaan air sungai itu adalah karena pembiasan lumut berwarna yang terbentuk di dasar sungai.

Tetapi misteri belum selesai. Air yang keluar dari mata air berbau belerang yang menyengat. Misteri ke empat yang perlu diteliti lebih jauh karena di sekitar lokasi, atau bahkan di Papua secara keseluruhan, tidak dijumpai adanya gunung api. Tebakan satu-satunya, mata air tersebut tersambung pada retakan atau sesar yang sangat dalam.

Sungai Lewaka yang berair biru turquoise dan mata airnya berbau belerang

Ke empat misteri di karst Lengguru masih belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan tebakan yang memuaskan sekali pun. Dengan wilayah pegunungan yang luas, tentu saja masih akan ada berpuluh-puluh atau berratus-ratus misteri yang akan muncul semakin jauh kita meneliti. Pegunungan Karst Lengguru itu sendiri adalah misteri geologis yang mencuat akibat interaksi antara lempeng-lempeng pembentuk daratan Papua.

Namun, misteri-misteri inilah yang akan membuat kita terus bergairah untuk terus meneliti, mencoba mengungkapkan rahasia alam. Kalaupun berhasil mengungkap satu misteri alam, itu mungkin hanya seperti pengungkapan setetes air saja dari samudera misteri alam yang sangat luas yang masih belum kita pecahkan. ***

Daftar Pustaka

Darman, H., dan Sidi, F.H. (eds), 2000, An Outline of the Geology of Indonesia, Indonesian Assoc. of Geologists (IAGI), Jakarta.

Satyana, A.H., 2006, Post-collisional Tectonic Escapes in Indonesia: Fashioning the Cenozoic History, Pros. PIT ke-35 IAGI 2006, Pekanbaru.

Tobing, S.L., Robinson,G.P., dan Ryburn, R.J., 1990, Peta Geologi Lembar Kaimana, Irian Jaya, skala 1:250.000, Puslitbang Geologi, Bandung.

Asal-usul Nama Sumatra (oleh Irfan Anshory)

Dimuat di Harian PR, 6 April 2009

NAMA ASLI pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Peta dari Munster 1550 yg dimuat di Atlas Ptolemys (www.swaen.com)

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Sumatra oleh Valentijn 1726 (www.swaen.com)

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***

Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.

Sumber Tulisan:
http://irfananshory.blogspot.com/2007_05_01_archive.html (6 April 2009)

Mengenang Sahabat dan Guru: Irfan Anshory

Menjelang 17 Agustus 2011, 66 tahun kemerdekaan Indonesia, saya teringat satu tulisan yang sangat menarik yang saya dapat dengan cara googling di internet: “Asal-usul Nama Indonesia” yang ditulis Irfan Anshory. Artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat 16 Agustus 2004 sengaja saya simpan karena begitu pentingnya informasi sejarah penamaan Indonesia.

Nama “Indonesia” dipopulerkan ahli geografi Jerman Adolf Bastian, tetapi sebenarnya pengusul pertamanya adalah seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865) yang menulis artikel berjudul “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations.” Artikel itu dimuat pada tahun 1850 di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) Vol. IV, yang terbit di Singapura dan dikelola oleh seorang Skotlandia James Richardson Logan (1819-1869). Logan-lah yang kemudian mengambil istilah “Indunesia” yang diusulkan Earl untuk kemudian menjadi “Indonesia.”

Ketika artikel Irfan Anshory itu ingin saya unggah ke media facebook dan blog “budibumi” agar dapat dibaca lebih luas, saya mencari  nama Irfan Anshory di facebook,  jangan-jangan ia mempunyai akun facebook, sekalian untuk meminta ijin pengunggahan artikelnya di notes facebook dan blog saya. Benar saja ada. Dengan segera saya add sebagai friend.

Namun saya rupanya harus menunggu begitu lama untuk mendapat konfirmasi. Apakah ia tidak begitu aktif di facebook? Sampai akhirnya, 5 September 2011, permintaan untuk menjadi friend di facebook terkonfirmasi. Saya pun segera menulis di wall-nya dalam bahasa Sunda: nuhun parantos dikonfirmasi (terima kasih telah dikonfirmasi).

Tetapi ketika saya masuk ke wall-nya dengan profile picture wajahnya yang ramah tersenyum lebar, saya terkejut bukan kepalang karena yang melakukan konfirmasi adalah puterinya. Posting terbarunya adalah sebagai berikut: “buat semua temen-temen Alm.papah reyna ucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H..Minal Aidin Walfaidzin..mohon maaf lahir dan batin..Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada kita semua dan menerima amal ibadah kita..Ammiiiiinnn ya Allah…^^ ~REINA FIDELITA (Anak Alm.IRFAN ANSHORY )”

Ketika saya scroll posting-postingnya, rupanya semua posting ditulis oleh puterinya dengan pernyataan bahwa papahnya (Irfan Anshory) telah meninggal dunia di Lampung pada bulan Maret 2011.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Allahumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Saya seolah-olah tidak percaya membaca satu per satu posting tersebut yang sejak wafatnya ditulis oleh puterinya yang menjawab beberapa pertanyaan sahabat-sahabatnya tentang kepergian alm. Irfan Anshory. Merasa bersalah, saya segera menulis di wall-nya: doa untuk almarhum dan permohonan maaf kepada keluarganya karena ketidaktahuan bahwa beliau telah wafat hampir 6 bulan yang lalu.

Sambil termenung memandang wajah ramah yang tersenyum lebar di picture profile facebook itu, saya teringat sms dari almarhum yang saya simpan hingga sekarang: Abdi nembe rengse maos “Wisata Bumi Cekungan Bandung” . Lalaunan maosna ge, ngarah unggal wewengkon kacipta tur karaos wisatana, siga Bujangga Manik baheula. Sae pisan pisan pisan eta buku. Mugi janten amal sholeh ka nu nyeratna. Hatur nuhun. <irfan anshory=”">  sent: 14:18:59 29-07-2009.”</irfan>

Itulah sms apresiasi almarhum terhadap buku “Wisata Bumi Cekungan Bandung” yang saya tulis bersama T. Bachtiar dan diterbitkan Truedee dengan peluncuran di Gedung Merdeka 18 Mei 2009. Tejemahan Bahasa Indonesianya: “Saya baru saja selesai membaca “Wisata Bumi Cekungan Bandung”. Pelan-pelan membacanya juga, supaya setiap daerah terbayangkan dan terasa wisatanya, seperti Bujangga Manik dahulu. Sangat sangat sangat bagus buku tersebut. Semoga menjadi amal sholeh bagi penulisnya. Terima kasih.”

Rupanya beliau jugalah yang memberi pelajaran ilmu menjawab persoalan Kimia di Bimbingan Belajar Bandung College dahulu ketika saya mempersiapkan mengikuti Program Perintis I masuk perguruan tinggi (ITB). Pantesan saya tidak merasa asing dengan penampilan dan gayanya yang kocak dan mudah diterima ketika beliau mengajarkan persoalan Kimia. Beliau adalah alumni Farmasi ITB ’71.

Selamat jalan sahabatku, guruku. Semoga engkau mendapat tempat yang baik di sisi-Nya dan diberi ketenangan di alam kubur. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu. Amiiin.

Sesar Lembang, Heartquake di Jantung Cekungan Bandung

Tanggal 23 Agustus 2011, majalah baru diterbitkan oleh Badan Geologi “GEOMAGZ Majalah Geologi Populer” Vol. 1 No. 1 dengan mengambil tema utama “bencana” dan cover story “Sesar Lembang”.

Tanggal 28 Agustus 2011 terjadi gempa bumi di Cisarua (tepat di jalur Sesar Lembang) merusak 103 rumah. Semoga tulisan di GEOMAGZ ini bisa menjadi inspirasi untuk segera memitigasi bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi di Sesar Lembang.

Dengan terbentangnya robekan pada kerak bumi yang memanjang sedikitnya 22 km dari Cisarua di barat, melewati kota padat Lembang, hingga lereng G. Palasari di timur, para ahli Geologi mengkhawatirkan gempa bumi berkekuatan besar dapat mengguncang Bandung, dipicu aktivitas tektonik dan robekan itu. Gempa bumi besar itu (earthquake) dapat mengguncang hati (heartquake) para penghuni jantungnya Cekungan Bandung.

Bandung Terancam

Dalam suatu ceramah umum untuk masyarakat tentang Sesar Lembang yang diselenggarakan Program S2 Gempa Bumi dan Tektonik Aktif (GREAT: Graduate Research on Earthquake and Active Tectonik), Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB, tanggal 25 Maret 2011, peserta tidak disangka-sangka berdesakan memenuhi ruangan. Ada dugaan hal itu dipicu oleh gempa besar yang dua minggu sebelumnya melanda Jepang bagian timur yang diikuti terjangan tsunami dahsyat yang memorak-porandakan pantai-pantai di Perfektorat Miyagi tersebut. Dugaan lain adalah karena mungkin telah ada kesadaran masyarakat Bandung umumnya dan Lembang khususnya akan adanya potensi bencana alam besar karena keberadaan Sesar Lembang.

Kekhawatiran tentang aktifnya kembali Sesar Lembang pada tahun 2006 telah diliput harian Pikiran Rakyat. Liputan itu adalah hasil diskusi di aula redaksi Pikiran Rakyat tentang ancaman gempabumi terhadap Bandung setelah gempabumi yang melanda Yogyakarta 2006. Kini semakin banyak warga Kota Bandung dan sekitarnya yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kemungkinan Sesar Lembang aktif kembali dan menimbulkan gempa bumi besar.

Antusiasme masyarakat untuk mengetahui Sesar Lembang adalah sesuatu hal yang wajar karena selama ini informasi tentang Sesar Lembang hanya diketahui oleh mereka yang terlibat dalam bidang Ilmu Kebumian saja, yaitu Geologi, Geodesi, Geofisika, atau Geografi. Bahkan di samping itu, ada juga para ahli Geologi yang masih meragukan keaktifan Sesar Lembang.

Apakah Sesar Lembang Aktif?

Mungkin istilah “sesar” terasa asing ditelinga. Apakah sesar itu? Sesar, yang dalam bahasa Inggeris disebut “fault” merupakan retakan di kerak Bumi yang mengalami pergeseran atau pergerakan. Secara umum dikenal tiga jenis sesar, yaitu sesar normal (normal fault), sesar naik (reverse fault), dan sesar geser mendatar (strike-slip fault). Dalam bahasa sehari-hari, sesar sering disebut juga sebagai “patahan.” Di Lembang, sesar itu membentuk retakan tektonik memanjang lebih dari 22 km. Dengan melihat morfologi yang terbentuk, jenis sesarnya adalah sesar normal. Bagian utara bergerak relatif turun, sementara bagian selatan terangkat. Kota Lembang hingga Cisarua di barat dan Maribaya hingga Cibodas/Batuloceng di timur merupakan bagian yang mengalami penurunan tersebut. Akibat dari proses tektonik ini terbentang suatu gawir (lereng lurus) yang merupakan bidang gelincir Sesar Lembang yang dapat jelas terlihat dari Lembang ke arah timur.

Jika kita berdiri di daerah Cikole, kira-kira 3 km sebelah utara Lembang, kemudian memandang ke arah selatan, akan tampaklah fenomena geologis Sesar Lembang yang sangat jelas. Dari sini kita bisa menyaksikan segmen timur Sesar Lembang yang dimulai dari kira-kira jalan Bandung – Lembang sebagai pembagi utama dengan segmen barat. Pada segmen timur, tinggi gawir yang terbentuk dan mengangkat perbukitan dapat mencapai 450 m, terlihat jelas di lereng utara G. Palasari (+1859 m). Jajaran bukit-bukit memanjang itu dimulai dari G. Lembang tempat berdirinya Observatorium Bosscha sejak 1920. Kemudian tampak pula G. Batu, suatu bukit kecil dengan lereng tampak berbatu. Ke arah timur tampak sebuah celah di antara lereng-lereng terjal. Di sanalah Ci Gulung, sebuah sungai yang berhulu dari lereng timur G. Tangkubanparahu bergabung dengan Ci Kapundung yang bersama-sama menerobos batuan keras di gawir sesar. Di ujung timur, gawir menoreh dalam di sisi utara G. Palasari. Tingginya gawir berubah ke arah barat yaitu hanya mencapai 40 m di sekitar Cihideung. Semakin ke arah barat, gawir menjadi tidak terlihat terkubur endapan gunung api muda produk letusan G. Tangkubanparahu (+2084 m).

Pertanyaan para ahli Geologi dan diikuti masyarakat yang peduli bencana adalah, “Apakah Sesar Lembang aktif?” Sejak jaman sejarah hingga sekarang memang belum ada catatan yang mendeteksi adanya gempa bumi besar yang berpusat di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan adalah adanya gempabumi merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang boleh dikatakan berada pada zona ujung barat Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi.

Di dalam Geologi, kategori sesar aktif mula-mula merujuk kepada sesar yang terbentuk pada Zaman Kuarter, yaitu rentang waktu dari sekarang hingga 2 juta tahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini kategori keaktifan sesar dipersempit hingga Kala Holosen, hingga 10.000 tahun yang lalu. Hasil penelitian yang pernah dilakukan para peneliti Belanda Nossin, dan kawan-kawan pada 1996 menduga kemungkinan pergeseran Sesar Lembang, khususnya segmen timur, bertepatan dengan pembentukan kaldera Sunda 100.000 tahun yang lalu.

Pendapat ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan penelitian sangat awal yang dilakukan R.W. van Bemmelen yang kemudian dibukukan dalam “The Geology of Indonesia” yang diterbitkan tahun 1949. Namun untuk segmen barat, penelitian Nossin dan kawan-kawannya di daerah Panyairan, Cihideung, terhadap endapan gambut, menunjukkan bahwa segmen barat diperkirakan terakhir aktif sekitar 27.000 tahun yang lalu. Jika kategorinya 10.000 tahun sebagai batasan sesar aktif, informasi ini akan membuat Sesar Lembang berkategori “tidak aktif.” Sampai kemudian muncullah hasil-hasil temuan dari penelitian yang dilaksanakan Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang dimotori Eko Yulianto selama 2007 – 2010.

Dampak Aktifnya Sesar Lembang

Eko Yulianto meneliti keaktifan sesar melalui apa yang disebut sebagai endapan sag-pond. Sag pond adalah genangan yang terbentuk akibat terhambatnya drainase sungai yang terjadi akibat pembentukan dinding penghalang karena pergerakan sesar. Air sungai akan tergenang dan pembentukan lumpur serta endapan gambut akan terjadi di dalamnya. Jika endapan-endapan ini terjadi berlapis-lapis di bawah tanah, dapat diperkirakan bahwa pembentukan genangan terjadi berkali-kali melalui mekanisme pergerakan sesar. Begitulah apa yang ditemukan Eko Yulianto dari hasil pengeboran endapan di sekitar Pasir Sereh, Cihideung.

interpretasi lineaments (BB dan TB, 2009, Wisata Bumi Cek Bdg, Truedee)

Dari temuannya itu, sekalipun dalam data yang masih terbatas, Eko Yulianto memperkirakan bahwa sedikitnya 1000 tahun yang lalu, Sesar Lembang pernah aktif. Ketika keaktifannya membentuk genangan luas, diperkirakan hal tersebut terbentuk oleh mekanisme pergerakan sesar yang menimbulkan gempabumi berkekuatan tinggi. Informasi ini dengan pasti menunjukkan bahwa Sesar Lembang tergolong sesar aktif sekalipun belum ada gempa besar selama masa manusia modern yang melanda kawasan ini. Tetapi lebih jauh lagi, hasil penelitian Geodesi ITB melalui pengamatan titik-titik yang diukur melalui GPS, memang telah dan sedang terjadi pergeseran di sekitar Sesar Lembang.

Sebuah cetakan citra SPOT pengambilan Juli 2006 sangat jelas menggambarkan citra udara wilayah sekitar G. Tangkubanparahu, Sesar Lembang, dan dataran Cekungan Bandung. Dari citra itu, interpretasi kelurusan-kelurusan menunjukkan kemungkinan adanya retakan-retakan yang terbentuk di permukaan bumi wilayah itu. Kelurusan paling mencolok tentu saja garis hampir berarah timur-barat, yaitu jalur struktural Sesar Lembang. Namun selain itu, banyak kelurusan dapat diinterpretasi yang umumnya juga berarah barat-timur sejajar Sesar Lembang di sekitar Perbukitan Dago (Bandung Utara), sekitar kota Lembang hingga lereng selatan jajaran G. Burangrang – G. Tangkubanparahu – G. Bukittunggul. Hasil interpretasi juga menunjukkan adanya kemenerusan Sesar Lembang ke arah Ci Meta di baratlaut Padalarang. Perkiraan lain, pertemuan Sesar Lembang dengan Sesar Cimandiri di sekitar Padalarang berupa perpotongan antara retakan-retakan itu. Apapun kaitan antara fenomena-fenomena geologis itu, kedua sesar itu mempunyai hubungan yang oleh satu dan sebab lain akan menjadikan keduanya menjadi media rambat gelombang gempa bumi.

hasil penelitian GPS (Meilano dkk, Kuliah Umum GREAT 25 Maret 2011)

Belajar dari Jepang

Gempa yang menghantam perkotaan terbukti sangat parah dan berresiko tinggi. Tokyo 1923, Kobe 1995, Yogyakarta 2006, Padang 2009, atau Haiti dan Christchurch 2010 adalah beberapa contoh kehancuran perkotaan akibat gempabumi. Lalu, Jumat 11 Maret 2011, sebuah hentakan tektonik kuat pada Lempeng Pasifik yang berinteraksi dengan Lempeng Amerika Utara di timur laut Jepang menimbulkan gempabumi berkekuatan 9,0 Mw. Tetapi dari tayangan-tayangan di televisi beberapa jam kemudian kita melihat bagaimana masyarakat Jepang begitu tenang menghadapi gempa bumi merusak ini. Para kru televisi NHK memang sedikit khawatir ketika kantor mereka berguncang hebat menggetarkan komputer dan peralatan yang ada di atas meja dan lemari. Tetapi para anggota kabinet Jepang yang sedang rapat dengan tenang meninggalkan ruangan rapat satu per satu. Tidak ada yang terlihat bersikap panik.

Beberapa menit kemudian, gempa bumi itu memicu tsunami dahsyat yang meluluhlantakan pantai-pantai di timur Jepang yang menghadap Samudera Pasifik. Kembali pemirsa televisi di seluruh dunia disuguhi tayangan fenomena alam yang mengerikan. Gelombang laut dahsyat menghantam permukiman, merubuhkan bangunan, dan menghanyutkan apa saja yang berada di pantai.

Ada yang perlu dicontoh dari siaran televisi Jepang. Sekalipun korban hingga dua minggu setelah kejadian dilaporkan menewaskan 12.000 jiwa, tetapi tidak ada satu tayangan pun di layar televisi (juga pada foto-foto di media cetak) yang memperlihatkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Tayangan yang ada adalah bagaimana rakyat Jepang begitu tabah dan kuat menghadapi musibah itu, dan semangat bergotong-royong serta tolong-menolong di antara mereka yang hidup justru menjadi suguhan utama di layar televisi. Kita pun menyaksikan bahwa dengan gempa bumi dan tsunami yang begitu dahsyat dan melanda perkotaan yang padat penduduk, namun korban jiwa dapat dikatakan “lebih sedikit.” Tidak dapat dibayangkan apabila kejadian gempa bumi dan tsunami itu melanda perkotaan di sebuah negeri yang masyarakatnya kurang memiliki budaya dan perilaku siap menghadapi gempa.

Perlu Mitigasi

Kekhawatiran terpicunya gempabumi besar karena keberadaan Sesar Lembang sudah mulai diperhitungkan. Selain sebagai media rambat gelombang gempabumi dari sesar-sesar aktif lainnya di Jawa Barat, Sesar Lembang dapat juga menjadi sumber gempabumi itu sendiri. Untuk itulah peta-peta kerawanan bencana gempabumi ke arah Kota Bandung yang berpenduduk padat mulai dibuat. Di antaranya peta percepatan gempabumi yang menunjukkan daerah rawan bencana selain di sepanjang jalur sesar, juga merambat ke arah selatan Bandung, pada daerah-daerah bekas endapan danau yang bertanah fondasi kurang mantap. Peta-peta ini sudah cukup berharga untuk membuat kita waspada, karena gempa bumi sulit diprediksi! Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, maka usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Itulah usaha mitigasi bencana, yaitu usaha untuk meminimalkan resiko atau akibat dari bencana.

Mitigasi terbagi ke dalam dua jenis, yaitu secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan, dan secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari bencana. Saran-saran arsitek perlu diperhatikan dalam membangun bangunan di kawasan rawan bencana akibat gempabumi. Di antaranya adalah tiang yang kuat, struktur yang sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman (misalnya tidak di tebing atau pada jalur sesar aktif). Begitulah mitigasi struktural yang mencakup syarat bangunan dan tata perwilayahan ruangnya.

Adapun mitigasi non-struktural adalah kiat-kiat bagaimana selamat dari bencana gempa. Kiat-kiat Jepang atau Chile perlu dipertimbangkan. Setelah bangunan kuat, belum tentu selamat dari musibah. Di dalam rumah yang digoncang-goncang, isinya akan seperti dikocok-kocok. Berlindung melindungi kepala adalah tanggap darurat yang pertama-tama perlu dilakukan.

Mengikuti cara Jepang, beginilah selamat dari gempa bumi, dengan asumsi kode bangunan telah sesuai teraplikasikan di daerah rawan gempabumi:

  1. Segera matikan sumber api
  2. Segera berlindung di bawah bentukan/furnitur yang kuat, misalnya di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada, segera berbaring dengan melindungi kepala sejajar bentukan kokoh, misalnya tempat tidur atau rak pendek.  Ketika atap atau lemari rubuh, diharapkan terbentuk ruang segitiga tempat kita berbaring.
  3. Tidak terburu-buru keluar rumah karena di luar rumah ancaman dijatuhi berbagai benda akan lebih dahsyat. Lift atau tangga adalah bagian bangunan yang rawan runtuh.
  4. Siapkan tas berisi peralatan P3K, air dalam botol, makanan ringan tahan lama, peluit, radio kecil, dll. dan segera sambar begitu gempa semakin kuat dan bersembunyi di kolong meja kokoh. Dalam gempa yang dahsyat, kemanapun bahaya akan mengancam jiwa. Pengalaman Jerpang, berlindung di kolong meja banyak menyelamatkan nyawa. Ketika kemudian bangunan ambruk, jiwa yang selamat di kolong meja tinggal menunggu pertolongan. Itulah gunanya tas yang perlu disambar ikut berlindung.
  5. Jika berada di luar rumah, merapatlah pada struktur bangunan yang dinilai kokoh (bukan pagar tembok), keluar dari kendaraan dan berbaring sejajar kendaraan, dan hindari tebing (baik di bawah atau di atas kita).
  6. Harus ditentukan tempat berkumpul yang pasti (assembly point) supaya koordinasi dan pencarian warga lebih terkontrol.

pamflet selamat dari gempa bumi di Jepang

Namun apakah cara-cara itu sesuai untuk Indonesia? Apakah berlari keluar rumah begitu guncangan awal terjadi lebih cocok untuk budaya Indonesia? Itulah yang harus diuji berkali-kali melalui latihan dan simulasi. Jangan sampai kita terlena karena lama sekali tidak diuji oleh alam. Kita harus selalu siap siaga!

Alam telah begitu ramah kepada kita, namun sekali-kali datang memberi peringatan. Itu bagian dari sistem alam sendiri agar kita selalu cermat membaca alam, memahami, dan menghormatinya. Gempa bumi earthquake akan selalu menjadi heartquake yang mengguncang hati. Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan persisnya waktu terjadinya gempa bumi, cara terbaik untuk meredam guncangan hati tiada lain kecuali dengan membangun kesiapan dan perilaku yang waspada terhadap “serangan” gempa bumi. ***

Budi Brahmantyo, dosen matakuliah Geologi Lingkungan dan Geologi Cekungan Bandung di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB; koordinator KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung).

Ketika Manusia Menghilang dari Atas Bumi

Resensi buku Alan Weisman “Dunia Tanpa Manusia” dimuat di GEOMAGZ Majalah Geologi Populer, Badan Geologi, Vol.1 No.1

Data Buku:

Judul                             : Dunia Tanpa Manusia

Pengarang                   : Alan Weisman

Penerbit                       : Gramedia

Tahun Terbit              : 2009

Tebal                             : 430 halaman

Judul Asli                    : The World Without Us

Tahun Terbit              : 2007

Bumi ini mungkin bukan planet yang sama seandainya manusia tidak beranak-pinak. Demikian salah satu kalimat pada bab pembuka buku “Dunia Tanpa Manusia” (The World Without Us) yang dikarang oleh wartawan Amerika, Alan Weisman. Ia berandai-andai, jika manusia tiba-tiba menghilang meninggalkan seluruh peradabannya di Bumi ini secara tiba-tiba dan bersama-sama, apa yang akan terjadi pada Bumi yang ditinggalkannya?

Weisman tergelitik untuk menulis buku itu ketika seorang editor Discover Magazine, Josie Glausiusz, terinspirasi karya tulisnya tentang pulihnya lingkungan setelah kaburnya orang-orang dari Chernobyl. Weisman kemudian memulai riset panjang untuk memujudkan bukunya itu. Banyak ilmuwan dihubunginya. Bahkan ia beberapa kali ikut terlibat riset dengan para ahli atau ilmuwan tersebut.

Sebanyak 225 makalah dari berbagai tema telah dilahapnya, dan 86 buku menjadi acuannya. Tema-temanya sangat luas tersebar dari berbagai bidang ilmu, mulai dari Geologi, Geografi, Biologi, Kimia, Fisika, Statistik, Teknik Sipil, Ekologi, Lingkungan, Sosial, Budaya, Politik, Sejarah, bahkan Agama, dan lain sebagainya.

Dari beberapa kasus yang dipikirkannya, di antaranya adalah bagaimana peran besar manusia dalam membangun Terusan Panama, yang menghubungkan Lautan Pasifik dengan Atlantik, dan menjadi urat nadi ekonomi Amerika Serikat. Terusan yang memanfaatkan sistem hidrolik untuk melintasi perbukitan di tanah genting Panama itu, tanpa campur tangan manusia akan mudah putus dan hancur. Proses-proses longsor, banjir dan erosi akan dengan segera menyatukan kembali Amerika bagian utara dan selatan, jika manusia lalai merawatnya.

Sesuai dengan risetnya yang luas, banyak kasus lingkungan lainnya menjadi perhatiannya. Contohnya peristiwa di suatu malam yang masih sangat dingin di Chernobyl, Uni Sovyet saat itu, April 1986, ketika kelalaian operator mengakibatkan meledaknya salah satu reaktor nuklir, menyemburkan awan radioaktif yang menjadi bencana bagi kota kecil dan sebagian wilayah Ukraina. Setelah itu Chernobyl menjadi kota mati. Namun pada musim semi tahun berikutnya, kehidupan seakan-akan mulai pulih. Burung-burung berdatangan dan bersarang. Tumbuhan menghijau kembali.

Begitu pula bagaimana suatu daerah demiliterisasi antara Korea Utara dan Selatan yang merupakan ladang ranjau, justru menjadi kawasan ekologis yang lengkap dengan kehidupan liarnya setelah perang berakhir 1953. Atau suatu kawasan wisata di Siprus yang kembali menjadi liar dengan cepat setelah perubahan lingkungan laut menjadikan kawasan tersebut ditinggalkan para wisatawan. Weisman juga membayangkan apa yang terjadi ketika pompa-pompa air berhenti bekerja di New York. Saluran-saluran kereta api bawah tanah akan segera dibanjiri air laut, dan dalam sekejap New York akan kembali menjadi daerah rawa-rawa seperti pada awalnya.

Banyak lagi contoh yang Weisman kemukakan di bukunya setebal 430 halaman edisi Indonesia terbitan Gramedia (2009), seperti pengaruh pertanian, ladang-ladang minyak, tempat pembuangan sampah nuklir, pulau sampah plastik di tengah-tengah Samudera Pasifik, terjaganya hutan asli Eropa di Polandia, paradoks kehidupan liar di Afrika, atau misteri punahnya suku Maya di Amerika Tengah. Ia juga membahas bagaimana sejarah Bumi ketika bangsa manusia belum muncul menguasai kehidupan. Sayangnya, kalimatnya cenderung panjang-panjang sehingga agak melelahkan untuk menamatkan buku tebal ini.

Namun, buku ini dapat menjadi seperti ilustrasi suatu teori yang telah dikenalkan pada 1979 oleh James Lovelock pada bukunya “Gaia: A New Look at Life on Earth.” Teori Gaia Lovelock menyatakan bahwa Bumi sangat dinamis sehingga apapun proses perubahan atau kerusakan yang terjadi padanya, Bumi akan memulihkan dirinya sendiri.

Teori Gaia yang bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Bumi yang Hidup, Pandangan Baru Kehidupan di Bumi” (Penerbit Obor, 1988) pernah diinterpretasikan secara gegabah oleh salah seorang ahli Geologi Indonesia, bahwa kita dapat melakukan eksploitasi habis-habisan terhadap sumber daya Bumi. Toh dengan menyimak teori itu, Bumi akan pulih dengan sendirinya. Ia mungkin lupa bahwa produk-produk geologis berjalan secara evolutif.

Benar Bumi akan dapat pulih dengan sendirinya, tetapi diperlukan waktu puluhan ribu hingga ratusan juta tahun. Selama masa pemulihan itu, manusia yang hidup dalam rentang waktu yang sangat pendek, akan menjadi korban pertama.

Alan Weisman adalah mantan editor di Los Angeles Times Magazine. Ia seorang wartawan yang menulis di antaranya untuk Harper’s, The New York Times Magazines, The Atlantic Monthly, dan Discover. Melalui tulisannya di Discover edisi Februari 2005 “Earth Without People” ia terpilih mendapatkan penghargaan Best American Science Writing 2006 yang kemudian ia perluas menjadi buku “The World Without Us” yang terbit pada 2007.

(Budi Brahmantyo, FITB, ITB).

Asal Usul Nama Indonesia (oleh Irfan Anshory)

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia ke-66, berikut sebuah artikel bagus dari seorang sahabat, Irfan Anshory, alumni ITB 1971 tentang asal-usul nama Indonesia. Artikel lama ini dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Selamat membaca! Indonesia Merdekaaaa!!! (merdeka dari korupsi, kemiskinan, kebodohan, kejorokan, ketidakpedulian, ketidakdisiplinan… Kapan yaaa?)

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”.

Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau “Hindia Timur” *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin *insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer.

Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians. *

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan.

Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel*sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!

Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut

Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku! ***

Penulis, Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”