Asal Usul Nama Indonesia (oleh Irfan Anshory)

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia ke-66, berikut sebuah artikel bagus dari seorang sahabat, Irfan Anshory, alumni ITB 1971 tentang asal-usul nama Indonesia. Artikel lama ini dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Agustus 2004. Selamat membaca! Indonesia Merdekaaaa!!! (merdeka dari korupsi, kemiskinan, kebodohan, kejorokan, ketidakpedulian, ketidakdisiplinan… Kapan yaaa?)

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini *Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke *Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”.

Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*) atau “Hindia Timur” *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin *insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang populer.

Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, *Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau *Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians. *

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan.

Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel*sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama *Indonesische Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan!

Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa *Handels Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama *Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut

Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku! ***

Penulis, Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”

Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam

Senin 1 Agustus saya mengirim artikel ini ke Redaksi Pikiran Rakyat, dengan judul aslinya Kolom Batuan, Sering Disangka Buatan Manusia. Oleh redaksi PR judulnya diubah seperti termuat di Harian Pikiran Rakyat, Rabu 3 Agustus 2011.

Bermula dari situs megalitik Gunung Padang di Cianjur. Bagi kita yang mengunjungi situs tersebut akan selalu mengagumi karya leluhur masyarakat megalitik yang diperkirakan hidup 1000 tahun Sebelum Masehi di Kecamatan Campaka itu. Bangunan situs kokoh yang disusun dari ribuan kolom-kolom batu membentuk lima undak yang seluruhnya diarahkan ke utara persis menghadap ke puncak Gunung Gede.

Kekaguman itu sangatlah beralasan. Bayangkan bagaimana masyarakat yang dapat dikatakan masih menggunakan teknologi sederhana dibandingkan kita sekarang, dapat menyusun kolom batu sedemikian rupa membentuk undak-undak, terutama di undak pertama dan kedua seluas kira-kira 600 meter persegi. Mereka berhasil menyusun kolom-kolom batu andesit-basaltis yang berdiameter 30 hingga 50 cm.  Berat sebuah kolom batu sepanjang 1 m dapat mencapai setengah ton. Padahal banyak kolom yang panjangnya mencapai 2 m lebih dengan berat sekitar 1 ton lebih.

Dari bentuk kolom batuan yang sempurna dengan permukaan membentuk segi lima atau enam, banyak yang menyangka kolom-kolom batu berwarna abu-abu gelap itu sengaja dibuat pembangun situs megalitik dengan dipahat satu demi satu. Padahal proses geologis pendinginan dan pembekuan batuan yang tadinya berbentuk cairan silika sangat panas, dapat membentuk kolom-kolom batuan tersebut secara alamiah.

kolom2 batu di situs megalitik G. Padang (Cianjurkab.go.id)

Dalam Geologi, kolom-kolom batuan itu terbentuk akibat adanya kekar-kekar (retakan sistematis). Sistem retakan itu dikenal sebagai kekar kolom (columnar joint). Kekar kolom akan meretakkan tubuh batuan selama proses pendinginannya dari suhu awal sekitar 1000 derajat Celcius secara tegak lurus ke bidang pendinginan, yaitu dasar tempat magma mengalir. Para peneliti mengemukakan bahwa terbentuknya kekar-kekar kolom adalah karena terjadi kontraksi batuan pada saat pendinginannya dari sisi yang mulai mendingin ke arah dalam yang masih sangat panas. Retakan akan terbentuk ketika tekanan-tekanan kontraksi termal berkembang melampaui batas kekuatan massa batuan. Sekali retakan terbentuk, ia akan terus merambat tegak lurus ke arah bidang pendinginan.

Selain kolom-kolom tegak lurus dengan bidang pendinginan, dalam proses yang bersamaan akan terbentuk juga kekar-kekar yang paralel terhadap bidang pendinginan akibat adanya kontak batuan yang telah mendingin dengan bagian di dalamnya yang masih panas. Di beberapa tempat di lapangan, kedua jenis kekar ini sering dijumpai bersama-sama, seperti misalnya di Gunung Batu, Lembang, Bandung Utara, atau di Gunung Koromong, Bale Endah, Bandung Selatan. Banyak juga para geolog yang tadinya menduga kekar-kekar paralel pada tubuh batuan beku yang berlembar-lembar adalah akibat proses regangan ketika terjadi kehilangan beban berat di atasnya.

Kolom-kolom batu situs Gunung Padang terjadi secara alamiah. Sebuah intrusi magma dangkal diperkirakan menerobos wilayah Kecamatan Campaka 1 hingga 2 juta tahun yang lalu, dan satu terobosan tersebut di antaranya menyembul ke permukaan membentuk Gunung Padang sekarang ini. Berribu-ribu tahun kemudian setelah proses penerobosan magma yang mendingin itu, masyarakat megalitik yang luar biasa tekun menemukan warisan alam kolom-kolom batu ini. Mereka mendapatkan sebuah bukit dengan kolom-kolom tegak memanjang yang tersebar di kaki bukitnya. Lalu, diperkirakan dengan perhitungan geografis dan astronomis yang sesuai dengan kepercayaan mereka, kolom-kolom batu berat itu diangkat satu per satu ke atas puncak bukit untuk dibentuk bangunan berundak-undak yang mengarah ke Gunung Gede seperti yang kita lihat sekarang.

Kolom Batu di Dunia

Kolom-kolom batu yang terbentuk dengan sudut empat (tetragonal), lima (pentagonal) atau umumnya enam (heksagonal) membuat setiap orang yang melihatnya akan kagum karena dimensinya begitu sempurna. Dari pandangan awam, batu-batu tersebut dengan mudah disimpulkan sebagai buatan manusia. Di Irlandia, kolom-kolom batu basalt dengan permukaan heksagonal berdiameter besar membentuk undak-undak alamiah sehingga tempat tersebut dikenal sebagai Titian Raksasa (the Giant’s Causeway).

Giant's Causeway di Irlandia (irelandtourismguide.com)

Di negara bagian Wyoming, Amerika Serikat, sebuah monumen nasional bernama Devil’s Tower (Menara Setan) menjulang dengan lereng tegak bergaris-garis yang dibentuk dari kolom-kolom batu basalt. Dari garis-garis yang dibentuk memanjang dari puncak gunung hingga dasarnya, masyarakat asli Amerika (Indian) mempunyai legenda yang menarik. Menurut legenda tersebut, jaman dulu garis-garis tersebut terbentuk akibat goresan cakar-cakar beruang raksasa yang mencoba mengejar para pejuang Indian itu yang berlindung di puncak bukit. Usaha beruang raksasa untuk naik ke lereng terjal gunung itulah yang membentuk garis-garis di gunung tersebut dan pecahannya yang terserak di kaki bukit.

devil's tower di Wyoming, AS (travel-notes.com)

Banyak lagi tempat di dunia yang berkaitan dengan kolom-kolom batuan tersebut. Karena ukurannya yang luar biasa, gunung-gunung berkolom batu sisa-sisa aktifitas magmatik itu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat gigantik dan kejadian yang adi-kodrati. Apakah itu merupakan titian para raksasa, beruang raksasa, atau hasil buatan setan atau dewa.

legenda devil's tower (indiantodaymedianet.com)

Di Indonesia yang merupakan kepulauan yang dibentuk dari rangkaian gunung-gunung api, jika digali lebih lanjut, cerita yang berkaitan dengan kolom-kolom batu yang tersebar di banyak tempat, umumnya selalu berkaitan dengan sesuatu yang bersifat keramat. Kepercayaan tersebut rupanya sudah diyakini oleh para leluhur kita, terutama pada Zaman Neolitikum yang satu masanya dikenal sebagai budaya megalitik, yaitu kepercayaan yang direpresentasikan dengan pembangunan arca-arca atau pendirian kolom-kolom batu tegak menhir.

Menhir tersebar luas di Indonesia. Bersesuaian dengan lingkungan geologinya, banyak menhir dengan memanfaatkan kolom-kolom batu basalt yang tersedia secara alamiah untuk dibawa, diangkut, dan diberdirikan pada tempat-tempat yang dianggap suci bagi mereka. Situs-situs purbakala di Flores, Kerinci, Lahat, Purbalingga, hingga Palabuhanratu dan Gunung Padang jelas merupakan pemanfaatan kolom batu alamiah sebagai menhir yang merupakan simbol kekuatan yang di masa kemudian, terutama masa-masa agama Hindu, dikenal sebagai lingga.

Gunung Lalakon

Baru-baru ini masyarakat kita dibuat penasaran dengan suatu pendapat dari satu kelompok yang mengklaim telah menemukan bangunan piramida di Gunung Lalakon, utara Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kelompok tersebut berkeyakinan atas dasar interpretasi warisan para leluhur yang kemudian dikonfirmasi dengan penelitian geolistrik, bahwa Gunung Lalakon yang dua sisinya membentuk bidang menyudut mirip piramida, adalah tinggalan kehebatan para leluhur yang selama ini disembunyikan (decoy).

Untuk membuktikan itu, Maret 2011 lalu mereka melakukan penggalian di puncak Gunung Lalakon, hanya 4 m dari fondasi menara listrik tegangan tinggi yang membentang dari PLTA Saguling. Dari galian sedalam lebih kurang 2 m, mereka mengklaim menemukan bronjong-bronjong batu yang dianggap sebagai bagian dari bangunan piramida tersebut.

Terlepas dari keyakinan mereka yang tidak mendasarkan pada temuan-temuan dan penelitian arkeologis sebelumnya yang sebenarnya cukup luas di Indonesia, secara geologis, Gunung Lalakon merupakan satu dari banyak bukit di utara Soreang atau selatan Cimahi yang merupakan produk aktifitas magmatik selama Kala Pliosen, sekitar 4 juta tahun yang lalu. Dalam kala itu, aktifitas magmatik di sekitar Gunung Lalakon merupakan indikasi awal bergesernya jajaran magmatik-vulkanik ke arah utara di Jawa Barat. Maka di kawasan tersebut, selain Gunung Lalakon yang memang membentuk morfologi kerucut, kita akan menjumpai kerucut-kerucut lain, di antaranya Pasir Salam Masoro di rangkaian Gunung Lagadar – Gunung Bohong Cimahi, Pasir Selacau di Batujajar, Gunung Pancir dan Gunung Paseban di Cipatik, hingga Gunung Singa dan Gunung Sadu di Soreang. Ke arah Cililin, sisa-sisa kompleks gunung api purba ini semakin meluas.

Di Gunung Pancir, Paseban, Salam Masoro, dan Selacau, aktifitas galian batu andesit intensif dilakukan sejak tahun 1980-an. Galian-galian itu menyingkap enigma perbukitan yang di dalam Geologi Cekungan Bandung dikenal sebagai Kompleks Selacau – Lagadar. Di Pasir Salam Masoro dan Selacau, galian batu menyingkap susunan kolom-kolom andesit-basaltis tegak yang mirip Menara Setan Wyoming. Di Gunung Pancir, persis bersebelahan dengan Gunung Lalakon, galian batu memperlihatkan kolom-kolom batu yang tampak miring.


kolom-kolom andesit alamiah di Pr. Salam, Lagadar, yg bisa dianggap
bronjong oleh orang awam (Foto: Andri SS MUbandi)


kolom-kolom batu di G. Pancir, tetangga G. Lalakon
(Foto BB 2005)

Jadi bukan tidak mungkin bahwa bronjong-bronjong batu yang digali untuk membuktikan sebagai bagian dari bangunan piramida di Gunung Lalakon, sebenarnya hanyalah bagian dari kolom-kolom batu alamiah yang membentuk kerucut gunung itu. Memang, kolom-kolom batu itu membentuk struktur dan bentuk yang sempurna, sehingga banyak yang terkecoh menganggapnya sebagai buatan manusia. Padahal hukum alam pun telah bekerja dengan begitu sempurna, bahkan lebih sempurna dari buatan manusia. ***


G. Lalakaon berbentuk kerucut yg oleh orang Kp Mahmud disebut
G. Aseupan (Kukusan).

Budi Brahmantyo, geolog dan dosen Teknik Geologi di FITB, ITB; anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Bertemu Palindo, Sang Penghibur dari Lembah Bada

Suparman dengan sok yakin mengatakan bahwa soal perjalanan di pelosok Sulawesi Tengah, dialah jagonya. Ketika ditanya, “Apakah pernah ke Bewa?”, dengan raut muka ceria sambil tersenyum ia menjawab meyakinkan, “Pernah. Dari Tentena ke Bewa kira-kira sama lamanya dari Poso ke Tentena. Satu setengah jam!” Lalu inilah perjalanan satu setengah jam yang menjadi hampir seharian.

thx Widya Np atas peta ini

Pengemudi mobil rental itu memang namanya berbau Jawa. Namun ia sendiri mengaku nama itu “dipinjam” bapaknya dari nama Jawa. Ia sebenarnya asli Kaili, suku bangsa mayoritas yang mendiami sekitar Kota Palu. Nama keluarganya Lahajiro. Suparman Lahajiro akhirnya hanya tergelak mengaku bahwa angan-angannya saja yang pernah melanglang ke Bewa.

Mau bagaimana lagi, jalan ke Bewa berjarak lebih kurang 60 km dari Tentena dengan Avanza akhirnya ditempuh selama 6 jam! Tetapi dengan kecepatan rata-rata hanya 10 km/jam itu, terobati dengan pemandangan hutan asri Pegunungan Lore Selatan, Sulawesi Tengah.

Untunglah Suparman yang pernah bekerja sebagai supir truk logging, sangat terampil mengemudi. Avanza pun terguncang-guncang di jalan yang umumnya berbatu, tidak rata, sekali-kali aspal mulus, tetapi lebih banyak harus berhati-hati melalui jalan ambles akibat longsor, atau hancur karena tanah lapuk menjadi lempung.

Bagaimana jalan tidak hancur? Jalurnya melewati relief kasar dengan lereng-lereng terjal pada batugamping abu-abu yang mengalami proses metamorfosis sehingga menjadi marmer (pualam), tetapi mengalami retakan yang intensif akibat deformasi yang kuat khas jalur patahan Sesar Palu-Koro. Setelah melewati batugamping marmer abu-abu, jalan melewati jalur yang lebih parah pada Kompleks Pompangeo yang terdiri dari batuan ofiolit, terutama didominasi sabak, filit dan sekis yang seluruhnya mudah melapuk dan longsor. Seluruh bebatuan ini umurnya sangat tua, yaitu Kapur Akhir hingga Tersier Awal (sekitar 65 juta tahun yang lalu).

Perjalanan parah dimulai dari suatu tinggian tempat kita bisa memandang Danau Poso, Petirorano, yang berarti “tempat memandang danau.” Setelah melalui dua jembatan sungai besar Salo Malei dan turunan hancur (yang pada perjalanan pulang akan menjadi tanjakan lempung licin), akhirnya sampailah pada tinggian lain yang disebut Petirobada (tempat memandang Lembah Bada). Ketika matahari mulai tergelincir ke barat, Desa Bomba dijumpai pertama di Lembah Bada itu.

Arca Megalitik Lembah Bada

Entah kapan saya pernah membaca di koran atau majalah tentang tinggalan arca-arca Megalitik di hutan ilalang Sulawesi Tengah. Ingatan akan foto arca pada artikel itu rasanya langsung menyergap ketika Bakosurtanal mengajak saya untuk survei lapangan dalam rangka Penyusunan Atlas Bentang Lahan Sulawesi Tengah. Sekalipun tadinya pada rencana awal tidak ada satu titik observasi di Lembah Bada, saya sedikit membujuk pak Turmudi yang bertanggung jawab di projek itu untuk memasukkan Lembah Bada sebagai satu wilayah yang penting untuk diobservasi. Untunglah negosiasi berhasil. Jadilah satu hari diperuntukan ke Lembah Bada yang ternyata pencapaiannya sedikit perlu perjuangan.

Lembah Bada sore itu telah menjelang. Memasuki Bomba, berseliweran beberapa motor yang di antaranya dikendarai gadis-gadis. Ada yang menarik dari gadis-gadis itu. Mereka tampak putih, manis, dan cantik. Sedikit berbeda dengan kebanyakan gadis di Kabupaten Poso pada umumnya.

Lepas dari perhatian gadis-gadis yang menawan itu, di perempatan Desa Bewa yang menjadi tujuan utama, arca Megalitik menyambut kami. Arca yang terbuat dari batu sekis itu sengaja dipindahkan dari tempat aslinya di Padang Sepe sebagai penanda Lembah Bada, rumah bagi arca-arca artistik tinggalan Megalitik. Wajahnya sengaja dihadapkan ke utara, tempat arca itu berasal. Dari satu situs blog didapat nama arca batu sekis ini: Ariimpohi; yang artinya “pos tengah.”

Atas jasa seorang gadis manis juga akhirnya ditunjukkan di mana Padang Sepe berada. Mengejar sore yang mulai teduh, tanpa buang waktu kami mengejar Desa Lengkeka, ke arah Gintu, menyeberangi jembatan Salo Lairiang, menyusuri jalan batu, sampai akhirnya tibalah di suatu padang ilalang terbuka. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa bangunan tradisional baru sebagai daya tarik wisata. Dan, gambar arca yang mengembara di sudut-sudut memori ini  akhirnya mulai terwujud nyata di depan mata. Arca Palindo!

3 arca yg dikunjungi

Arca itu sangat menawan. Wujudnya seperti menhir dengan panjang lingkar hampir 4 m dan tinggi 4 m juga. Arca yang dipahat pada batu granit putih yang sangat keras itu miring 30o ke arah selatan. Kemiringan ini mungkin tidak disengaja oleh si pendirinya. Besar kemungkinan akibat amblesan tanah fondasi tempat arca tersebut diberdirikan. Ternyata satu foto tua yang didapat dari situs infowisatasulawesitengah.com memperlihatkan orang-orang Belanda pada 1930-an berfoto di arca Palindo yang juga sudah dalam posisi miring.

 
infowisatasulawesitengah.wordpress.com

Palindo yang berarti “sang penghibur” berwajah ceria dan ramah. Secara sekilas saya agak heran karena mirip satu karakter pada serial anak-anak dari TV BBC “teletubbies.” Kesan penghibur begitu kuat ketika pahatan hidungnya yang menonjol memberikan gambaran mulut yang sedang tersenyum. Arca Palindo (dan arca Megalitik lain di Lembah Bada) sejatinya tidak bermulut. Kesan adanya mulut yang tersenyum di arca Palindo adalah akibat air hujan yang tidak “mengotori” bagian bawah hidung sehingga masih tampak putih dari wajah sekitarnya.

Kekaguman terhadap hasil karya budaya Megalitik mengkristal karena sebagai geolog saya tahu persis betapa kerasnya batu granit yang menjadi bahan pembuatan arca ini. Dengan mineral dominan kuarsa yang mempunyai kekerasan 7 pada skala Mohs, pemahatannya harus dengan bahan yang lebih keras daripada kuarsa: topaz, korundum, atau … intan!

Apakah masyarakat Megalitik Lembah Bada telah memasuki budaya logam? Zaman Besi? Namun sekalipun sudah mengenal besi, betapa susahnya memahat granit dengan besi yang kekerasannya hanya setara antara 5 dan 6 skala Mohs. Sayangnya laporan arkeologi belum lengkap. Belum ada laporan apakah mereka meninggalkan peralatan besi. Saya menduga mereka memahat lengkungan dahi-hidung yang sempurna itu dengan menggunakan granit juga. Atau boleh jadi mereka telah menemukan topaz, korundum atau intan yang lebih memudahkan pekerjaan mereka.

Dari Sang Penghibur Palindo di Padang Sepe, ketika matahari semakin condong, dengan terpaksa kami hanya bisa mengunjungi satu arca lagi di Bomba: Langka Bulawa. Jika arca Palindo jelas berkelamin laki-laki dengan gambaran penis yang dipahat di bagian bawah arca, Langka Bulawa berjenis kelamin perempuan. Tanda kelaminnya juga dipahat di bagian bawah arca yang sedikit terkubur tanah. Keterangan di plank menyatakan bahwa Langka Bulawa berarti Ratu Bergelang Kaki Emas. Entah bagaimana penamaan arca ini karena arca-arca Lembah Bada tidak menunjukkan adanya kaki.

Tetapi satu hal yang jelas dan menarik adalah bahwa kedua wajah arca yang jaraknya berjauhan, kira-kira terpisah 5 km, dihadapkan ke arah barat. Sayangnya para pengunjung lain yang mengunjungi arca-arca lain kurang rajin menggunakan kompas untuk mengetahui orientasi wajah arca-arca Megalitik ini. Jika dari dua arca Palindo dan Langka Bulawa saja dapat dijadikan acuan, maka ada pendapat bahwa wajah arca yang dihadapkan ke arah barat diduga sebagai penghormatan masyarakat Megalitik atas asal-usul mereka yang datang dari arah barat.

Selain di Lembah Bada, arca-arca Megalitik dengan lumpang-lumbang batu ditemukan di Lembah Behoa, sebelah utara Bada. Temuan lumpang-lumpang batu juga dijumpai dan dikumpulkan menjadi Taman Purbakala di Desa Vatunonju (artinya batu berlubang), Biromaru, Kecamatan Sigi, Kabupaten Sigi, lebih kurang 5 km sebelah tenggara Kota Palu.

Dari fakta ini saya kemudian menerawang dari mana kiranya jalur migrasi masyarakat Megalitik ini. Mungkinkah mereka mendarat di Teluk Bone, muara Salo Lairiang di selatan? Ketika penyebaran tinggalan Megalitik lebih menyebar ke utara, dugaan paling kuat adalah mereka mendarat di Teluk Palu, lalu bergerak ke selatan ke arah Lembah Bada, melalui lembah Sungai Palu yang lurus dibelah Sesar Palu-Koro. Lalu jangan-jangan mereka terus bergerak semakin ke selatan hingga mencapai Toraja. Budaya Toraja di kalangan antropolog masih dianggap sisa-sisa peninggalan budaya Megalitik.

Lembah Bada masih menyimpan banyak tinggalan arca. Memang sedikitnya perlu satu dua hari lagi untuk bisa menjelajah Lembah Bada dengan seluruh arca-arcanya. Sebaran arca-arca lain akhirnya hanya terlacak melalui selancar di internet. Namun bertemu arca Ariimpohi, Palindo, dan Langka Bulawa sudah sangat memuaskan dalam kunjungan sangat singkat itu.

infowisatasulawesitengah.wordpress.com

Lembah Bada yang dikelilingi pegunungan Lore Selatan yang didominasi batuan granit dan ofiolit metamorfosis, nyata sekali merupakan cekungan depresional yang kemungkinan besar dikontrol oleh sesar-sesar yang centang-perentang di Sulawesi Tengah. Melaju di dataran antara Bomba – Bewa – Gintu dengan sawah-sawah yang luas, rawa-rawa yang masih tersisa, dan Salo Lairiang yang bermeander, dapat diduga dulunya lembah ini kemungkinan merupakan danau pula; seperti halnya Danau Lindu di utaranya dan Danau Poso di timurnya. Arca Palindo dan Langka Bulawa sangat jelas ditempatkan pada kaki-kaki bukit yang diperkirakan kawasan kering dari genangan danau (pantai danau).

Jika rekonstruksi imajinasi ini benar, betapa indahnya 3500 tahun yang lalu, ketika masyarakat Megalitik di sekitar Danau Bada menjalani kehidupan mereka. Pantai danau dihiasi arca-arca di sekelilingnya yang pandangan wajahnya mengingatkan asal-usul dari arah mana kedatangan para leluhur mereka.

Ketika langit semakin meredup, kami segera bergerak kembali menuju Tentena melalui jalan yang pagi dan siang dilewati dengan susah payah. Di tanjakan licin, saat mobil-mobil lain membelitkan rantai di ban mereka, Suparman bersusah payah melewatinya dengan tambahan tenaga dorong. Bergelut naik dengan beberapa kali menggelincir disertai bau angus karet ban karena slip di permukaan yang licin, akhirnya Suparman berhasil melewati halangan berat itu tepat ketika gelap menyelimuti pegunungan.

Suparman Lahajiro akhirnya sekarang benar-benar pernah ke Bewa, Lembah Bada. Di Palu dengan bangga ia membual kepada Mulyadi temannya sesama pengemudi mobil rental yang tidak percaya bahwa Avanza dengan mulus berhasil masuk dan keluar dari Lembah Bada. ***

Reinder Fennema: Geolog yang Tenggelam di Danau Poso 1897

fennema (www.biografischportaal.nl)

Nama Fennema tidak begitu dikenal dalam Geologi Indonesia. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang mendalami Geologi, nama itu tenggelam di antara nama-nama geolog Belanda lainnya seperti R.W. van Bemmelen, R.D.M. Verbeek, Th. F.Klompe, Ch. E. Stehn, B.G. Escher, atau bahkan oleh geolog Indonesia sendiri, J.A. Katili. Di antara nama-nama itu, van Bemmelen dan Katili lebih mudah dirujuk karena buku-buku yang ditulisnya.

Namun ketika survei untuk penyusunan Atlas Bentang Lahan (Landscape) Sulawesi bersama Bakosurtanal, awal Juli 2011, tiba-tiba nama Reinder Fennema muncul begitu saja di Tentena. Sebenarnya sudah berkali-kali kami melewati tugu di pertigaan Tentena pada jalan Trans-Sulawesi Timur itu ketika secara samar-samar saya teringat pada buku fotokopi pemberian T.Bachtiar: 125 Tahun Penyelidikan Geologi Indonesia, Perkenalan dengan Beberapa Perintis Geologi di Indonesia, yang diterbitkan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 di Bandung, 1975.

Tulisan yang diterbitkan pada tahun ketika saya masih pakai celana pendek abu-abu kelas 1 SMPN 3 Bandung, mengingatkan saya akan suatu peristiwa adanya seorang geolog Belanda yang tenggelam di Danau Poso. Di hari terakhir survei, kebetulan mobil antre panjang di SPBU Tentena untuk bensin yang melangka di Sulawesi Tengah. Saya segera menyempatkan untuk melihat tugu itu. Jangan-jangan tugu itu untuk memperingati peristiwa tenggelamnya geolog Belanda itu.

Tugu Tenggelamnya Fennema di Tentena

Ah betul saja! Di prasasti marmer tertulis dalam bahasa Belanda:

Herrinnering aan

REINDER FENNEMA

hoofdingenieur by het mynwezen

verdronken in het Posso Meer

27 November 1897.

Kalimat itu melalui Google-translate disarankan diubah sebagai berikut: Herinnering aan REINDER FENNEMA hoofdingenieur bij het mijnwezen verdronken in het Posso Meer 27 November 1897; yang diartikan: peringatan Fennema REINDERS chief engineer untuk pertambangan tenggelam di Posso Lebih 27 November 1897.

Memang google sering rada ngaco juga :) Ya artinya pasti begini: peringatan kepada Reinder Fennema insinyur kepala  untuk pertambangan, tenggelam di Danau Poso 27 November 1897.

Dari buku IAGI 1975 itulah diceritakan bagaimana Fennema bersama J.F. de Corte dan empat orang pembantu dari Minahasa pada sore 27 November 1897 bertolak dengan perahu dari pantai barat untuk menuju Peura di pantai timur. Cuaca yang tadinya tenang tiba-tiba berubah. Angin kencang bertiup dan gelombang besar datang menggulingkan perahu. Semua selamat dengan berpegangan pada badan perahu yang terbalik. Pada sekitar pukul 8 malam, di antara cuaca yang hitam pekat dan angin menderu-deru, de Corte mendengar teriakan lemah dari arah Fennema. Namun sebelum semua sempat menyadari, mereka telah mendapati Fennema hilang tidak berpegangan lagi pada perahu. Mereka hanya pasrah, mengingat tenaga mereka yang sama-sama lemah yang hanya sanggup untuk berpegangan di badan perahu selama lebih dari lima jam dalam suhu air yang sangat dingin.

sketsa Danau Poso, dan kira2 lokasi Peura dan Tentena (arah utara ke kiri gambar)

Dua jam kemudian, cuaca membaik. Susah payah mereka membalikkan perahunya. Dengan sisa-sia tenaga, satu per satu naik ke perahu.  Saat matahari subuh menyingsing, barulah mereka tahu bahwa pantai barat ternyata tidak begitu jauh. Masyarakat segera menolong dan kembali mencoba mencari Fennema. Namun sia-sia. Tubuh Fennema hilang ditelan kedalaman Danau Poso, bersama segala peralatan eksplorasi geologi dan contoh-contoh batuan yang dikumpulkannya. Sampai kini mayatnya tidak pernah ditemukan. Sungguh tragis.

Tetapi di balik peristiwa mengenaskan itu, penjelajahan eksplorasi geologi memang selalu menantang. Medan-medan yang berat dan jauh justru menantang untuk dijelajahi. Zaman sekarang kesadaran akan keselamatan sudah cukup tinggi. Prosedur keselamatan dan asesoris pendukungnya disiapkan. Tentu saja pada beberapa kasus, sekalipun antisipasi terhadap kecelakan sudah maksimal, kadang-kadang peristiwa alam yang berubah tidak terduga, bisa membawa kecelakaan fatal. Apalagi kalau kita sembrono dan tanpa persiapan.

Dari catatan Verbeek 1903: Levensbericht van Reinder Fennema yang dikutip buku IAGI 1975, Fennema terlahir di Sneek, Friesland, Belanda, 21 Oktober 1849. Ia masuk sekolah politeknik pertambangan di Delft. Pada masa itu, ia lebih banyak studi dan magang dalam eksplorasi mineral, seperti di Jerman, Inggris dan Skotlandia. Studinya berlanjut ke Mijnakademie Clausthal, Pegunungan Hartz, Jerman, sebelum kemudian lulus ujian C di Delft 1872. Setahun kemudian ia mulai bekerja di banyak tempat di Eropa dan mulai bertugas di Jakarta pada April 1874 dengan diangkat sebagai insinyur kelas 3.

Ia sempat membantu R.D.M. Verbeek (geolog yang kemudian terkenal dengan penyelidikannya atas letusan Krakatau 1883) dalam pemetaan geologi Sumatra Barat. Rupanya Fennema dapat dikatakan sebagai seorang ahli hidrogeologi pertama di Indonesia dengan menyandang insinyur kelas 2. Eksplorasi air tanah dengan pengeboran ia lakukan di Jakarta dan Jawa Tengah 1878; Surabaya, Pasuruan, Lasem dan Rembang 1879; dan Gombong 1880, serta beberapa tahun kemudian di Medan 1886. Pada 1880 dengan teman mahasiswanya Hooze, dan Verbeen melakukan eksplorasi emas di Jasinga, Banten. Namun bulan September 1880 ia ditugaskan ke Bengkulu untuk eksplorasi batubara. Rupanya tugas di Bengkulu sangat berat. Fennema sakit dan mengambil cuti kembali ke Belanda selama dua setengah tahun berikutnya. Sudah suratan nasibnya ia tidak menjadi saksi letusan Krakatau 27 Agustus 1883 yang kemudian mencuatkan nama seniornya, Verbeek.

Oktober 1884, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di Ijo, Pegunungan Karst Karangbolong, untuk kemudian ke Priangan. Januari 1885 ia diangkat menjadi insinyur kelas 1. Tahun itu juga pada bulan November, ia menikah dengan E. de Bruine. Pada 1886 ia ditugasi untuk studi kelayakan Langkat dalam bidang migas dan 1888 kembali bersama Verbeek menyusun Peta Geologi Jawa dan Madura.

Fennema diangkat menjadi insinyur kepala pada November 1893 dan tugas pertamanya sebagai insinyur kepala adalah penyelidikan G. Galunggung yang meletus 18 – 19 Oktober 1893. Setelah cuti di Belanda, ia kembali diangkat sebagai insinyur kepala pada 1896 untuk banyak tugas eksplorasi mineral di Sulawesi. Setahun kemudian, pada eksplorasi geologi bersamaan dengan penyelidikan apakah Daerah Poso berada pada wilayah Kerajaan Luwuk, terbaliknya perahu yang ditumpanginya di Danau Poso mengakhiri hidupnya selama 48 tahun.

Tentena, kota yang berada di tepi Danau Poso, pada saat saya kunjungi terlihat aman dan damai. Kota kecamatan di Kabupaten Poso ini selama masa konflik SARA pada pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an, terimbas juga sekalipun tidak segawat Poso kota. Ketika saya tanyakan kepada pemilik toko yang berada persis di depan Tugu Fennema apakah maksud tugu peringatan itu, mereka menggelengkan kepalanya tidak tahu.

Jangankan dalam Bahasa Belanda, sekalipun ditulis dengan Bahasa Indonesia, mungkin sekali mereka pun tidak tahu satu peristiwa bersejarah di dekat kediamannya. Bagi mereka, siapa Fennema, mungkin hanyalah seorang Belanda biasa. Bagi mahasiswa geologi pun, tidak banyak yang tahu siapa Fennema. Namun bagi Pemerintah Hindia Belanda, jasa Fennema  sang insinyur kepala itu begitu dihargai. Selain di Tentena, satu prasasti juga terpajang di Museum Geologi Bandung:

aan

de gedachtenis

van

den hoofdingenieur van het mijnwezen

in Nederlandsch Indie

REINDER FENNEMA

den trouwe vriend

den edelan mensch

den bescheided geleerde

(Mengenang insinyur kepala pada Jawatan Pertambangan di Hindia Belanda REINDER FENNEMA, kawan yang setia, manusia yang mulia, sarjana yang rendah hati).

Dunia Lain bagi Gadis Estonia dan 16 Mahasiswa Asing

Naskah lama baru ditemukan dari sudut-sudut direktori. Sayang kalau dibuang.

Hari itu, empat tahun yang lalu, Sabtu pagi 11 Agustus 2007, sebuah bus pariwisata berkapasitas 30 tempat duduk meluncur dari kawasan perbukitan Dago Pakar. Dalam udara pagi Bandung yang masih dingin menggigit di tengah musim kemarau itu, bus menuju ke arah barat Bandung. Tujuan pertamanya: Gua Pawon.

Meski masih menyisakan kantuk, para penumpang bus kelihatan bersemangat ketika saya menjelaskan bahwa Bukit Dago Pakar tempat mereka menginap, dulunya merupakan hunian purbakala masyarakat Bandung jaman batu. Para penumpang bus itu, 17 di antaranya adalah para mahasiswa asing, didampingi delapan mahasiswa Indonesia yang menjadi tuan rumah. Mereka datang ke Bandung melalui suatu program pertukaran kunjungan yang dikoordinasi oleh satu kelompok independen mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Isafis (Indonesia Student Association for International Studies).

Dari ke-17 mahasiswa asing itu, sebelas adalah para mahasiswi, yaitu Barbara Asu (Estonia, 23 tahun), Elis Allas (Estonia, 22), Deng Yilin (China, 21), Zhou Yan Bing (China, 20), Xue Song (China, 20), Keiko Kishimoto (Jepang, 19), Atsuko Tanaka (Jepang, 20), Yuki Kurokawa (Jepang, 21), Katharina Maria Zweng (Austria, 23), Xiaohan Li (Finlandia asal China, 25), dan Kirsten Yara van der Poel (Belanda, 23). Para mahasiswanya adalah Arjen Jonk (Belanda, 24), Boris Cencen (Slovenia, 23), Jakub Razowski (Polandia, 20), Oscar Monino Marquez (Spanyol, 23), Peng Yan (Finlandia asal China, 28), dan Pier Paolo D’Angelo (Italia, 29).

Amazing

Lokasi limbah pabrik tepung karbonat Bukit Ashar di G. Masigit

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Situs Gua Pawon yang terletak di perbukitan kars Citatah 24 km dari Bandung. Saat tiba di sana, matahari sudah cukup tinggi dan udara sudah hangat. “This is the tropical rythm,”

komentar Oscar dari Spanyol. Seperti kunjungan-kunjungan treking ke bukit Pawon, rombongan turun di Cisaladah dan berjalan kaki menyusuri jalan tambang yang berdebu putih.

Di sinilah mereka tercenung bagaimana perbukitan kars yang mestinya indah, ternyata porak poranda oleh penambangan batu kapur. Limbah pecahan batu dan tepung kapur yang dibuang di satu lekukan dekat bukit Gunungmasigit, menjadi bukti bagaimana pabrik-pabrik batu kapur sangat tidak ramah lingkungan dalam kegiatan industrinya.

di atas Puncak Pawon dg ltr blk G.Masigit

Kondisi tempat pembuangan limbah yang kotor berdebu ditambah panas menyengat membuat muka-muka bule mereka langsung kemerahan. Keringat mengucur deras. Sebotol air mineral sudah tampak makin menipis. Namun di sela-sela kepanasan itu, beberapa mahasiswa masih

sempat-sempatnya menanyakan nama tumbuhan dan tanaman. Mereka begitu takjub dengan pohon pisang! Tahu buahnya tetapi tidak menyangka kalau pohonnya seperti yang pertama kali mereka lihat itu. Mereka pun berebutan berfoto di bawah pohon pisang. Seorang petani yang ada di situ agak heran melihat kelakuan bule-bule itu. Mungkin dalam pikirnya, “tangkal-tangkal cau wae meni heboh....”

di Gua Ruang Tujuh, Gua Pawon

Di atas puncak Pawon yang terkenal sebagai Stone Garden, panas matahari yang semakin menyengat sedikit terobati dengan pemandangan yang mempesona. Keterpesonaan juga berlanjut di dalam Gua Pawon. Cerita Gua Pawon sebagai gua hunian manusia purbakala menjadi diskusi menarik.

Lokasi berikutnya setelah Citatah adalah Kawah Putih, G. Patuha, selatan Ciwidey. Setelah kekacauan giliran naik mobil ontang-anting yang untuk orang-orang Indonesia tidak pernah bisa berbudaya antre, akhirnya seluruh peserta tiba di Kawah Putih hampir menjelang pkl. 17.00. Udara sangat dingin dan kabut mulai menyelimuti G. Patuha. Tapi di sini semua terpana. Sampai menjelang maghrib, mereka belum mau beranjak turun.

Sebagai wakil keterpanaan mereka, Elis Allas dari Estonia yang negaranya tidak mempunyai gunung api berkomentar bahwa ia merasa ada di dunia lain yang berbeda. Bahkan peserta asal Jepang pun, yang di negaranya banyak gunung api seperti Indonesia, justru baru pertama kali mengunjungi kawah.

Kawah Putih

Begitulah bagaimana gunung api yang tidak dipunyai oleh negara-negara Eropa atau Amerika Utara umumnya, seharusnya gencar dipromosikan sebagai destinasi wisata utama Indonesia. Tapi yah.. kita umumnya sudah merasa genah di zona nyaman. Tidak berani keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang baru.

Inilah beberapa komentar peserta:

Kirsten van der Poel (The Netherlands)
The trip to bandung with the guide was organized well. He really knew a lot about the history of the environment. I have experienced lots of new sights of the nature of Java.

Atsuko Tanaka (Japan)
I really enjoyed our trip to Bandung. We could see the scenery of countryside and everything is new for me, so it is very exciting. Especially, I enjoyed trekking to the cave. It was very great! And the scenery from the top of the mountain also good. I felt I like Indonesia!

Elis Allas & Barbara Asu (Estonia)
The trip to Bandung was very exotic for us because we can’t see anything like this in Estonia. Especially we love the volcano. It was amazing. Also the ride up to the volcano was an extremelly different experience for us. The guide answer all our questions in a professional way, so that we really feel that we got smarter.

Boris Cencen (Slovenia)
It was a nice opportunity to see different things like country side at caves and Bandung was quite different than Jakarta. I was expecting that we also gonna see the old temples. Otherwise it was a nice experience!

Zhou Yan Bing (China)
It’s a good chance to know more about Indonesia. And I found many things new and interesting in this country. The people in this country is kind. I really enjoy the trip here. Wish this country more beautiful!

Deng Yilin (China)
Indonesia is a beautiful country and the people here are very friendly. Our trip is wonderful and we have a good chance to know the traditional culture. And I think it will be a good experience for my life.

Yuki Kurokawa (Japan)
The trip of Bandung was really exciting. I enjoyed so much. The hiking to the mountain was very hard, but I could find that the plants were so different from Japanese plants. We can’t enjoy those sights that is really wide because Japan is not so large like this country. I also enjoyed the sights of the white crater lake. We also have a kind of lake in Hokkaido, Japan, but I’ve never been there so I enjoyed it so much. It was a really beautiful color. The smell of the sulfur was like the Japanese crater. I just thought that I would like to go to hot spring in Japan when I got back.

Oscar Monino (Spain)
The tour around the mountains in Bandung was nice. We enjoyed the beautiful views of the small villages and also the caves, however, the caves were a bit dirty from my point of view. Furthermore the visit to the white crater was amazing. During all the visit the guide was really professional.

Onigiri Monogatari

Catatan Perjalanan ke Akita, Jepang, 23 Juni – 5 Juli 2010. Naskah lama – hampir setahun – yang terus diedit sebelum diunggah.

JAL-726 dari Jakarta mendarat di Narita jam 8 pagi waktu Tokyo. Setelah semua urusan imigrasi selesai dan masuk ke lobby bandara, mungkin karena sedikit celingukan mencari counter JICA, kami Budi Brahmantyo (Geologi ITB),Nyoman Sumawijaya (Geoteknologi LIPI), dan Sunyoto (profesor Teknik Sipil UGM), didatangi dua orang Jepang berjas rapi. Sambil memperlihatkan lencana mereka di balik jas, dalam bahasa Inggris yang baik, mereka meminta kami memperlihatkan paspor. Polisi imigrasi.

Dengan sangat ramah seperti berbasa-basi, mereka menanyakan tujuan kami datang ke Jepang. Setelah tahu semua ijin entry memang valid dan ada surat pengantar dari JICA bahwa kami adalah peserta training “Partnership Project on Geotechnical Disaster Prevention Technology in Hilly and Mountainous Area,” mereka menyerahkan paspor kami dan menunjukkan counter JICA yang hanya beberapa langkah saja dari tempat kami celingukan. Lalu semua urusan mengalir lancar dengan gaya Jepang yang cepat dan tepat waktu.

Dengan bus limousine, kami meluncur ke TCAT (Tokyo City Air Terminal). Di sana sudah ada taksi yang telah menunggu yang kemudian membawa kami ke kantor JICA. Semalam menginap di pusat pelatihan JICA di Tokyo yang sangat internasional, esoknya dengan shinkansen melaju cepat – sangat cepat – ke Akita, lebih kurang 800 km utara Tokyo.

Shinkansen Komachi-13 tiba di Stasiun Akita

Dalam mengejar jadwal keberangkatan dari Stasiun Tokyo, Tokyo Rush Hour harus kami tembus. Berdesak-desakan di kereta api bawah tanah dan berlarian di stasiun penghubung. Akhirnya sebelum naik ke shinkansen, pilihan makan siang di atas kereta yang paling aman dan praktis adalah onigiri. Dan itu adalah pilihan beberapa kali makan siang (bahkan makan malam) selama di Jepang!

onigiri si bola nasi berbentuk segitiga, dan sebotol teh pahit oolong: makan siang di atas shinkansen

Onigiri adalah panganan yang sangat Jepang sekali. Panganan itu hanyalah nasi yang berisi ikan (berbagai jenis), kadang-kadang telur ikan, atau bahkan sesederhana buah cherry asam. Sekarang-sekarang ini sudah bervariasi dengan daging ayam cincang. Tetapi yang jelas, tidak (belum) pernah mendapati isi daging sapi atau babi. Bagian luar diselimuti dengan lembar tipis nori, rumput laut kering khas Jepang. Dengan pilihan isi ikan, bagi muslim, onigiri adalah pilihan yang aman, enak, dan nyaman.

Onigiri yang selalu tersedia di toko-toko kombini (convenient store) dikemas sangat canggih. Dengan hanya merobek dan menarik satu pita plastik, kita sudah dapat mengeluarkan onigiri lengkap dengan bungkus nori untuk kita makan. Sambil melaju di atas kereta api shinkansen yang berkecepatan 200 – 250 km/jam, makan siang tiga buah onigiri dan teh oolong ternyata tidak membuat perut kenyang… Begitulah kisah awal di Jepang ditemani si penganan bola nasi. Onigiri monogatari.

Kota Akita yang Sepi

Hanya 2,5 jam jarak 800 km Tokyo-Akita ditempuh Shinkansen. Setiba di Akita, kami merasakan udara yang sejuk di awal musim panas Jepang yang biasanya sangat gerah karena kelembapan yang tinggi. Wajar, karena Akita berada mendekati lintang utara 40 derajat. Kesejukan itu ditambah suasana kota yang tenang bahkan sepi untuk suatu kota seukuran ibukota perfektorat (setingkat provinsi). Bagi saya, ini adalah kunjungan ke Akita yang kedua kali sejak dulu di tahun 1997 ketika tugas belajar untuk meraih gelar master di Niigata University, kira-kira 200 km di selatan Akita.

Ritual welcome party khas Jepang dan kunjungan ke berbagai kantor yang mirip silaturahim di Indonesia menjadi tradisi yang tidak terelakkan di Jepang. Kami pun berkesempatan bertemu dengan pejabat-pejabat kota, universitas, bahkan disambut Wakil Gubernur Perfektorat Akita yang sempat-sempatnya diliput surat kabar lokal Akita.

potongan Akita Shinbun yang memuat kunjungan ke Wakil Gubernur Akita.

Tradisi lain yang saya rasakan selalu menjadi bagian dari acara kunjungan orang asing ke Jepang adalah mengunjungi museum dan situs-situs atau artefak-artefak kebudayaan Jepang. Ini mungkin cara Jepang untuk menjalin keterikatan orang asing dengan cara mengenalkan Jepang melalui kebudayaannya. Jadilah di antara tujuan utama kami mempelajari penanggulangan longsor di Jepang, selama perjalanan itu banyak juga menjadi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata alam dan budaya Jepang yang memang cantik.

Penanggulanagn Longsor yang Extravaganza

Pada awalnya tujuan training ini adalah memperkenalkan teknologi Jepang dalam penanggulangan longsor. Kami tentu saja senang mendapat pengetahuan baru dalam penanggulangan longsor. Akan tetapi terdapat beberapa hal yang membuat kami terheran-heran dan bertanya-tanya.

Pertama, longsoran besar memang terjadi dan potensial menjadi bencana besar. Namun lokasi longsor kebanyakan adalah hutan lindung. Bencana yang terjadi “hanya” menimpa satu hotel spa di Plateau Hachimantai. Longsoran Yachi yang luar biasa besar umumnya bersifat merayap (creep) walaupun beberapa bagian menjadi sangat besar dengan ancaman utama terhadap beberapa kampung, pesawahan, dan jalan provinsi yang tidak terlalu ramai. Longsoran yang terpicu gempa bumi memang sangat rawan mengancam keberlangsungan bendungan yang terdapat di perbatasan Perfektorat Iwate dan Miyagi. Baru di sinilah penanganan longsor memang sangat diperlukan mengingat keberlangsungan bendungan yang harus dipertahankan.

penanganan longsor raksasa Yachi yang extravaganza dan sangat mahal

Kedua, cara penanganannya benar-benar extravaganza dan berbiaya besar. Teknologi penanaman berpuluh-puluh angker, pengupasan dan pembuatan drainase di badan longsoran yang nantinya akan ditutup tanah kembali, pembuatan dinding-dinding tebal penahan lereng, serta pembuatan sumur-sumur vertikal raksasa dengan bagian bawah dibor untuk sumur-sumur horizontal, benar-benar memakan biaya yang sangat mahal. Bahkan para insinyur Jepang pun mengakui kalau usaha penanggulangan dengan teknologi tersebut sangat mahal. Apalagi jika dihitung dengan kurs rupiah yang mendekati 90 kali lipatnya!

Terakhir, JICA berharap bahwa pengetahuan yang didapat selama kunjungan ke Jepang dapat ditransfer kepada mahasiswa-mahasiswa di Indonesia. Tentu saja tidak ada masalah dengan harapan ini. Dengan mudah saya menyampaikan hal tersebut dalam kuliah saya yang kebetulan mengampu mata kuliah Geologi Lingkungan. Beberapa materi kuliah tentang bencana alam sudah memasukkan pengalaman kunjungan ke Jepang walaupun tetap dengan menyertakan kedua pertanyaan besar di atas sebagai bahan pemikiran mahasiswa: adakah metoda yang lebih efektif dan efisien dalam penanggulangan longsoran di tengah keterbatasan dana dan lebih-lebih ketidakpedulian mitigasi bencana?

Kisah si bola nasi berakhir ketika kami sudah mendapat tiket dari Sendai ke Tokyo. Kami pun kembali menginap semalam di JICA Tokyo setelah siangnya sempat berjalan-jalan ke Kuil Asakusa yang terkenal di Tokyo dan mencari oleh-oleh di Akihabara. Keesokan harinya, bus limousine dari TCAT kembali membawa kami ke Bandara Internasional Tokyo di Narita, dan JAL-725 menerbangkan kami kembali ke Jakarta.

dari kiri: Prof. Ito, Budi Brahmantyo, Nyoman Sumawijaya, dan Prof Sunyoto di kawah Hachimantai-Osarizawa

Hampir setahun setelah kunjungan ke Jepang, 11 Maret 2011, gempa berbesaran 9.0 dan menimbulkan tsunami dahsyat melanda pantai-pantai Sendai (Miyagi) dan pantai-pantai timur Pulau Honshu yang berhadapan dengan Samudera Pasifik. Ketika tayangan-tayangan televisi memperlihatkan the killer wave tersebut menghantam pantai, ingatan segera melayang ke pantai Matsushima, 25 km dari Sendai. Entah bagaimana nasib pantai wisata yang ramai itu sekarang. Dengan gelombang sedahsyat itu, tak terbayangkan apa yang terjadi dengan pantai, toko-toko, dan kuil kuno di pantai itu.

Matsushima. Apa jadinya sekarang setelah tsunami 11 Maret 2011?

Di jalur pejalan kaki di Matsushima banyak tertulis dalam dua bahasa (Jepang dan Inggris) tentang peringatan tsunami.   Dalam bahasa Inggris: “tunami evacuation route” dengan tanda panah. TUNAMI. Ya huruf hiragana “tsu” oleh orang Jepang sendiri sering ditulis dalam alfabet sebagai “tu.”

Mudah-mudahan peringatan tersebut menyelamatkan banyak warga Jepang yang ramah-ramah di pantai Matsushima itu. ***

Dua Jenis Guru (oleh Rhenald Kasali)

Tulisan menarik dari Rhenald Kasali di Seputar Indonesia (Kamis, 5 Mei 2011) untuk kita (terutama saya) renungkan.

Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan.Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.

Sebaliknya, guru kreatif lebihbanyaktersenyum,namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak.

Guru Kognitif

Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya.Dia berbicara panjang lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi. Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory.Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.

Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guruguru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat (PNS),sangat patuh pada ”tupoksi”.Saya sering menyebut mereka sebagai guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan babbab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas,mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.

Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anakanak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit.Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya.Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.

Saya sering menyebut anakanak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi,bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya,sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.

Guru Kreatif

Ini guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru kognitif.Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya.Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism,merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya.

Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan (context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.

Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan para neuroscientistmodern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak (muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan,disiplin diri,dan seterusnya.

Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya. Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat peraga,kita akan buat sendiri dari limbah.

Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan. Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke rumah Bapak,”ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar.

Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan. Saat membuat disertasi di University of Illinois, para guru besar saya bukan memaksa saya membuat tesis apa yang mereka inginkan, melainkan mereka menggali dalam-dalam minat dan objektif masa depan saya. Sewaktu saya bertanya, mereka menjawab begini: ”Anda tidak memaksakan badan Anda pada baju kami, kami hanya membantu setiap orang untuk membuat bajunya sendiri yang sesuai dengan kebutuhannya.” Selamat merayakan Hari Pendidikan dan jadilah guru yang mengantarkan kaum muda ke jendela masa depan mereka.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Dance On A Volcano: Catatan dari Jelajah Geotrek Bersama Matabumi

Through a crack in Mother Earth, Blazing hot, the molten rock

Spills out over the land. And the lava’s the lover who licks your boots away

Di antara banyak acara-acara geotrek yang mulai mengetop, salah satunya adalah Jelajah Geotrek yang diorganisasi oleh Matabumi, kumpulan alumni Geografi UPI. Jelajah Geotrek dipilih kawasan gunung api. Pertama ke Kawah Putih, Gunung Patuha, kedua ke Situ Lembang, Kaldera Gunung Sunda, dan ketiga ke Gunung Papandayan, Garut.

Jelajah Geotrek Kawah Putih 2 Okt 2010 (foto: Ayu Kuke)

Volcanotrekking pada gunungapi aktif sebenarnya penuh resiko. Pertama, kawah-kawah gunung api umumnya berada pada ketinggian di atas 1000 m. Bagi mereka yang mempunyai fisik yang peka terhadap ketinggian, bergeotrek akan teras cepat melelahkan. Kedua, medan gunung api umumnya berlereng terjal. Beberapa bagian biasanya mempunyai permukaan yang ditutupi oleh pasir atau kerikil lepas. Kemungkinan terpeleset adalah hal yang perlu diantisipasi penyelenggara. Ketiga, berkaitan dengan lapangan yang dipenuhi kawah. Kawah gunung api di Jawa umumnya solfatara yaitu kawah yang menghembuskan gas-gas belerang. Di beberapa bagian kawah-kawah ini begitu aktif dan dapat menyebarkan konsentrasi gas belerang yang tinggi membuat mereka yang tidak tahan akan baunya akan terbatuk-batuk dan sesak.

Jelajah Geotrek Situ Lembang 12 Feb 2011 (foto: Matabumi)

Terakhir, perilaku gunung api kadang-kadang sulit diprediksi. Sekali pun pada umumnya peningkatan gejala aktivitas gunung api akan didahului oleh peningkatan yang terpantau misalnya dari tremor alat seismometer, peningkatan suhu gas atau air kawah, dan anomali-anomali lainnya (umumnya selalu terpantau oleh pengamat pos vulkanologi), namun pada beberapa peristiwa kejadiannya begitu mendadak. Peristiwa eksplosi gas CO di Sinila, Dieng, Jawa Tengah tahun 1970-an yang menewaskan belasan petani kentang adalah contohnya. Atau tewasnya beberapa peneliti gunung api, satu di antaranya dari USGS (United States Geological Survey), di G. Semeru beberapa tahun lalu, yang diberondong kerikil-kerikil sangat panas letusan tiba-tiba dari satu lubang kawah. Atau juga korban para pelajar Belanda di Tangkubanparahu pada tahun 1930-an yang terpapar gas berracun.

Jelajah Geotrek G. Papandayan 23 Apr 2011 (foto: Ayu Kuke)

Merupakan keniscayaan jika bergeotrek di kawasan gunung api harus tetap mengutamakan keselamatan. Jika perlu, jalur yang dianggap akan berbahaya, dibatalkan untuk dijejaki. Prinsip keselamatan yang dikutip dari PT Chevron mungkin cukup jitu untuk menjadi prinsip bergeotrek di jalur-jalur yang tidak biasa: Do it savely or not at all. There’s always time to do it right.

Gunung api memang eksotik. Kawah Putih dengan kabutnya yang kerap kali menutupi pemandangan, justru menjadi daya tarik yang luar biasa, selain warna air kawahnya yang hijau toska. Situ Lembang, danau buatan yang membendung aliran Ci Mahi, beserta hutan hujan tropisnya, dan terutama sejarah letusannya yang juga berkaitan dengan Legenda Sangkuriang, menjadi daya tarik yang tidak ada habisnya. Gunung Papandayan yang meletus terakhir November 2002 yang menghasilkan bukaan lanskap kawah yang luas, menjadi wahana geotrek yang menantang dari lanskap yang lain daripada yang biasa kita lihat sehari-hari. Di samping itu, suara gemuruh dari Kawah Baru, mengundang ketertarikan dan kengerian sekaligus.

Begitulah alam gunung api, kita menjadi ringkih dihadapannya.

Lagu Genesis “Dance on a Volcano” menjadi lagu tema untuk catatan ini. Lagu ciptaan sisa anggota band Mike Rutherford, Phil Collins, dan Steve Hacket yang dimuat pada album “A Trick of the Tail” (1976) memulai debut Phil Collins sebagai vokalis band setelah ditinggal Peter Gabriel. Lagu ini menceritakan pendakian ke gunung api aktif dan bagaimana kita harus berdansa menghindari jilatan-jilatan lava yang akan menghanguskan.

Pencipta lagu barat punya ide untuk menulis lirik seperti ini yang jarang dikerjakan oleh para penulis lagu kita. Silakan disimak.

Holy Mother of God

You’ve got to go faster than that to get to the top.

Dirty old mountain

All covered in smoke, she can turn you to stone

So you better start doing it right

better start doing it right.

You’re halfway up and you’re halfway down

And the pack on your back is turning you around.

Throw it away, you won’t need it up there, and remember

You don’t look back whatever you do.

Better start doing it right.

On your left and on your right

Crosses are green and crosses are blue

Your friends didn’t make it through.

Out of the night and out of the dark

Into the fire and into the fight

Well that’s the way the heroes go, Ho! Ho! Ho!

Through a crack in Mother Earth,

Blazing hot, the molten rock

Spills out over the land.

And the lava’s the lover who licks your boots away. Hey! Hey! Hey!

If you don’t want to boil as well.

B-B-Better start the dance

D-D-Do you want to dance with me.

You better start doing it right.

The music’s playing, the notes are right

Put your left foot first and move into the light.

The edge of this hill is the edge of the world

And if you’re going to cross you better start doing it right

better start doing it right.

You better start doing it right.

Let the dance begin.

Masa Kecilku: Petualangan Sepulang Sekolah

Tulisan ini adalah ide pak Mikrajuddin Abdullah (dosen Fisika ITB) untuk mengumpulkan pengalaman masa kecil dosen-dosen ITB, yang katanya, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran atau diambil hikmahnya bagi mahasiswa-mahasiswa ITB. Mimpi pak Mikra, kumpulan tulisan itu nantinya terbit sebagai buku.

Untuk sementara, kumpulan tulisan ttg masa kecil dosen-dosen ITB dikumpulkan di http://masakecildosenitb.blogspot.com/

Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat membaca.

Di bawah ini kontribusi saya untuk ide brilian pak Mikra itu: Petualangan Sepulang Sekolah.

SD Moch Toha VI

Ini adalah cerita masa kecil dalam rentang waktu 1969 – 1974. Masa-masa ketika saya bersekolah di SD Moch Toha VI di Jl. Moch Toha, Bandung. Tempat ini tidak jauh dari ITC Kebon Kalapa sekarang, yang dulunya adalah terminal. Sekolah itu menempati bangunan kuno. Mungkin peninggalan Belanda. Isu-isunya bekas rumah sakit. Memang di depan setiap kelas, terdapat selasar dan bak air, mirip sal-sal rumah sakit gaya Belanda dulu.

Rumah orangtua saya dulu di Jl. Pasundan. Rumah kecil berdinding papan. Ruang tamu hingga dapurnya masih berlantai tanah. Hanya ruang tidur yang berlantaikan papan. Kamar mandi dan WC-nya bersama-sama dengan tetangga lain. Airnya harus ditimba dari sebuah sumur yang airnya bening dan segar. Antara kamar mandi/WC dengan sumur berjarak kurang lebih 20 m. Rupanya penduduk blok Jl. Pasundan dulu, yang walaupun hidup sederhana, sudah menyadari sanitasi lingkungan dengan baik.

Sebenarnya ada SD yang lebih dekat dari rumah, yaitu SD Asmi di Jl. Asmi. Tetapi orang tua memasukkan saya (dan kemudian adik saya) ke SD Moch Toha karena kualitas pendidikannya katanya lebih baik. Bagi si Budi kecil waktu itu, sekolah di mana saja rasanya tidak masalah. Tetapi ketika semakin besar dan mulai menyadari keterkenalan SD Moch Toha di wilayah selatan Bandung, terselip rasa bangga juga bisa bersekolah di SD itu.

Berangkat ke sekolah tentu saja jalan kaki. Sering tidak mandi dulu, cukup cuci muka. Bandung saat itu masih terasa sangat dingin. Bahkan kabut pegunungan dari utara kadang-kadang masih menyelinap jauh ke selatan. Kadang-kadang seiring dengan langkah-langkah kaki kecil saya, kabut masih menyelimuti pagi. Perjalanan berangkat sekolah pun kadang-kadang harus memakai jaket. Rutenya menelusuri gang pintas yang kemudian tembus ke Jl. Asmi di samping lapangan Gereja Santo Paulus. Dari sana tinggal menyusuri Jl. Asmi dan tembus ke Jl. Moch Toha tepat di depan pasar. Berbelok ke kiri, dan tinggal beberapa puluh langkah lagi, sampailah di gerbang SD.

Di Jl. Moch Toha inilah yang saat itu tidak selebar sekarang, masih rapat dinaungi jajaran pohon tanjung. Ketika musim berbunga dan bunga-bunga tanjung berjatuhan ke atas jalan, menutupi jalan dengan warna keputih-putihan, harumnya sungguh semerbak. Hingga sekarang saat berada di bawah pohon tanjung dan bunga putih kekuning-kuningannya jatuh dan menyebarkan harum, ingatan saya langsung tertuju ke masa-masa berangkat sekolah itu.

Selain harumnya bunga tanjung, bagi saya kenangan akan Jl. Moch Toha justru didapat dari tukang beca yang kencing di selokan jalan. Rasa ingin tahu apa yang sedang dilakukan si tukang beca dengan berjongkok di pinggir selokan, akhirnya sempat ditiru juga. Tetapi lama-lama mengerti juga, bagi anak lelaki, kencing yang paling enak ya sambil berdiri.

Pindah Rumah

Ketika sedang di kelas III, kehidupan harus berubah. Lahan tempat rumah orangtua ternyata bukan tanah sendiri, tetapi milik seseorang yang bernama Haji Omo. Si pemilik lahan bermaksud mengambil haknya kembali. Saya masih ingat bagaimana bapak saya dan beberapa tetangga sibuk mengurus masalah ini. Bahkan rasanya sempat masuk ke pengadilan segala. Tetapi karena memang bukti kepemilikan tanah lebih kuat dipunyai Haji Omo itu, akhirnya seluruh penghuni yang kira-kira terdiri dari puluhan kepala keluarga yang sudah mendiami tempat itu selama berpuluh-puluh tahun harus rela tergusur. Jika tidak salah, kasus penggusuran ini yang kemudian juga mengubah nama Jl. Abdul Muis (blok yang digusur berada pada pojok Jl. Pasundan – Jl. Abdul Muis), kembali ke namanya dulu, Jl. Pungkur.

Sebagai seorang anak SD kelas III yang masih lugu, ya sedikit lucu dan guoblok, kehilangan rumah sebenarnya tidak begitu terasa. Hal yang terasa adalah kehilangan teman-teman bermain sepulang sekolah yang biasanya dipusatkan di lapangan yang dulu rasanya sangat lega, Buruan Dadang, yang berarti Halaman Dadang. Entah siapa yang pertama memberi lapangan kecil ini sebagai Buruan Dadang. Mungkin mengacu pada satu rumah milik Dadang dengan halamannya itu.

Maka, selamat tinggal kenangan penelusuran gang ke sekolah. Juga tidak akan ada lagi perburuan layangan putus (saya lebih asyik memburu layangan putus daripada memainkannya, rasanya ada rasa asyik berebutan dengan anak-anak lain), atau main gatriks (bisa sampai ke Alun-alun), sondah, loncat tali, dan slepdur (sebenarnya untuk anak perempuan, tapi ikut main juga), atau berburu selebaran iklan bioskop yang ditabur dari bemo yang berjalan, main petak-umpet di klinik Bidan Mimi, juga melempar mangga muda punya tetangga, dan lain-lain kenangan masa kecil…

Ketergusuran rumah dari Jl. Pasundan mendapatkan pengganti rumah dinas PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) tempat ayah saya bekerja sebagai pegawai menengahan di Balai Besar Kereta Api beralamat Jl. Gereja (dulu), sekarang Jl. Perintis Kemerdekaan, dekat via-duct. Pindah dari rumah gubuk ke rumah gedong di Jl. Rajawali adalah kegembiraan tersendiri. Saat itu, rasanya sudah berubah jadi orang kaya. Tapi orang tua memutuskan tidak memindahkan sekolah dan meneruskan sekolah tetap di SD Moch Toha. Jaraknya ke sekolah dari rumah sekarang mencapai hampir delapan kilometer. Dimulailah petualangan si Budi kecil pergi dan pulang sekolah.

8 km pulang sekolah berjalan kaki

Pergi ke sekolah dari rumah baru, tidak begitu ingat. Pastinya pertama-tama ibu saya yang mengantar. Tetapi justru perjalanan pulang ke rumah masih terrekam dengan baik di memori. Karena hidup keluarga pas-pasan, dengan lima adik yang masih kecil-kecil, pulang sekolah harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer itu. Perjalanan pulang inilah yang merekam bagaimana kehidupan jalanan Bandung tahun 1971 – 1974.

Rute pulang yang saya lalui, sambil membimbing adik saya yang dua tahun lebih muda, adalah ke arah terminal Kebon Kalapa, kemudian menyusuri Jl. Pasirkoja ke arah Jl. Astanaanyar. Nikreuh (berjalan kaki cukup jauh) ke utara sepanjang Jl. Astanaanyar, bisa belok menyusuri Jl. Cibadak, atau diteruskan hingga perempatan Jl. Gardujati – Jend. Sudirman, dan kemudian nikreuh menyusuri Jl. Jend. Sudirman ke arah barat, melalui Kelenteng Andir, Pasar Andir, Jamika, pertigaan Jl. Suryani, Gedung Perdatam (jadi PPTM, sekarang Puslitbang TekMira), lalu berbelok ke Jl. Garuda (pernah disebut Jl. Laksamana Muda Nurtanio; lalu sekarang kembali menjadi Jl. Garuda), hingga sampailah di rumah. Perjalanan jauh itu rasanya asyik saja, tidak terkesan ada rasa capek.

Inilah rekaman beberapa peristiwa berkesan. Keinginan seorang anak kecil untuk dapat membeli koleksi stiker bendera negara-negara dunia tidak dapat dipenuhi orang tua. Ketika itu, barang itu tergolong mahal. Saya tidak habis akal. Dalam perjalanan pulang sekolah, selalu mampir ke satu etalase toko yang memajang kumpulan bendera negara dunia itu. Dengan kertas dan pensil saya menyalin satu-per-satu bendera-bendera itu. Di depan etalase itu saya cukup membuat kotak (kecuali bendera Nepal yang bentuknya aneh) dan mensketsa pola bendera, dan kemudian memberi keterangan warnanya. Di rumah, baru digambar ulang, dan diwarnai dengan pensil warna sesuai catatan warna di oret-oretan. Rupanya kebiasaan ini berguna juga ketika sekarang menjadi seorang geolog. Mengamati singkapan batuan, atau sayatan batuan di bawah mikroskop, atau bentang alam yang luas, mendeskripsinya dan membuat sketsanya, seolah-olah sebuah default masa kecil ketika menyalin bendera-bendera itu.

Di Jl. Cibadak sempat tertarik pula pada judi bola. Si bandar memainkan bola kecil yang dipindah-pindahkan dengan tutupan kerucut dengan tangannya, dan si penjudi memasang taruhan bola ada di kerucut mana. Bersama-sama dengan orang lainnya yang rasa-rasanya para tukang beca atau pedagang asongan, saya si anak SD tertarik mencoba karena kelihatannya gampang. Benar saja, pilihan saya selalu benar. Taruhan awal Rp. 1,- (satu rupiah!) bisa berhasil membawa Rp. 10,-. Lama-lama ketika menyadari si bandar berwajah tidak senang, judi itu tidak pernah dicoba lagi.

Di Jl. Astanaanyar, dekat Jl.Pagarsih, dulu ada gedung bioskop bernama Siliwangi. Saya selalu mengagumi para pelukis poster-poster bioskop yang besar-besar itu. Poster-poster film koboi adalah yang paling saya suka. Di satu pojokan dekat bioskop itu terdapat penjual koran dan majalah. Di sanalah saya selalu melihat-lihat majalah, kadang-kadang cukup dengan melihat-lihat sampulnya saja yang berwarna-warni. Di toko kecil inilah, saat pulang sekolah saya sudah tahu bagaimana sampul Majalah Bobo terbitan minggu itu, apakah Bobo si kelinci yang riang gembira itu sedang berkostum bajak laut, indian, tentara, polisi, pemadam kebakaran, atau lainnya. Jadi saat hari Rabu ketika majalah itu terbit dan dibawa pulang ayah dari kantor sekitar jam 14.30 saya sudah lebih dulu menikmati gambar sampulnya di perjalanan pulang sekolah.

Dari Oplet ke Honda

Perjalanan jalan kaki pulang sekolah akhirnya digantikan dengan naik oplet. Itupun setelah orangtua mulai memberi uang ongkos naik oplet. Oplet adalah mobil kuno yang spakbornya bulat menonjol. Mereknya ya Opel. Tetapi rasanya beberapa mobil bermerk Fiat atau mungkin Chevrolet. Lama-lama oplet digantikan oleh bus-bus mini dari Jepang yang dikenal sekarang sebagai “angkot.” Nah, karena dulu angkot-angkot ini umumnya menggunakan mobil merk Honda, masyarakat Bandung mengenalnya sebagai “honda,” sekalipun kemudian datang merk-merk lain seperti Suzuki.

Ongkosnya dari terminal Kebon Kalapa ke Jl. Garuda awalnya hanya Rp. 5,-. Tapi hingga kelas VI terasa ongkos itu beranjak naik hingga Rp. 15,- atau lebih. Bahkan pernah seorang kenek marah dan melemparkan uang Rp. 10,- yang saya berikan dengan terburu-buru karena saya langsung ngacir. Harga-harga mulai beranjak naik. Orangtua akhirnya menaikkan bekal jajan dan ongkos naik honda. Tetapi saya dan adik saya sudah menandai mana angkot dengan supir dan kenek yang baik, mana yang tidak. Tentu “honda galak” – begitu saya dan adik saya menjulukinya – tidak pernah jadi pilihan. Petualangan sepulang sekolah sepanjang 8 km mulai digantikan duduk di atas “honda.” Supaya hemat, saya dan adik saya berpangkuan supaya dihitung satu.

Lalu lintas saat itu boleh dikatakan masih lengang. Di jalanan yang berseliweran hanyalah beberapa mobil, beberapa bus antar kota, dan lebih banyak sepeda onthel, dan delman, selain mulai maraknya angkutan kota yang disebut “honda” itu. Kadang-kadang ada juga pedati kuda pengangkut barang (umumnya bambu) yang dikenal sebagai “Impala Udin.” Sebuah pelesetan nama merk mobil sedan Chevrolet mewah “Impala.” Di Bandung tahun 1970-an pernah terjadi kerusuhan berbau SARA ketika semua toko dan rumah milik keturunan Cina dihancurkan perusuh. Gara-garanya seorang pengemudi sedan mewah yang warga keturunan menghajar sais “Impala Udin” yang menggores mobil mewahnya.

Begitulah sekelumit petualangan sepulang sekolah masa SD yang menjadi memoar juga terhadap Kota Bandung sekitar pertengahan 1970-an. ***

Gede dan Dempo: Gunung Api yang Menjadi Kiblat Megalitik

Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat, Selasa 29 Maret 2011 tepat pada hari penjajagan kereta api wisata ke Gunung Padang yang diselenggarakan oleh Disbudpar Kab. Cianjur dan diikuti oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf Efendi; Kadisparbud Jabar, Bupati Cianjur, Wakil Walikota Bandung, Kadisbudpar Bandung dan Cianjur, Ka DaOp II Bandung, dan banyak pejabat pemda lainnya. Artikel ini saya tulis sebagai oleh-oleh Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Kopassus di G. Dempo, Sumatera Selatan. Selamat membaca.

Setiap ke Gunung Padang, cuaca selalu tertutup awan. Namun kondisi cuaca itu justru ikut membantu mengurangi kelelahan saat harus meniti 350 anak tangga batu bersudut 45 derajat menuju situs utama di puncak bukit. Ketika mencapai ujung titian batu terakhir, tampaklah konstruksi batu yang luar biasa.

Situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, diakui para arkeolog sebagai bangunan megalitik terbesar di Asia Tenggara. Bangunannya dikenal sebagai punden berundak. Terdapat lima undak yang tersusun oleh kolom-kolom batu andesit-basaltis.

Kolom-kolom batu yang umumnya bersegi lima atau enam disusun sedemikian rupa sehingga membangun pelataran pertama dan kedua dalam tumpukan yang kokoh. Sebagai dasar pelataran, kolom-kolom batu disusun secara horisontal. Sebagian dipasang tegak berdiri membentuk pagar atau ruang-ruang. Pada undak ke-3 hingga ke-5, kolom-kolom batu berfungsi sebagai pembatas dengan permukaan undak berupa tanah. Ruang-ruang tertentu itu sampai sekarang belum diketahui peruntukannya.

Punden berundak lima ini berbentuk memanjang dengan orientasi utara – selatan. Satu hal yang sangat mengagumkan adalah arah memanjang Gunung Padang persis menghadap utara ke arah Gunung Gede (2.958 m). Masyarakat megalitik yang diperkirakan hidup antara 3000 – 3500 tahun yang lalu mungkin menganggap Gunung Gede sebagai gunung suci dan menghadapkan bangunan yang bersifat transendental-spiritual ini ke arahnya.

Di sinilah letak kecerdasan masyarakat megalitik yang pernah hidup di Jawa Barat itu. Mereka telah memilih Gunung Padang yang menyediakan kolom-kolom batu alamiah, lalu menarik dan mengangkat kolom-kolom batu itu ke puncak bukit dan membangun punden berundak lima seperti sekarang dapat kita lihat. Bayangkan, untuk satu meter panjang kolom batu dengan diameter 40 cm, mereka harus mengangkat batu seberat kira-kira setengah ton. Teknologinya mungkin dengan menggunakan tali dan batang-batang pohon sehingga kolom batu yang sangat berat tersebut dapat ditarik naik setinggi lebih dari 50 m.

Mengapa Gunung Gede dijadikan kiblat bangunan suci mereka? Gunung api yang sedang tidak aktif memberi manfaat besar bagi masyarakat yang hidup di kakinya. Udaranya nyaman dan sejuk. Tanahnya umumnya subur. Air bersih biasanya melimpah ruah. Tetapi ketika aktif, letusannya sangat mengerikan dan mengancam kehidupan. Itulah yang mungkin akhirnya membuat masyarakat megalitik menganggap gunung api sebagai representasi yang maha kuasa, yang memberi berkah, sekaligus musibah.

Hal lain yang sangat dihormati dari suatu gunung api selain keaktifannya adalah dimensinya yang besar. Selain itu puncaknya yang menjulang ke langit dianggap sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa atau para leluhur.

Dengan analogi seperti itulah, masyarakat megalitik di Jawa Barat pembangun punden berundak Gunung Padang diperkirakan menjadikan Gunung Gede sebagai gunung sucinya dan mengarahkan bangunan suci mereka ke arah di mana Gunung Gede berada. Rupanya mereka tidak sendirian. Masyarakat megalitik yang diduga sejaman di Sumatera Selatan mempunyai kepercayaan yang serupa

Wagub Jabar, Pak (Dede) Yusuf Effendi, di G.Padang: menamakannya The Galaxy Stone of Megalithic Complex of Mt. Padang

Arca-arca Raksasa Pasemah

Jika berkesempatan jalan-jalan ke Lahat di Sumatera Selatan, anda akan menjumpai suatu gunung yang pasti menarik perhatian. Bentuknya seperti genggaman tangan yang mengacungkan jempol. Begitulah masyarakat akhirnya mengenalnya sebagai Gunung Jempol alih-alih nama aslinya Bukit Serelo. Karena keunikannya, gunung ini menjadi ikon Kabupaten Lahat dan menjadi lambang kabupaten.

Sejauh kira-kira 200 km ke arah barat dari Palembang, Gunung Jempol akan segera kita lihat saat memasuki batas Kabupaten Lahat dari Kabupaten Muaraenim. Memasuki kota Lahat, di pelataran SMPN 2 Kecamatan Merapi Barat, terdapat suatu arca peninggalan megalitik, beserta dolmen dan menhir. Arca itu dikenal sebagai Batu Putri atau Arca Manusia Tanjungtelang.

Dengan asumsi bahwa masyarakat megalitik Lahat pasti tidak sembarangan membuat arca, arah hadap wajah arca terukur melalui kompas ke arah barat daya. Arah hadap arca yang berbahan batupasir volkanik ini segaris dengan diagonal dolmen berbentuk seperti meja berukuran 1,5 x 1,5 m yang tergeletak berjarak 20 m arah barat daya arca.

Di Kabupaten Lahat, tinggalan arca megalitik ternyata tersebar sangat luas. Terdapat kecenderungan bahwa arca-arca yang umumnya menggambarkan raksasa atau hewan-hewan seperti gajah, harimau atau ular, berada di sekitar sungai utama yang menoreh Kabupaten Lahat, yaitu Aek Lematang. Posisi arca-arca ini hampir seluruhnya dihadapkan pada arah barat daya.

Ada apa pada arah barat daya? Mengapa tidak dihadapkan ke timur arah Bukit Serelo yang berbentuk jempol yang bermorfologi cukup menonjol dan menarik perhatian? Ada perkiraan bahwa semua arca megalitik tersebut dihadapkan ke barat daya karena mengarah ke Gunung Dempo (+ 3159 m), gunung api aktif di Sumatera Selatan pada Pegunungan Bukit Barisan.

Hal tersebut semakin pasti ketika kita makin mendekati lereng Gunung Dempo. Di sekitar Kota Pagaralam yang sesejuk Kota Bandung, arca-arca tersebar cukup banyak terutama di Kecamatan Pajarbulan dan Jarai. Selain arca terdapat tinggalan megalitik lain yang unik, yaitu bilik atau kubur batu, suatu ruangan di bawah tanah yang disusun dari dinding-dinding bongkah batu andesit.

Semua arca umumnya berbahan batupasir atau breksi volkanik, yaitu batu yang terbentuk secara sedimentasi dari hasil letusan gunung api. Batunya kompak dan keras, tetapi mudah dipahat. Adapun batu-batu yang lebih keras seperti andesit umumnya dimanfaatkan sebagai dinding bilik batu dengan rekayasa minimal, misalnya hanya berupa lubang kecil saja. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran batu tertentu ikut menentukan sebaran tinggalan megalitik di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam.

Menariknya, arah poros bilik batu, selain juga arah wajah arca-arca berbentuk raksasa, dengan tepat menghadap ke arah kerucut G. Dempo yang tampak megah menjulang di dataran tinggi di mana Pagaralam berada, atau yang lebih dikenal sebagai dataran tinggi Pasemah (sekarang disebut juga Besemah). Tidak itu saja, suatu kumpulan menhir (batu tegak) sebanyak enam buah yang terdapat di Kecamatan Tanjungsakti yang berada di sisi barat daya Gunung Dempo, porosnya mengarah ke timur laut yang tidak lain adalah puncak Gunung Dempo.

Tanggal 25 September 2006 Gunung Dempo meletus menghasilkan awan debu setinggi 1000 m di atas puncaknya. Di antara ketenangan yang sangat lama, sekali-kali gunung api ini mengingatkan adanya kekuatan alam yang sangat luar biasa dan bisa membinasakan. Berribu-ribu tahun lalu, kondisi itulah yang mungkin dirasakan oleh masyarakat megalitik di sekitar Besemah saat Gunung Dempo kemungkinan lebih aktif daripada kondisi tenang sekarang ini.

Pada saat itulah rasa hormat ditunjukkan dengan pembuatan arca-arca yang wajahnya dihadapkan ke Gunung Dempo. Rasa hormat yang sama ketika masyarakat megalitik Cianjur membangun punden berundak Gunung Padang dengan mengarahkannya ke Gunung Gede. ***

Penulis, staf dosen Teknik Geologi ITB, tim Ekspedisi Bukit Barisan 2011 Kopassus.

Arca Batu Orang di Kab. Lahat