Cadas Pangeran: Di Antara Mitos dan Fakta

Saat tetikus digeser-geser menelesuri senarai situs di laman google yang memuat kata kunci “cadas pangeran” berhentilah di satu alamat http://staff.ui.ac.id/internal/131124734/material/ArtikelCadasPangeran.pdf
Klik, unduh, baca… dan terpana.

Sebulan sebelumnya, akhir September 2010 ketika melihat-lihat deretan buku di Rumah Buku, toko buku diskon saingan Togamas, sama-sama di Jl. Supratman Bandung, pandangan mata saya tertuju ke satu judul buku tipis: Pangéran Kornél, karangan R. Méméd Sastrahadiprawira, terbitan Kiblat, Bandung, 2009. Buku yang ditulis dalam Bahasa Sunda itu tinggal terpajang satu-satunya saat itu.

Rasa penasaran akan cerita dibalik pembuatan jalan Daendels di Cadas Pangeran Sumedang, patung Pangéran Kornél dan Daendels berjabat tangan, serta prasasti batu tentang penyelesaian jalan, mempengaruhi pikiran saya untuk memilih buku ini daripada buku lain yang sebenarnya sudah dipegang. Selain itu, beberapa kali mengunjungi jalan raya pos Cadas Pangeran untuk ekskursi geologi, yang berada di sebelah kiri jalan raya sekarang dari arah Bandung (sebelah kiri patung), banyak pertanyaan yang menggelantung di seputaran Cadas Pangeran ini.

Secara geologis, Cadas Pangeran memang mempunyai batuan yang keras. Bukit ini tersusun dari endapan volkanik tua breksi bersifat laharik dan lava berumur Pleistosen Awal kira-kira 700.000 hingga dua juta tahun yang lalu (Silitonga, 1972). Sumber gunungapi yang telah mati ini diperkirakan dari G. Kadaka di daerah Rancakalong, sebelah barat Sumedang, atau dari G. Kareumbi-Kerenceng, barat daya Sumedang. Memang sangatlah berat menembus bebatuan di Cadas Pangeran ini untuk mewujudkan keinginan Daendels merampungkan jalan raya pos dari Anyer ke Panarukan.

Tiga minggu kemudian barulah bisa menamatkan buku setebal 151 halaman itu. Selain tidak bisa setiap saat membaca buku itu, lidah dan terutama sensor bahasa di otak ini harus beradaptasi dengan bahasa Sunda yang menjadi bahasa yang digunakan di buku itu.

Buku yang merupakan novel dengan tokoh-tokoh yang beberapa nyata dan disebut dalam sejarah, dimulai dengan penceritaan situasi di Sumedang 1773. Saat itu keturunan Bupati Geusan Ulun tidak dapat melanjutkan pemerintahannya di Sumedang karena belum mempunyai anak yang telah dewasa. Akhirnya Pemerintah Belanda mengangkat bangsawan dari Parakanmuncang untuk mengisi kekosongan.

Dengan intrik politik yang diperankan oleh seorang mantan pejabat bejat dari Pegaden, Subang, berjuluk Demang Dongkol dan kemudian dipercaya oleh Bupati yang baru sebagai kaki tangannya, beralurlah kisah seorang anak bernama Radén Jamu. Ialah yang seharusnya paling berhak terhadap tahta Sumedang. Saat menjadi pemuda dan dipanggil Radén Surianagara, ia terusir dari Sumedang dan harus terlunta-lunta hingga ke Cianjur pada 1780. Namun atas kecakapannya dan adanya hubungan kekerabatan, ia dipercaya Bupati Cianjur memimpin Cikalong sebagai Kapala Cutak (sekarang mungkin setara dengan Camat). Akhirnya pada 1791 ia kembali ke pangkuan ibu pertiwinya di Sumedang sebagai Bupati yang ditunggu-tunggu rakyatnya, dan kemudian bergelar Pangéran Kusumah Dinata.

…lalu terjadilah peristiwa Pangeran Kusumah Dinata bersalaman dengan tangan kiri menyambut tangan kanan Marsekal Daendels, sementara tangan kanan siap menghunus keris; seperti tergambarkan pada patung di Ciherang yang menghiasi jalan raya Bandung – Sumedang memasuki segmen Cadas Pangeran.

Benarkah? Itulah yang ditanyakan Djoko Marihandono seorang sejarawan dari Universitas Indonesia melalui makalahnya berjudul “Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah dan Tradisi Lisan” yang disampaikan pada seminar “Peringatan 70 tahun Prof. Dr. RZ Leirissa,” 29 – 30 April 2008, di Universitas Indonesia. Makalah yang pada saat tulisan ini dibuat dapat diunduh di alamat situs di awal tulisan ini jelas akan membuat terpana orang yang membacanya. Makalah ini hampir menafikan semua cerita – terutama yang bersifat fiksi – tentang Cadas Pangeran dan Jalan Raya Pos Daendels, di antaranya buku Méméd Pangéran Kornél, buku Pramoedya Anyer Panarukan, dan dua buku lainnya.

Fakta-fakta dari arsip sejarah yang disampaikan makalah ini membuat kita sedikit terkesima bahwa versi yang rasanya benar di benak kita ternyata banyak distorsinya. Daendels tidak pernah ke Cadas Pangeran, apalagi berjabat tangan dengan Pangéran Kusumah Dinata yang kemudian terkenal juga dengan sebutan Pangéran Kornél. Menurut Marihandono, tidaklah mungkin bagi Daendels yang berkuasa penuh atas Hindia Timur menurut begitu saja atas ancaman dan penghinaan Pangéran Kornél. Pada awal kedatangannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dengan tegas ia memecat banyak perwira tinggi bahkan raja-raja bandel yang tidak mau menuruti perintahnya. Apalagi hanya selevel bupati. Arsip-arsip sejarah bahkan menunjukkan bahwa tidak ada penentangan dari bupati-bupati yang dilalui oleh jalan raya pos. Semua mendukung bahkan meminta kelanjutan proyek.

Tetapi ada perbedaan yang sangat signifikan pada makalah Marihandono, kalau tidak dianggap keliru. Ia menyebutkan bagaimana seorang Bupati yang baru berumur 20-an tahun berani berhadapan dengan penguasa tertinggi Hindia Belanda. Rupanya Marihandono menyangka Pangéran Kornél lahir pada 1791. Padahal, pada buku Pangéran Kornél (yang juga menjadi acuan makalah Marihandono, tetapi memakai terjemahan bahasa Indonesia oleh Abdoel Moeis, Balai Poestaka, 1952), Méméd justru menuliskan dengan jelas angka tahun 1791 sebagai tahun pelantikan (ngistrénan) Radén Suryanagara sebagai Bupati Sumedang. Pada buku Méméd, ketika ia membela rakyatnya dari kekejaman Daendels, ia adalah seorang pangeran matang penuh pengalaman berumur 40-an tahun yang berwibawa.

Pangéran Kusumah Dinata mendapat gelar kemiliteran dari Belanda sebagai kolonel yang ditugasi menjadi pemimpin pasukan dari beberapa kabupaten di Jawa Barat untuk mencegah meluasnya Perang Jawa 1825 – 1830 yang disulut Pangéran Dipanegara ke Jawa Barat. Itulah kemudian ia digelari juga Pangéran Kornél, demikian diceritakan di buku itu. Sebelumnya ia juga terlibat dalam penumpasan pemberontakan Bagus Rangin di Jatitujuh dan terkenal dengan Perang Bantarjati awal 1800-an. Pangeran Kornel wafat pada 29 Juli 1828 meninggalkan nama harum terutama bagi Sumedang.

Pada bab 2 Méméd menuliskan hal-hal yang mungkin perlu untuk dicermati bagi pemerhati geografi dan sejarah Bandung dan Jawa Barat. Tentang kapan surutnya Situhiang Danau Bandung, tidak ada seorang pun yang akan tahu, karena dari jaman dulu pun dataran Bandung sudah kering hanya tinggal sungai-sungai. Jangan-jangan cerita itu hanya karangan para pujangga saja, demikian tulisnya. Disebut pula sebuah kabuyutan (keramat) di Kampung Pabuntelan yang membuat G. Malabar selalu berkabut tempat dimakamkannya Sunan Dampal karuhun (leluhur) pedataran Bandung. Namun yang pasti tulisnya, pedataran Bandung pernah dikuasai oleh Dipati Ukur Wangsanata, bangsawan asal Purbalingga yang ditempatkan Sultan Agung di Jawa Barat saat menggempur Batavia.

Pada buku terbitan Kiblat (2009) terdapat keterangan bahwa buku Pangéran Kornél oleh R. Méméd Sastrahadiprawira diterbitkan setelah wafatnya pada tahun 1932 di Jakarta. R. Méméd menjadi redaktur Balai Pustaka yang dijabatnya dari tahun 1928. Ia lahir di Manonjaya, Tasikmalaya, 1897; mengenyam pendidikan di STOVIA dan diangkat menjadi CA (Candidaat Ambtenaar) di beberapa tempat sampai menjadi Camat di Bojongloa, Bandung, kemudian menjadi Camat TB (ditempatkan; mungkin kependekan dari Bahasa Belanda) di Kantor Kabupaten Bandung.

Membaca buku Méméd pikiran kita sedikit sulit untuk memisahkan apakah alur cerita ini berdasarkan sejarah nyata, atau hanya novel fiksi, bahkan beberapa bagian mungkin mitos? Ketika terdapat bantahan dari makalah Marihandono yang didasarkan arsip-arsip sejarah, kita semakin merenung jauh akan kebenaran cerita di balik pembobolan Cadas Pangeran yang selama ini kita terima begitu saja.

Pada kesimpulan Marihandono terdapat hal yang baik untuk kita cermati, bahwa mitos berfungsi sebagai identitas lokal. Menurutnya, penggunaan mitos untuk penulisan sejarah harus dicermati secara kritis karena banyak kelemahan dan penentuan temporal yang tidak jelas. Mitos sengaja dibuat di antaranya untuk menonjolkan peran seseorang dengan tujuan legitimasi kekuasaan atau pembenaran atas hak dan wewenang kelompok tertentu.

Kesimpulan di atas mengingatkan saya akan buku karangan Prof. Santos tentang Atlantis di Indonesia (Atlantis, The Lost Continent Finally Found) yang juga hanya mengandalkan mitos sebagai sumber datanya. Tiga blog saya tentang bantahan akan Atlantis di Indonesia itu ditanggapi secara luar biasa. Hingga saat ini telah masuk total lebih dari 400 tanggapan yang kebanyakan mengecam bantahan saya, baik dengan kalimat-kalimat santun, namun banyak juga yang memaki-maki dengan kalimat yang sangat kasar. Kecuali yang melecehkan agama dan kata-kata yang tidak pantas, semua saya approve di kolom komentar blog saya itu… dan saya hanya tersenyum saja, tidak akan pernah berkomentar lagi atas komentar. Enough is enough.

Referensi:

  • Sastrahadiprawira, R.M., 2009. Pangéran Kornél, Kiblat, Bandung.
  • Marihandono, J., 2008, Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran 1808: Komparasi Sejarah   dan Tradisi Lisan, Seminar “Peringatan 70 tahun Prof. Dr. RZ Leirissa,” 29 – 30 April 2008, Universitas Indonesia (http://staff.ui.ac.id/internal/131124734/material/ArtikelCadasPangeran.pdf) diunduh 14 Okt 2010.
  • Silitonga, P.H., 1972. Geologi Lembar Bandung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Comments are closed.