Budi Brahmantyo: Menemukan Manusia Pawon

REPUBLIKA
SOSOK

Minggu, 28 Juni 2009 pukul 01:15:00

Beberapa waktu lalu, para peneliti dari Balai Arkeologi menemukan Manusia Pawon di Gua Pawon, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Manusia pawon diperkirakan hidup pada masa sepuluh hingga enam ribu tahun yang lalu, yaitu Kala Plestosen akhir-Holosen awal.

Beberapa fosil manusia prasejarah yang mungkin hidup sezaman dengan manusia pawon diantaranya Manusia Wajak di Indonesia, Hoabinian di Vietnam dan Minatogawa di Jepang.

Kelompok manusia prasejarah zaman Neolitik itu jumlahnya tidak terlalu besar. Mereka merupakan kelompok pengembara yang menelusuri Danau Bandung Purba sampai berburu binatang untuk makanannya.

Uniknya, inilah kali pertama peneliti di Indonesia menemukan kerangka utuh manusia prasejarah. Penemuan ini mungkin tidak akan terwujud jika seorang geolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Brahmantyo, tidak melakukan penelitian awal di Gua Pawon.

Sambil jalan-jalan

Pada tahun 1999, Budi yang senang jalan-jalan sambil melakukan penelitian mengajak adik kelasnya, Eko Yulianto ke Batu Kapur Citatah, Padalarang.

Saat itu, Gua Pawon tidak terkenal seperti sekarang. Para geolog hanya melihat gua itu sebagai formasi batu kapur saja. Sedangkan pengusaha tambang melihatnya sebagai komoditas yang bisa digali dan menghasilkan uang. Juga tak ada laporan sejak zaman Belanda tentang sisa-sisa peninggalan arkeologis.

Namun, kecintaannya pada geologi yang selalu ingin mengetahui isi di dalam permukaan bumi mengantarkannya pada penelitian manual. Dengan mengajak Eko dan beberapa orang temannya, lelaki kelahiran Bandung, 19 Desember 1962 ini, melakukan metode geomagnet.

Metode ini memperlihatkan adanya anomali-anomali rendah yang diperkirakan sisa-sisa bersifat organik. “Di situ batu kapur, tak mungkin batu eksotis datang ke sana secara alamiah, pasti ada yang membawanya,” ujar suami Rini Praharati ini.

Semakin penasaran, mereka melakukan penggalian uji sekitar 50 cm, dan muncullah berkarung-karung sisa makanan, potongan tulang, alat-alat dari tulang termasuk alat-alat batu dari berbagai jenis batu.

Tak berpikir lama, Budi langsung melaporkan penemuan itu ke Kab Bandung Barat dan Balai Arkeologi Bandung. Tiga tahun kemudian, Balai Arkeologi melakukan eskapasi, dan beberapa tahun setelah itu ditemukanlah manusia pawon.

Selama proses tersebut, Budi bersama Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) yang dipimpinnya mengawal agar Gua Pawon tidak dirusak.

Dilindungi

Melihat penemuan tersebut, pemerintah menyatakan Gua Pawon salah satu tempat yang dilindungi. Secara ilmu, penemuan ini sangat mahal harganya. Terlebih buat orang-orang bule yang selalu penasaran akan sejarah lahirnya manusia. Dari sisi lain, penemuan ini bisa dimanfaatkan sebagai geo wisata.

Selama ini, tak banyak orang yang mau berpanas-panasan melihat batu dan mendakinya. Namun dengan cerita, hal itu menjadi menarik dan bisa bernilai ekonomis. Lebih detailnya lagi, penemuan-penemuan seperti ini bisa mematahkan hasil penelitian sebelumnya.

Menurut Budi, Gua Pawon hanya bagian kecil dari arkeologi di Indonesia. Sayangnya belum ada penelitian yang menyeluruh. Kemungkinan penelitian tersendat masalah dana. Namun, penelitian yang berhubungan dengan alam seperti geologi, tidak harus resmi dan selalu ada penyandang dana.

“Apa susahnya kita datang ke lapangan, paling hanya mengeluarkan ongkos dan makan siang saja. Itu kan biaya sehari-hari yang tanpa ke lapanganpun akan mengeluarkan jumlah uang yang sama,” katanya.

Swadaya

Setelah mengambil gelar master Geologi Kuarter/Lingkungan Universitas Nigata Jepang tahun 1998, Budi sering berlibur ke lokasi arkeologi. Di sana mereka diskusi, meneliti, dan ketika makan siang, mereka membuka bekal masing-masing dan memakannya bersama-sama.

Tak harus ada yang mentraktir atau menyediakan uang dalam setiap perjalanan. Cara ini dipelajarinya dari Jepang, saat ia belajar di sana. “Profesor di Jepang sering mengajak siswanya jalan-jalan, bahkan ia membukanya secara umum untuk masyarakat,” ujarnya.

“Yang mau ikut tinggal menyediakan ongkos dan membawa makanan masing-masing. Cara inipun membuat hilangnya ewuh pakewuh. Berbeda dengan di Indonesia, yang sering ada perasaan harus mentraktir ataupun menyediakan dana,” tambahnya.

Namun bukan hal mudah juga untuk mengubah kebiasaan di Indonesia. Budi sempat mengalami kesulitan ketika mengubah kebiasaan teman-temannya dalam penelitian. Untungnya itu tak berlangsung lama. Karena rupanya banyak orang yang sepaham dengan dirinya.

Kebersamaan mereka akhirnya membentuk KRCB pada 12 Desember 2000. Kini, KRCB tak hanya konsen meneliti di Cekungan Bandung namun juga daerah lain seperti Purbalingga.

Bahan dasar

Dalam penelitiannya, KRCB belum bisa optimal. Namun, hasil penelitian tersebut bisa dijadikan bahan dasar untuk penelitian yang lebih besar. Anggaran pendidikan yang meningkat 20 persen ditambah biaya penelitian dari berbagai instansi, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh peneliti.

Sehingga, tak ada alasan untuk peneliti enggan meneliti karena keterbatasan dana. Tapi tentunya proposal yang diajukan akan lebih dilirik jika peneliti sudah melakukan penelitian awal.

Pengalamannya di Jepang ia praktikkan di ITB. Minimal setiap satu semester per mata kuliah, lulusan S3 Geologi ITB ini mengajak mahasiswanya studi lapangan. Buatnya, geologi tanpa praktik lapangan seperti makan tanpa garam alias hambar. Dengan studi lapangan pula, mahasiswa akan mencintai dunia penelitian.

“Di Jepang, professor dan mahasiswa bisa berdiskusi secara imbang. Ketika mahasiswa lebih pintar, maka professor akan menggut-manggut dan ikut belajar darinya,” cetus Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwistaaan (P-P2Par) ini seraya berkata ingin menciptakan kultur tersebut pada anak didiknya.

Kecintaannya pada geologi bermula dari kecintaannya pada alam. Meskipun dibesarkan di kota besar, Budi selalu bermain di alam. Saat mengenyam pendidikan di SD Mohammad Toha VI, ia sering bermain di sawah, danau, ataupun gunung yang jaraknya jauh dari kediamannya. Bahkan, ia bisa bersepeda 15 km ketika bermain ke sawah.

Ketika duduk di bangku SMAN IV Bandung, tiba-tiba ia menemukan buku pamannya yang tak bersampul. Ketika dibaca ia begitu hanyut dan mencintai cerita gunung berapi dan manusia purba di dalamnya. Beberapa waktu kemudian, ia mengetahui semua yang dibacanya bisa dipelajari di geologi. Hingga akhirnya, ia pun masuk ke Geologi ITB dan kini menjadi staf pengajar di jurusan yang sama. (reni susanti)

4 comments to Budi Brahmantyo: Menemukan Manusia Pawon

  • salam,
    pak Budi, saya kok jadi tertarik membaca tulisan tulisan anda tentang geologi, masyarakat umum seperti saya boleh ga ikut KRCB *saya tdk berlatar belakang pendidikan geologi*. terima kasih.

  • admin

    boleh … namun sekarang KRCB agak vakum krn kesibukan para anggotanya, sebagai gantinya mas Tedi bisa ikut kegiatan Jelajah Geotrek atau Jajal Geotrek. Itu adalah kegiatan geoweisata di sktr Bdg utk masyarakat umum Bdg. Coba ikuti thread kami di FB. Add saya atau T. Bachtiar

  • Yuda Rihal Firdaus

    Sampurasun,
    Pak Budi, saya mahasiswa Bapa di ITSB..
    wah, saya kagum dengan tulisan bapa,dan petualangan bapa..
    apalagi ternyata bapa dkk menemukan manusia pawon, kalo kata basa sunda mah pawon teh dapur, hehehe..
    saya juga tertarik dengan gunung api dari SMP, dan manusia purba dari SD..
    hehehe, salam kenal Pak..
    Wilujeng

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>