Banjir Bandang Bandung Akan Terus Berulang

kliping koran Galamedia tahun 2006

Artikel di Koran Tempo, Senin 21 November 2016 ini ditulis atas permintaan Kurniawan, wartawan Koran Tempo beberapa hari sebelumnya. Saya tidak tahu mengapa meminta artikel kepada saya. Saya pikir dalam rubriknya akan ada beberapa opini. Nyatanya hanya opini saya saja di Kolom Pendapat halaman 11.

Di blog budibumi ini, sebelum artikel ini, saya muat juga klipping koran Galamedia, Minggu 23 April 2006. Saat itu dalam rangka memperingati Hari Bumi dan peluncuran perdana Jurnal Geopalika, saya berujar bahwa “Banjir Bandang Bisa Landa Bandung.” Pernyataan ini mengacu kepada peristiwa banjir bandang sebelumnya yang melanda Kota Trenggalek di Jawa Timur. Pernyataan saya tersebut didukung oleh anggota dewan pakar DPKLTS, Sobirin. Menurutnya, sangat wajar karena hingga saat itu (tahun 2006) sekitar 70% hutan lindung di wilayah Bandung sudah rusak. “Jika kerusakan hutan terus terjadi, pada 2015 di wilayah Bandung sudah tidak ada hutan lagi,” jelas Sobirin. Dalam artikel yang sama, Prof. Otto Soemarwoto, pakar lingkungan dari Unpad, menegaskan bahwa banjir bandang yang menimpa Trenggalek mungkin saja dapat terjadi di Bandung. Hal itu terjadi bila terjadi hujan cukup dahsyat.

Pernyataan 10 tahun lalu itu muncul kembali setelah kejadian banjir bandang yang melanda Terusan Pasteur dan terutama hanyutnya mobil di Ci Tepus di Jl. Pagarsih Bandung. Seolah-olah, perkiraan 10 tahun lalu itu menjadi kenyataan. Padahal banjir besar Pagarsih sebenarnya telah terjadi pada 2012 dan ditandai dengan sebuah meme “wahana olah raga baru arung jeram di Jl. Pagarsih.”

Berikut adalah artikel di kolom Pendapat Koran Tempo, Senin 21 Nov 2016 itu. Selamat membaca.

Secara mengejutkan dan seolah-olah luput dari antisipasi warga Bandung, di Akhir Oktober dan awal November 2016 terjadi peristiwa yang akan dikenang sebagai banjir bandang Bandung. Peristiwa yang dengan tragis menghanyutkan beberapa kendaraan di Jl. Pagarsih, Bandung, walaupun pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, tidak ayal menimbulkan kehebohan karena kali ini peristiwanya lebih besar.

Banjir dengan aliran cepat dan berarus deras yang sebenarnya merupakan luapan Ci Tepus secara alamiah memang merupakan peristiwa alam yang berhubungan dengan hujan besar di daerah aliran sungai (DAS) hulu Ci Tepus. Dengan karakteristik seperti itu, banjir Ci Tepus dapat dikategorikan sebagai banjir bandang.

Banjir bandang (flash flood) didefinisikan oleh banyak institusi, kamus, maupun ensiklopedia, sekalipun kalimatnya berbeda-beda, sebagai suatu peristiwa alam naiknya secara tiba-tiba debit sungai dengan kecepatan tinggi yang disebabkan oleh curah hujan besar. Banjir bandang berbeda dengan banjir (flood). Banjir adalah peristiwa alam meluapnya atau naiknya air sungai menggenangi wilayah bantaran sungai. Datangnya tidak secara tiba-tiba, relatif bertahap, dan dapat terpantau. Jika banjir umumnya menggenang cukup lama, banjir bandang hanyalah aliran besar sesaat, namun sangat besar dengan arus kuat.

artikel di Koran Tempo 21-11-16

Dari peristiwa banjir bandang Ci Tepus, banyak yang merasa heran mengapa seolah-olah peristiwanya baru sekarang terjadi? Banyak yang menduga bahwa selain memang pola curah hujan yang menjadi besar di utara Bandung saat peristiwa itu terjadi, juga dicurigai terjadi perubahan tata guna lahan di DAS hulu Ci Tepus. Kecurigaan ini bisa benar karena fakta lapangan menunjukkan bahwa di DAS hulu Ci Tepus di atas Jl. Dr. Junjunan (Terusan Pasteur) terjadi pembangunan permukiman yang rapat bahkan hingga hulunya di wilayah Lembang.

Melalui penelusuran dari peta Street Atlas Bandung (Periplus, 2004-2005), Ci Tepus, yang bermuara ke Ci Tarum di sekitar Cangkuang, mempunyai aliran ke arah hulu, ke utara, melalui Terminal Leuwipanjang, Nyengseret, Pekuburan Astanaanyar (dan di sini bergabung Ci Kakak), memotong terusan Jl. Pasirkoja, Jl. Pagarsih, Jl. Jenderal Sudirman di sekitar Andir, Ciroyom, Jl. Bima, hingga Pekuburan Sirnaraga. Di sekitar Lapangan Terbang Husein Sastranegara, Ci Tepus mencabang dua, satu ke arah barat laut sebagai sungai utama dan bernama Ci Beureum, satu lagi berupa cabang pendek Ci Pedes.

Cabang utama Ci Beureum adalah aliran sungai cukup besar yang mengalir melalui permukiman padat di daerah Setra Duta, mengalir di sebelah barat UPI, dan wilayah Cihideung dimana aliran Ci Hideung juga bergabung. Ke arah hulu, aliran menerus hingga sebelah barat Lembang, dan ujung sungai-sungai ini berada di lereng selatan G. Tangkubanparahu.

Dari kondisi morfologi ini, dapat digambarkan bahwa, gradien sungai (kemiringan aliran) relatif landai dari muaranya di selatan hingga di sekitar Husein Sastranegara. Di atas itu, gradien sungai meninggi selari dengan memasuki kawasan perbukitan yang semakin tinggi di Setra Duta, Cihideung, dan semakin tinggi setelah Lembang. Dalam proses terjadinya banjir bandang, kondisi morfologi seperti ini adalah sangat tipikal. Hal itu tidak hanya terjadi pada Ci Tepus saja, juga sungai-sungai yang berhulu di perbukitan Kawasan Bandung Utara (KBU).

Analisis morfologi menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang rawan terjadinya banjir bandang adalah wilayah dimana terjadi perubahan gradien sungai dari tinggi ke rendah. Bayangkan arus deras yang menggelontor di daerah perbukitan dengan lembah sungai curam, mendadak memasuki lereng landai dengan lembah mendangkal. Luapan dengan dorongan arus keras akan terjadi di tempat-tempat seperti ini. Maka tidak heran wilayah-wilayah rawan itu terjadi kebetulan sejalan dengan poros Terusan Pasteur, Surapati, Cicaheum, Ujungberung, hingga Cileunyi.

Sebuah penelitian kecil pernah dilakukan oleh Sagara, Riono, Adityo dan Brahmantyo pada tahun 2010 untuk dua DAS, yaitu Ci Durian dan Ci Saranten. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bentuk DAS Ci Durian yang cenderung lurus dan sempit, lebih rawan mengalami banjir bandang dibandingkan DAS Ci Saranten yang berbentuk membundar dan lebar. Hal ini selaras juga dengan penelitian yang dilakukan Badan Survei Geologi AS (USGS) yang menunjukkan bahwa dalam curah hujan yang sama, DAS yang menyempit akan dengan cepat meningkatkan debit secara tiba-tiba dibandingkan dengan DAS yang melebar.

Secara geologi, batuan utama d wilayah perbukitan KBU adalah hasil endapan letusan Gunung Sunda Purba berupa breksi denga sisipan lava yang kompak dan keras. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa uji infiltrasi air sangat kecil di wilayah perbukitan dengan lereng-lereng terjal ini. Dapat disimpulkan bahwa perbukitan KBU mempunyai daya resap air hujan rendah, sehingga saat hujan besar akan lebih banyak limpasan permukaan. Kondisi ini diperparah dengan dengan hilangnya hutan di KBU dan digantikan permukiman atau ladang-ladang terbuka. Perubahan guna lahan ini semakin meningkatan limpasan air permukaan. Padahal hasil penelitian Leopold yang dikutip dalam Morisawa (1985) menjelaskan bahwa kenaikan debit sungai secara cepat dalam waktu jeda yang singkat akan terjadi pada DAS dengan permukaan yang impermeabel atau relatif kedap air.

Dari beberapa kajian geologi dan morfologi wilayah utara Bandung, terang bagi kita bahwa banjir bandang akan terus mengancam Bandung. Sungai-sungai yang berhulu di utara Bandung yang mempunyai batuan dasar breksi-lava yang kompak dan keras, apalagi ditambah berubahnya hutan menjadi permukiman atau ladang, serta DAS yang relatif lurus, akan sangat rawan tertimpa banjir bandang. Jadi, dengan perubahan tata guna lahan yang luara biasa di perbukitan KBU,kejadian banjir bandang akan lebih sering kita alami di masa depan. ***

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>