Menyoal T. rex di Ujungberung

Oleh Budi Brahmantyo

Catatan: artikel dimuat di surat kabar Tribun Jabar, Selasa 21 Juni 2016 untuk menanggapi pro-kontra penempatan patung T. rex di Ujungberung. Saat naskah tersebut dikirim ke redaksi pada Minggu, 19 Juni 2016, rupanya patung telah dipindah ke Taman Lansia jl. Cisangkuy, Bandung.

Pro-kontra penempatan patung dinosaurus T. rex, sangat menarik. Memang dari sudut pandang latar belakang Ujungberung, sangat tidak jelas alasan penempatan patung itu di Alun-alun Ujungberung. Namun, justru hal itu mengundang tanda tanya besar yang mudah-mudahan mengundang rasa ingin tahu juga.

T. rex, kepanjangan Tyrannosaurus rex adalah jenis dinosaurus karnivora yang hidup pada Zaman Kapur (Cretaceous Period) di Masa Mesozoik, kira-kira 146 – 65 juta tahun yang lalu. Secara harfiah arti namanya adalah ‘raja kadal yang kejam.’ Tubuhnya bisa mencapai panjang 12 – 13 meter dengan tinggi 5 – 6 m, dan beratnya diperkirakan mencapai 5 – 7 ton.

Bayangkan dengan ukuran-ukuran setinggi dan seberat itu, dilengkapi dengan kepala besar yang kurang proporsional terhadap tubuhnya, dengan rahang kuat bergigi tajam, dinosaurus ini menjadi raja rimba Zaman Kapur. Beberapa literatur menyatakan bahwa seekor T. rex menyerang mangsanya dengan rahang dibuka lebar-lebar. Rahangnya yang kuat dapat meremukkan tulang-tulang mangsanya yang besar. Ia dapat menggigit potongan daging sepanjang 1 m dari mangsanya. Mangsanya yang lebih kecil akan dijepit seperti tang di antara rahangnya, dikibas-kibaskannya sampai mati lalu ditelannya. Bayangkan seekor buaya saat melahap mangsanya seperti yang kita lihat di tayangan televisi.

Menurut dugaan para ahli Paleontologi, seekor T. rex dapat berlari paling cepat 32 km/jam. Jika terjatuh, lengannya yang pendek tidak dapat menahan tubuhnya yang berat dari kejatuhan. Ia mungkin akan cedera atau bahkan tewas. Bila tidak mendapatkan buruannya, ia merebut mangsa yang dibunuh oleh karnivora yang lebih kecil. Namun T. rex tidak dikenal sebagai pemakan bangkai.

Walaupun dalam film-film, hewan purba ini selalu digambarkan garang, sadis, dan buas, tetapi entah bagaimana, ia menjadi favorit kita semua, termasuk anak-anak. Apalagi penggambaran yang nyata pada film Jurassic Park, yang menyelamatkan para tokoh utama film tersebut dari kejaran Velociraptor, menempatkan T. rex bagaikan pahlawan. Stephen Spielberg, sutradara film tersebut, sadar benar bagaimana citra yang “baik” bagi anak-anak telah menerap pada diri T. rex.

Namun film-film itu juga, termasuk buku-buku novel dan komik, yang menempatkan T. rex seolah-olah pernah bersua dengan bangsa manusia. Jika alur cerita menempatkan manusia purba, para pengarang selalu menghadirkan dinosaurus, terutama sang raja kadal kejam ini. Padahal, dari masa hidupnya pada Zaman Kapur, dalam dunia nyata, dinosaurus tidak pernah berhubungan dengan manusia.

Untuk menjelaskan ini, terpaksa kita harus membaca apa yang dikenal dengan skala waktu geologi. Waktu geologi adalah sejarah Bumi kita. Skalanya terrentang sejak Bumi terbentuk kira-kira 5 milyar tahun yang lalu bersamaan dengan terbentuknya Tata Surya. Kolom awal kehidupan dikenal sebagai masa (era), yang terbagi ke dalam tiga masa yaitu Paleozoik, Mesozoik, dan Kenozoik. Setiap masa dibagi ke dalam beberapa zaman (period).

Zaman Kambrium pada Masa Paleozoik, kira-kira 570 juta tahun yang lalu dikenal sebagai zaman awal kehidupan dengan ditemukannya fosil-fosil mirip udang yang hidup melata di dasar laut. Lalu setelah itu, pada zaman-zaman berikutnya kehidupan berkembang dengan luar biasa. Ikan pertama misalnya muncul di Zaman Silur (408 – 438 juta tahun) dan berjaya selama Zaman Devon (360 – 408 juta tahun). Serangga bersayap, reptilia dan sejenis kecoa muncul pada Zaman Karbon (280 – 360 juta tahun) diikuti amfibi pada Zaman Perm (248 – 280 juta tahun).

Zaman Perm menandai berakhirnya Masa Paleozoik, dan dimulainya Masa Mesozoik yang terbagi menjadi tiga zaman, yaitu Trias, Jura, dan Kapur. Inilah masa kejayaan dinosaurus. Masa ini berakhir pada 65 juta tahun yang lalu. Hampir semua raksasa dinosaurus punah, termasuk T. rex, pada titik waktu ini. Banyak dugaan punahnya mereka akibat adanya jatuhan asteroid raksasa yang menghantam Bumi. Benturannya yang maha dahsyat mampu mengubah iklim Bumi dan menewaskan para dinosaurus yang berdarah dingin yang tidak siap beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang drastis. Bagian dari bangsa mereka yang tersisa adalah dari jenis yang berukuran kecil yang dapat sintas pada lingkungan yang berubah ekstrim, yang kemudian bertahan berupa reptilia yang hidup hingga sekarang.

Setelah masa kepunahan masal 65 juta tahun yang lalu itu, Bumi memasuki masa baru yang dikenal sebagai Masa Kenozoik. Pada masa ini, mamalia merajai Bumi. Namun kemunculan bangsa manusia yang paling primitif (yang sulit untuk dikatakan sebagai manusia), baru diketahui sekitar 2 – 3 juta tahun yang lalu. Manusia modern seperti kita Homo sapien, dari temuan-temuan di banyak situs arkeologi di seluruh dunia, diperkirakan baru muncul 30.000 – 10.000 tahun yang lalu.

Bayangkan betapa jauhnya jurang waktu antara manusia purba yang hidup 2 juta tahun yang lalu, dengan kepunahan dinosaurus, termasuk T. rex, 65 juta tahun yang lalu. Mereka sama sekali tidak pernah berhadap-hadapan satu dengan lainnya. Hanya khayalan para pengaranglah yang membuat hal itu mungkin terjadi, seperti menciptakan kembali dinosaurus melalui rekayasa genetika dalam tetralogi Jurassic Park.

Pernahkah hidup di Indonesia?

Seperti disebutkan di atas, T. rex dan bangsa dinosaurus hidup berjaya selama Masa Mesozoik 248 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada masa itu, geologi Indonesia pada umumnya masih berupa lautan. Saat Benua Gondwana pecah pada masa itu, dan benua-benua tergeser memisah, Indonesia masih terdorong-dorong sebagai kerak lautan.

Belum jelas benar pulau mana di Indonesia yang muncul pertama sebagai daratan. Besar kemungkinan sebagian dari Papua. Namun yang pasti, Kepulauan Indonesia hampir utuh menjadi daratan seperti sekarang ini saat memasuki Zaman Kuarter, kira-kira 2 juta tahun yang lalu.

Maka, sangatlah sulit mencari fosil dinosaurus daratan di Indonesia. Jika memungkinkan, paling-paling jenis dinosaurus yang hidup di lautan, leluhur ikan paus atau hiu. Namun masih ada peluang untuk mencarinya di Papua. Satu formasi lapisan batuan berumur Trias tersingkap di antara Timika dan Tembagapura sebagai lapisan yang diendapkan pada lingkungan sungai dan pantai. Mungkin di sanalah kita akan mendapatkan fosil dinosaurus darat pertama.

Jadi T. rex yang hidup di Zaman Kapur tidak mungkin ditemukan di Indonesia. Selain selama Zaman Kapur Indonesia masih lautan, fosil-fosil T. rex hanya ditemukan di Amerika Utara. Sebagai contoh, rekonstruksi replika fosil T. rex Osborn yang dipajang di Museum Geologi Bandung adalah jenis T. rex yang pernah hidup di Kanada.

Nah, apalagi Ujungberung! Morfologi Daerah Ujungberung merupakan peralihan dari kaki Gunung Palasari dan dataran endapan Danau Bandung Purba. Batuannya tersusun dari endapan-endapan hasil gunung api yang diperkirakan sejaman dengan Gunung Sunda purba yang meletus 105.000 tahun yang lalu. Di daerah datarannya adalah endapan-endapan danau purba yang seumur. Secara waktu geologi, umurnya sangat sangat muda.

Namun jenis-jenis gajah, badak, buaya, bahkan tapir, masih mungkin ditemukan fosilnya di wilayah bekas Danau Bandung Purba itu. Seandainya ditemukan fosil T. rex di Ujungberung, ilmu Geologi dijamin bakal hancur berantakan dan perlu direvisi besar-besaran.

Namun menurut hemat saya, sekalipun di Ujungberung bukan tempat hidupnya T. rex, penempatan patungnya di Alun-alun Ujungberung sangat baik untuk menggugah rasa ingin tahu masyarakat. Terlepas bahwa patung itu dinilai jauh dari nilai-nilai kesundaan atau kesejarahan alam, jika dikemas sebagai penggugah ilmu pengetahuan, patung T. rex akan merupakan ikon intelektualitas Ujungberung. Semoga ***

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>