Kilas Balik Lima Tahun GEOMAGZ

Tidak terasa lima tahun sudah majalah geologi populer GEOMAGZ yang anda pegang ini rutin terbit empat kali setiap tahunnya. Saat itu dalam rinai hujan malam bulan Desember 2010 di satu kamar hotel di Cipanas, Garut, nama GEOMAGZ lahir. Akankah terus bertahan?
Majalah ini lahir sebagai transformasi perkembangan Warta Geologi yang rutin memberitakan aktivitas internal Badan Geologi. Ketika terdapat tuntutan untuk menyosialisasikan kegeologian ke masyarakat umum, maka diprakarsai suatu media yang terpisah dari Warta Geologi. Tercetuslah ide menerbitkan satu majalah geologi populer.

Namun, nama “Majalah Geologi Populer” terlalu panjang dan terkesan resmi jika digunakan sebagai nama majalah. Nama majalah dituntut harus populer, tetapi tetap mengusung kegeologian Indonesia. Selain itu namanya harus mudah diingat atau mind-catching, tetapi tetap mencerminkan visi misi Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Setelah diskusi dan pemaparan, serta penelusuran di internet, tim redaksi akhirnya sepakat memilih nama GEOMAGZ. Nama ini dipilih dari beberapa alternatif nama dan pertimbangan nama majalah kebumian yang beredar di dunia. Misalnya melalui telusuran internet diketahui adanya majalah kebumian terbitan Jerman yang bernama GEO.

Penggunaan singkatan magazine sebagai nama majalah, bagaimana pun terinspirasi dari majalah di luar dunia kebumian yang telah terbit, yaitu Lionmag (majalah udara satu maskapai penerbangan nasional), dan Cinemagz (majalah lisensi asing yang terbit di Indonesia dalam bidang film/sinema). Munculnya huruf Z sebagai singkatan ‘magz’ alih-alih ‘mag’ karena ternyata di dunia, nama GEOMAG telah dipergunakan sebagai satu merek mainan konstruksi (seperti Lego) menggunakan batang-matang magnetik. Nama itu juga sudah digunakan oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) untuk satu nama program penyelidikan magnetik mereka.

Nama GEOMAGZ memang terasa keinggris-inggrisan. Namun tim redaksi tetap sepakat dengan nama itu agar juga ada harapan bisa mendunia, walaupun semua artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia, kecuali dwi-bahasa Indonesia – Inggris di rubrik geofoto. Lalu ketua tim redaksi mengetok meja, cukup dengan tangan karena tidak tersedia palu, saat jam dinding menunjukkan jarum telah lewat tengah malam.

Perwajahan GEOMAGZ

Disainer sampul dan isi majalah dibebani tugas yang tidak ringan. Tuntutan sifat kepopuleran majalah menjadi masalah ketika sasaran pembaca ini mestinya menengah ke atas dan mereka yang ingin mengetahui permasalahan kegeologian. Artinya, bergenre populer tetapi bukan dalam pemahaman majalah hiburan.

Beruntunglah ada contoh yang bagaimana pun mempengaruhi gaya penerbitan majalah sejenis, yaitu Majalah National Geographic Indonesia (NGI). Majalah berlisensi Amerika ini yang telah terbit dengan versi Indonesia sejak April 2005 telah menjadi contoh gaya layout GEOMAGZ. Tentu saja tidak persis sama.

Akhirnya, terancanglah GEOMAGZ nomor perdana yang bergaya populer, modern, fleksibel, dan international look. Konsep desain yang diusung GEOMAGZ cenderung playful karena di beberapa bagian keluar dari pakem grid yang konvensional. Namun, tidak megurangi kesan rapi dan clean. Selain perubahan konsep tata letak yang lebih modern dan fleksibel dari majalah pendahulunya, seluruh aplikasi tipografi dalam GEOMAGZ juga mengalami pembaruan. Penggunaan linings dan separator yang lebih sederhana bertujuan untuk menimbulkan kesan lapang sekaligus elegan, yang menambah kenyamanan saat membaca.

Desain baru ini juga memberi ruang lebih besar untuk fotografi, yakni dengan membagi rubrikasi dengan sebuah halaman penuh (spread page). Dengan tampilan seperti ini diharapkan GEOMAGZ dapat tampil lebih segar dan digemari kalangan pembaca lebih luas, serta dapat bersaing dengan perwajahan terbitan luar negeri. Gaya ini dinamis dengan mengalami perubahan tetapi tidak mengubah total tampilan majalah.

Ujian di Nomor Perdana

Nomor perdana untuk volume pertama merupakan ujian bagi GEOMAGZ, apakah majalah ini dapat diterima pembaca. Tantangan nomor perdana juga adalah kekurangan sejumlah artikel untuk dimuat. Akhirnya diputuskan bahwa hampir semua artikel ditulis oleh anggota redaksi. Cover story (cerita sampul) atau topik utama dipilih tentang Sesar Lembang, dengan judul Sesar Lembang, Heartquake di Jantung Cekungan Bandung. Banyak artikel juga bercerita tentang Cekungan Bandung, misalnya letusan Gunung Sunda purba. Begitu pula esai foto masih di seputar Bandung, yaitu Ci Tarum, Urat Nadi Jabar yang Tercemar.

Ketika nomor perdana ini terbit, sambutannya di luar perkiraan. Hampir semua pembaca mengapresiasinya dengan baik. Bahkan Kepala Badan Geologi saat itu, Dr. R. Sukhyar, dalam suatu pertemuan dengan dewan redaksi GEOMAGZ, mengacungkan nomor perdana ini dengan ungkapan pujian atas format dan isi GEOMAGZ. Baginya, GEOMAGZ menjadi corong Badan Geologi yang salah satu fungsinya yaitu mensosialisasikan dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dalam kegeologian.

Tanggapan positif datang dari berbagai kalangan. Pada umumnya mereka menyambut baik GEOMAGZ yang berpenampilan setara dengan Majalah NGI. Beberapa tanggapan bahkan memberi nilai tambah karena semua artikelnya tentang kegeologian Indonesia.
Namun demikian kritik juga ada. Di antaranya tanggapan terhadap tampilan foto yang kurang jelas. Beberapa menilai artikelnya masih kurang menggunakan bahasa populer sehingga masih sulit dicerna. Ada pula kritik terhadap materi yang hanya fokus di sekitar Bandung. Pengeritik khawatir edisi berikutnya masih tentang Bandung lagi. Bahkan ada yang memberi kritik tentang nama GEOMAGZ sendiri yang menggunakan bahasa asing.

Masukan positif dan kritik itu menjadi pelecut bagi dewan redaksi untuk membuktikan semuanya di nomor kedua. Topik utama tentang Museum Geologi menjadi pilihan. Di nomor kedua ini, artikel dari penulis di luar dewan redaksi mulai banyak dimuat. Namun demikian, artikel-artikel penulis luar tersebut masih didapatkan berdasarkan permintaan.

GEOMAGZ Nomor 3 dengan cerita sampul Gunung Anakkrakatau mungkin menjadi salah satu perwajahan sampul GEOMAGZ yang terbaik. Sampul memperlihatkan foto karya Anton pengamat di Pos Gunung Anakkrakatau yang memperlihatkan letusan Anakkrakatau pada malam hari yang menyemburkan lava. Pada GEOMAGZ Nomor 4 yang jatuh di bulan Desember, GEOMAGZ mengambil cerita sampul tentang peringatan bencana tsunami di Aceh, dengan judul Dekade Teror Gempa Sumatra.

Volume Selanjutnya

Pada GEOMAGZ volume selanjutnya, banyak artikel berdatangan sendiri ke redaksi. Hal ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan karena GEOMAGZ telah dianggap sebagai media yang patut diperhatikan. Pada tahun keduanya, berturut-turut GEOMAGZ mengusung cerita sampul No. 1 tentang Indonesia yang bertekad meraih pengakuan dunia melalui taman bumi dengan judul Indonesia Menuju Jaringan Geopark Dunia. Edisi No. 2 membahas geliat batubara yang sedang menanjak dalam judul Berharap Banyak Pada Batubara. Lalu pada edisi No. 3 kembali mengangkat Krakatau dengan judul Menjelajah Ingatan akan Krakatau 1883, dan keberhasilan Indonesia meraih pengakuan internasional melalui taman bumi dimuat di edisi No. 4 Kaldera Batur, Taman Bumi Pertama dari Indonesia.

Pada Volume 2 No. 3 yang terbit bulan September 2012 seolah-olah selalu menjadi edisinya Krakatau. Setelah di volume 1 nomor 3 tentang Krakatau, maka di volume 2 nomor 3 juga mengangkat tema Krakatau. Bedanya pada volume 2 ini, artikel utama merupakan hasil liputan langsung tim redaksi GEOMAGZ ke Gunung Anakkrakatau.

Liputan yang tadinya merupakan liputan biasa berubah menjadi luar biasa. Sejam sebelum perahu motor yang ditumpangi tim redaksi tiba di Gunung Anakkrakatau, sang gunung meletus. Abunya yang terlontar ke angkasa dapat dilihat jelas dari perahu pada jarak kurang lebih 5 km. Dengan perasaan antara khawatir tetapi bersemangat karena beruntung bisa menyaksikan gunung bersejarah ini meletus, tim redaksi dengan hati-hati mendarat di sisi utara gunung. Lontaran bebatuan yang mengarah ke barat, membuat tim redaksi cukup aman untuk mengamati letusan sang legenda. Namun tidak urung tim redaksi cepat-cepat meninggalkan pulau gunung api itu ketika dirasakan letusan semakin membesar.

Pada akhir tahun 2012 itu, berita gembira datang dari sidang Global Geopark Network (GGN) di Portugal: Kaldera Batur resmi diterima sebagai anggota taman bumi dunia (global geoprak). Hal ini menjadi prestasi kebumian Indonesia yang sangat menggembirakan karena pengukuhan itu sudah dirancang sejak 2010 dan sempat gagal di tahun 2011. Menyambut hal itu, GEOMAGZ Edisi Desember 2012 (Volume 2 Nomor 4) mengusung cerita sampul tentang Geopark Global Kaldera Batur, Bali.

Memasuki tahun ke-3, GEOMAGZ telah menjadi incaran banyak pembaca untuk memilikinya. Hal itu tercermin dari surat-surat elektronik yang masuk yang menanyakan tentang kemungkinan untuk membeli GEOMAGZ. Namun keputusan Badan Geologi tetap mempertahankan GEOMAGZ sebagai non-PNBP sehingga tidak dapat dijual. Di sisi lain, tanggapan yang luar biasa dari pembaca di luar kalangan geologi menunjukkan hausnya masyarakat akan informasi kegeologian yang mudah dicerna dengan bahasa populer. Untuk memenuhi keinginan masyarakat ini, Badan Geologi membuka layanan internet yang mengunggah GEOMAGZ versi elektronik yang dapat diunduh gratis dalam format pdf.

Pada tahun 2015 ini, Edisi Maret 2013 menjadi sangat berkesan bagi tim redaksi GEOMAGZ. Saat itu untuk mengisi cerita sampul dan rubrik Langlang Bumi (yang tadinya bernama Geotrek di Volume 1 dan Geotravel di Volume 2), peliputan ke Jawa Tengah mengajak serta M.M. Purbo Hadiwidjoyo. Kenangan itu begitu terpatri sehingga redaksi merasa kehilangan ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang pada Jumat, 9 Oktober 2015.

Pak Purbo almarhum yang saat itu berusia 90 tahun dengan masih semangat menjelajah dan menjelaskan fenomena geologi di sepanjang daerah yang sering dilewatinya sewaktu muda. Sejak dari Wangon, Purwokerto, hingga ke kampung halamannya di Magelang, lalu berputar ke Wonosobo, Dieng dan Banjarnegara, dan kembali ke Bandung, ia seperti tidak menunjukkan kelelahan pada usianya yang sepuh itu. Begitulah atas sarannya juga ia menamai geologi linewatan untuk judul cerita sampul, sebagai makna geologi daerah yang selalu terlewati.

Selanjutnya, GEOMAGZ Nomor 2, 3 dan 4 Volume 3 tahun 2013 itu berturut-turut mengusung cerita sampul Menelusuri Jejak Penemuan Manusia Purba (hasil liputan ke Trinil dan Sangiran), Daulat Rakyat di Ladang Minyak (hasil liputan ke Cepu), dan Megapolitan Jayabaya, artikel yang dipicu persoalan meraksasanya Jakarta ke wilayah-wilayah sekitarnya.

Memasuki tahun ke-4, empat nomor kembali mengunjungi para pembaca, baik yang mendapatkan edisi cetaknya, maupun melalui edisi elektronik. Cerita sampulnya di tahun ke-4 mengusung: No. 1 Gelegar Kelud 2014, menyambut letusan besar Gunung Kelud 13 Februari 2014 yang menghancurkan kubah lava yang terbentuk di tahun 2007. Pada edisi No. 2 cerita sampulnya mengusung tema industri kreatif, diantaranya melalui geotrek dan Museum Geologi: Meretas Gagasan, Melahirkan Kreativitas. Penerbitan edisi Juni 2014 ini juga menyambut selesainya rekonstruksi kerangka fosil gajah dari Blora yang terlengkap ditemukan di Indonesia. Pada edisi No. 3 judulnya adalah Hidup Harmonis Bersama Gunung Api, yang merupakan tema untuk menyambut Seminar Internasional IAVCEI Cities on Volcanoes di Yogyakarta pada Juli-Agustus 2014. Tema yang sama yang dipergunakan oleh panitia IAVCEI Indonesia. Edisi No. 4 bercerita sampul 10 tahun Tsunami Aceh. Tema ini sebenarnya mengulang tema edisi Desember Tahun Pertama di 2011, namun dalam peringatan 10 tahun bencana berskala internasional itu, GEOMAGZ mengusung kembali sebagai pengingat kita semua.

Di akhir tahun 2014, penghargaan yang tidak disangka-sangka diraih GEOMAGZ. Pada kompetisi mengenai penerbitan yang diselenggarakan oleh Bako Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi, GEOMAGZ berhasil meraih Juara Ke-2 sebagai media yang berhasil, baik dalam sisi isi dan sajian, tampilan, serta keteraturan penerbitan.

Sayangnya pada tahun ini di ajang yang sama, GEOMAGZ hanya berada sebagai nominasi 6 besar dari ratusan publikasi penerbitan media internal Kementerian/Lembaga/Perguruan Tinggi Negeri/BUMN(D). Namun demikian, hal ini menunjukkan bagaimana GEOMAGZ tetap berkategori baik karena menyisihkan ratusan publikasi lainnya.

Di tahun yang kelima di 2015 ini, GEOMAGZ telah terbit dengan edisi No. 1 yang mengusung cerita sampul Kawasan Kars Sebagai Sistem Energi. Persoalan yang mencuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia tentang perseteruan antara rakyat di Jawa Tengah yang mempertahankan lahan pertaniannya dari industri semen, merupakan salah satu hal yang diangkat di nomor ini. Pada edisi No. 2 tema yang diangkat adalah tentang krisis energi dengan terpuruknya harga batubara dan anjloknya harga migas dunia, dengan judul Hari Depan Energi.
Di edisi No. 3 tema yang diangkat adalah masalah pembangunan yang bagaimana pun harus memperhatikan kondisi geologi, dalam judul Restu Geologi Untuk Pembangunan. Judul ini terilhami kata-kata mutiara yang disampaikan seorang sejarawan dunia Will Durant: Peradaban ada karena restu geologi, kapan pun selalu tunduk pada perubahan. Dan, pada edisi yang anda pegang sekarang, tema yang diangkat kembali ke geopark. Hal ini dikarenakan pada bulan September 2015, di forum Asia Pacific Geopark Network (APGN) di San’in Kaigan, Jepang, siding GGN telah memutuskan menerima geopark kedua dari Indonesia resmi menjadi anggota GGN, yaitu Geoprak Global Gunung Sewu.

Mulai Volume 5 ini terdapat rubrik baru yaitu Iber Bumi. Rubrik ini merupakan info grafis di bidang geologi dengan tujuan agar pembaca cepat memahami berbagai fenomena kegeologian yang tadinya rumit. Nama rubrik ini mengambil kekayaan kosakata dari Bahasa Sunda iber yang berarti informasi.

Dua Puluh Edisi

Hingga edisi sekarang, telah terbit sebanyak 20 edisi GEOMAGZ. Beberapa rubriknya menjadi favorit pembaca, di antaranya geofoto, langlang bumi, esai foto, dan profil. Khusus untuk profil, redaksi GEOMAGZ terkadang bertukar pikiran alot di antara anggota dewan redaksi untuk menampilkan sosok yang menonjol di bidang geologi. Sosok tersebut tidak saja bekerja di Badan Geologi, tetapi juga di instansi kegeologian lainnya, atau di perguruan tinggi.

Dalam 20 edisi tersebut, sosok-sosok geologiwan atau yang berkutat di seputar kegeologian, muncul di rubrik profil. Mereka berturut-turut adalah: Kama Kusumadinata (Ahli Gunung Api Pembuat Peta Spidol), J.A. Katili (Bapak Geologi Indonesia), R.P. Koesoemadinata (Bapak Geologi Migas Indonesia), Emmy Suparka (Profesor Geologi Perempuan Pertama Indonesia), Rab Sukamto (Bonek yang Tak Henti Belajar), R. Sukhyar (Bentara Utama Sumber Daya Mineral Indonesia), M.M. Purbo-Hadiwidjoyo (Selalu Bersyukur, Sugih Tanpa Banda), Nana Suwarna (Memetakan Bumi, Mengelola Publikasi), Fachroel Aziz (Keliling Dunia Berkat Fosil Hominid), Yunus Kusumahbrata (Dengan Taman Bumi Masyarakat Sejahtera), A. Djumarma Wirakusumah (Perawi Gunung Api), Sampurno (Membangun Negeri dengan Geologi), Surono (Berdiri di Cincin Api), Adjat Sudradjat (Tinggi Gunung Selaksa Karya), Sujatmiko (Berkah di Balik Batu Mulia), Dwikorita Karnawati (Memadukan Sosioteknika dalam Mitigasi Bencana), R.K.T. Ko (Dokter Gua), Subroto (Dedikasi untuk Energi), Untung Sudarsono (Menggarisbawahi Peran Geologi) dan di edisi ini Sutikno Bronto (Dalam Haribaan Gunung Api).

Sebanyak 20 edisi GEOMAGZ telah terbit selama 5 tahun terakhir. Usia 5 tahun bagi suatu majalah masihlah tergolong muda. Masih perlu kerja keras untuk mewujudkan suatu majalah kegeologian yang dapat dibaca semua pihak sehingga informasi geologi itu menjadi renyah dibaca, enak dipikirkan, tanpa kekurangan kualitas informasinya.

Akankah GEOMAGZ terus berkiprah mencapai target di atas di tahun-tahun berikutnya? Hal itu mestinya suatu keniscayaan bagi Badan Geologi dengan salah satu tanggung jawabnya adalah menyampaikan informasi kegeologian kepada masyarakat luas. ***

Penulis: Budi Brahmantyo, Oman Abdurachman, dan Mashudi (Dewan Redaksi GEOMAGZ).

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>