Piramid Bisa Terbentuk Secara Alamiah

Catatan: Artikel ini merupakan artikel yang diminta oleh sejarahwan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina H. Lubis sebagai bagian dari rangkaian artikel di Majalah Gatra dalam polemik tentang Gunung Padang yang diinterpretasi oleh sekelompok ilmuwan sebagai piramid seperti halnya piramid di Mesir. Artikel dimuat di Majalah Gatra edisi No. 10/tahun 26 4 Januari 2014.  Silakan menyimaknya.

Bandung, GATRAnews – Jauh sebelum kasus Gunung Padang yang diinterpretasikan sebagai piramida buatan para leluhur, telah ada isu yang diembuskan melalui dua gunung, yang juga ada di Jawa Barat. Pertama adalah Gunung Sadahurip di Garut dan kedua adalah Gunung Lalakon di sebelah barat daya Bandung. Kedua gunung tersebut pada satu sisi memang memperlihatkan bentuk geometri piramida yang sempurna. Namun, jika dilihat dari sisi yang berbeda, keduanya adalah bukit atau gunung sebagaimana bukit dan gunung-gunung di sekitarnya.

Gunung Sadahurip di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, secara geologis sebenarnya merupakan kerucut lava yang tersebar di kompleks Pegunungan Talagabodas. Seperti halnya beberapa kerucut lain; Gunung Kaledong dan Haruman, yang berada tidak jauh dari Gunung Sadahurip, batuannya tersusun oleh lava andesit, batuan beku yang umum di jumpai di gunung-gunung api di Jawa.

Singkapan batuannya dengan jelas terlihat, baik di jalan setapak di lereng-lereng gunung tersebut maupun di lembah-lembah sungainya. Namun, bagi para penganut teori piramida, bangunan piramidanya dikubur di bawah andesit yang tersingkap di permukaan tersebut.

Dengan ketinggian puncaknya 1.320 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 300 meter dari kaki gunungnya, Sadahurip dianggap piramida yang sangat besar, berkali-kali besarnya daripada piramida Giza di Mesir. Tentu saja hipotesis ini masih sangat mentah dan kemungkinan besar tidak akan terbukti. Selain di Indonesia tidak terbukti adanya budaya purbakala pembangun piramida, secara geomorfologi, bagian dari geologi yang mempelajari proses terbentuknya bentuk-bentuk permukaan bumi, bentuk piramida dapat terbentuk secara alamiah.

Suatu proses erosi lanjut pada kerucut-kerucut gunung api pada suatu tahap yang disebut planeze, bidang-bidang lapisan dan retakan akan mengontrol proses pembentukan lereng-lereng yang akan miirip piramida.

Hal yang sama juga di Gunung Lalakon, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Bentuk piramidanya hanya terlihat dari sisi timur. Batuannya yang tersingkap dengan baik di kaki bukit dan juga di puncaknya sedikit lapuk, tetapi dapat diperiksa jenis batuannya adalah batuan beku dasitis.

Kerucut-kerucut dengan batuan andesitis dan dasitis di sekitar Gunung Lalakon merupakan sisa-sisa gunung api purba berumur 3-4 juta tahun yang lalu. Banyak bukit-bukit di wilayah ini digali untuk diambil batunya.

Gunung Pancir, tetangga terdekat Gunung Lalakon, hampir seluruhnya telah terkupas oleh usaha penggalian batu. Batuannya yang tersingkap memperlihatkan banyak kolom-kolom akibat kekar kolom, sesuatu yang alamiah pada saat magma membeku ketika naik ke permukaan bumi.

Kolom-kolom andesit juga terbuka dengan sangat sempurna di lokasi galian lain di sekitar Gunung Lalakon, misalnya di Gunung Masoro Lagadar. Di sini, kolom batu berdiameter 30 cm-50 cm berbentuk heksagonal (segi enam) telah lama digali sebagai bahan baku bangunan atau fondasi.

Kolom-kolom ini sangat mirip dengan kolom-kolom batu andesit-basaltis yang digunakan masyarakat megalitik untuk membangun punden berundak di puncak Gunung Padang, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Di Gunung Padang, kolom-kolom batu itu diperkirakan ditarik dari kaki bukit itu sendiri untuk disusun menjadi suatu bangunan yang bertujuan sebagai tempat pemujaan. Hal itu tampak jelas dari pola arsitektural punden berundak yang tersusun dalam lima undak (teras) dan dihadapkan persis ke arah Gunung Gede di utaranya.

Secara geologis, jelas bahwa kerucut Gunung Padang merupakan kerucut lava yang saat membeku membentuk kolom-kolom andesit-basaltis yang berwarna abu-abu gelap tersebut.

Bukti-bukti bahwa kolom-kolom batu ini terbentuk secara in-situ dapat dilihat dari banyaknya sebaran kolom batu yang terserak di kaki bukit. Proses ini wajar dan banyak terjadi di banyak tempat pada bukit berkekar kolom, seperti juga di Gunung Pancir dan Gunung Masoro Lagadar di Kabupaten Bandung itu.

Kekar kolom sendiri terbentuk secara alamiah ketika magma yang membeku di permukaan bumi akan terkontraksi saat bagian luar mendingin terlebih dahulu. Kekar atau retakan akibat kontraksi itu menerus ke bagian bawah sejalan dengan proses pendinginan, membentuk kolom-kolom batu yang sistematis.

Jadi, ketiga bukit dan gunung yang dinterpretasikan sebagai bangunan piramida, apalagi diduga sengaja dikubur, hipotesisnya sangat lemah. Sekalipun dari pengukuran beberapa metode geofisika diduga ada ruangan di dalam Gunung Padang. Misalnya, ruangan tersebut secara geologis dapat terjadi oleh berbagai proses, mungkin suatu retakan atau sebab lain.

Tentu saja penelitian ilmiah yang intensif untuk membuktikan bukit-bukit tersebut sebagai bangunan piramida sangat baik untuk diteruskan. Namun, ketika ada usaha-usaha pembuktiannya yang akan merusak situs yang dihormati seperti Gunung Padang, atau pengelupasan besar-besaran yang akan dilakukan di Gunung Lalakon atau Sadahurip, termasuk di Gunung Padang, itu bukan usaha-usaha yang bijaksana.

Rasa keingintahuan kita sebagai mahluk yang selalu ingin membaca alam tidak harus dilakukan dengan cara-cara yang akan merusak alam itu sendiri.

[Budi Brahmantyo, Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB); Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB)]

[Situs Gunung Padang (Gatra/Wisnu Prabowo). Rubrik KOLOM, Majalah GATRA Edisi no 10 tahun ke 26, Beredar 9 Januari 2014]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>