Belajar dari Sesar Lembang

Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat Minggu 10 Mei 2015. Tulisan merupakan hasil laporan acara Gowes Bareng Geolog V yang diselenggarakan pada Sabtu 2 Mei 2015. Selamat menyimak.

artikel di PR Minggu "Back2Boseh"

Suara turaes atau tonggeret riang memenuhi udara Bandung, tapi hujan kecil membasahi tanah. Tonggeret yang biasanya penanda datangnya musim kering, suaranya terpaksa harus tersela curah hujan. Itulah tanda-tanda alam mengiringi acara bersepeda bersama menyusuri jalur Sesar Lembang dalam rangka Hari Bumi 2015 Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB dan 6 Dekade Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi GEA ITB.

Namun hujan pagi hari itu rupanya hanya menyegarkan jalan dan rumput. Saat acara bersepeda bersama dengan judul “Gowes Bareng Geolog V (GBG V)” dimulai di Gunung Kasur, Lembang timur, hampir 50 peserta dengan semangat segera mengayuh sepedanya. Jalurnya sengaja dipilih yang lebih banyak menurunnya mengingat pesertanya tidak melulu mereka yang terbiasa ngaboseh, apalagi tujuan utama lainnya justru pada pembelajarannya.

Jalur Gunung Kasur di kaki G. Bukittunggul (+2.206 m) dan G. Palasari (+1.859 m) merupakan awal jalur GBG V. Titik ini dapat dikatakan ujung timur Sesar Lembang, suatu patahan yang membentang berarah timur-barat dari Palasari di timur hingga Cisarua di barat, sepanjang hampir 22 km. Jalur sesar bagian timur ditandai dengan lembah sesar yang curam dimana Cikapundung mengalir mengikuti jalur tersebut hingga Maribaya. Jalur itu pulalah yang dipilih GBG V kali ini.

Gowes Bareng Geolog adalah program yang dicetuskan Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB melalui apa yang disebut Sekolah Bumi untuk memberikan pengajaran di lapangan tentang berbagai gejala geologi kepada masyarakat umum. GBG pertama pada 2011 misalnya mengambil jalur Kawah Ratu Tangkubanparahu, Gunung Batu Lembang, dan Tahura Juanda untuk memberikan pemahaman tentang aktivitas gunung api dan sesar. GBG II 2012 memberikan pemahaman tentang G. Sadahurip di Garut yang dikira piramida. GBG III 2012 memberikan pelajaran tentang Kawah Putih dan potensi panasbuminya, dan GBG IV 2013 selain tentang panasbumi Wayang-Windu juga memberikan kampanye lingkungan hulu Citarum di Cisanti.

GBG V kali ini mengambil tema “Learning from Our Fault.Fault di dalam Bahasa Inggris selain berarti ‘kesalahan’ tetapi juga berarti ‘sesar.’ Tema itu tepat karena kita seyogyanya belajar terus dari kesalahan dalam menghadapi bencana alam, salah satunya gempa bumi. Ketika hingga saat ini gempa bumi masih sulit diprediksi kedatangan dan lokasi tepatnya, maka kesalahan antisipasi dan mitigasi harus diperbaiki, terus menerus. Jangan sampai kita selalu merasa ‘kecolongan’.

Saat penjelasan awal di Gunung Kasur pun, peserta GBG V masih terpengaruh kengerian gempa bumi di Nepal yang terjadi 25 April 2015 dengan besaran 7,9. Apa akibatnya jika hal itu terjadi di Bandung, tidak terbayangkan mengingat kita menyangsikan kesiapan Bandung menghadapi gempa bumi besar. Pelajaran gempa bumi 2 September 2009 yang berfokus di Cianjur selatan tetapi terasa kuat di Bandung seharusnya menyadarkan Bandung untuk selalu waspada. Apalagi ada Sesar Lembang yang saat ini diam manis tetapi menjadi ancaman besar.

Sesar Lembang merupakan retakan pada kerak Bumi yang berada hanya kurang dari 10 km di utara pusat kota Bandung. Di sepanjang jalur sesar tersebut berderet dengan padatnya permukiman dan pusat-pusat perniagaan serta fasilitas-fasilitas lain. Kota-kota kecamatan tumbuh pesat mendukung unggulan ekonomi utama di bidang pertanian dan pariwisata. Dua bidang itulah yang memang menjadi potensi di sepanjang 22 km dari Palasari, Maribaya, Lembang, Parongpong hingga Cisarua. Jadi ketika rombongan GBG V menempuh jalur Gunung Kasur – Maribaya, pemandangan indah lahan perkebunan palawija dan aktivitas pariwisata berkelindan dengan baik.

Bersepeda menyusuri Sesar Lembang sendiri dijalani dengan riang. Jalan makadam dan aspal rusak yang menurun dari Gunung Kasur ke Batuloceng menjadi tantangan sendiri. Derit-derit rem belakang sepeda memenuhi udara Lembang timur di antara suara tonggeret yang berderu-deru. Kurang dari setengah jam, semua sudah berkumpul di perempatan Batuloceng, Tugu Bukittunggul.

Di tempat ini peserta diselingi dengan sedikit hiking ke lereng Gunung Palasari. Tujuannya untuk mengagumi tinggalan leluhur di Situs Batuloceng berupa dua artefak batu yang dikenal sebagai si Jabang Bayi dan Batu Kujang. Pak Maman, kuncen penjaga situs, menjelaskan kepada peserta GBG V yang berseragam oranye tentang kedua batu yang dikeramatkan tersebut. Tak ayal beberapa peserta mencoba mengangkat Si Jabang Bayi ke pundaknya sebagai bagian dari ritual di Situs Batuloceng tersebut.

Seperti di Swiss

Kaki-kaki yang lemas setelah naik dan turun Situs Batuloceng segera bekerja lagi mengayuh pedal ke perhentian berikutnya. Udara segar dan sinar Mentari yang mulai menghangatkan Bumi semakin membuat semangat peserta GBG V untuk menjalani rute yang tersisa. Perhentian berikutnya di Kampung Areng, Cibodas, di kaki gawir Sesar Lembang.
Di sini peserta GBG V kembali terkagum-kagum dengan pemandangan yang membuat beberapa peserta menyeletuk, “wah seperti di Swiss…” Bagaimana tidak? Pemandangan gawir terjal sesar Lembang dengan lapisan-lapisan lava yang terangkat dihiasi deretan pohon pinus yang menghijau membawa kesan Pegunungan Alpen di Swiss.

Begitu pula saat perhentian berikutnya di Cibodas Lebak dekat Maribaya, saat peserta GBG V tepat berhenti di lembah dari gawir terjal Tebing Karaton yang terkenal itu. Walaupun masing-masing tampak kecil, tak urung kami melambaikan tangan ke para pengunjung yang berada jauh di atas Tebing Karaton yang juga samar-samar tampak melambaikan tangan juga.

Pukul 13.00 akhirnya GBG V berakhir di pintu gerbang Tahura Djuanda di Maribaya. Setelah diselingi makan siang, kemudian bagi-bagi door-prize, acara ditutup dengan kuliah singkat dan konsultasi batu akik (batu mulia) oleh dedengkotnya, Sujatmiko. Saat peserta bubar, komentar kepuasan tentang acara ini terlontar dari banyak peserta.
Acara boseh bertema pengetahuan seperti Gowes Bareng Geolog memang langka. Acara serupa yang dirintis Pikiran Rakyat dengan “Boseh2Graphy”-nya dengan tema pengetahuan yang lebih umum dan berragam menjadikan acara bersepeda tidak hanya sekadar olah raga dan bersenang-senang saja. Bagaimana pun harus ada transfer pengetahuan untuk selalu ikut mencerdaskan bangsa.

Dengan wajah bahagia dan puas, peserta GBG V akhirnya kembali ke Bandung menerobos jalur Tahura Djuanda dari Maribaya ke Dago Pakar. Biarlah ancaman Sesar Lembang mengendap di pikiran dan hati masing-masing sebagai pengetahuan yang mudah-mudahan bisa menetap dan disebarluaskan. ***

Penulis, pehobby bersepeda, dosen di Prodi Teknik Geologi, FITB, ITB.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>