Pesona Tiga Kawah Gunung Api di Jawa Timur, Antara Mitos dan Geologi

Oleh Budi Brahmantyo (dimuat di buku “Hidup di Atas Tiga Lempeng, GunungApi dan Bencana Geologi,” Badan Geologi, 2011)

buku HD3L, Badan Geologi, 2011 (Foto: T. Bachtiar)

Saya paling senang jika melakukan penerbangan ke Bali dari Jakarta. Biasanya saya minta duduk di jendela kanan, dan tidak persis di atas sayap. Ketika cuaca di atas Pulau Jawa bagus dan terang, maka dengan asyiknya saya mengabsen deretan gunungapi yang berjajar dari barat ke timur.

Saat pesawat naik hingga ketinggian di atas 30.000 kaki, mulailah masuk dalam pandangan di jendela pesawat gunungapi yang paling dekat dari Cengkareng: G. Salak (+2.211 m), dan G. Gede-Pangrango (+2.863 m) di daerah Bogor dan Cianjur. Beberapa menit kemudian ketika pesawat berada di atas Subang tampaklah ke selatan kompleks gunungapi di sekitar Bandung-Sumedang, di antaranya G. Tangkubanparahu (+2.076 m), G. Malabar (+2.343 m), dan G. Tampomas (+1.684 m), kemudian G. Galunggung (+2.168 m) di Tasikmalaya, dan berlanjut dengan gunungapi paling timur di Jawa Barat, G. Ciremai (+ 3.078 m).

Memasuki Jawa Tengah, gunungapi yang muncul pertama adalah G. Slamet (+3.428 m) di daerah Banyumas. Gunung api ini adalah tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah G. Semeru (+3.676 m). Lalu pandangan akan mengarah ke Pegunungan Dieng di Wonosobo dengan puncaknya yang tertinggi G. Prahu (+2.565 m). Kerucut berikutnya yang masuk dalam pandangan jendela pesawat adalah G. Sumbing (+3.371 m), dan di kejauhan akan tampak G. Merbabu (+3.142 m), dan G. Merapi (+2.911 m) di daerah Yogyakarta.

Memasuki Jawa Timur, G. Lawu (+3.265 m) menjadi yang pertama terlihat, disusul kompleks G. Wilis dengan puncaknya G. Liman (+2.563 m). Setelah diselingi dataran yang luas, kemudian bermunculanlah kerucut-kerucut dalam satu kompleks pegunungan luas, yaitu G. Kelud (+1.731 m), G. Kawi-Butak, di latar depannya G. Anjasmoro (+2.282 m), G. Arjuno (+3.343 m), dan G. Welirang (+3.165 m). Lalu bergeser ke timur, tampaklah bentang alam yang mempesona dari Kaldera Tengger dengan G. Bromo (+2.390 m) dan di latar belakang gunung tertinggi di Pulau Jawa, sang mahameru G. Semeru (+3676 m). Semakin ke arah timur, berderetlah gunungapi besar dengan beberapa puncak runcing seperti Iyang-Argopuro (+2.947 m) dan kompleks paling timur di Pegunungan Ijen dengan gunung api aktif G. Raung (+3.332 m), Kawah Ijen (+2386 m) dan saudara kembarnya G. Merapi (+2.800 m).

Tiga kawah dari deretan atap-atap Jawa Timur itu berhasil dijelajahi pada bulan April 2010, yaitu Kelud, Bromo, dan Ijen. Tiga kawah yang masing-masing mempunyai pesonanya tersendiri. Seperti kebanyakan puncak gunungapi dengan kawahnya yang aktif mengepulkan asap berbau belerangnya, mitos dan legenda selalu menyertainya. Hal tersebut sangatlah wajar ketika manusia yang sangat kecil berhadapan dengan kekuatan alam yang luar biasa dan sangat menyeramkan, mewujud dalam kisah-kisah dewata dan kekuatan supernatural. Begitulah daya tarik sebuah gunungapi selain bentang alamnya yang eksotik dan proses-proses vulkanismenya yang menarik.

Citra DEM Jawa Timur memperlihatkan deretan gunungapi. Dari timur (kiri): G. Lawu, G. Wilis, G. Kelud, G. Kawi-Butak (selatan) dan G. Anajasmoro-Arjuno-Welirang-Penanggungan (utara), Kompleks Kaldera Tengger dengan G. Semeru di selatannya, G. Iyang-Argopuro, dan Kaldera Raung-Ijen, serta kerucut kecil yang tidak aktif, G. Baluran (timur laut).

Inilah cerita tiga kawah dari deretan gunungapi yang mempesona di Jawa Timur itu.

Gunung Kelud

September 2007 Pos Pengamatan Gunungapi di Margomulyo merasakan peningkatan kegempaan. Masyarakat lereng barat yang padat pun merasakan beberapa kali lindu, gempa bumi yang disebabkan aktivitas gunungapi. Bagi banyak masyarakat desa yang mendiami lereng G. Kelud, kejadian itu sudah bukan hal yang luar biasa lagi. Mereka menerimanya dengan pasrah. Beberapa penduduk yang masih percaya mitos tentang G. Kelud hanya menganggap si penunggu kawah yang bernama Eyang Mahesa Suro dan Eyang Lembu Suro sedang mengancam penduduk Jenggala yang meliputi Kediri, Biltar, dan Tulungagung karena ratunya, Dewi Kilisuci, telah menipu mereka.

sesajen utk penunggu Kelud

Hampir sama seperti legenda Sangkuriang tentang terbentuknya G. Tangkubanparahu di Jawa Barat, kawah Kelud pun terjadi sebagai syarat yang diminta Dewi Kilisuci sebagai penolakan akan lamaran dua raja sakti Mahesa Suro dan Lembu Suro. Syarat itu adalah membuat dua sumur yang masing-masing berbau amis dan wangi dalam satu malam di puncak Kelud. Kedua raja berhasil mengerjakannya, tetapi tertipu oleh Dewi Kilisuci yang meminta mereka masuk ke dalam sumur, tetapi kemudian ditimbun oleh prajurit Jenggala dengan batu atas perintah sang ratu. Ancaman kutukan terhadap rakyat Jenggala pun keluar sebelum mereka mati. Tidaklah aneh, di lereng-lereng kawah Kelud, masih dijumpai sesajen-sesajen yang sengaja dipersembahkan ke kawah Kelud. Mungkin untuk meredakan amarah dan kutukan kedua penunggu G. Kelud itu.

Setelah getaran-getaran lindu di bulan September 2007 itu, hampir selama dua bulan, aktivitas vulkanisme semakin meningkat. Status gunungapi yang pada kondisi biasa disebut sebagai “aktif normal,” saat terjadi peningkatan tremor dinaikkan menjadi berstatus “waspada.” Memasuki bulan November 2007 fenomena bahwa gunungapi akan meletus semakin kuat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi segera menaikkan kembali status G. Kelud ke status “awas,” artinya sewaktu-waktu gunungapi siap meletus. Seluruh masyarakat dan aparat segera merapatkan barisan. Penduduk yang berada pada wilayah bahaya segera diungsikan.

Tanggal 3 November 2007 Kelud betul-betul sepertinya akan meletus. Tetapi apa yang terjadi? Alih-alih meletus dahsyat yang akan memuntahkan magma sekaligus memuncratkan air yang berada di danau kawah dan biasanya akan mengalir sebagai lahar panas (atau dikenal juga sebagai lahar erupsi), yang muncul adalah sembulan magma yang kemudian membeku memenuhi seluruh lubang kawah. Danau kawah yang tadinya menjadi ciri khas G. Kelud akhirnya menghilang digantikan dengan gunung kecil berwarna kehitaman yang menyumbat kawah. Itulah yang dikenal sebagai kubah lava (lava dome).

Hasil kajian Haerani dkk (2010) melalui pengamatan pola vektor pergerakan titik ukur dengan menggunakan metode GPS selama April, Agustus, dan Oktober 2008 menunjukkan bahwa peralihan sifat G. Kelud yang tadinya eksplosif menjadi efusif (leleran lava) dikarenakan adanya perubahan gaya-gaya struktur geologis pada fase penstabilan kerak. Menurut mereka, deformasi karena pergerakan magma bersifat minor walaupun terjadi penggembungan yang tidak muncul sebagai manifestasi di permukaan.

Sebelum erupsi 2007 yang menghasilkan kubah lava, Kelud terkenal dengan letusan-letusannya yang dahsyat. Pada umumnya letusan tidak berlangsung lama. Tetapi karena selalu menghasilkan awan panas dan lahar erupsi karena keberadaan danau kawah, letusannya selalu berbahaya dan menimbulkan korban jiwa manusia. Sejarah letusan paling awal, yaitu tahun 1000, tercatat oleh Raffles. Setelah itu catatan panjang letusan melengkapi sejarah G. Kelud.

Reksowirogo (dalam Kusumadinata, 1979) memerinci beberapa letusan besar G. Kelud. Letusan yang tercatat paling hebat hingga skala IV adalah pada 23 – 24 Mei 1901 yang setara bom atom 2,3. Letusan 20 Mei 1919 menimbulkan korban 5.160 manusia, dan letusan 31 Agustus 1951 merenggut tujuh korban manusia termasuk tiga petugas Urusan Volkanologi yang sedang bertugas di dekat terowongan. Letusan besar berulang kembali pada 24 April 1966 yang merenggut korban manusia 210 orang.

Akibat dahsyatnya bahaya yang berasal dari lahar erupsi yang panas, sejak Zaman Belanda telah diusahakan untuk menurunkan volume air yang berada di danau kawah. Hal itu agar ketika Kelud meletus lagi, produksi lahar panas akan terkurangi. Reksowirogo (dalam Kusumadinata, 1979) mencatat usaha membuat terowongan telah dimulai sejak 1907 dan berhasil menurunkan sejumlah 4,3 juta m3 air dari sekitar 40 juta m3. Tahun 1919 terowongan digali dipimpin oleh von Steiger ke arah Kali Badak tetapi runtuh. Tahun 1923 Tromp berhasil membuat tujuh terowongan tetapi kemudian hancur akibat letusan 1951, padahal air kawah telah berkurang hingga menjadi 1,8 juta m3. Usaha selanjutnya dilakukan oleh van Yzendoorn dari tahun 1953 hingga selesai 1955, tetapi seluruh air kawah akhirnya muncrat habis keluar semua pada letusan 24 April 1966. Mulai Oktober 1966 digali Terowongan Ampera, tetapi air kawah kembali terisi berjumlah 4,3 juta juta m3.

Sejak 2007, kita tidak dipusingkan lagi dengan ancaman lahar panas, karena akhirnya danau kawah menghilang disumbat oleh batuan kubah lava.

Gunung Bromo dan Kaldera Tengger

Sesajen kepada penunggu gunungapi tidak hanya di Kelud, di G. Bromo dan Kaldera Tengger, sesajen tersaji di banyak sudut. Jika di Kelud sesajen dipersembahkan kepada Eyang Mahesa Suro dan Lembu Suro, di Bromo kepada Raden Kusuma. Ia adalah anak ke-25 dari pasangan Roro Anteng dan Joko Seger yang diambil kembali oleh dewata sesuai perjanjian dengan kedua orang tuanya itu.

Kaldera Tengger (Kaldera Lautan Pasir) dg G. Batok (kanan) dan G. Bromo (kiri)

Alkisah, Roro Anteng dan Joko Seger – begitulah bagaimana nama Tengger berasal dari singkatan kedua insan ini – merupakan keturunan Majapahit yang mengasingkan diri ke puncak gunung. Setelah sekian lama tidak diberi keturunan, mereka bertapa di sebuah gua di G. Widodaren. Dewata akan mengabulkan permintaan mereka dengan syarat salah satu anak mereka diserahkan kembali. Tetapi anak yang diminta dewata rupanya anak kesayangan mereka, si bungsu Raden Kusuma. Kedua orangtuanya berusaha untuk ingkar janji sampai akhirnya dewata mengambil paksa dengan meletusnya G. Bromo, dan Raden Kusuma terseret masuk kawah Segorowedi. Pada hari raya Kasada masyarakat Tengger melakukan upacara melarung hasil panen dan ternak ke kawah Segorowedi untuk memenuhi pesan Raden Kusuma kepada ke-24 kakaknya (dan keturunannya) agar dikirimi sesajen.

Kawah Segorowedi G. Bromo

Begitulah bagaimana kawah utama G. Bromo, Segorowedi, yang memang tampak menakutkan, menjadi ajang upacara persembahan masyarakat Tengger. Di tengah-tengah cekungan kawah yang terjal, masih terdapat lubang menganga dengan asap vulkanis pekat yang mengepul-ngepul dahsyat.  Pemandangan menakjubkan itu dapat kita amati setelah kita mendaki 251 anak tangga dari Lautanpasir sebagai dasar kaldera.

Lereng-lereng G. Bromo dan kembarannya G. Batok yang tidak aktif tersusun dari batuan piroklastik, terutama pasir tuf dan lapili, serta bongkah-bongkah bom volkanik. Endapan volkanik ini mencerminkan bahwa sekalipun G. Bromo adalah gunungapi aktif, tetapi tidak pernah meletus dahsyat. Catatan letusan tertua oleh Neumann van Padang adalah 1804 dan selanjutnya selama abad ke-19 tercatat 28 kali letusan. Di abad ke-20 hingga tahun 1972, tercatat 17 kali letusan. Letusan 26 Januari 1972 adalah letusan cukup besar yang mencapai kekuatan setara bom atom 1,8 (Hadian dan Kusumadinata, dalam Kusumadinata, 1979). Setelah itu tidak tercatat letusan yang bermasalah, sampai kemudian di akhir 2010 sampai awal 2011, bersamaan dengan letusan G. Merapi di Yogyakarta, G. Bromo selama beberapa minggu aktif meletuskan materialnya.

Namun melihat morfologi Kaldera Tengger yang spektakuler, kita harus percaya bahwa sebelum bentang alam yang sekarang terbentuk – dari lereng-lereng kaldera yang sekarang terlihat – kita dapat merekonstruksi sebuah gunung api raksasa yang mungkin menjadi kembaran G. Semeru dengan ketinggian yang dapat menyamainya. Sama halnya seperti pembentukan kaldera-kaldera besar yang menyisakan morfologinya sekarang ini seperti Kaldera Krakatau, Sunda, Bedugul, Batur, atau Rinjani, Kaldera Tengger pun adalah hasil akhir letusan maha dahsyat dari gunungapi yang menjadi induk G. Bromo.

Sketsa lapangan Kaldera Tengger yang spektakuler dari Stasiun Pananjakan

Ketika kita dan banyak wisatawan terpana menyaksikan sinar Matahari pagi menerangi Kaldera Tengger dari Pananjakan pada ketinggian kira-kira 2.794 m, kita berada pada tepi sisa-sisa gunungapi raksasa yang meletus di zaman prasejarah itu. Diameter kaldera itu mencapai 7 x 10 km. Sedangkan tebing yang menjadi tepi Cemorolawang ke Lautanpasir yang lurus berarah barat laut – tenggara, diperkirakan suatu patahan yang terjadi akibat amblesnya dasar kaldera. Sungguh sejarah letusan yang sangat kompleks yang menjadikan lansekap Kaldera Tengger menjadi begitu spektakuler.

Saat kembali ke Cemorolawang tergoncang-goncang di atas jip, saya menoleh ke belakang ke G. Bromo yang terus mengepulkan asap vulkanisnya dan G. Batok yang diam anggun dengan garis-garis erosinya; sambil berpikir, “Betapa alam yang indah saat ini adalah hasil dari suatu ledakan maha dahsyat di masa lalu. Akankah kejadiannya berulang kembali?” Lalu saya jawab sendiri, “Sejarah geologis biasanya begitu.”

Kawah Ijen

Cerita terakhir dari pesona tiga kawah gunungapi di Jawa Timur adalah Ijen. Inilah satu-satunya gunungapi yang lebih dikenal dengan Kawah Ijen, bukannya Gunung Ijen. Cocok sekali dengan arti toponiminya dalam Bahasa Jawa: sendirian. Kesendirian yang juga terjadi di antara puncak-puncak gunung sekitarnya yang umumnya sudah tidak aktif lagi, tinggal Ijen sendirian yang masih aktif mengepulkan asapnya. Kepulan pekat asap yang mengandung gas sulfurik berkonsentrasi tinggi.

sublimasi gas sulfurik menjadi cairan dan kemudian mengendap sebagai padatan sebelum "dipanen"

Kawah Ijen persis terletak di perbatasan antara Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Kalau kita mendaki dari Pos Paltuding ke arah kawah sejauh 3,2 km, kita akan mengikuti jalan tanah dengan deretan patok-patok PBU (Pilar Batas Utama) yang dibangun oleh Topdam V Brawijaya. Jalan inilah yang sehari-hari dilalui hampir 350 orang pemikul belerang secara bergiliran dari kawah ke Paltuding bolak-balik. Pada hari-hari libur, jalan ini ramai dijejaki para wisatawan yang datang baik dari arah Sempol, Bondowoso, maupun dari arah Licin, Banyuwangi.

Bagaimana kerasnya penduduk di Kecamatan Sempol atau Licin menjalani kehidupan sebagai pemikul belerang. Singkatnya terdapat suatu usaha yang cerdas memanfaatkan asap gas sulfurik untuk diendapkan menjadi padatan belerang. Sejak puluhan tahun yang lalu, dengan cara sederhana asap gas sulfurik yang keluar dari lubang-lubang solfatara, dialirkan melalui pipa-pipa yang terbuat dari gerabah. Gas yang terjebak ke dalam pipa-pipa itu mengalami proses penurunan tempetarur. Ketika ujung pipa-pipa itu berakhir pada drum-drum di kaki lereng, gas mengalami sublimasi menjadi cairan yang kemudian meleleh dan mengendap menjadi padatan belerang berwarna jingga ketika masih hangat, lalu berubah menjadi kuning cerah setelah dingin.

Pengamatan terhadap proses pengambilan belerang dari Kawah Ijen mengubah drastis pandangan saya terhadap eksploitasi ini. Tadinya saya berpikir para pemikul menambang dengan cara menggali endapan-endapan belerang yang telah terbentuk alamiah sebelumnya. Nyatanya, belerang yang dieksploitasi adalah hasil sublimasi gas yang jika tidak dimanfaatkan akan hilang melayang ke angkasa. Proses produksi yang boleh dikatakan tidak merusak lingkungan ini bisa mencapai 13 ton padatan belerang per hari. Malam hari padatan belerang mengendap, dan pagi harinya adalah masa panen para pemikul belerang. Istilah panen memang mungkin tepat, dibandingkan menambang.

Usaha produksi padatan belerang di tepi Kawah Ijen dengan cara sublimasi asap gas sulfurik

Kawah Ijen sendiri termasuk kawah gunungapi yang cantik. Dengan bentuk elipsoid, kawah ini merupakan danau kawah seluas 960 x 600 m dengan bibir terrendah berada di sebelah barat yang merupakan hulu Kali Banyupait. Air danaunya tampak tenang berwarna hijau toska. Warna hijau toska air danau dengan warna abu-abu lereng kawah, serta asap putih kekuning-kuningan yang mengepul dari asap solfatara dengan latar biru langit, menjadikan perpaduan alami yang sangat cantik. Harmoni alam ini dihiasi pula dengan hilir mudiknya para pemikul belerang dengan bongkah-bongkah belerang berwarna kuning cerah.

Sekalipun gunungapi di kompleks ini tergolong gunungapi tipe C yang tidak aktif seperti G. Merapi dan G. Rante, tetapi Kawah Ijen tergolong tipe A yang pernah meletus sejak ada catatan Belanda. Tahun 1796 adalah letusan pertama yang tercatat oleh Junghuhn pada 1853 yang juga mencatat bencana aliran lahar letusan yang melanda Kali Banyupait di tahun 1817. Catatan kemudian melompat seabad kemudian di 1917 ketika terjadi letusan freatik di danau kawah yang melontarkan air danau hingga 8 – 10 m di atas permukaan danau. Letusan berikutnya tercatat pada 1936 dan 1952 (Reksowirogo, dalam Kusumadinata, 1979).

Setelah itu kawah tenang sampai terjadi letusan paling akhir pada tahun 1993. Menurut mandor pengawas pengangkutan belerang, saat letusan 1993 yang terjadi dari tengah-tengah danau, air terangkat tinggi dan menurutnya menimbulkan semacam tsunami ke segala sisi pantai danau kawah. Akibat hantaman tsunami itu, semua fasilitas eksploitasi belerang sempat hancur dan hanyut terbawa ke dalam danau kawah.

Begitulah sekilas cerita tentang Kawah Ijen yang indah, dan bagian dari kehidupan yang berat bagi para pemikul belerang di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso. Ada cerita rakyat tentang peperangan antara penguasa Kerajaan Majapahit yang diwakili oleh Damarwulan melawan raja pemberontak dari Blambangan, Minakjinggo, yang terjadi di perbatasan ini. Cerita itu kini tinggal cerita turun-temurun. Yang tidak perlu menjadi turun-temurun adalah pekerjaan memikul belerang itu. Namun hingga sekarang, masih banyak para pemikul yang tampak berumur di bawah 30 tahunan.

***

Kelud, Bromo, dan Ijen mempunyai pesona dan ceritanya sendiri-sendiri. Munculnya kubah lava di kawah Kelud pada tahun 2007 telah menghilangkan danau kawah yang tadinya menjadi primadona pariwisata Kediri, walaupun kubah lava itu sendiri seharusnya menjadi daya tarik wisata pengganti yang tidak kalah mempesona. Pesona Kaldera Tengger memang luar biasa. Morfologi kaldera dengan G. Bromo dan kawah Segorowedi yang menakutkan serta keanggunan G. Batok  juga mempesona ribuan wisatawan yang terpana sambil kedinginan di atas Pananjakan. Tetapi pesona Kawah Ijen dengan fenomena kawah solfatara yang dimanfaatkan untuk memanen belerangnya, serta hilir-mudiknya para pemikul belerang dengan benjolan daging di bahu mereka, merupakan kesan lain yang tidak mudah terlupakan.

Kelud, Bromo, dan Ijen masih terus aktif mengepulkan asap-asap vulkanisnya, seiring dengan cerita Dewi Kilisuci, Mahesa Suro, Lembu Suro, Roro Anteng, Joko Seger, Raden Kusuma, Damarwulan, dan Minakjinggo yang juga terus langgeng hingga sekarang. Kegiatan gunungapi memang selalu mewarnai kehidupan masyarakat di sekitarnya. Seperti rakyat Kediri dan Blitar yang selalu hormat ke Gunung Kelud, masyarakat Tengger yang mengeramatkan G. Bromo, atau masyarakat sekitar Kawah Ijen yang   hilir mudik memikul belerang. Gunungapi memang seperti api. Menjadi sahabat yang dibutuhkan ketika tenang, tetapi berubah mengerikan ketika aktif.

Pustaka

Haerani, N., M. Hendrasto, dan H.Z. Abidin, 2010. Deformasi Gunung Kelud Pascapembentukan Kubah Lava November 2007, Jurnal Geologi Indonesia Vol. 5 No. 1 Maret 2010: 13-30, Badan Geologi, Bandung.

Kusumadinata, K. 1979. Data Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

13 comments to Pesona Tiga Kawah Gunung Api di Jawa Timur, Antara Mitos dan Geologi

  • Bukunya dijual umum ato tidak pak?

  • admin

    tidak… bisa minta untuk komen 50 pertama di thread pak Bachtiar (tapi ngambil sendiri ke Badan Geologi)

  • Sudah saya komen si pak, dan kata Pak Budi dari Badan Geologinya sudah bisa diambil. Tapi saya baru cuti September nanti. :(

  • di gramedia ada bukunya gak ???

  • admin

    sayangnya tidak dijual bebas. Coba kunjungi Perpustakaan Geologi Jl. Diponegoro No. 57 Bandung. Buku2 terbitan khusus yang dikeluarkan Badan Geologi biasanya dijual di tempat itu.

  • Tulisan yang bagus. Apa boleh dishare ?

  • lives

    Kalau order gitu bisa apa gak ya?

  • Ashwin Ismail

    Pengalaman serupa yang saya alami ketika terbang dari Bandung ke Denpasar. Beberapa menit ketika akan mendarat (masih di atas daratan Jawa Timur), saya disuguhi pemandangan yang indah dari kawah salah satu gunung tersebut. Pengalaman ini mungkin akan lebih bermakna setelah saya membaca buku ini. Mudah-mudahan buku ini masih tersedia di Badan Geologi atau Perpustakaan Geologi, saya ingin mendapatkannya.

  • admin

    silakan, asal menyebutkan sumbernya.

  • Inggrid Ernesia

    selamat siang, Pak.

    saya mahasiswi semester akhir dari jurusan Penginderaan Jauh UGM
    saya berminat sekali dengan buku Bapak, semoga pas saya main ke Badan Geologi masih kebagian buku gratisnya. hehe

    terimakasih
    :)

  • andi

    Salam Pak Budi,

    Membaca tulisan diatas, tentang deretan gunung di Jawa Timur, Kok tidak disebut Gunung Penanggungan yg letaknya berdampingan dengan Gunung Arjuno dan Gunung Anjasmoro. Dan juga tidak disebutkan Gunung Lamongan yang kalau dari arah barat terletak sebelum Gunung Argopuro. Apakah kalau dilihat dari pesawat, kedua gunung tersebut tidak terlihat. Maaf, kebetulan kalau naik pesawat dari Jakarta ke Bali, saya lebih sering ketiduran (heheheeee…..)
    terima kasih

  • admin

    Hehehe… tks atas tanggapannya. Masalahnya saya sulit menerka kerucut-kerucut mana (di antara banyak kerucut gunung api) yang begitu detil spt gunung-gunung yang anda maksudkan.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>