Gowes Bareng Geolog 2: Talagabodas – Sadahurip – Bagendit

Eta teh gunung paramida. Ceuk bule aya emas di jerona,” begitulah jawab seorang anak SD di Kampung Cicapar ketika iseng saya tanya tentang nama gunung yang berdiri di sebelah timur laut kampungnya. Gunung Sadahurip yang oleh orang-orang kampung Cicapar disebut juga sebagai Gunung Putri karena bentuknya yang menyerupai dada seorang gadis, menjadi terkenal sejak sebuah kelompok mengklaim sebagai bangunan piramida yang terkubur. Kampung Cicapar, Desa Sukahurip yang berada pada jangkauan kendaraan roda empat dan  tempat terdekat ke Gunung Sadahurip menjadi ramai dikunjungi banyak orang. Geger dan heboh adanya bangunan piramida yang terkubur dengan segala tetek-bengek harta karun emas di dalamnya, rupanya telah tertanam dibenak anak kecil, walaupun salah sebut sebagai “paramida.”

Start dari Kampus Ganesa 10 pkl 06.00 (foto: Gowes Bareng Geolog)

Gunung Sadahurip menimbulkan pro-kontra sejak dicetuskan Kelompok Turangga Seta (TS) sebagai temuan orisinil mereka.  TS memulainya dari satu interpretasi di relief Candi Penataran, Blitar yang menyatakan bahwa para leluhur Nusantara merupakan bangsa unggul yang sempat menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, dari bangsa Cina, Mesir, hingga Maya. Namun kemudian peninggalan leluhur Nusantara yang adiluhung itu sengaja dikubur dan sejarahnya sengaja dihapus. Entah untuk maksud apa. Mereka menyebutnya sebagai decoy. Tadinya mereka mengklaim Gunung Lalakon di daerah Cipatik, Bandung barat daya, sebagai piramid. Tapi segera saya bantah melalui tulisan di Koran Pikiran Rakyat, 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon Sebuah Karya Alam (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1280). Rupanya mereka kemudian mengalihkan ke Gunung Sadahurip.

Lalu, kegemparan berlanjut setelah seorang geolog senior, Sujatmiko, yang mengenalkan dirinya sendiri sebagai Mang Okim di kalangan perbatu-muliaan, menulis di Koran Pikiran Rakyat, 14 Januari 2012, membantah juga bahwa Gunung Sadahurip adalah bangunan piramida (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1494). Artikelnya lengkap dengan pengungkapan latar belakang bagaimana klaim itu berasal, yang juga menyeret satu tim penelitian Katastrofik Purba di bawah Staf Khusus Presiden RI Bidang Bencana.

G. Sadahurip yg hanya berbentuk piramida dari sisi tenggara (foto: BB)

Virus G0W3S

Setelah terbilang sukses menyelenggarakan Gowes Bareng Geolog (GBG) 1 Tangkubanparahu – Sesar Lembang pada acara Temu Akbar Alumni Teknik Geologi ITB 18 Desember 2011 lalu, Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB (IAGL) kembali mencoba Gowes Bareng Geolog 2 dengan isu G. Sadahurip sebagai piramida itu pada Sabtu 28 Januari 2012. Jika GBG 1 diikuti hingga 140 pesepeda alias goweser, kali ini peserta dibatasi hingga maksimum 50. Akhirnya hanya sekitar 40 goweser yang menjalani rute dari lereng Gunung Talagabodas ke Gunung Sadahurip dan berakhir di Situ Bagendit yang menurut panitia 90% adalah turunan.

menyusuri kebun kentang di kaki Sadahurip (foto: Albar Hakim)

Ternyata jalurnya adalah turunan yang menanjak! Begitu komentar para goweser setelah start awal dari lapangan geotermal di lereng barat laut G. Talagabodas, yang langsung diuji dengan tanjakan-tanjakan pada jalan perkerasan proyek geotermal. Ke arah Situ Bagendit pun setelah turunan curam dari Desa Sukahurip, antara Wanaraja ke Situ Bagendit rupanya harus melalui lembah sungai Ci Manuk. Memang menurun ke jembatan Ci Manuk, dan pasti menanjak setelah itu. Turunan 90% harus dieveluasi kembali, komentar lanjutan peserta GBG 2.

Namun secara keseluruhan acara berjalan lancar. Dengan dipandu komunitas gowes Garut, salah seorang di antaranya adalah pak Camat Cipanas Garut, rute dari lereng Talagabodas menuju kaki Sadahurip melalui turunan cukup terjal pada jalan setapak perkebunan palawija. Jalur sempit dengan tebing kebun, sungai-sungai berlembah V, bahkan jurang sedalam lebih dari 5 m, menjadi tantangan peserta GBG2.

Tidak urung beberapa goweser terjerembab, termasuk saya sendiri. Rekor tiga kali menukik. Pertama terpaksa melocat ke kebun kentang sedalam lebih dari 1 m setelah jari-jari sepeda terkait potongan bambu. Kedua, terjerembab di jalan setapak menurun karena salah mengerem ban depan. Ketiga, ketika justru akan sampai di Kampung Cicapar saat ban depan tidak mulus melewati lubang kecil. Itu masih mending. Seorang teman bahkan terperosok ke dalam sungai kecil yang curam!

Setelah merasakan nikmatnya bergowes-gowes di GBG1, saya jadi keranjingan bersepeda. Membuka internet, akan kita dapatkan bahwa bersepeda ternyata bukan lagi kebutuhan bertransportasi, atau sekadar hobby saja, tetapi telah menjadi gaya hidup. Harga sepeda pun bervariasi dari yang ekonomis, hingga dapat mencapai Rp. 100 juta! Sepeda macam apa pula ini? Namun tidak dipungkiri, virus G0W3S telah menjangkiti terutama para penduduk kota.

Batu Rahong,  Jumpa Awang, dan Kuliah Singkat

Di jalan-jalan setapak kebun jagung di lereng tenggara Gunung Sadahurip, pemandangan ke arah timur tampak mempesona. Sebuah lembah, tepatnya ngarai, terbentang dari G. Rahong. Pada sisi selatan, sebuah gawir lava andesit membentuk dinding megah. Kekar-kekar kolom menghiasi tubuh lava andesit itu, yang batuannya tersingkap juga di lereng bawah.

Lembah Batu Rahong: aliran lava andesit (foto: BB)

Di sini rupanya sudah berdatangan Komunitas Geotrek Indonesia yang sama-sama bergeowisata ke Gunung Sadahurip. Saat kami menikmati pemandangan lembah Batu Rahong, Ferry Danlap-nya GBG berteriak dari lereng bawah bahwa ia bertemu pak Awang H. Satyana, geolog BP Migas yang didapuk jadi interpreter  Komunitas Geotrek Indonesia. Saat saya berjumpa dengannya, pak Awang sedang asyik mengamati lembah Batu Rahong. Pak Awang mencatat koordinat dengan GPS dan sempat menunjukkan contoh andesit yang didapatnya di sekitar situ. “Rahong” dalam Bahasa Sunda berarti “lembah dalam yang diapit dinding terjal” atau serupa dengan “ngarai.”

Karena jadwal terus mengejar, Ferry dan Syaiful segera mengingatkan untuk segera melanjutkan gowes. Jalan masih menurun pada jalur sempit diapit dinding terjal di kiri dan jurang di kanan membuat para goweser ekstra hati-hati. Pukul 14.00 akhirnya semua berkumpul di kampung Cicapar. Terlambat lebih dari 2 jam dari jadwal yang direncanakan. Namun semua tidak ada yang protes menyadari beratnya medan. Apalagi kotak makan siang sudah dibagikan.

Sebelum peserta beranjak pada etape terakhir Cicapar – Situ Bagendit, kuliah singkat dari Mang Okim mengulangi lagi argumen-argumen bantahan tentang bangunan piramida Gunung Sadahurip. Argumen ini diperkuat oleh arkeolog dari Balai Arkekologi Bandung, Lutfi Yondri yang menjelaskan bahwa tidak dikenal budaya membuat piramida dalam prasejarah Indonesia. Selain itu bukti-bukti artefak sangat tidak mendukung, bahkan tidak dijumpai. Maka menurutnya sangat sulit menerima  adanya budaya masyarakat pembangun piramida yang diklaim oleh TS berumur 6000 tahun sebelum Masehi. Aapalgi untuk membangun Piramida Giza yang lebih kecil dari Gunung Sadahurip saja, firaun harus mengerahkan sekitar 200.000 tenaga kerja dan selesai dalam waktu 20 tahun! Kalau betul Sadahurip adalah bangunan piramida, kemana sisa-sisa budaya masyarakat yang luas dan hebat itu? Kalau jawabannya disembunyikan, yah semua wacana akan berakhir di satu pihak!

Kuliah singkat dari arkeolog Lutfi Yondri (kiri) dan geolog senior Sujatmiko (kanan); kang Saiful bantu2 (foto: BB)

Batu-batu andesit yang dijumpai seluruhnya bersifat alamiah, baik berupa lava, seperti dijumpai di lembah Batu Rahong, ataupun terobosan magma berupa korok seperti didata Sujatmiko di lereng atas Sadahurip pada observasi sebelumnya. Dari Peta Geologi Lembar Tasikmalaya (Budhitrisna, 1986), Gunung Sadahurip diperkirakan hanyalah sebuah gunung api parasiter yang mengeluarkan lava, bersifat efusif, dari induknya pada kompleks gunung api Talagabodas – Galunggung.

Kuliah  singkat ditutup sedikit diskusi setelah saya menjelaskan bahwa wilayah Sadahurip dan sekitarnya di Wilayah Garut, termasuk G. Guntur, G. Mandalawangi, G. Kaledong, dan G. Haruman yang terlihat jelas dari Cicapar, adalah kompleks gunung api yang luas di Pegunungan Priangan yang diperkirakan aktif selama Plistosen hingga sekarang, terutama untuk G. Guntur. Akhirnya pedalpun kembali diinjak, dan jalan beton yang menurun terjal dari Kampung Cicapar dilindas 40 goweser menuju Kota Kecamatan Wanaraja, dan berakhir di Situ Bagendit sekitar pukul empat sore.

Di akhir perjalanan, di pelataran parkir Situ Bagendit, Ferry berteriak, “2014 Kathmandu!!!” Haaaah?

finish di Situ Bagendit (foto: Gowes Bareng Geologi)

trek Talagabodas - Sadahurip - Situ Bagendit

1 comment to Gowes Bareng Geolog 2: Talagabodas – Sadahurip – Bagendit

  • Saya pernah liat juga d Trans7 tentang G. Sadahurip ini. di sana disebutkan kalo ini teh beneran piramida dan tidak ada bukti intrusi magma di bawahnya. tapi saya ga tau mereka dapet sumber berita itu dari siapa.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>