Gunung Sadahurip Bukan Piramida! (oleh Sujatmiko)

Ini adalah versi uncut dari opini oleh Sujatmiko yang dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) Sabtu, 14 Januari 2012, lengkap dengan foto hasil observasi lapangan pak Sujatmiko (Sekjen KRCB). Selamat membaca.

Harian Umum PR dg opini Pak Miko

DARI PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN :

GUNUNG  SADAHURIP BUKAN BANGUNAN PIRAMIDA

Oleh : Sujatmiko

Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang   terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang  1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.

Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat  antara lain G. Kaledong dan G. Haruman ,  keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini  tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api  sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.

Walaupun demikian , berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui  tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan  Piramida Sadahurip,  yang selain  tertinggi  dan terbesar di dunia,  juga tertua  yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.

Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah  kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan  pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip , dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.

Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi  mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba  tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita  junjung tinggi.

Gunung Sadahurip asli bentukan alam

Kepastian bahwa G. Sadahurip  merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal  8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung  dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut,  Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya , dan   Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak  Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi  tidak simetris dari arah selatan / Kampung Cicapar.

G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar

Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan , dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian  turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif ,  yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan  struktur kulit bawang atau kekar tiang.

Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis

Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk . Dengan  variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan  di morfologi gunung  berbentuk piramida,  maka dapat disimpulkan  bahwa G. Sadahurip  adalah  sebuah gunung api  kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).

Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas  Geologi di Indonesia yang  seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya.  Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti  geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D – IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.

Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah

Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang  mereka terapkan banyak didasarkan atas  kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah , yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).

Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan  Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balar Bandung, memberikan masukan ilmiah , padahal  maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya  (sesuai dengan  isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).

Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan  hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada  bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.

Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga  antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI   20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan),  Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google,  dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.

Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya  dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam  Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .

Pelajaran berharga bagi kita semua

Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat  aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip  sejak sekitar 6 bulan terakhir , yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.

Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis

Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan  telah dibangun mendadak  oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.

Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat  tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan  G. Haruman serta  beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya  tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.

Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida. Segede ituuu?

Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah  yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T 74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.

Bandung, 12 Januari 2012,

Sujatmiko ( Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI )

62 comments to Gunung Sadahurip Bukan Piramida! (oleh Sujatmiko)

  • Banyak yang mengkritisi keberadaan piramida sadahurip,dengan alasan tidak sesuai dengan kaidah astronomi atau mata angin?untuk yg menyanggah menggunakan ini apa bencana masa lalu yg dahsyat sehingga menyebabkan pergeseran lempeng-lempeng sudah dimasukkan variabel?sehingga piramida sadahurip tidak presisi lagi…mengenai tidak ada kaitan dengan piramida mesir…siapa yg menghubungkan ke sana?Apa kita sudah mengetahui kalau 2500 SM di Nusantara sudah ada kerajaan besar yg di pimpin Raden Bambang Sumantri…buktinya?sudah di bawa kabur sm Belanda kali…

  • apa yang dicari turangga seta tentang piramida, tidaklah akan ditemukan, memang nusantara pernah menjadi pusat peradaban dunia, tapi rentang waktu keberadaannya sangatlah jauh dari sekarang, peradaban yang pernah ada itu sesudah zaman nuh, peradaban itu peradaban yang meyebarkan manusia dan hewan kepelosok dunia, lokasinya bukanlah dipulau jawa, akan tetapi pulau sumatera, dikala itu pulau sumatera adalah dataran tinngi, yang memiliki 4 titik gunung api kecil, akan tetapi pada akhir2 kejayaan peradaban ini empat gunung ini telah berubah menjadi 4 gunung raksasa, hampir seluruh wilayah dataran tinngi ini, menjadi kaki dari gunung ini, posisi gunung ini 2 disumatera tengah/gunung kembar/tanduk, 1 disumatera 1 diselatan sumatera, jambi dan bengkulu, pada masa itu peradaban ini menamakan kelompok,pemimpin, kepala suku,dengan simbol nama hewan, alfabet yang mereka punya ukiran garis dan gambar2 hewan, pemimpin kelompok tertinngi mereka/yang utama, dinamakan ang/elang,berkedudukan di gunung tanduk/kembar, sedangkan yang kelompok yang bertugas mereka meyebarkan manusia ke pelosok dunia, bernama sembarani dengan simbol kuda putih, berkedudukan, di gunung utara, sedangkan kelompok pejelajah laut mereka bernama, gungmaurang yang bersimbol harimau, pasukan keamanan mereka bernama, kanantanmurai/ seekor burung dan ayam, pemimpin mereka bekedudukan di gunung naga diselatan, gunung2 ini dinamakan BANUA/BANUAN, puncak kejayaannya mereka telah menempatkan manusia dan hewan kepenjuru dunia, tapi pusat peradaban ini hancur diakibatkan meletusnya gunung api hampir bersamaan, peradaban ini tidak membangun candi, tetapi membuat banguan bertiang, dan bertangga, kini hanya bisa didengar dalam bentuk cerita saja, karna sudah tak mungkin lagi menemukannya puing2nya tentu sudah tertimbun lahar yang menjadi batu, kesemua gunung itu telah menjadi danau

  • andik

    belajarlah dr nenek moyangmu mk u akan mengerti,….

  • atef

    dulu borobudur tertimbun tanah sebelum ditemukan,
    piramid bosnia tertimbun juga dan dicap sebagai hoax terbesar abad ini di internet, teori keilmuan tidak ada yang mutlak….. buktikan saja… gali, gali, gali

  • Indonesiaku….banyak orang pinter,banyak orang hebat,entah dari politik,ekonomi,geologi,sejarah,olah raga,tapi sayang….mereka cuma senang berdebat nggak itu di koran,tv,media on line…jadi kliatan bodohnya….udah jangan banyak omong…Gali…!!!biar ketahuan hasilnya.

  • zay

    kalau pake otak pasti gak debat lagi..karna nusantara sudah pernah jaya ya pasti ada buktinya ..

  • seharusnya kita bangga ada kabar kehebatan sejarah budaya kita dan kita selidiki jika benar kita syukuri jika salah kita cari dan cari lagi,kita sadar kita maafkan mereka yang bangga akan sejarah kebesaran nenek moyang kita,meskipun sulit untuk membuktikan peradaban yang sudah puluhan ribu tahun,tentunya sudah tertutup lava berkalikali akibat daerah kita merupakan pusat gunung berapi dunia.saya dukung stap presiden saya acungi jempol 10000000000 tinggi2.bukanya malah menjegal menentang gembosi,apa gak sebaiknya membantu,keliru jangan malu,dak taulah apa pakar2 bodoh yang dikatakan quran ya orang2 seperti ini,yaalloh maafkan aku,dan mereka semua.

  • Bee

    Gali lah..segera agar bangga dan besar bangsa ini. lah dari pihak German Perancis aj mau bantu koq. ini dari bangsa sendiri malah tidak memotivasi..

  • mir

    ya… benar gali dan buktikan sj kalau memeng benar, nggak usah banyak ba bi bu…, entah benar atau tidak… setidaknya sebagian dulu jika terlalu besar biaya…jika memang benar ada piramidanya terbukti baru digali seluruhnya…berapa banyak volume tanah penutup bukan jadi soal jk benar pasti banyak yang membatu bosssssssss

  • zhunda

    Jangan ciutkan keingintahuan, dukung dan buktikan penafsiran sehingga jelas ..konsfirasi memang diperlukan lewat alibi untuk menutupi dan menghalangi sehingga tabir kenyataan teralihkan…
    Filsafah sunda luhung elmu, jembar pangartina….

  • Pewe

    KALAU benar gunung2 itu piramid yang dibangun ribuan tahun lalu, pasti BUKAN orang asli Indonesia … bisa pendatang, bisa penjajah … jadi jangan bangga dulu :p (ini bercanda)

    “Gunung2 piramid” itu BUKAN piramid (ini serius)

    Di Bosnia, pemerintahnya menghentikan investigasi setelah berupaya 4 tahun dan merusak “situs piramid”, tapi gagal menemukan bukti. Indonesia butuh berapa tahun? 8tahun? 20tahun? Sok weh mangga, tapi cari investor lah, jangan duit negara.

  • osel

    biasa, mereka yg mengkritik tentang tidak adanya temuan sejarah di gunung sadahurip, padang, lalakon dan semua yg tersebar di nusantara apa pun alasannya termasuk katanya merusak pelestarian alam adalah alasan yang dibuat2, tim arkeologi yg melakukan study ke masing2 tempat juga tidak asal gali, bongkar, dan tidak mau merusak alam dan pelestarian alam. Mungkin mrk2 ini yg tidak mau situs2 arkeologi di nusantara di ungkap adalah kaki tangan barat atau mrk mau dan persilahkan kalau us dan israel yg menangani penggalian.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>