Krakatau: Ketika Dunia Meledak dan Lampung Karam

Resensi buku oleh Budi Brahmantyo untuk Geomagz Vol. 1/No.3

Senin 27 Agustus 1883, Selat Sunda mengalami kiamat. Letusan dahsyat gunung api yang berada di tengah-tengah selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra itu telah menggegerkan dunia. Pantai-pantai yang berhadapan, baik di Jawa (Banten), maupun di Sumatra (Lampung), mengalami akibat yang mengerikan akibat tsunami yang ditimbulkan ledakan gunung api itu: Krakatau.

Dua buah buku tentang ledakan Krakatau yang diresensi di Geomagz No. 3 edisi September 2011 ini bolehlah sebagai peringatan ke-128 tahun letusan Krakatau. Buku pertama adalah Krakatau, Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 ditulis oleh Simon Winchester, dan buku kedua Syair Lampung Karam yang disusun oleh Suryadi dari naskah bahasa Melayu dengan aksara Arab-Melayu (Jawi) yang aslinya ditulis oleh Muhammad Saleh.

Ketika Dunia Meledak

Membaca buku Simon Winchester yang aslinya berjudul Krakatoa, The Day the World Exploded August 27, 1883 dan terbit pertama pada 2003, sangat mengasyikan. Buku itu telah diterbitkan dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia pertama kali dengan judul Krakatau Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 oleh Serambi (2006). Penerjemahnya, menerjemahkannya dengan bahasa yang enak dibaca. Tulisannya mengalir jernih dan tidak terperangkap dalam terminologi-terminologi akademis geologis. Sekalipun istilah-istilah teknis geologi tetap muncul, tetapi pembaca akan mudah memahami istilah tersebut karena ada penjelasannya pada kalimat berikutnya.

Namun demikian, penerjemah terlalu berhati-hati dalam banyak istilah geologi yang kadangkala memang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Kehati-hatian penerjemahan disiasati oleh penerjemah dengan tetap mempertahankan beberapa istilah dalam bahasa Inggris, seperti porphyry, rift valley, pyroclastic flows, dan sebagainya. Bahkan kata ridge dari mid-oceanic ridge, tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya dan tidak diterjemahkan ke dalam ‘pematang’ atau ‘punggungan’ tengah samudera; hal yang sebenarnya sudah lumrah di Geologi.

Isi buku sekitar letusan Krakatau 1883 sangat komprehensif dan lengkap. Mulai dari gunung ini hanya sebagai legenda atau dari catatan-catatan pujangga lama, hingga hasil penelitian yang monumental dari RDM Verbeek, 1886, dan pembahasan buku Simkin & Fiske, 1983, yang sebenarnya kumpulan komprehensif dalam versi Inggris dari Verbeek 1886 dengan banyak ilustrasi yang menarik.

Pada bab-bab awal buku ini dengan menarik Winchester bercerita tentang latar belakang Indonesia, diantaranya mengenai Pujangga Surakarta Ranggawarsita yang menulis tentang adanya letusan Gunung Kapi yang diduga Krakatau sebelum letusan dahsyat 1883. Pada bab yang lebih ilmiah tentang Krakatau, ada kemungkinan Gunung Kapi yang dimaksud Ranggawarsita adalah letusan yang tercatat pada tahun 416 atau 535. Pada bab awal ini pula, Winchester memberi gambaran secara ringkas sejarah Indonesia sebagai jajahan Belanda, dan mengapa bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk saling memperebutkan hasil bumi cengkeh, lada, dan pala.

Pada bab-bab berikutnya, Winchester membahas bagaimana Teori Tektonik Lempeng dibangun. Bab ini penting bagi pembaca yang belum mengenal geologi dan proses-prosesnya yang menyebabkan bagaimana gunung api terbentuk dan meledak. Diselipkan pula bagaimana kisah tragis usaha Alfred Wegenner yang tadinya dicemooh karena teori pengapungan benuanya, tetapi kemudian disanjung 70 tahun kemudian sebagai peletak dasar Tektonik Lempeng. Winchester juga membahas tentang Garis Wallace dan bagaimana hasil penelitian luas Alfred Russel Wallace di Nusantara mempengaruhi Charles Darwin menyusun teori evolusinya yang sangat terkenal dan kontroversial.

Bab-bab berikutnya kemudian berkembang pada saat-saat Krakatau meletus dan akibat-akibat setelahnya. Pada bab-bab ini, Winchester banyak membahas tulisan RDM Verbeek “Krakatau” (1886) yang merupakan buku paling awal yang melaporkan letusan Krakatau 1883. Karena berbahasa Belanda, ia menyarankan pembaca untuk membaca buku karya Tom Simkin dan Richard S. Fiske “Krakatau 1883: The Vulcanic Eruption and Its Effect (Smithsonian Institution Press, 1983) yang banyak menerjemahkan karya Verbeek.

Akan tetapi ilustrasi efek letusan itu ditulis dengan gaya bahasa bercerita sehingga menimbulkan efek yang mengasyikan kepada pembaca. Misalnya bagaimana terlemparkannya kapal uap Belanda sejauh 2,5 km dari garis pantai Teluk Betung yang bernama Berouw yang artinya ‘penyesalan’ dalam bahasa Belanda. Begitu pula kisah kapal Loudon yang berjuang hidup mati di tengah-tengah Selat Sunda yang bergelora dalam hujan batu dan debu sampai akhirnya selamat berlabuh di Batavia dalam kondisi kapal yang compang-camping dalam arti sebenarnya.

Simon Winchester begitu piawai menulis buku-buku berbau geologi. Di antara buku-buku pertama yang ditulisnya adalah The Map that Change the World, tentang biografi juru ukur jalan di Inggris, William Smith. Karena ketekunannya membuat korelasi profil-profil lereng yang diukurnya, Smith mendapat pengakuan sebagai Bapak Stratigrafi dan membuat revolusi penting dalam Geologi. Petanya dianggap sebagai pencetus kelahiran Geologi modern saat itu.Selain buku tentang Krakatau dan William Smith, buku lainnnya yang berbau geologi adalah tentang gempa bumi besar yang melanda San Fransisico 1906 A Crack in the Edge of the World: America and the Great California Earthquake of 1906.

Tentu saja Simon Winchester pandai menulis tentang geologi karena ia sendiri seorang ahli geologi lulusan St Catherine’s College, Oxford, Inggris, dan sempat bekerja di Afrika dan rig minyak lepas pantai. Dari info yang tertulis di wikipedia, ia lahir di Skotlandia, 28 September 1944, dan sekarang tinggal di Massachusets, AS. Kepandaiannya menulis digembleng selama berkarir 20 tahun sebagai koresponden asing untuk The Guardian. Ia juga banyak menyumbang tulisan untuk Condé Nast Traveler, Smithsonian Magazine, dan National Geographic, serta kritikus buku untuk The New York Times.

Sudah sekitar 18 buku yang ditulisnya, dan tidak tentang geologi saja. Gaya penulisannnya adalah feature, mungkin karena pengalamannya bertahun-tahun sebagai penulis untuk berbagai publikasi. Bukunya selalu menyangkut satu tokoh (dan peristiwa yang mengikutinya) atau satu peristiwa yang merembet pada penceritaan tokoh-tokohnya yang terlibat di dalamnya.

Ketika Lampung Karam

Berbeda dengan buku Winchester yang dilengkapi data ilmiah geologi, buku karya Suryadi dengan judul lengkap “Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883” merupakan kumpulan transliterasi dari suatu syair yang ditulis oleh Muhammad Saleh tentang kesaksiannya atas bencana letusan Krakatau 1883. Pada awalnya Suryadi yang merupakan dosen di Universitas Leiden sejak 1998 mempresentasikannya pada Konferensi ke-24 Association of South East Asian Studies in the United Kingdom (ASEASUK) di Liverpool John Moores University pada 20 – 22 Juni 2008.

Suryadi, peneliti dan ahli naskah kuno (filologi) dan sastra klasik, kemudian mendapatkan informasi lain tentang naskah tersebut yang “tercecer” di enam negara yang berbeda.Akhirnya, pada 2009 ia berhasil menerbitkan secara lengkap naskah kesaksian bencana Krakatau itu dalam terjemahan Bahasa Indonesia melalui penerbit Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP). Bukunya dengan editor jurnalis Kompas, Yurnaldi, kemudian diselipkan latar belakang letusan Krakatau. Pada Bagian 3 berbagai foto dan sketsa tentang Krakatau yang kebanyakan mengambil dari buku Simkin dan Fiske (1983), juga melengkapi buku ini.

Syair transliterasi lengkap terdapat pada Bagian 2 buku ini. Walaupun dengan gaya bahasa yang masih terasa asing bagi lidah kita sekarang, kita dapat mengikuti bagaimana Muhammad Saleh yang menuliskan tentang kengeriannya menyaksikan akibat Letusan Krakatau 1883 di suatu tempat di Kampung Bangkahulu, Singapura, yang sekarang kemudian bernama Bencoolen Street. Muhammad Saleh menulisnya hanya 3 bulan di tempat pengungsiannya di Singapura setelah letusan yang membuat dunia terguncang. Ribuan makalah dan buku terbit setelah peristiwa itu, dan naskah Muhammad Saleh baru mencuat 125 tahun kemudian setelah usaha keras Suryadi.

Sebagaimana umumnya syair, bagian awal naskah Syair Lampung Karam itu merujuk kepada latar belakang adanya kebobrokan moral masyarakat dan kesewenang-wenangan penjajah sehingga turunlah azab melalui letusan Krakatau. Setelah itu, naskah itu menggambarkan bagaimana letusan Krakatau yang diikuti adanya tsunami, membawa bencana yang mengerikan di pantai Lampung, mungkin tempat si penulis naskah menyaksikannya. Inilah beberapa kutipan syair kesaksian dahsyatnya letusan Krakatau yang diikuti tsunami yang membawa ribuan korban jiwa itu:

Pulau Sebuku dikata orang,
Ada seribu lebih dan kurang,
Orangnya habis nyatalah terang,
Tiadalah hidup barang seorang
….
Ada yang lari nyatalah terang,
Anak didukung ada di belakang,
Dipukul air tunggang-langgang,
Anak dilihat nyawanya hilang,

Air di situ sahaya khabarkan,
Naik ke darat bukan buatan,
Dua belas pal nyatalah, Tuan,
Dari tepi laut sampai daratan.
….

Beruntunglah ada Suryadi yang tekun mempelajari naskah-naskah lama sehingga menemukan syair Muhammad Saleh yang membuktikan bahwa bangsa kita pun ternyata cukup cendekia dalam melaporkan suatu peristiwa alam sekalipun dalam bentuk syair. Jika Simon Winchester hanya merangkai informasi-informasi tercecer yang ia tuliskan kembali menjadi bacaan yang memikat tentang ledakan Krakatau, Muhammad Saleh melihat sendiri dan mencatat akibat langsung ledakan Krakatau yang kemudian mempengaruhi dan menginspirasi para seniman dan penulis dunia itu ***

11 comments to Krakatau: Ketika Dunia Meledak dan Lampung Karam

  • Mungkin letusan Krakatau tahun 535 M ada hubungannya dengan kemunduran Kerajaan Tarumanegara ya pak??

  • admin

    ada kaitannya mungkin. Coba baca tulisan pak Oki ttg Letusan Krakatau 535 M di edisi yg sama (selancari saja situsnya).

    Geomagz Volume I No 1 sd. No 3 sudah tersedia dalam versi e-file, dapat diunduh di sini: http://www.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=879&Itemid=141

  • Sudah baca pak, memang kemungkinan ada kaitannya ternyata. Walopun saya kurang yakin tentang terbentuknya selat sunda akibat letusan tersebut..

  • samiun

    “Iqbal E. Putra
    January 14th, 2012 at 1:25 pm

    Sudah baca pak, memang kemungkinan ada kaitannya ternyata. Walopun saya kurang yakin tentang terbentuknya selat sunda akibat letusan tersebut..”

    knp ga percaya? harus percaya sampean….??

  • m.saiful anam

    pak,apa saat itu terjadi paceklik berkepanjanagan

  • admin

    catatan sejarah yg ada kalau tidak salah terjadi pemberontakan petani Banten 1888 (?). Apakah itu akibat paceklik akibat letusan Krakatau? mungkin saja. Bahasan ini menjadi disertasi di Leiden oleh ahli sosiologi Indonesia (maaf saat ini lupa namanya)…

  • Megan

    Kok nggak dijelasin seberapa jauh air menggenangi daratan lampung dan banten. Trus ketinngian Gunung Krakatau dari permukaan air laut sebelum meletus.

  • admin

    ini kan resensi buku…mau tahu info itu lebih detail, silakan baca bukunya Winchester.

  • kenapa ngak di buat filem aja ya kayak titanic

  • jay

    alhamdulilaah saya dapat buku simon secara tak sengaja.luar biasa.Memberikan gambaran yang jelas tentang sebelum saat dan setelah ledakan krakatau.
    pak admin bisa bantu saya dapatkan buku ke dua “dahsyatnya letusan krakatau ‘?
    terimakasih sebelumnya..

  • admin

    tentang “Lampung Karam?”buku itu skrg sudah mulai susah didapat. Bisa dicari di toko buku bekas.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>