Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam

Senin 1 Agustus saya mengirim artikel ini ke Redaksi Pikiran Rakyat, dengan judul aslinya Kolom Batuan, Sering Disangka Buatan Manusia. Oleh redaksi PR judulnya diubah seperti termuat di Harian Pikiran Rakyat, Rabu 3 Agustus 2011.

Bermula dari situs megalitik Gunung Padang di Cianjur. Bagi kita yang mengunjungi situs tersebut akan selalu mengagumi karya leluhur masyarakat megalitik yang diperkirakan hidup 1000 tahun Sebelum Masehi di Kecamatan Campaka itu. Bangunan situs kokoh yang disusun dari ribuan kolom-kolom batu membentuk lima undak yang seluruhnya diarahkan ke utara persis menghadap ke puncak Gunung Gede.

Kekaguman itu sangatlah beralasan. Bayangkan bagaimana masyarakat yang dapat dikatakan masih menggunakan teknologi sederhana dibandingkan kita sekarang, dapat menyusun kolom batu sedemikian rupa membentuk undak-undak, terutama di undak pertama dan kedua seluas kira-kira 600 meter persegi. Mereka berhasil menyusun kolom-kolom batu andesit-basaltis yang berdiameter 30 hingga 50 cm.  Berat sebuah kolom batu sepanjang 1 m dapat mencapai setengah ton. Padahal banyak kolom yang panjangnya mencapai 2 m lebih dengan berat sekitar 1 ton lebih.

Dari bentuk kolom batuan yang sempurna dengan permukaan membentuk segi lima atau enam, banyak yang menyangka kolom-kolom batu berwarna abu-abu gelap itu sengaja dibuat pembangun situs megalitik dengan dipahat satu demi satu. Padahal proses geologis pendinginan dan pembekuan batuan yang tadinya berbentuk cairan silika sangat panas, dapat membentuk kolom-kolom batuan tersebut secara alamiah.

kolom2 batu di situs megalitik G. Padang (Cianjurkab.go.id)

Dalam Geologi, kolom-kolom batuan itu terbentuk akibat adanya kekar-kekar (retakan sistematis). Sistem retakan itu dikenal sebagai kekar kolom (columnar joint). Kekar kolom akan meretakkan tubuh batuan selama proses pendinginannya dari suhu awal sekitar 1000 derajat Celcius secara tegak lurus ke bidang pendinginan, yaitu dasar tempat magma mengalir. Para peneliti mengemukakan bahwa terbentuknya kekar-kekar kolom adalah karena terjadi kontraksi batuan pada saat pendinginannya dari sisi yang mulai mendingin ke arah dalam yang masih sangat panas. Retakan akan terbentuk ketika tekanan-tekanan kontraksi termal berkembang melampaui batas kekuatan massa batuan. Sekali retakan terbentuk, ia akan terus merambat tegak lurus ke arah bidang pendinginan.

Selain kolom-kolom tegak lurus dengan bidang pendinginan, dalam proses yang bersamaan akan terbentuk juga kekar-kekar yang paralel terhadap bidang pendinginan akibat adanya kontak batuan yang telah mendingin dengan bagian di dalamnya yang masih panas. Di beberapa tempat di lapangan, kedua jenis kekar ini sering dijumpai bersama-sama, seperti misalnya di Gunung Batu, Lembang, Bandung Utara, atau di Gunung Koromong, Bale Endah, Bandung Selatan. Banyak juga para geolog yang tadinya menduga kekar-kekar paralel pada tubuh batuan beku yang berlembar-lembar adalah akibat proses regangan ketika terjadi kehilangan beban berat di atasnya.

Kolom-kolom batu situs Gunung Padang terjadi secara alamiah. Sebuah intrusi magma dangkal diperkirakan menerobos wilayah Kecamatan Campaka 1 hingga 2 juta tahun yang lalu, dan satu terobosan tersebut di antaranya menyembul ke permukaan membentuk Gunung Padang sekarang ini. Berribu-ribu tahun kemudian setelah proses penerobosan magma yang mendingin itu, masyarakat megalitik yang luar biasa tekun menemukan warisan alam kolom-kolom batu ini. Mereka mendapatkan sebuah bukit dengan kolom-kolom tegak memanjang yang tersebar di kaki bukitnya. Lalu, diperkirakan dengan perhitungan geografis dan astronomis yang sesuai dengan kepercayaan mereka, kolom-kolom batu berat itu diangkat satu per satu ke atas puncak bukit untuk dibentuk bangunan berundak-undak yang mengarah ke Gunung Gede seperti yang kita lihat sekarang.

Kolom Batu di Dunia

Kolom-kolom batu yang terbentuk dengan sudut empat (tetragonal), lima (pentagonal) atau umumnya enam (heksagonal) membuat setiap orang yang melihatnya akan kagum karena dimensinya begitu sempurna. Dari pandangan awam, batu-batu tersebut dengan mudah disimpulkan sebagai buatan manusia. Di Irlandia, kolom-kolom batu basalt dengan permukaan heksagonal berdiameter besar membentuk undak-undak alamiah sehingga tempat tersebut dikenal sebagai Titian Raksasa (the Giant’s Causeway).

Giant's Causeway di Irlandia (irelandtourismguide.com)

Di negara bagian Wyoming, Amerika Serikat, sebuah monumen nasional bernama Devil’s Tower (Menara Setan) menjulang dengan lereng tegak bergaris-garis yang dibentuk dari kolom-kolom batu basalt. Dari garis-garis yang dibentuk memanjang dari puncak gunung hingga dasarnya, masyarakat asli Amerika (Indian) mempunyai legenda yang menarik. Menurut legenda tersebut, jaman dulu garis-garis tersebut terbentuk akibat goresan cakar-cakar beruang raksasa yang mencoba mengejar para pejuang Indian itu yang berlindung di puncak bukit. Usaha beruang raksasa untuk naik ke lereng terjal gunung itulah yang membentuk garis-garis di gunung tersebut dan pecahannya yang terserak di kaki bukit.

devil's tower di Wyoming, AS (travel-notes.com)

Banyak lagi tempat di dunia yang berkaitan dengan kolom-kolom batuan tersebut. Karena ukurannya yang luar biasa, gunung-gunung berkolom batu sisa-sisa aktifitas magmatik itu dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat gigantik dan kejadian yang adi-kodrati. Apakah itu merupakan titian para raksasa, beruang raksasa, atau hasil buatan setan atau dewa.

legenda devil's tower (indiantodaymedianet.com)

Di Indonesia yang merupakan kepulauan yang dibentuk dari rangkaian gunung-gunung api, jika digali lebih lanjut, cerita yang berkaitan dengan kolom-kolom batu yang tersebar di banyak tempat, umumnya selalu berkaitan dengan sesuatu yang bersifat keramat. Kepercayaan tersebut rupanya sudah diyakini oleh para leluhur kita, terutama pada Zaman Neolitikum yang satu masanya dikenal sebagai budaya megalitik, yaitu kepercayaan yang direpresentasikan dengan pembangunan arca-arca atau pendirian kolom-kolom batu tegak menhir.

Menhir tersebar luas di Indonesia. Bersesuaian dengan lingkungan geologinya, banyak menhir dengan memanfaatkan kolom-kolom batu basalt yang tersedia secara alamiah untuk dibawa, diangkut, dan diberdirikan pada tempat-tempat yang dianggap suci bagi mereka. Situs-situs purbakala di Flores, Kerinci, Lahat, Purbalingga, hingga Palabuhanratu dan Gunung Padang jelas merupakan pemanfaatan kolom batu alamiah sebagai menhir yang merupakan simbol kekuatan yang di masa kemudian, terutama masa-masa agama Hindu, dikenal sebagai lingga.

Gunung Lalakon

Baru-baru ini masyarakat kita dibuat penasaran dengan suatu pendapat dari satu kelompok yang mengklaim telah menemukan bangunan piramida di Gunung Lalakon, utara Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kelompok tersebut berkeyakinan atas dasar interpretasi warisan para leluhur yang kemudian dikonfirmasi dengan penelitian geolistrik, bahwa Gunung Lalakon yang dua sisinya membentuk bidang menyudut mirip piramida, adalah tinggalan kehebatan para leluhur yang selama ini disembunyikan (decoy).

Untuk membuktikan itu, Maret 2011 lalu mereka melakukan penggalian di puncak Gunung Lalakon, hanya 4 m dari fondasi menara listrik tegangan tinggi yang membentang dari PLTA Saguling. Dari galian sedalam lebih kurang 2 m, mereka mengklaim menemukan bronjong-bronjong batu yang dianggap sebagai bagian dari bangunan piramida tersebut.

Terlepas dari keyakinan mereka yang tidak mendasarkan pada temuan-temuan dan penelitian arkeologis sebelumnya yang sebenarnya cukup luas di Indonesia, secara geologis, Gunung Lalakon merupakan satu dari banyak bukit di utara Soreang atau selatan Cimahi yang merupakan produk aktifitas magmatik selama Kala Pliosen, sekitar 4 juta tahun yang lalu. Dalam kala itu, aktifitas magmatik di sekitar Gunung Lalakon merupakan indikasi awal bergesernya jajaran magmatik-vulkanik ke arah utara di Jawa Barat. Maka di kawasan tersebut, selain Gunung Lalakon yang memang membentuk morfologi kerucut, kita akan menjumpai kerucut-kerucut lain, di antaranya Pasir Salam Masoro di rangkaian Gunung Lagadar – Gunung Bohong Cimahi, Pasir Selacau di Batujajar, Gunung Pancir dan Gunung Paseban di Cipatik, hingga Gunung Singa dan Gunung Sadu di Soreang. Ke arah Cililin, sisa-sisa kompleks gunung api purba ini semakin meluas.

Di Gunung Pancir, Paseban, Salam Masoro, dan Selacau, aktifitas galian batu andesit intensif dilakukan sejak tahun 1980-an. Galian-galian itu menyingkap enigma perbukitan yang di dalam Geologi Cekungan Bandung dikenal sebagai Kompleks Selacau – Lagadar. Di Pasir Salam Masoro dan Selacau, galian batu menyingkap susunan kolom-kolom andesit-basaltis tegak yang mirip Menara Setan Wyoming. Di Gunung Pancir, persis bersebelahan dengan Gunung Lalakon, galian batu memperlihatkan kolom-kolom batu yang tampak miring.


kolom-kolom andesit alamiah di Pr. Salam, Lagadar, yg bisa dianggap
bronjong oleh orang awam (Foto: Andri SS MUbandi)


kolom-kolom batu di G. Pancir, tetangga G. Lalakon
(Foto BB 2005)

Jadi bukan tidak mungkin bahwa bronjong-bronjong batu yang digali untuk membuktikan sebagai bagian dari bangunan piramida di Gunung Lalakon, sebenarnya hanyalah bagian dari kolom-kolom batu alamiah yang membentuk kerucut gunung itu. Memang, kolom-kolom batu itu membentuk struktur dan bentuk yang sempurna, sehingga banyak yang terkecoh menganggapnya sebagai buatan manusia. Padahal hukum alam pun telah bekerja dengan begitu sempurna, bahkan lebih sempurna dari buatan manusia. ***


G. Lalakaon berbentuk kerucut yg oleh orang Kp Mahmud disebut
G. Aseupan (Kukusan).

Budi Brahmantyo, geolog dan dosen Teknik Geologi di FITB, ITB; anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

51 comments to Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam

  • purnawibawa

    masalah buatan manusia atau bukan saya rasa saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri dari pemaparan para ahli, saya sendiri lebih setuju dengan admin. bukannya menepikan hal-hal yang bersifat mistis dan klenik, bahkan terkadang penemuan besar arkeologi juga dibimbing oleh “insting” arkeolog, namun untuk membuktikan apakah susunan batu merupakan buatan manusia atau alami sangat diperlukan penggalian. saya tidak meragukan metode penelitian (dan penggalian, jika dilakukan) milik geologi. penggalian (ekskavasi) merupakan sebuah perusak terhadap “rekaman data” pada lapisan tanah, sehingga perlu adanya metode yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, belum tentu semua ahli geologi dan arkeologi menguasai kemahiran ini, sehingga sangat penting kerja tim yang tersusun dari berbagai ahli di segala bidang yang diperlukan. saya disini mempertanyakan otoritas TS untuk meneliti (bahkan menggali) apakah metode yang digunakan? dapatkah dipertanggungjawabkan? sangat dikhawatirkan tindakan cceroboh dan sembarangan justru hanya merusak lingkungan. suatu pelajaran yang dapat diambil adalah untuk kedepannya bangsa Indonesia lebih menekankan ke-ilmiahan dalam menyikapi sebuah permasalahan, bukan menggunakan menyan dan wangsit yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>