Beribu Gunung di Gunung Sewu, 1001 Gua di Pacitan

Judul ini adalah artikel di Buku “EKSPEDISI GEOGRAFI INDONESIA JAWA TIMUR 2010 – Bakosurtanal ” yang terbit pada Januari 2011. Di buku ini tulisan saya yang lain adalah “Lusi di Langit dengan Intan-intan” tentang Gunungapi Lumpur Sidoarjo. Tentu saja ada banyak artikel lain yang ditulis anggota EGI 2010 Jatim. Sayang buku ini dicetak dan diedarkan terbatas dan tidak dijual.

Beribu Gunung di Gunung Sewu, 1001 Gua di Pacitan

Karst merupakan wilayah di permukaan bumi yang batuannya mudah mengalami proses pelarutan sehingga membentuk bentang alam yang khas. Kekhasannya dicirikan terutama oleh banyaknya lembah-lembah membundar akibat amblesan yang kemudian menyisakan perbukitan-perbukitan membundar juga. Hasilnya adalah terbentuknya kombinasi bukit-lembah yang unik. Ciri lain yang sangat khas adalah terbentuknya gua-gua dan lorong-lorong bawah tanah, baik berbentuk horisontal atau pun vertikal.

Gambar 1: Morfologi tipikal karst Gunungsewu dan stalaktit yang aktif di gua-gua di bawah perbukitan gersangnya

Bentang alam karst sebelum terangkat menjadi daratan, perbukitan atau pegunungan, sebenarnya bermula dari laut dangkal. Terumbu karanglah cikal bakal bentang alam karst. Terumbu karang yang terbentuk di laut dangkal mempunyai beberapa syarat pertumbuhan, di antaranya cukup matahari untuk melakukan proses fotosintesis bagi koloni-koloni penyusun terumbu karang. Agar matahari bisa mencapai terumbu karang, laut jernih merupakan syarat ideal pertumbuhan berikutnya. Dengan demikian terumbu karang harus tumbuh hanya pada kedalaman air laut tertentu supaya sinar matahari dapat menyentuh permukaan terumbu karang. Selain itu, kadar garam / salinitias air laut juga memegang peranan penting perkembangan terumbu karang.

Bayangkan ketika kemudian lingkungan hidup terumbu karang berubah. Laut menjadi kotor dan keruh sehingga penetrasi sinar matahari terbatas, atau salinitas berubah, atau terjadi perubahan dasar laut, apakah menjadi terlalu dalam atau bahkan muncul di atas permukaan laut, maka … pertumbuhan terumbu karang akan terhenti untuk kemudian mati. Jika kondisi lingkungan yang berubah ini berlanjut, maka akan terhamparlah lapisan terumbu karang mati.

Selama berribu atau berjuta tahun berlangsung, hingga suatu waktu proses geologis menyebabkan laut terangkat menjadi daratan, lapisan terumbu karang yang telah mati yang sangat tebal ikut terangkat ke atas permukaan laut. Saat itulah, ketika kemudian terumbu karang yang terangkat terpapar air hujan yang tawar, proses pelarutan pada terumbu karang mati mulai berjalan. Proses pelarutan pada terumbu karang yang telah mati menjadi batu akan semakin intensif ketika curah hujan semakin tinggi. Apalagi jika air hujannya membawa larutan karbon dioksida yang menyebabkan proses pelarutan semakin cepat dan meluas. Proses pelarutan ini akan mulai terjadi di dalam batuan, ketika air hujan meresap masuk melalui celah-celah batuan membentuk air tanah. Proses dinamika air tanah di dalam batuan menyebabkan proses pelarutan batuan karbonat mulai terjadi.

Batuan seolah-olah digerogoti dari dalam. Tubuhnya berlubang-lubang yang semakin lama semakin besar. Lama-lama lubang-lubang kecil menjadi gua-gua yang besar, panjang dan dalam. Sejalan dengan terangkatnya terumbu karang menjadi perbukitan atau pegunungan dalam lingkungan iklim tropis basah yang bercurah hujan tinggi, proses pelarutan atau karstifikasi akan semakin menjadikan lebih banyak batuan karbonat sebagai penyusun utama fosil terumbu karang digerogoti oleh proses pelarutan.

Proses pelarutan batuan karbonat selain melarutkan, juga berlaku sebaliknya, yaitu disedimentasikan kembali. Ketika proses pelarutan menguraikan karbonat, reaksi kimia berikutnya membentuk endapan karbonat kembali. Proses resedimentasi dan rekristalisasi di langit-langit gua itu kemudian membentuk tonjolan-tonjolan yang menjorok dari langit-langit gua. Begitulah bagaimana stalaktit terbentuk. Proses yang sama terjadi di dasar gua ketika tetes-tetes air sedikit demi sedikit mengendapkan larutan karbonat yang lama-lama menjadi menonjol. Begitulah bagaimana stalagmit terbentuk. Proses yang berjalan ribuan tahun di dalam kegelapan gua di bawah tanah, lama-lama akan mempertemukan kedua ujung stalaktit – stalagmit sehingga membentuk pilar-pilar alam.

Banyak proses-proses sedimentasi di dalam gua yang selanjutnya dikenal sebagai speleotem atau hiasan gua, seperti flowstone atau batu alir yang terbentuk di dinding gua, gordam yang terbentuk berteras-teras akibat fluktuasi air bawah tanah, atau stalaktit kecil seperti sedotan yang dalam bahasa Inggrisnya pun dikenal sebagai straw atau sedotan, serta banyak lagi. Tentu saja dengan adanya kombinasi air hujan yang meresap masuk ke dalam tanah, menetes dan mengalir di dalam lubang dan gua, sungai-sungai bawah tanah kemudian terbentuk; mengalir kecil dan besar, layaknya sungai di permukaan.

Karst Pacitan

Semua fenomena itu bisa kita saksikan di satu wilayah relatif terbatas di Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Karst di Pacitan sebenarnya adalah sebagian kecil dari pegunungan karst yang luas yang tersebar dari barat di Parangtritis dan Wonosari di Yogyakarta, Wonogiri di Jawa Tengah, hingga ujung timur di Pacitan, Jawa Timur. Seluruh kawasan karst itu dikenal juga sebagai wilayah Pawonsari, kependekan dari tiga wilayah utama karst Gunung Sewu itu: Pacitan, Wonogiri, Wonosari (Gambar 2).

Karst Gunung Sewu – demikian namanya di kalangan para pemerhati karst – merupakan pegunungan yang terbentuk terutama dari formasi batugamping berumur Miosen Tengah – Pliosen (kira-kira 15 hingga 2 juta tahun) yang dikenal sebagai Formasi Wonosari-Punung. Keberadaan formasi batugamping yang luas dan tebal ini menjadikan proses karstifikasi berjalan intensif, terutama diperkirakan ketika Pulau Jawa mulai terangkat sekitar dua juta tahun yang lalu. Proses pelarutan batuan itu pun berjalan hingga kini menghasilkan deretan bukit-bukit yang terutama didominasi bentuk-bentuk kubah. Sekalipun arti namanya “gunung seribu,” kenyataannya bukit-bukit kubah karst batugamping di sini dapat mencapai jumlah lebih kurang lima ribu bukit.

Gambar 2. Wilayah karst Gunungsewu di tiga propinsi

Sangat menarik ketika pemerintahan Kabupaten Pacitan menyadari karakteristik wilayah fisiknya yang terdiri dari wilayah berbukit-bukit karst, serta banyaknya gua. Hal itu sedikitnya terlihat ketika tim EGI melewati kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Pacitan. Di pagarnya terbentang spanduk bertuliskan “Kawasan Kars Pacitan Menuju Geopark Global.“ Di lain tempat, Pacitan telah mencanangkan sendiri sebagai Kota 1001 Gua (Gambar 3).

Di sinilah duduk persoalannya. Wilayah karst memang unik dan langka. Hal itu sudah pasti akan menjadi daya tarik wisata. Namun di balik itu terdapat kerentanan wilayah karst. Dengan banyaknya lubang-lubang pada batuan, wilayah ini jelas rentan terhadap pencemaran air bawah tanah. Selain itu banyak kecenderungan dan godaan dalam pengusahaan batu kapur untuk semen atau untuk tepung kalsium-karbonat yang eksploitasinya adalah dengan penggalian dan pembakaran. Usaha-usaha ini jelas mendatangkan keuntungan finansial yang instan, berbeda dengan usaha pariwisata yang perlu perencanaan, manajemen, atau pemeliharaan yang panjang. Maka, umumnya pemerintah daerah cenderung tidak sabar dengan usaha pariwisata ini.

Gambar 3. Pencanangan Karst Pacitan sbg GEOPARK dan kota Pacitan sbg kota 1001 gua

Sebagai contoh, dari pencanangan 1001 gua di Pacitan, baru dua buah gua yang telah dikenal sebagai daerah tujuan wisata: Gua Tabuhan dan Gua Gong. Keduanya berada di Kecamatan Punung dan menjadi daya tarik wisata utama karst Gunung Sewu di Provinsi Jawa Timur. Di Gua Tabuhan, daya tariknya terletak dari atraksi karawitan Jawa dengan memanfaatkan beberapa stalaktit yang selaras dengan nada-nada musik. Dengan ditambah satu gendang dan dua pesinden, melantunlah lima lagu Jawa yang merdu di ruang gua yang berukuran kira-kira 16 x 32 m yang atapnya digantungi berpuluh-puluh stalaktit. Seperti di sebuah ruang pertunjukan, stalaktitnya seperti lampu-lampu kristal yang menggantung dan suara musik mengalun merdu di dalam ruang gua yang ternyata memiliki akustik alami luar biasa itu. Sungguh atraksi pariwisata yang menarik, selain juga ikut memerdayakan masyarakat setempat mendapatkan keuntungan dari aktivitas pariwisata tersebut.

Gambar 4. Atraksi musik di Gua Tabuhan

Gua Gong yang tidak begitu jauh dari Gua Tabuhan mempunyai daya tarik yang berbeda. Di dalam gua ini, hiasan gua berkembang secara spektakular. Ratusan stalaktit dengan struktur kristal kalsit bening, besar dan kecil, menggantung dari langit-langit gua. Salah satu dari stalaktit itu adalah stalaktit besar yang tepat berada dekat dengan jalur dan tangga wisatawan. Lalu inilah dampak yang perlu untuk dicermati: setiap wisatawan meraba kristal yang tadinya bening tersebut. Saat saya mengunjungi bersama tim EGI April 2010 ini setelah kunjungan terakhir tahun 2007, kristal itu tampak kusam dan hitam. Tampaknya, pengelola harus mengubah jalur wisatawan tidak melalui stalaktit itu. Cukup dipandang dari jauh dengan posisi jalur tangga lebih dari jangkauan tangan wisatawan.

Selain menjadi daya tarik wisata, gua-gua di karst Gunung Sewu di Daerah pacitan ternyata menyimpan kekayaan arkeologis yang diakui internasional. Sejarah perkembangan asal-usul manusia berpotensi muncul dari gua-gua di Punung dan sekitarnya. Penelitian-penelitain internasional sudah sering dilakukan di Punung dan menghasilkan tulisan-tulisan yang bernas. Misalnya disertasi hasil penelitian Forestier (2007) di Song Keplek, sebuah gua ceruk, selain di Song Terus, Gua Braholo, dan masih banyak lagi (Simanjuntak dkk. 2004).

Gambar 4. Gua Gong, jalur wisatawan harus ditata ulang agar tidak dekat dengan stalaktit dan wisatawan tidak menyentuh kristal-kristal kalsitnya yang berakibat kotor dan tampak berwarna hitam (panah merah)

Ketika Pacitan mencanangkan Kota 1001 Gua, pencanangan itu mestinya tidak main-main. Artinya Kabupaten Pacitan harus meyakinkan masyarakat bahwa di daerahnya memang terdapat seribu satu gua, dan itu harus ada di dalam suatu daftar yang meliputi nama gua, letak administratif, koordinat geografis; syukur-syukur dengan tambahan informasi yang lengkap tentang setiap gua. Forestier (2007) telah mendata sedikitnya 31 gua dan song (gua ceruk) dengan tinggalan artefak prasejarah. Banyak gua yang tidak terdaftar karena tidak terdata sebagai situs prasejarah, di antaranya Gua Gong sendiri, Gua Kalak, dan banyak lagi. Paling tidak, katakanlah, baru sekitar seratus gua yang telah bernama dan dikenal. Lalu bagaimana dengan 901 gua lainnya. Kelihatannya Kabupaten Pacitan harus bekerja keras untuk mendata gua-guanya agar tergenapi 1001 gua, sesuai dengan pancanangannya.

Selamat bekerja keras bagi Kabupaten Pacitan. Semoga penggenapan seribu satu gua dapat tercapai, dan rasanya akan mungkin tercapai jika dikerjakan selama seribu satu hari, lalu hasilnya membawa seribu satu manfaat bagi masyarakatnya.

Pustaka

  • Forestier, H. (2007), Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu, Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
  • Simanjuntak, T., R. Handini, dan B. Prasetyo (2004), Prasejarah Gunung Sewu, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Jakarta.

2 comments to Beribu Gunung di Gunung Sewu, 1001 Gua di Pacitan

  • Ayu Nurinsiyah

    Salam,

    saya ayu peneliti keong darat di karst. Mau tanya, kalau saya hendak berkunjung dan meneliti di kawasan karst pacitan harus menghubungi siapa ya?

    terima kasih sebelumnya

    wassalam
    Ayu Nurinsiyah
    Universitaet Hamburg

  • admin

    Wah saya pun tidak tahu. Tapi secara formal tentu pertama-tama ke Pemerintah Daerah setempat.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>