|
|
 uang kertas Rp.5000 (repro foto T. Bachtiar)
Uang kertas Rp. 5000,- zaman Presiden Soeharto bagi saya memberi impian yang melebihi nilai nominalnya. Di lembar belakang tergambar sketsa tiga kawah Keli Mutu dengan warna air yang berbeda-beda: merah, hijau, dan biru. Sangat unik dan langka. Itulah daya tarik wisata utama Danau Keli Mutu.
Impian dari selembar uang recehan yang sudah ditarik peredarannya itu akhirnya menjadi kenyataan ketika Bakosurtanal mengajak survei geografi untuk penyusunan Atlas Bentang Lahan Nusa Tenggara Timur. Saat pesawat berbaling-baling jenis ATR Wings Air mendarat di Bandara Frans Seda, Waioti, Maumere, keesokannya dengan hanya lebih kurang 3 jam berkendaraan, sampailah kami di Moni, desa kecil tepat di kaki Keli Mutu. Adrianus Darato, yang dipanggil Adi, sang sopir yang membawa kami memakai Inova dengan ban yang nyaris gundul, menyarankan untuk menginap di Moni dan naik Keli Mutu besok subuhnya. Rupanya para turis asing pun melakukan hal yang sama.
Esoknya, jam 4.30 subuh, pak Adi sudah ngejos naik ke Keli Mutu membawa kami yang masih terkantuk-kantuk. Di gerbang Taman Nasional kami hanya membayar Rp. 3000,- per orang dengan charge kamera Rp. 5000,-. Sekalipun murah, tapi bahwa bawa kamera harus bayar, membuat hati sedikit dongkol. Memang di beberapa galeri lukisan atau museum bahkan kamera dilarang digunakan, tapi Keli Mutu kan gunung? Sebenarnya berbohong dengan mengatakan tidak bawa kamera bisa saja. Toh tas-tas kami tidak akan diperiksa, dan tidak ada pemindai laser, tetapi ya sudahlah…pemindai dari Yang Maha Kuasa membuat kami mengaku membawa kamera.
 Tugu Observasi di Puncak Kelimutu
Di puncak Keli Mutu +1640 m dpl, para wisatawan manca negara sudah lebih dahulu duduk menggerombol di atas tugu. Matahari belum terbit. Jalan kaki menanjak landai dari tempat parkir sedikit menghangatkan tubuh kami.
Pukul 6, cahaya Matahari (yang sayangnya datang dari arah depan) telah menerangi seluruh alam. Dua danau kawah di depan kami pun mulai menampakkan detail morfologi lerengnya yang curam dengan lebih jelas. Warna airnya berwarna sama. Ya, saat itu air danau kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Koofai Nuwamuri yang bersebelahan hanya dibatasi oleh punggungan tipis runcing seperti arete, berwarna sama: hijau toska, warna air kawah danau pada umumnya. Hanya air pada danau kawah Tiwu Ata Bupu yang berada di belakang kami berwarna hitam. Tiwu menurut bahasa setempat berarti danau.
 3 danau kawah Keli Mutu dg warna mengikuti waran "biasanya"
Ketiga danau kawah itu, seperti tergambar di lembar uang kertas Rp 5000,- walaupun tertukar, berwarna standar biru untuk Tiwu Ata Bupu, hijau untuk Tiwu Koofai Nuwamuri, dan merah untuk Tiwu Ata Polo. Namun warna ini sering berubah-ubah tanpa diketahui penyebabnya. Banyak teori yang menyatakan penyebabnya akibat perubahan kimiawi air kawah. Beberapa juga berteori karena adanya kandungan ganggang. Namun, penduduk setempat berpikir lebih lateral bahwa penyebab perubahan adalah terkait dengan kondisi negara ini. Saat saya mendengar penjelasan ini dari seorang penjaja tenun ikat Flores, hari-hari itu di televisi sedang gencar-gencarnya penyidikan KPK atas dugaan korupsi Angelina Sondakh, anggota DPR dari partai yang sedang berkuasa saat ini.
Dari plank yang kami catat, Tiwu Ata Bupu, danau arwah orang tua, luas 4,5 ha dengan kedalaman 67 m; Tiwu Koofai Nuwamuri (di plank tertulis Tiwu Nua Muri Koofai yang disalahkan oleh si bapak penjual kain tenun), danau arwah muda-mudi, 5,5 ha kedalaman 127 m, dan Tiwu Ata Polo, danau arwah orang-orang yang ditenung, 5 ha kedalaman 64 m.
Keli Mutu dengan tiga danau kawahnya merupakan gunung api sekunder yang tumbuh pada Kaldera Sokoria atau Mutubasa. Bersama-sama dengan Keli Bara +1630 m dpl di sisi selatan, dan Keli Do +1641 m di antaranya, membentuk kompleks gunung api di timur laut Ende. Sebenarnya dalam bahasa lokal Ende, keli berarti gunung, maka dalam tulisan ini saya tidak menggunakan kata gunung lagi di depan keli. Keli Mutu termasuk gunung api strato dan dikategorikan tipe A dan beberapa kali pernah tercatat meletus, di antaranya cukup dahsyat pada 1830, dan terulang lagi pada 1869 – 1870. Setelah itu, catatan letusan Keli Mutu tidak signifikan.
 bus kayu Flores
Waktu jadi mahasiswa saya masih ingat bagaimana dosen Geologi Lingkungan, Pak Sampurno, ngabibita dengan pengalamannya ke kawah Keli Mutu pada 1970-an. Saat itu ia mengatakan untuk mencapai kawah, masih menggunakan truk. Walaupun saat ini truk serupa sudah tidak dipergunakan lagi naik ke Keli Mutu, tetapi rupanya, truk sebagai angkutan manusia masih dipergunakan di seluruh Flores. Moda transportasi yang disebut “bus kayu” itu adalah truk dengan diberi palang-palang kayu sebagai tempat duduk di baknya. Sebagai alat transportasi, semua boleh naik, termasuk berkarung-karung hasil bumi, bahkan binatang ternak, seperti bebek dan babi.
Catatan lain, tentu saja, Keli Mutu mencatatkan sejarahnya berkaitan dengan pengasingan Bung Karno ke Ende pada 1938. Dalam buku “Kuantar ke Gerbang” biografi Ibu Inggit Garnasih, isteri pertama Bung Karno, penulis Ramadhan KH begitu menyentuh menceritakan bagaimana gelisahnya keluarga Bung Karno ketika diasingkan ke Ende. Kegelisahan itu dicoba dijinakkan oleh Bung Karno dengan mengisi kegiatan di Ende, mulai dari bercocok tanam di halaman rumah, Ibu Inggit menjahitkan pakaian buat ibu-ibu Ende, jalan-jalan ke pantai, melukis, dan banyak merenung di bawah pohon sukun di dekat lapangan sepak bola dekat pelabuhan, termasuk berwisata ke Keli Mutu. Konon, renungan Bung Karno di bawah pohon sukun itulah yang mencetuskan ide-ide tentang Pancasila. Saat ini, di tempat yang sama telah tumbuh pohon sukun pengganti yang lama yang telah mati. Tempat itu menjadi taman kota dan diberi nama Taman Renungan Bung Karno.
 di bawah pohon sukun di Ende memandang G. Meja dan G. Iya
Ke Ende tanpa ke Kelimutu belum sempurna, seperti juga kurang sempurna jika tidak mengunjungi petilasan Bung Karno. Jika dulu pak Sampurno ngabibita mahasiswanya, sekarang sayalah yang ngabibita pembaca untuk pergi ke Kelimutu.
Ketika libur akhir pekan panjang 6 – 7 – 8 April 2012, adik saya Cian menantang untuk gowes ke Lembang. Sebenarnya belum pernah gowes semenanjak itu. Tapi tantangannya saya sanggupi. Jadilah sepeda dikayuh mulai dari titik terrendah di Margahayu Raya pada ketinggian kira-kira 667 m di atas permukaan laut (dpl) hingga mencapai kira-kira ketinggian 1.400 m dpl di Jayagiri, Lembang dalam jarak tempuh kira-kira 30 km. Dari dataran bekas dasar Danau Bandung Purba hingga lereng Gunung Tangkubanparahu!
Etape historis pertama adalah sampai Villa Isola, yang sekarang menjadi Bumi Siliwangi, Rektorat UPI (Universitas Padahal IKIP, ups salah, Universitas Pendidikan Indonesia). Menurut catatan yang didapat dari beberapa sumber, di antaranya dari Alm. Haryoto Kunto atau W. Wibisono (Kompas, 28 Maret 2004; dalam Wikipedia), bangunan ini bergaya art-deco yang sangat khas gaya bangunan kolonial semasa pembangunan Bandung 1920 – 1930 dengan arsitek Wolff Schoemaker. Sang arsitek yang karyanya menghiasi banyak bangunan di Bandung, menyelesaikan pembangunannya atas permintaan seorang milyuner media Belanda Dominique William Berretty dalam waktu enam bulan (Okt 1932 – Maret 1933). Termasuk cepat pada masa itu, dengan menghabiskan biaya sebesar 500.000 guilders.
Sayangnya, setelah peresmiannya pada Desember 1933 Berretty hanya menempati rumah pribadinya tersebut selama beberapa bulan saja. Desember 1934, ia tewas dalam kecelakaan pesawat terbang DC2 Uiver penerbangan Batavia – Amsterdam di Suriah. Sangat tragis dan ironis mengingat nama yang diberikan Berretty untuk villanya “M’ISOLO E VIVO” (aku mengisolasi sendiri dan hidup). Dari kalimat Latin itulah asal-usul nama Isola yang plakardnya masih tertempel di ruang tamu Rektorat UPI tersebut. Sebelum menjadi rektorat, Villa Isola sempat menjadi hotel sepeninggal Berretty dan menjadi markas tentara Jepang selama Pendudukan Jepang.
Setelah mengamati patung air mancur dengan tiga anak kecil mengangkat cawan besar yang menghiasi taman belakang Villa Isola, rasa prihatin menyesap ke dada. Dua lengan patung anak kecil Belanda yang terbuat dari marmer asli itu patah. Jika melihat sisa patahannya yang masih segar, saya kira belum lama terjadi. Lagipula saat acara Geotrek ke Situ Lembang hampir setahun sebelumnya, patung itu rasanya masih utuh.
 lengan patung marmer yang patah. hanya seekor katak yang merenunginya
Gowes pun lanjut mengayuh pedal dengan ngos-ngosan mendaki jalan lurus menanjak setelah Terminal Ledeng. Di lurusan jalan ini ke arah Jl. Sukajadi terdapat rumah bekas tempat tinggal Ernest François Eugène Douwes Dekker (8 October 1879 – 28 August 1950) seorang Pahlawan Kemerdekaan Indonesia yang kita kenal dari nama Indonesianya Danoedirdja Setiaboedi. Sangat tepat jalan Bandung – Lembang kemudian menggunakan namanya.
Di ujung jalan sebelum berbelok ke kanan, kami memilih jalur lurus, Jl. Sersan Sodik. Memotong kontur memang. Seperti saya perkirakan pasti menanjak curam. Di ujung jalan ini sebelum kembali bertemu Jl. Setiabudi, jalan begitu curam sehingga dari MTB menjadi TTB (Tuntun Tuntun Baik).
Etape berikutnya singgah di satu monumen yang sering terlewati tetapi belum pernah terkunjungi. Kali ini ketika ada kesempatan leluasa dengan sepeda, akhirnya tercapai juga untuk menengok Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Di Nata.Sayangnya pintu gerbangnya terkunci. Setelah teriak-teriak mencari penjaga tidak ada jawaban, akhirnya saya nekad meloncati tembok pagar. Alhamdulillah di sana saya menemukan jawaban pertanyaan yang selama ini selalu menyelimuti pikiran.
 Google earth map, lokasi Monumen Pasir Oto Iskandar Di Nata
Di Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Di Nata itu terdapat deretan 5 kuburan dan satu kuburan terpisah atas nama Sentot Iskandar Di Nata. Tentu saja kuburan Oto Iskandar Di Nata sendiri yang merupakan seorang Pahlawan Nasional tidak dimakamkan di sini karena setelah penculikan dirinya oleh satu pasukan misterius ke daerah Tangerang, jasadnya sampai sekarang tidak pernah ditemukan dikubur di mana. Di Monumen Pasir — ‘pasir’ di sini mengacu pada Bahasa Sunda yang berarti ‘bukit’, tetapi juga mengacu pada pasir dari Pantai Mauk Tangerang tempat yang diduga gugurnya Oto Iskandar Di Nata — terdapat tugu kenangan atas jasa-jasa Oto Iskandar Di Nata bagi Indonesia.
 Kuburan Sersan Bajuri di Monumen Pasir Oto Iskandar Di Nata
Lalu deretan lima kuburan di antaranya atas nama Surip, Sodik, dan… Bajuri! Aha inilah rupanya para pahlawan local yang gugur membela kemerdekaan yang kemudian namanya dikenang melalui nama jalan Sersan Bajuri itu. Rupanya nama Sersan Sodik dan Surip pun digunakan sebagai nama jalan di sekitar Cihideung. Terjawab sudah asal-usul nama jalan-jalan itu, kecuali Jalan Kolonel Masturi.
Etape historis terakhir setelah mencapai Km 0 Lembang di seberang Masjid Agung Lembang adalah mengayuh pedal sepeda naik ke arah Jayagiri. Untungnya setelah perut diganjal dengan ketan bakar khas Lembang, gowes menanjak ke Tugu Junghuhn yang tidak terlalu jauh, sampai juga dengan selamat.tetapi hanya untuk menyesap rasa trenyuh kedua kalinya.
Taman dan sekitarnya tidak terurus. Sampah teronggok di dua sisinya. Padahal ketika sebelum meninggalnya, Junghuhn ingin dikuburkan pada suatu tempat yang asri di kelilingi pohon kina dan ia bisa tetap memandang gunung yang dicintainya, Tangkubanparahu. Kini “pandangannya” tehalang tembok-tembok rumah yang mengepung Taman Tugu Junghuhn ini. Begitu pula vandalisme dengan coretan spidol atau tinta tip-eks telah mengotori sebuah kuburan dan nisan berupa tembok semen penuh tak bernama. Setelah konsultasi dengan rekan-rekan Komunitas Aleut! rupanya kuburan ini adalah kuburan deVrijs, rekan Junghuhn dalam penelitian kina, tetapi juga rekan seterunya. Adapun kuburan Junghuhn sendiri berada persis di bawah tugunya.
 Km 0 Lembang
Seperti yang kita kenal, Junghuhn adalah seorang ahli botani yang pada awalnya sebenarnya seorang dokter. Ia menjelajah Nusantara, terutama Jawa, dan memperkenalkan tanaman yang selalu dikenang kepadanya sebagai obat malaria, kina. Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn lahir 26 Oktober 1809 in Mansfeld, Jerman dan meninggal akibat penyakit lever pada 24 April 1864 di Lembang. Karya-karyanya ternyata tidak hanya menyangkut botani, tetapi juga geografi dan geologi. Buku-bukunya sangat menarik karena selalu dihiasi dengan peta dan sketsa cantik yang ia gambar sendiri.
 Kuburan deVrij, sblh timur Tugu Junghuhn yang penuh coretan vandalisme
Dalam downhill yang mulus di Jl. Setiabudi sebelum terjebak macet mulai Gegerkalong, gowes ke Lembang terpuaskan dengan menyelami kembali jalur yang seharusnya begitu bersejarah. Sayang, banyak warga Bandung yang tidak tahu, atau tidak diberitahu, atau tidak peduli. Di sisi lain penghargaan pada tinggalan sejarah pun sangat rendah. Lengan patung yang patah dan vandalisme yang parah adalah pertanda hilangnya kepedulian terhadap lingkungan dan sejarah. Dalam udara segar sebelum Terminal Ledeng yang terpolusi berat, gowes menuruni Jl. Setiabudi diiringi sesak di dada jika memikirkan hal di atas. ***
 Sampah di Taman Junghuhn
 Prihatin utk Embah Junghuhn.
Alhamdulillah, akhirnya buku yang dijanjikan diperbanyak 200 eksemplkar oleh Penerbit ITB sebagai sumbangan ITB bagi dosen-dosennya yang memasuki purnatugas, selesai juga di awal Maret 2012. Buku itu merupakan buku persembahan pak Bandono yang dummy bukunya sudah diperkenalkan pada syukuran purnatugasnya, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-65 pada 21 Juni 2011.
Saat itu, sebagai panitia yang diserahi untuk mengumpulkan makalah-makalah pak Bandono untuk dijilid menjadi buku, saya diserahi tanggung jawab juga untuk meluncurkan buku tersebut. Sambutan pada saat peluncuran buku itulah yang kemudian dijadikan pengantar di buku ini.
Terima kasih pak Bandono, yang telah menjadi pembimbing Tugas Akhir S1 saya dan terus menjadi teman diskusi sampai sekarang.

Pengantar
Buku kumpulan karya tulis merupakan salah satu bukti pencapaian seorang dosen/peneliti. Buku itu akan menjadi buku yang menarik, karena dalam kumpulan itu, kita dapat menyimak bagaimana perjalanan intelektual penulis, sejak ia pertama kali menerbitkan tulisannya yang tidak lain adalah menyampaikan hasil pemikirannya kepada masyarakat ilmiah yang lebih luas, hingga perkembangan pemikirannya kemudian. Dengan demikian, buku kumpulan karya tulis dapat dikatakan sebagai biografi intelektual seseorang. Dari sanalah kita bisa mengikuti bagaimana pergulatan pemikiran penulis, dengan siapa ia bermitra, atau apakah ia menghasilkan suatu yang baru, atau terobosan-terobosan pemikiran keilmuan.
Bagi banyak dosen/peneliti, kadang-kadang karya-karya tulis yang telah terpublikasikan, dianggap seperti catatan kuliah. Selesai kuliah, catatan itu akan tertindih oleh catatan-catatan yang lebih baru di atasnya. Lama-lama akan semakin tertindih dan semakin berada di bawah tumpukan yang meninggi. Akhirnya terlupakan.
Begitulah pak Bandono. Mengumpulkan koleksi karya tulis awal pak Bandono adalah suatu tantangan bagi saya yang ditugasi oleh Panitia Purna Tugas Ir. Bandono, MSc yang akan memasuki masa pensiunnya dari Teknik Geologi ITB pada tanggal 21 Juni 2011. Bagi saya, mungkin hanya itu sebagai balasan dan rasa ucapan terima kasih yang bisa disampaikan kepada pak Bandono sebagai pembimbing tugas akhir S1 pada 1987 lalu. Sayalah mahasiswa pertama sebagai bimbingannya saat pak Bandono mendapatkan SK untuk dapat membimbing tugas akhir mahasiswa. Ketika akhirnya saya mengikuti jejaknya berbakti untuk almamater (juga atas ajakannya), ialah senior yang ikut membina saya di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, FITB, ITB, dan kemudian juga sebagai sesama pemerhati geologi Cekungan Bandung.
Awal pembimbingan tugas akhir S1 kepada pak Bandono dimulai ketika dosen yang diinginkan sebagai pembimbing, Pak Sampurno, tidak menerima saya. Alasannya bukan menolak saya semata, tetapi Pak Sampurno menginginkan beberapa mahasiswa yang bekerja pada lapangan yang berdekatan dan bersinggungan sehingga diharapkan dihasilkan peta geologi yang lebih luas dengan efektifitas pembimbingan beberapa mahasiswa yang lebih baik. Namun ketika saya mengajak teman-teman lain untuk ikut Pak Sampurno, hampir semuanya menolak. Alasan mereka, pembimbingan tugas akhir di bawah pak Sampurno “menakutkan.” Saat itulah pak Bandono mendapatkan Surat Keputusan membimbing tugas akhir dari Jurusan Teknik Geologi sehingga akhirnya saya melaksanakan tugas akhir di bawah bimbingan pak Bandono. Tugas akhir pemetaan di Kecamatan Cibeber-Campaka, Cianjur Selatan.
Pak Bandono telah membimbing dengan baik, begitu pula ketika saya akhirnya diajak untuk masuk sebagai dosen muda di almamater. Selama sebagai kolega, pembinaan – atau lebih tepatnya teman berdiskusi – banyak masukan dan ide-ide besar muncul bersama Pak Bandono. Hasil-hasil diskusi itulah yang membawa pada beberapa pekerjaan dan penelitian yang di antaranya menjadi publikasi ilmiah. Salah satunya adalah sebuah makalah yang diterbitkan di Majalah Geologi Indonjesia IAGI (2002) yang membantah bahwa mengeringnya Danau Bandung Purba di Gua Sangiangtikoro, tetapi sebenarnya pada perbukitan lebih hulu antara puncak-puncak punggungan Pasir Kiara – Puncak Larang. Demikian pula hasil diskusi lapangan bersama-sama kolega yang tergabung sebagai para pemerhati kebumian Cekungan Bandung dalam KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung) di antaranya menghasilkan ‘geological notes’ tentang sebuah cekungan kecil yang mungkin dulunya sebuah danau yang posisi topografisnya lebih tinggi dari Danau Bandung Purba di Cicalengka – Nagreg, tenggara Bandung.
Namun tantangan yang mengesankan sebenarnya adalah ketika saya mencoba mencari publikasi-publikasi awal Pak Bandono yang ketika ditanya kepada yang empunya sendiri mendapat jawaban, “wah…terserah kamu Bud.” Untunglah, di antara berkas-berkas tua dengan kertas-kertas yang menguning, bahkan beberapa tumpukannya hampir saja mau dibuang, saya mendapatkan tulisan berupa Laporan Penelitian ITB dari pak Bandono yang berjudul “Tanah Pelapukan dari Delapan Batuan.” Karya tulis inilah yang sebelumnya sering saya dengar tentang usaha pak Bandono untuk mendekatkan Geologi kepada ilmu-ilmu tanah, yang akhirnya di tahun 2000-an mengejawantah menjadi mata kuliah pilihan “Geologi Tanah.” Pada tahun 2000-an pula, ide awal pak Bandono dikembangkan bersama Dr. Eng. Imam A. Sadisun yang menjadi penerusnya di Laboratorium Geologi Teknik, dalam kajian derajat pelapukan batuan.
Makalah tua lainnya yang cukup berkesan adalah hasil telaah bersama Pak Sampurno tentang kehancuran kerajaan-kerajaan lama di Jawa oleh peranan geologi. Karya tulis yang diterbitkan di Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) di Yogyakarta 9 – 10 Desember 1980 itu memperkirakan hancurnya Kerajaaan Majapahit karena pengaruh aktivitas Gunung Anjasmoro-Arjuna-Welirang. Pada saat itu, PIT IAGI masih belum mengenal prosiding, tetapi setiap pemakalah memperbanyak makalahnya sendiri-sendiri untuk dibagikan kepada para audiensnya. Fotokopi makalah itulah yang saya temukan di tumpukan koleksi lama Laboratorium Geologi Tata Lingkungan berupa lembaran terpisah.
Begitulah, akhirnya makalah-makalah itu terkumpul juga hanya beberapa hari menjelang acara Purna Tugas pada 21 Juni 2011. Untuk kumpulan karya tulis tersebut, kami minta Pak Bandono untuk membuat tulisan pendek pandangannya tentang geologi teknik. Tulisan yang diserahkannya tadinya berjudul “Perkembangan Geologi Teknik di Masa Depan.” Tetapi saat saya mencoba mendesain sampul buku kumpulan karya tulis ini, pak Kuswondo menyodorkan foto Pak Bandono sebagai foto sampul. Foto itu memperlihatkan Pak Bandono dengan diving suit (pakaian selam, olah raga yang ditekuninya) dalam postur tubuh yang gagah, dan pandangan mata yang tajam. Saat melihat foto itu, saya berpikir sebaiknya tulisan Pak Bandono adalah berjudul “Menatap Geologi Teknik di Masa Depan.” Itulah judul yang kemudian dijadikan judul buku kumpulan karya tulisnya.
Buku kumpulan karya tulis ini, seperti pada awal tulisan, semoga menjadi dokumen pembelajaran dan cerminan perjalanan intelektualitas Pak Bandono. Ide-ide lama yang bisa digali kembali bisa saja muncul dari buku ini. Kumpulan karya tulis ini tidak akan terhimpun jika tidak ada kontribusi juga dari Imam A. Sadisun. Atas bantuan Kuswondo dan Kautsar yang mengetik ulang karya-karya tulis yang tidak memiliki file elektronik, mungkin karya-karya tulis ini tidak akan terbundel menjadi buku ini.
Buku ini juga mendapat dukungan dari Penerbit ITB yang akan mencetak dan memperbanyak 200 eksemplar buku ini sebagai kontribusi ITB untuk dosen-dosennya yang memasuki purna tugas. Terakhir semoga kumpulan karya tulis Pa Bandono ini sesuai harapan judul buku: menatap geologi teknik di masa depan, terus-menerus sejak diamati pak Bandono dan kemudian akan diteruskan para mahasiswa dan putera-putera didiknya.
Bandung 17 Juni 2011
Budi Brahmantyo

Artikel ini adalah oleh-oleh kunjungan ke Karst Blora bersama Dr. Pindi Setiawan November 2011, mampir ke Bleduk Kuwu. Selamat membaca. Terima kasih kepada Deni Yudiawan, jurnalis PR yang mengasuh Laporan Khusus atas undangannya untuk menulis.
Misteri Sebuah Letupan
Oleh Budi Brahmantyo
“Bleduk!” balon lumpur yang seolah-olah ditiup dari bawah tanah itu meledak. Lumpur terlempar ke sekelilingnya dengan disertai gas berwarna putih. Setelah lumpur tenang kembali rata dengan permukaan tanah, beberapa menit kemudian, permukaan lumpur tampak menggelembung. Gelembung semakin besar sehingga membentuk kubah balon, lalu kembali pecah. Begitu berulang-ulang.Demikianlah onomatopia (pembentukan kata dari peniruan bunyi) toponimi di Kuwu ini.Tiruan suara ledakan pada lapangan lumpur di Desa Kuwu itulah yang memberikan nama letupan lumpur itu sebagai Bleduk Kuwu.

Sejak mencuatnya fenomena gunung api lumpur (mud volcano) di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 2006 yang lalu, beberapa gunung api lumpur yang telah terjadi jauh sebelumnya, dilirik kembali. Salah satunya yang dikenal luas adalah Bleduk Kuwu yang terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Di Kabupaten Grobogan dan sekitarnya, ternyata fenomena gunung api lumpur tidak hanya di Kuwu. Beberapa kilometer ke arah timur sedikitnya terdapat dua gunung api lumpur yang telah mati, salah satunya di Kesongo, Kecamatan Sulursari yang sangat luas, walaupun telah padam. Fenomena geologis lain yang masih berhubungan karena sebab yang sama adalah api abadi Mrapen yang terletak di sebelah barat Grobogan.
Di Bleduk Kuwu sendiri, terdapat beberapa titik letupan lumpur. Namun hanya ada dua yang terbilang besar, yaitu yang berada di bagian timur yang oleh penduduk setempat dinamakan Jaka Tuwa, dan di sebelah barat yang lebih kecil yang dinamakan Rara Denok. Keduanya bersama-sama dengan lubang-lubang letupan yang lebih kecil, menciptakan suatu dataran lumpur bergaram yang berbentuk lonjong berarah barat – timur seluas lebih kurang 45 hektare.
Bagi para pemotret letupan lumpur, alam seolah-olah mempermainkannya. Betapa tidak, ketika kita sabar menunggu naiknya gelembung dengan harapan terjadi letupan besar, kadang-kadang yang meledak hanya kecil saja. Belum lagi kita tergoda oleh lubang-lubang lain yang meletup-letup mengundang kamera untuk berpindah sasaran. Seringkali saat kamera bergeser target, letupan yang tadinya ditunggu dengan sabar, tiba-tiba meletus besar.
Secara fisik geografis, Bleduk Kuwu berada pada dataran di utara Jawa Tengah yang dikenal sebagai Zona Randublatung. Zona ini diapit oleh Zona Rembang di bagian utara, dan Zona Kendeng di bagian selatan yang keduanya merupakan pegunungan lipatan. Kondisi struktur geologis zona perlipatan yang terjadi pada endapan-endapan laut Zaman Tersier inilah yang salah satunya menimbulkan tekanan-tekanan tektonik jauh di bawah permukaan yang memicu gunung api lumpur di Grobogan.
Gunung api lumpur adalah suatu letusan yang meletupkan lumpur, air, dan gas. Sekalipun banyak gunung api lumpur berasosiasi dengan gunung api pada umumnya, tetapi gunung api lumpur yang lebih spesifik berkaitan dengan tekanan tinggi pada lapisan-lapisan batuan sedimen yang dulunya diendapkan pada lingkungan laut. Lumpur yang keluar umumnya berwarna abu-abu yang khas endapan laut. Pada beberapa kejadian bahkan membawa fosil-fosil cangkang fauna laut.
Asal letupan

Letupan-letupan itu berhubungan dengan formasi batulempung atau lumpur yang terjebak jauh di bawah permukaan dalam kondisi tekanan tinggi. Pada umumnya, fenomena ini berkaitan dengan kondisi geologis pada batuan sedimen laut purba yang mengalami perlipatan dan pematahan. Gas metana yang ikut terletupkan saat gelembung lumpur meledak adalah khas berasal dari lingkungan hidrokarbon pembawa potensi minyak dan gas bumi di bawah permukaan. Gas ini pulalah yang menyebabkan api abadi di Mrapen tidak pernah padam.
Gunung api lumpur adalah fenomena alam yang secara geologis juga dapat terjadi pada wilayah yang terdapat diapir garam, yaitu terobosan lumpur asin yang menekan naik lapisan-lapisan batuan sedimen yang berada di atasnya. Proses ini pun menciptakan tutupan-tutupan sedimen terlipat-lipat yang kemudian membentuk suatu tudung, kondisi struktur geologis yang akan menjebak minyak dan gas bumi. Kondisi seperti ini sangat disukai oleh para ahli geologi dalam eksplorasi minyak dan gas bumi, karena pada umumnya batuan-batuan sedimen yang terlibat di dalam proses itu merupakan batuan-batuan yang menjadi sumber minyak dan gas bumi. Itulah mengapa di sepanjang Pegunungan Kendeng antara Jawa Tengah dan Jawa Timur sisi utara, kita dapatkan banyak ladang-ladang minyak bumi yang produktif, misalnya di Blok Cepu, yang telah diproduksi sejak Zaman Belanda.
Jika kita amati wilayah sekitarnya, kita akan jumpai pula beberapa gunung api lumpur yang berderet dalam arah hampir barat timur, termasuk Kesongo di Kecamatan Sulursari dengan luas ratusan hektar tetapi sudah tidak aktif lagi. Jika orientasi ini ditarik terus ke arah timur maka bertemulah dengan Lusi alias Lumpur Sidoarjo yang permasalahannya belum tuntas hingga sekarang. Bahkan ke arah selatan, gejala gunung api lumpur yang sudah mati terdapat di Sangiran, situs fosil Homo erectus yang kemungkinan besar menjadi asal-usul munculnya bangsa manusia.
Wilayah Jawa Barat mempunyai kondisi geologis yang sedikit berbeda. Walaupun cekungan-cekungan minyak diketahui berada di wilayah utara, tetapi umumnya yang potensial berada di lepas pantai Laut Jawa. Beberapa tahun lalu, kejadian erupsi lumpur kecil pernah terjadi di Banten utara. Memang, dataran aluvial utara Jawa Barat, yang berada pada zona yang sama dengan Banten utara, misalnya di Karawang, Subang, atau Indramayu sekalipun diketahui mempunyai potensi hidrokarbon, tetapi kondisi lumpur tertekan di bawah permukaannya relatif tidak sebesar di Jawa Tengah – Timur.
Begitulah selama Zaman Tersier, terutama selama 5 juta tahun yang lalu, terdapat laut yang menjorok di sepanjang Pegunungan Kendeng yang berarah barat timur dari selatan Rembang, Jawa Tengah, hingga ke Teluk Madura, Jawa Timur sekarang. Endapan-endapan lumpurnya yang kemudian terkubur dan tergencet oleh endapan-endapan yang lebih muda di atasnya mengalami tekanan tinggi selama proses perlipatan batuan berlangsung. Saat terdapat retakan yang menjalar hingga permukaan, lumpur tertekan ke atas melalui retakan untuk kemudian erupsi lumpurpun meletus: bleduk!
Jejak Galuh di Bleduk Kuwu
Oleh Budi Brahmantyo

Legenda Bleduk Kuwu menceritakan seorang raja lalim bernama Dewata Cengkar. Kisah itu tertulis dalam buklet yang dijual di loket yiket ke Bleduk Kuwu. Dewata Cengkar adalah tadinya seorang pangeran Kerajaan Galuh, putera Sindulaya Sang Hyang Prabu Watugunung, yang berpusat di Jawa Barat seperti yang tertulis di awal bab ketiga buku itu yang diberi judul “Berdirinya Kerajaan Medang Kamulan”.
Dalam legenda,terceritakanlah bahwa Dewata Cengkar seorang pangeran yang kasar dan senang menganiaya rakyat kecil, suka berpesta pora, bahkan tergila-gila menyantap daging manusia! Melihat kelakuan puteranya itu, Prabu Watugunung mengancam mengusirnya jika kelakuannya tidak berubah. Namun Dewata Cengkar malah menantangnya, dan dengan sebagian pasukan yang setia kepadanya, ia melarikan diri ke arah timur hingga sampai di Pegunungan Kendeng. Di sini lah ia mendirikan suatu kerajaan yang diberi nama Medang Kamulan.
Setelah Kerajaan Medang Kamulan kuat, Dewata Cengkar menyerbu Galuh dan membunuh ayahnya sendiri. Penyerbuan ini menyebabkan Galuh hilang dari percaturan kerajaan di Jawa Barat dan seluruh rakyatnya cerai-berai, serta wilayahnya berubah menjadi hutan belantara. Namun sesaat setelah mangkatnya sang ayah, suara bergema dari Prabu Watugunung mengutuk anaknya suatu saat akan menjadi binatang, sesuai dengan sifat dan kelakuannya. Kutukan ini terwujud saat kedatangan seorang asing dari tanah seberang yang bernama Ajisaka yang mengalahkan Prabu Dewata Cengkar di Lautan Selatan hanya dengan tipuan selendang Aji Saka yang semakin luas sampai mendesak Dewata Cengkar terjerumus ke tebing Laut Selatan. Aji Saka kemudian mengubahnya menjadi seekor buaya putih raksasa.
Ajisaka yang kemudian menjadi raja di Medang Kamulan seperti kita ketahui dianggap sebagai pencipta Aksara Jawa “Hanacaraka”. Aksara-aksara yang tersusun adalah rekaman pertempuran dua anak buahnya yang setia yang saling mempertahankan masing-masing perintah Ajisaka sendiri sampai keduanya tewas. Namun untuk menuju asal-usul terjadinya banyak gunung api lumpur dan Bleduk Kuwu sendiri, rupanya ceritanya masih panjang.
Legenda bergulir dengan kemunculan ular raksasa yang mengaku anak kandung Ajisaka. Sang ular raksasa yang bisa berbicara bahasa manusia ini mengaku terlahir dari seekor ayam jago yang pernah meminum air seni Ajisaka sebelum menjadi raja di Medang Kamulan. Tentu saja Ajisaka tidak mengakuinya.
Karena alasannya sangat aneh dan sulit diterima akal sehat, Ajisaka memerintahkan sang ular untuk membuktikan kebenarannya dengan membunuh buaya putih di Lautan Selatan yang tidak lain adalah Dewata Cengkar. Tetapi jika berhasil, kembalinya ke kerajaan harus melalui bawah tanah. Konon, Sang Ular berhasil membunuh buaya putih, dan sesuai perintah, ia masuk ke dalam tanah untuk kembali ke Medang Kamulan. Saat berada di dalam tanah ketika ia merasa sudah sampai di tujuan, ia beberapa kali keluar untuk mengecek lokasi. Tempat munculnya ular tersebut ke permukaan tanah untuk memeriksa poisisi itulah yang kemudian dipercayai sebagai lokasi banyak gunung api lumpur di Kabupaten Grobogan dan sekitarnya. Bleduk Kuwu adalah tempat keluar Sang Ular yang terbesar.
Catatan Bujangga Manik
Kerajaan Galuh memang tercatat dengan baik dalam sejarah sebagai kerajaan besar di Tanah Jawa yang malah dianggap sebagai induk dari semua kerajaan yang kemudian memerintah di Pulau Jawa. Adapun Kerajaan Medang Kamulan dan Ajisaka masih abu-abu antara bukti-bukti sejarah yang kurang kuat dan mitos yang berkembang. Namun demikian dalam catatan perjalanan Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa pada akhir abad ke-15, ia mencatat melewati Medang Kamulan setelah dari Demak. Jika diurut secara geografis, lokasi Medang Kamulan yang dideskripsi Bujangga Manik memang tepat berada di sebelah selatan Demak yaitu di wilayah Grobogan sekarang.
Sekalipun asal-usul Bleduk Kuwu dikaitkan dengan Dewata Cengkar pangeran berasal dari Kerajaan Galuh, Jawa Barat, yang dicitrakan tidak baik, namun sedikitnya ada suatu pengakuan bahwa Kerajaan Medang Kamulan yang menerobos jauh ke timur, bersumber dari Jawa Barat. Apalagi pangeran Kerajaan Pakuan yang mengelana mengelilingi Jawa dan Bali, Bujangga Manik, juga mencatat dengan baik nama Medang Kamulan sebagai daerah yang masih dikenal di akhir abad ke-15 di wilayah Grobogan sekarang.
Dari kunjungan ke Bleduk Kuwu yang berada pada dataran Grobogan selatan yang kering dan panas, fenomena geologis yang terjadi adalah fenomena yang langka dan mengandung nilai edukatif yang tinggi. Apalagi bagi pelancong asal Jawa Barat akan sedikit terperangah bahwa jauh di timur dari pebatasan Jawa Barat, nama Kerajaan Galuh menjadi legenda turun-temurun di Jawa Tengah utara ini. Sayang suasana yang panas dan kering sedikit membuat pengunjung kurang betah berlama-lama mengamati aktivitas gunung api lumpur. Di luar dari suasana itu, daya tarik dari fakta ilmiah geologi, latar belakang sejarah, serta mitos dan legenda yang mengiringinya, membuat Bleduk Kuwu mempunyai nilai lebih. Bleduk Kuwu menjadi keanekaragaman bumi (geodiversitas) yang luar biasa. ***
Penulis, ahli Geologi ITB, Kepala P-P2Par ITB 2008 – 2012, koordinator KRCB, dan anggota IAGI
Koran Tempo, Gaya Hidup
Sabtu, 03 Maret 2012

Ingin mampir ke rumah atau hotel orang purba Bandung? Berkunjunglah ke Gua Pawon, yang berada di kawasan karst atau batu kapur Citatah, di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Bandung. Sesampainya di sisi kanan Jalan Raya Padalarang-Cianjur atau sebelah kiri dari arah Jakarta, akan terlihat plang penunjuk situs. Dari situ, lokasi masih harus ditempuh lagi sekitar 2 kilometer. Akses jalannya menanjak dan menurun serta masih berbatu. Di musim hujan, jalanan itu berlumpur.
Tempat itu ditemukan tiga geolog dari Institut Teknologi Bandung, yakni Budi Brahmantyo, Eko Yulianto, dan Johan Arif. Awalnya mereka cuma jalan-jalan di kawasan itu pada Juli 1999, sambil berangan-angan menemukan fosil ikan di sana. Ternyata Eko menemukan batu gamping berbentuk seperti pisau. “Jangan-jangan di daerah sini ada manusia prasejarah,” kata Budi Brahmantyo saat itu.
Dugaan itu bukan sekadar angan-angan, melainkan didasarkan pada ingatan soal temuan artefak batu di hutan Dago Pakar oleh peneliti asing. Juga fakta arkeologi sebelumnya tentang kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di dalam gua. Tiga bulan kemudian, trio peneliti itu datang lagi. Kali ini mereka lebih serius untuk mengamati. “Kami disambut hujan deras kotoran kelelawar,” kata Budi, mengenang saat itu.
Tak menyerah, mereka berkunjung lagi pada 2000 dan mulai mencongkel tanah di beberapa tempat di dalam gua. Intuisi pun muncul ketika berada di satu ruang dalam gua yang tanahnya datar, tidak kering tapi tidak lembap. Mereka menyebutnya Gua Kopi. Selanjutnya, Eko meminjam alat geomagnet dari kantornya. Tanah di Goa Kopi seluas 3,5×7 meter itu mereka bagi menjadi kotak-kotak (grid) berukuran 50 sentimeter persegi, yang kemudian dipindai. Ternyata hasilnya negatif kandungan logam. Artinya ada kemungkinan benda nonmetal terpendam di sana.
Pada akhir 2000, berbekal izin ketua rukun tetangga setempat, yang juga ikut menggali, Budi, Eko, dan Sujatmiko menggali lubang seukuran 100×60 meter dengan kedalaman 50 sentimeter. Baru menggali sedalam 10 sentimeter, tiba-tiba ada suatu benda mengkilap yang mencelat terkena pacul. Penggalian segera dihentikan. Tugas mereka sekarang mencari benda yang terlontar itu. Setelah menemukannya, mereka bersorak.
Secuil potongan benda itu ternyata batu obsidian yang bentuknya seperti beling kaca. Padahal gua itu berada di wilayah karst. Mereka yakin batu itu ada yang membawanya di masa lalu. Mereka pun makin bersemangat menggali. Hingga akhirnya terkumpul dua karung pecahan gerabah, alat batu, obsidian, jasper hijau, batu andesit, sisa tumbuhan, cangkang kemiri, siput, kepiting, serta rahang monyet. Yang masih utuh adalah batuan andesit sebesar buah mangga yang dipakai manusia purba untuk menumbuk. Setelah para peneliti awal itu membentuk kelompok riset Cekungan Bandung pada 12 Desember 2000, penggalian selanjutnya diserahkan kepada Balai Arkeologi.
Budi yakin bahwa alat dari batu obsidian itu mereka peroleh dari tempat yang jauh dari gua itu. Geolog itu mengatakan batuan tersebut diduga berasal dari daerah Nagrek, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari sana. “Ada kemungkinan pabrik pembuatannya dulu di Dago Pakar yang jauhnya 20 kilometer,” katanya. Mereka mungkin telah mampu bertransaksi dengan cara barter barang. Buktinya, ada bekas hewan laut di situs itu. Sedangkan hewan darat bisa diburu di sekitar gua, yang dulunya dikelilingi rawa. Manusia purba leluasa mengintai karena letak gua cukup tinggi.
Peneliti arkeologi masih berkutat menggali di sejumlah gua sekitar untuk menemukan petunjuk lain. Mereka mencoba memecahkan misteri bagaimana seluruh bangunan gua itu dipakai untuk kegiatan sehari-hari, ritual, dan pemakaman. Mereka belum bisa meneliti sekitar 37 gua lainnya di sekitar Pawon, yang diduga merupakan rumah kelompok manusia prasejarah lain yang pernah saling berhubungan. Gua Tanjung, yang diketahui menyisakan artefak dan tulang manusia, telah hancur akibat kegiatan pertambangan. Para peneliti kini harus berpacu dengan izin penambangan di wilayah karst Citatah.
Rumah manusia prasejarah di gua yang masih alami itu tampak seperti hotel batu purba. Jalan masuknya cukup menantang karena kaki kita harus meniti batuan kapur besar yang kasar dan berongga seperti karang. Tantangan kedua adalah menahan sengatan bau dan menghindari hujan kotoran penghuni gua, yaitu kelelawar.
Gua seluas 300 meter persegi lebih itu terdiri atas beberapa rongga seperti kamar dan beberapa jendela alami yang besar. Jalur jalan ke atas, yakni tempat kuburan manusia purba berada, terkesan seperti labirin. Tapi jangan cemas bila melenceng dari jalur. Sebab, gua itu cukup diterangi sinar matahari.
Di situlah kelompok manusia diduga telah menghuni Kota Bandung pada 5.600-9.500 tahun lalu. Usia mereka tak panjang, rata-rata hanya mencapai 17-35 tahun. Sebab, mereka hanya makan dari hasil hutan di sekitar gua, seperti ikan laut dan monyet, untuk bertahan hidup. “Diduga akibat pola makan seperti itu, rata-rata usia mereka tidak sampai setua manusia sekarang,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri.ANWAR SISWADI
Artikel untuk PROFIL di Majalah Geologi Populer GEOMAGZ Vol. 1 No. 4 Desember 2011. Wawancara dan tulisan disusun oleh Syamsul Rizal Wittiri dan Budi Brahmantyo

“Sekarang ilmu geologi berkembang sangat pesat, mulai dari analisis inderaja, pemodelan, hingga simulasi komputer. Tetapi menurut saya setiap mahasiswa geologi harus mengetahui ilmu dasar geologi; dan itu, selain dipelajari di bangku kuliah, juga diperoleh di lapangan.”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Profesor Dr. Ir. Emmy Suparka seorang pakar geologi yang mendapat anugrah profesornya tahun 2001. Beliau merupakan profesor perempuan geologi pertama di Indonesia, sekaligus profesor perempuan pertama bidang teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Antara tahun 1960 -1970an, ketika bidang geologi mulai berkembang di Indonesia dan masih didominasi oleh kaum laki-laki, Emmy, perempuan kelahiran Denpasar, Bali, 17 April 1948 itu memantapkan dirinya memilih Jurusan Geologi yang justru tidak diminati kaumnya. Setamatnya dari sekolah menengah di Yogyakarta, ia tertarik memilih Jurusan Geologi karena beberapa hal. Antara lain karena ahli geologi dinilainya masih kurang di Indonesia, terutama perempuan yang masih bisa dihitung dengan sebelah jari. Selain itu, ketertarikannya pada Geologi karena ada nuansa yang menantang dengan ilmu Geologi. Apa itu Geologi? Seperti kebanyakan ketertarikan awal pemilihan Jurusan Geologi, Emmy pun berharap jika kuliah di Geologi, ia dapat meneruskan kesenangannya terhadap traveling, bepergian melihat hal yang baru, melihat alam dan banyak hal.
Dalam wawancara kami, tiba-tiba Emmy tertawa dan ia berujar, “ada hal yang tidak bisa saya lupakan ketika mengikuti testing masuk ITB Jurusan Geologi, tahun 1965. Ketika saya mau memasuki ruangan tempat ujian, saya dicegat oleh pengawas dan mengatakan ini untuk Jurusan Geologi. Mbak salah ruangan, kata pengawas. Saya yakinkan bahwa saya tidak salah ruangan dengan memperlihatkan kartu ujian.” Ini gambaran betapa tidak populernya Jurusan Geologi di kalangan perempuan pada saat itu. “Tahun 1965 hanya ada dua mahasiswi yang masuk di Jurusan Geologi ITB, yaitu saya, dan Eti Nuay yang merupakan perwakilan dari daerah,” lanjutnya mengenang masa awal kuliah.
Menurut Emmy, ada kesenjangan informasi yang sampai kepada masyarakat tentang geologi. Pada umumnya masyarakat memahami bahwa geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan gunung dan hutan. Padahal tidak demikian. Itulah sebabnya para orang tua kurang merespon keinginan putera-puterinya untuk mengambil jurusan ini. Sekarang sudah memadai, informasi tentang Geologi sudah diterima oleh masyarakat sebagaimana adanya.
Seiring berlalunya waktu, tiba saatnya memilih spesialisasi. Emmy semula tertarik dengan fosil. Jazad renik itu bisa membawa kepada khayalan ribuan bahkan jutaan tahun silam. Tetapi di bawah mikroskop, rupanya menurut Emmy, fosil itu dibolak-balik bentuknya sama saja tidak berubah. Hal itu berbeda dengan melihat sayatan batuan di bawah lensa mikroskop. Berubah posisi lensa, berbagai bentuk dan warna muncul dan tentu menghasilkan berbagai imajinasi dan interpretasi. Bagi Emmy hal ini menarik dan menantang. Akhirnya Emmy memilih petrologi sebagai spesialisasinya. Sekali lagi anak kedua dari delapan bersaudara ini membuat teman-temannya bergumam, “Emmy memilih hard rock?” ujar mereka tidak percaya.
Made Emmy Relawati, nama gadisnya, adalah anak kedua dari delapan bersaudara dari pasangan Putu Badjre Kusumaharta (alm) dan Nyoman Resike. Ketika usia Emmy sepuluh tahun, mereka pindah dari Denpasar ke Yogyakarta. Ia kemudian menyelesaikan sekolah dasarnya di SD Bopkri pada 1959, lulus tingkat SLTP di SMP Negeri II pada 1962, serta tingkat SLTA di SMA Stella Duce pada 1965, seluruhnya di Yogyakarta. Ayahnya seorang wiraswasta yang berhasil dan memberikan kebebasan serta kepercayaan penuh kepada putera-puterinya untuk memilih masa depannya. Dari delapan bersaudara hanya Emmy yang menjadi pegawai negeri, lainnya mengikuti jejak ayahnya sebagai pengusaha.
Sebagai mahasiswi di sarang mahasiswa tidak membuat Emmy dan Eti merasa jengah atau risi. Karena mereka minoritas, dua mahasiswi ini selalu mendapatkan perlindungan dan prioritas dari rekan-rekannya para mahasiswa, bahkan dosen. Setiap ada event penting mengenai geologi, mereka selalu diajak ikut serta dan itu menambah pengalaman di lapangan.
Ada dua peristiwa penting yang tidak dapat dilupakan oleh Emmy. “Pertama, saat saya keluar dari ruangan sidang ujian sarjana, saya tiba-tiba diserang rasa haru dan terdiam di depan pintu. Betapa beban berat yang saya lalui selama ini telah lepas. Tuhan, terima kasih, ucap saya dalam hati. Teman-teman ikut diam dan menyangka saya tidak lulus. Saat salah seorang dosen penguji keluar mengucapkan selamat, saya lulus dengan predikat terbaik (cum laude), teman-teman saya baru bergembira.”
“Kedua, ketika kalimat terakhir dari disertasi saya selesaikan. Saya merasa sangat terharu, betapa perjuangan panjang ini sudah saya lalui dengan baik.” Ada genangan air yang tidak tumpah di pelupuk mata Emmy mengenang masa indah itu. Emmy menyelesaikan sarjana Geologi dari ITB tahun 1973 dan program doktor sandwich di Laboratoire de Geochime et Cosmochimie, di Universite de Paris IV, Prancis pada tahun 1988.
Selepas sarjana, Emmy memilih menjadi dosen dengan pertimbangan bahwa dapat mengatur waktu antara bekerja dan mengurus keluarga. Ia tercatat menjadi dosen di almamaternya sejak 1976. Dengan menjadi dosen, ilmunya bisa berkembang dan bisa berbagi ilmu dengan orang lain.
Emmy menikah dengan “kakak kelasnya” Suparka, sarjana Geologi ITB angkatan 1962 yang sekarang telah pensiun dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI dengan gelar terakhir profesor riset. Pada saat kami menanyakan mengapa memilih Pak Suparka menjadi pendamping hidup, “Sederhana. Pak Suparka memilih saya,” jawabnya. “Alasan lain, karena Suparka banyak membimbing, bukan hanya dalam ilmu Geologi, tetapi juga memberi wejangan dan semangat. Hidup berdampingan dengan orang yang satu profesi memudahkan saya untuk bekerja. Tidak banyak pertanyaan mengapa dan kenapa karena pasti tahu apa yang saya kerjakan,” ujarnya lebih lanjut. Mereka dikaruniai seorang putera yang sekarang menetap di Australia.
Pengalaman pertama kali mengajar adalah ketika menggantikan Prof. Rubini Soeria-Atmadja (almarhum) di Universitas Trisakti, Jakarta. Saat masuk kelas para mahasiswa mengira Emmy adalah sekertaris Pak Rubini dan datang hanya untuk menyampaikan permintaan maaf karena beliau tidak bisa mengajar. Para mahasiswa yang pada mulanya mencoba menggoda dengan bersiul dan bersuit, alangkah kagetnya, ternyata Emmy datang untuk memberikan kuliah menggantikan Pak Rubini yang berhalangan datang. “Ini pengalaman pertama, dan saya berhasil melaluinya dengan baik. Mahasiswa hormat apabila kita hormat,” ucap Emmy.
Berdiri di depan kelas menghadapi mahasiswa yang rata-rata laki-laki tidak membuat Emmy grogi atau demam panggung. Boleh jadi karena sejak usia 10 tahun sudah terbiasa menghadapi publik dengan menari di atas panggung. Demikian cintanya pada tari Bali, ketika sudah tinggal di Yogyakarta pun setiap liburan selalu ke Bali untuk latihan menari di Sanggar Naryo. Selain tari Bali, selama di Yogyakarta ia juga belajar tari Jawa dari Bagong Kusudiarjo. Di Bandung pun, tari Sunda ia pelajari juga.
Pengalamannya sebagai penari membawa Emmy tidak saja sebagai ahli geologi perempuan dan profesor Geologi di Indonesia, tetapi seolah-olah Geologi ikut menari bersamanya. Salah satu peristiwa penting di antaranya ketika Emmy memberikan kado istimewa sebagai penghormatan kepada profesor pembimbingnya pada saat peluncuran buku di Prancis dengan menampilkan tarian Bali. Sejak penampilan itu, Emmy menjadi dikenal dan dibicarakan oleh banyak kalangan di lingkungan kampus Universite de Paris IV. Bahkan saat sudah menjadi anggota senat guru besar di ITB pun, Emmy masih berkesempatan untuk menari. Penampilannya yang terakhir sebagai penari di depan publik adalah ketika acara penyerahan gamelan oleh Gubernur Bali kepada Rektor ITB pada awal tahun 2000an. Rekannya sesama anggota senat guru besar seolah tidak percaya dengan penampilan yang memukau itu dibawakan oleh seorang profesor Geologi.
Di beberapa kampus ada perkumpulan yang bersifat kedaerahan yang digagas oleh mahasiswa. Dalam acara tertentu mereka menampilkan kesenian daerah, atau sekedar melepas rindu kampung halaman. Emmy termasuk salah seorang akitivis perkumpulan mahasiswa Bali Maha Gotra Ganesha, bersama juga antara lain Bapak Jero Wacik, Menteri ESDM saat ini. Selain di unit kesenian, keaktifannya sebagai mahasiswa di ITB di antaranya juga adalah menjadi anggota Mahawarman dan bergabung di EH-8 Radio ITB.
Dosen geologi yang masih aktif ini dalam usianya yang sudah kepala enam tetap terlihat sangat energik. Satu hal yang tidak pernah lalai dilakukan adalah jalan pagi. “Setiap hari saya harus berjalan minimal satu jam,” ujarnya. Selain itu hobi Emmy adalah membaca dan mengurus tanaman. “Tetapi tanaman yang mudah cara pengurusannya,” ujarnya.
Saat ditanyakan tentang idola, Emmy tampak menerawang. “Saya hanya mengidolakan ibu saya. Beliau tidak hanya mengerti saya, tetapi memberikan senyum ketika saya berhasil dan memberikan motivasi ketika saya sedang gagal dan gundah. Ibu saya adalah orang yang sangat istimewa,” katanya mantap. Sekarang ini ibunya tinggal bersama salah seorang puteranya di Jakarta pada usia 84 tahun dan masih sehat. “Tapi saya mendapat pelajaran pertama tentang hidup mandiri dan bertanggung jawab dari ayah saya,” tambahnya kemudian.
Karirnya sebagai pegawai negeri sudah di ujung jalan, dua tahun lagi Emmy memasuki masa pensiun. Selama masa baktinya di ITB, Emmy di antaranya pernah menduduki jabatan Ketua Departemen Teknik Geologi dalam dua kali masa jabatan, yaitu 1992- 1995 dan 1996-1998. Ia kemudian menjadi Kepala Penerbit ITB 1998-2000. Pada 2000-2005, Emmy terpilih menjadi dekan Fakultas Teknologi Mineral (FTM) untuk selanjutnya ditarik ke rektorat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan merangkap Ketua LPPM ITB dari 2005 hingga 2008. Saat ini Emmy aktif sebagai ketua Kelompok Keilmuan Geologi selain sebagai wakil kepala salah satu unit usaha di ITB.
Meskipun dengan segala kesibukannya, hingga kini masih banyak mahasiswa bimbingannya, terutama mahasiswa S2. Beberapa di antaranya datang dan memohon agar dibimbing oleh Emmy. Ketika kami menanyakan kenapa mereka begitu antusias memilih Ibu, jawabannya singkat, “mereka tidak diperlakukan sebagai mahasiswa semata, tetapi adalah bagian dari keluarga saya. Jadi mereka saya targetkan harus berhasil dengan gemilang”.
Tidak sedikit di antara “bekas mahasiswanya” masih meminta nasehat atau sekedar curhat tentang apa saja kepada Emmy meskipun mereka sudah berada jauh di tempatnya bekerja. “Banyak dari anak bimbingan saya yang sudah bekerja di tempat yang jauh, setiap berkunjung ke Bandung selalu mampir menemui saya, sekedar say hallo. Ini sangat menyenangkan, ada silaturahim yang sinambung,” ujar bu Emmy.
Sebagai seorang ilmuwan Emmy sudah mencapai puncak dengan meraih gelar profesor. Sebagai dosen sudah pada jenjang anggota senat guru besar dan pernah menjabat Ketua Jurusan Geologi, ITB. Adakah obsesi yang belum tercapai? Ketika kami menanyakan hal tersebut, Emmy dengan tegas mengatakan, “saya tidak punya target. Sebagai hamba Tuhan, saya tidak boleh tinggalkan shalat dan kewajiban lainnya sebagai seorang ibu rumah tangga dan anggota masyarakat. Sejak muda saya ingin mengajar. Bahkan ketika saya masih mahasiswi saya pernah mengajar menari pada anak-anak di RT tempat saya tinggal. Pada hakekatnya saya ingin mengabdi.”
Pesannya kepada kaum perempuan, terutama yang memilih menjadi ahli geologi, “jangan pernah berhenti belajar, harus berperan aktif dan percaya diri. Banyak yang bisa dilakukan oleh perempuan, bahkan banyak pekerjaan yang menanti karena perempuan lebih telaten.” Menurutnya, persoalan Geologi di masa depan selain masalah eksplorasi untuk energi, juga adalah masalah lingkungan hidup secara umum, dan untuk semua itu, ahli geologi perempuan akan mempunyai andil yang sangat besar ***
Hari-hari belakangan ini kita diharubirukan oleh (klaim) temuan fenomenal di Gunung Sadahurip, salah satu gunung di sisi tenggara bentukan geografis yang dikenal sebagai cekungan Bandung (Jawa Barat). Dipantik oleh klaim tim Turangga Seta dengan pendekatan yang kontroversial, disebut-sebut gunung ini sejatinya merupakan piramida purba dalam ukuran sangat besar. Tim Katastrofik Purba, yang dibentuk oleh Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, menyeret kontroversi lebih jauh setelah melakukan uji pertanggalan karbon radioaktif pada lapisan tanah di permukaan gunung dan mendapati umur sangat tua, hingga 7.000 tahun silam lebih. Penggalian di salah satu bagian menemukan susunan bebatuan, yang kemudian (tanpa analisis lebih lanjut) dinyatakan sebagai bronjong tubuh piramid. Sebagian media massa turut membuat kontroversi membuhul ke titik kulminasinya, mulai dari pengakuan penemuan pintu masuk piramid hingga batu bertulis (prasasti) yang terukir huruf kuno.
Bagi sebagian kita, khususnya yang terobsesi oleh teori Arsiyo Santos tentang Indonesia sebagai Atlantis yang fenomenal, penemuan piramida Sadahurip dianggap sebagai bukti eksistensi Atlantis di masa silam. Penemuan ini sekaligus diklaim sebagai bukti bahwa asal-usul berbagai peradaban berbagai bangsa yang terserak di muka Bumi adalah Indonesia. Sepetti terlihat dari umur piramida Sadahurip, yang jauh lebih tua ketimbang piramida Mesir. Sehingga dianggap bangsa Mesir, pun demikian bangsa-bangsa pembangun piramid lainnya, merupakan turunan dari penduduk Atlantis yang dulu hidup di Indonesia.
Pada diagonal yang berlawanan, klaim temuan piramida Sadahurip mendapatkan tantangan kuat dari sejumlah disiplin ilmu, terutama arkeologi dan geologi. Bagi para arkeolog, selain penyelidikan terhadap Gunung Sadahurip yang serampangan, tak sistematis dan tanpa mematuhi metode penelitian lapangan arkeologi yang baku, piramida Sadahurip tidak didukung oleh jejak-jejak pemukiman maupun hasil budaya manusia sezamannya yang terserak disekitarnya. Bagi para geolog, kenyataan lapangan menunjukkan gunung Sadahurip lebih merupakan fosil gunung berapi alias gunung berapi purba, yakni gunung berapi yang tumbuh dan penah aktif berjuta tahun silam namun kini telah mati sepenuhnya dan tererosi hingga nyaris habis.
Tulisan ini hendak mengupas lebih lanjut kontroversi piramida Sadahurip ditinjau dari sudut pandang astronomi.
1. Piramida dan Mata Angin
Piramida merupakan bangun tiga dimensi dengan dasar segitiga, segiempat maupun poligon teratur lainnya dengan sisi-sisi berbentuk segitiga yang bertemu pada satu titik di puncak. Meski demikian piramida dengan dasar segiempat merupakan piramida paling umum dijumpai. Piramida dijumpai dalam berbagai kebudayaan. Misalnya Mesir kuno, yang kerap diidentikkan dengan piramida meskipun piramida terbanyak ternyata dimiliki oleh kebudayaan Sudan/Nubia kuno (220 buah, Mesir hanya 135 buah). Namun bentuk-bentuk piramid dijumpai pula di kebudayaan Mesopotamia (sebagai ziggurat), Yunani, Romawi, Mesoamerika, Amerika Utara dan Cina.
Gambar 1. Deretan piramida Mesir di Giza, dekat Kaio (Mesir).
Bentuk-bentuk mirip piramida juga dijumpai dalam kebudayaan India kuno dan Indonesia kuno. Candi Borobudur misalnya, mengesankan sebagai bentuk piramida berundak, meskipun teknik konstruksi Borobudur amat berbeda dibandingkan piramida Mesir. Candi-candi utama di Prambanan memiliki bagian atas yang menyerupai piramida, meski dengan proporsi jauh berbeda. Pun demikian candi Penataran yang berlanggam Jawa Timuran. Satu-satunya candi yang amat mirip piramida adalah candi Sukuh di lereng Gunung Lawu (Jawa Tengah), yang dibangun pada abad ke-15 menjelang runtuhnya Majapahit.
Tujuan pembangunan piramida atau bangunan mirip piramida di berbagai penjuru dunia itu relatif sama, yakni sebagai pusat peribadahan, pusat religi dalam masing-masing kebudayaan. Cukup mengesankan bahwa bangunan piramida atau yang menyerupai piramida secara astronomis dirancang demikian cermat sehingga orientasinya menghadap ke titik-titik istimewa tertentu di langit. Hal ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan dalam kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang menganggap dewa-dewa mereka senantiasa berada di langit mengawasi setiap saat dalam rupa bintik-bintik cahaya yang gemerlap. Selain itu posisi piramida atau bangunan menyerupai piramida selalu menuju keempat penjuru mataangin dengan presisi demikian tinggi.
Gambar 2. Citra satelit piramida Giza disertai sumbu mataangin pimer.
Sebelumnya, mari kita ulas terlebih dahulu tentang sistem mataangin. Kita mengenal empat mataangin primer (utara, timur, selatan, barat) dan empat mataangin sekunder (timur laut, tenggara, barat daya, barat laut). Di antara mataangin pimer dan sekunder kadang ditambahkan pula mataangin tersier. Namun dalam astronomi, mata-mataangin tersebut dikuantifikasi ke dalam sistem azimuth yang berjumlah 360. Untuk mataangin primer, utara adalah arah nol (0) atau 360, timur adalah arah 90, selatan adalah arah 180 dan barat adalah arah 270. Karena mataangin sekunder adalah tengah-tengah antara dua mataangin primer yang berdampingan, maka timur laut adalah arah 45, tenggara adalah arah 135, barat daya adalah arah 225 dan barat laut adalah arah 315.
Gambar 3. Penampang melintang sebuah piramida Mesir.
Mari lihat piramida Mesir, misalnya yang terpopuler di dataran Giza. Sisi-sisi tiap piramida di Giza ternyata tepat menghadap ke sumbu utara-selatan timur-barat dengan presisi demikian tinggi. Presisi tersebut bukannya tanpa sebab. Dengan posisi tepat ke sumbu utara-selatan, maka sisi utara piramida Giza akan selalu berhadapan dengan bintang Thuban atau alpha Draconis (tingkat terang +3,7), bintang penanda kutub utara langit pada 4.500 tahun silam. Sebagai bintang kutub, posisi bintang Thuban selalu berada di titik yang sama tanpa pernah beringsut sepanjang waktu. Kekhasan posisi bintang Thuban rupanya sejalan dengan konsep keabadian dalam Mesir kuno, sehingga sebuah lorong kecil dibangun dari ruang Firaun (di dalam piramid) menuju sisi utara, yang memungkinkan cahaya bintang Thuban tepat menyinari kepala jasad Firaun. Demikian pula bintang terang terdekat dengan Thuban, yakni bintang Kochab atau beta Ursa Minor (tingkat terang +2). Bintang ini pun selalu nampak di langit utara sepanjang waktu, yang seakan-akan berputar mengelilingi bintang Thuban. Gerak berputar ini memberi kesan kalau bintang Kochab adalah pasangan setia bintang Thuban. Sehingga sebuah lorong pun dibangun untuk memungkinkan cahaya bintang Kochab menyinari ruang Permaisuri, yang diletakkan tepat di bawah ruang Firaun, khususnya saat bintang itu berkulminasi atas.
Bangsa Mesir kuno amat terpesona dengan rasi bintang Waluku atau Orion, yang dianggap sebagai perwujudan dari Osiris dalam mitologi Mesir kuno. Nyawa dari Firaun yang sudah tiada diyakini akan bergabung dengan Osiris. Sehingga sebuah lorong pun dibangun dari ruang Firaun menembus sisi selatan, yang memungkinkan cahaya rasi Waluku (khususnya tiga bintang di sabuk Waluku) menyinari jasad sang Firaun, khususnya saat rasi Waluku berkulminasi atas. Atas alasan yang sama pula, sebuah lorong pun dibangun agar cahaya bintang Sirius, bintang paling terang di langit, bisa menyinari ruang Permaisuri. Bintang Sirius dianggap sebagai perwujudan dari Isis dalam mitologi Mesir kuno.
Gambar 4. Citra satelit candi Borobudur disertai sumbu mataangin pimer.
Gambar 2. Citra satelit candi Prambanan disertai sumbu mataangin pimer.
Fakta yang hampir sama pun dijumpai pada bangunan menyerupai piramida. Candi Borobudur misalnya, juga menghadap ke mataangin utama dengan presisi mengagumkan. Pun demikian halnya candi-candi utama dalam kompleks percandian Prambanan. Selain terkait dengan konsep kosmologi dan mitologi Buddha (untuk Borobudur) dan Hindu (untuk Prambanan), presisinya bangunan candi terhadap arah mataangin utama berguna bagi kepentingan praktis. Selain sebagai bangunan religius, candi Borobudur juga berfungsi sebagai petunjuk posisi Matahari, yang dikaitkan dengan siklus musim. Hal serupa kemungkinan juga berlaku bagi Candi Prambanan. Sehingga, dalam perspektif astronomi, piramida ataupun bangunan menyerupai piramida merupakan observatorium kuno tempat kaum cendekia (khususnya pendeta) mengamati langit.
2. Piramida Sadahurip
Bagaimana dengan piramida Sadahurip ?
Gunung Sadahurip terletak di sebelah utara gunung Telaga Bodas dan gunung Galunggung. Galunggung merupakan gunung berapi aktif, terakhir meletus pada 1982-1983 dan tercatat sebagai letusan terbesar di Indonesia dalam 30 tahun terakhir. Sayangnya, citra Google Earth dalam cahaya visual untuk kawasan Gunung Sadahurip ditutupi oleh awan relatif tebal, sehingga gunung yang diklaim sebagai piramida ini tidak nampak. Namun beruntung terdapat citra kontur elevasi yang mampu memperlihatkan bentuk gunung Sadahurip dengan jelas.
Gambar 6. Citra kontur Google Map untuk kawasan gunung Telagabodas – Galunggung dans ekitarnya. Gunung Sadahurip dinyatakan dalam tanda panah.
Kita batasi gunung Sadahurip pada kontur elevasi 1.320 m dpl ke atas hingga puncaknya, mengingat dari kontur tersebut sifatnya tertutup. Nampak jelas bahwa gunung Sadahurip memiliki dasar berupa segilima tak simetris sehingga sis-sisinya pun tak sama luasnya. Dasar berbentuk segilima ini amat berbeda dengan piramida Mesir, yang segiempat. Pun demikian dasar berupa segilima tak simetris ini pun mengherankan, karena meski piramida dapat saja memiliki dasar berbentuk segilima (meski tak ada contohnya) namun seharusnya berbentuk simetris.
Akibat ketidaksimetrisan dasarnya, maka arah hadap sisi-sisi gunung Sadahurip pun tidak simetris. Di awali dari utara, masing-masing sisi menghadap ke arah 68, arah 143, arah 220, arah 284 dan arah 344. Tak satupun yang berimpit dengan sumbu mataangin utama (utara-selatan timur-barat) atau sumbu mataangin sekunder. Dengan demikian selisih sudut antar sumbu tiap sisi bervariasi dari yang terkecil 60 derajat hingga yang terbesar 77 derajat. Bila dasarnya simetris, seharusnya selisih tersebut seragam pada nilai 72 derajat (yakni 360 dibagi 5).
Gambar 6. Citra kontur Google Map gunung Sadahurip, dilengkapi sumbu mataangin utama dan arah sisi-sisi gunung.
Benda langit apa yang dihadapi masing-masing sisi gunung Sadahurip, dengan posisi arah hadap demikian, menjadi tak jelas. Jika dibandingkan dengan candi Borobudur, tidak terlihat fungsi sisi-sisi gunung Sadahurip sebagai petunjuk posisi Matahari terkait siklus musim. Sisi yang menghadap ke arah 68 memang hampir sejajar dengan posisi Matahari terbit saat paling utara (summer solstice). Namun terbenamnya Matahari pada titik itu, yakni pada arah 294, ternyata berselisih besar dengan arah hadap 284. Demikian pula terbit dan terbenamnya Matahari pada saat paling selatan (winter solstice), masing-masing di arah 114 dan 245, ternyata tak berhadapan dengan satu sisi gunung Sadahurip sekalipun. Hal serupa juga terlihat pada saat Matahari berada di titik ekuinoks, sehingga terbit tepat di timur dan terbenam tepat di barat. Ternyata tak ada satupun sisi gunung Sadahurip yang menghadap ke timur (arah 90) maupun barat (arah 270).
Dengan gunung Sadahurip diklaim sebagai piramida dan manusia yang membangunnya diklaim hidup lebih awal dibanding bangsa Mesir Kuno maupun bangsa Jawa kuno, bahkan diklaim pula sebagai bangsa Atlantis nan cerdas yang menjadi leluhur bangsa-bangsa berperadaban tinggi lainnya di muka Bumi, maka dua fakta berbeda itu mengerucut pada dua kesimpulan. Pertama, para pembangun piramida Sadahurip tak paham geometri. Sehingga tak bisa merancang dasar piramida yang simetris. Ini bertolak-belakang dengan bangsa Mesir kuno dan Jawa kuno yang telah mengenal dan menerapkan geometri dalam pembangunan piramida dan candinya. Dan yang kedua, para pembangun piramida Sadahurip tak paham astronomi. Sehingga piramidanya tak bisa menjadi penanda peristiwa-peristiwa langit yang penting bagi kebudayaan bangsa-bangsa kuno.
Di atas semua itu, dapat ditarik satu kesimpulan yang lebih sederhana dan lebih solutif. Yakni, gunung Sadahurip bukanlah piramida dan juga bukan bangunan menyerupai piramida.
“Eta teh gunung paramida. Ceuk bule aya emas di jerona,” begitulah jawab seorang anak SD di Kampung Cicapar ketika iseng saya tanya tentang nama gunung yang berdiri di sebelah timur laut kampungnya. Gunung Sadahurip yang oleh orang-orang kampung Cicapar disebut juga sebagai Gunung Putri karena bentuknya yang menyerupai dada seorang gadis, menjadi terkenal sejak sebuah kelompok mengklaim sebagai bangunan piramida yang terkubur. Kampung Cicapar, Desa Sukahurip yang berada pada jangkauan kendaraan roda empat dan tempat terdekat ke Gunung Sadahurip menjadi ramai dikunjungi banyak orang. Geger dan heboh adanya bangunan piramida yang terkubur dengan segala tetek-bengek harta karun emas di dalamnya, rupanya telah tertanam dibenak anak kecil, walaupun salah sebut sebagai “paramida.”
 Start dari Kampus Ganesa 10 pkl 06.00 (foto: Gowes Bareng Geolog)
Gunung Sadahurip menimbulkan pro-kontra sejak dicetuskan Kelompok Turangga Seta (TS) sebagai temuan orisinil mereka. TS memulainya dari satu interpretasi di relief Candi Penataran, Blitar yang menyatakan bahwa para leluhur Nusantara merupakan bangsa unggul yang sempat menjajah bangsa-bangsa lain di dunia, dari bangsa Cina, Mesir, hingga Maya. Namun kemudian peninggalan leluhur Nusantara yang adiluhung itu sengaja dikubur dan sejarahnya sengaja dihapus. Entah untuk maksud apa. Mereka menyebutnya sebagai decoy. Tadinya mereka mengklaim Gunung Lalakon di daerah Cipatik, Bandung barat daya, sebagai piramid. Tapi segera saya bantah melalui tulisan di Koran Pikiran Rakyat, 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon Sebuah Karya Alam (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1280). Rupanya mereka kemudian mengalihkan ke Gunung Sadahurip.
Lalu, kegemparan berlanjut setelah seorang geolog senior, Sujatmiko, yang mengenalkan dirinya sendiri sebagai Mang Okim di kalangan perbatu-muliaan, menulis di Koran Pikiran Rakyat, 14 Januari 2012, membantah juga bahwa Gunung Sadahurip adalah bangunan piramida (@http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1494). Artikelnya lengkap dengan pengungkapan latar belakang bagaimana klaim itu berasal, yang juga menyeret satu tim penelitian Katastrofik Purba di bawah Staf Khusus Presiden RI Bidang Bencana.
 G. Sadahurip yg hanya berbentuk piramida dari sisi tenggara (foto: BB)
Virus G0W3S
Setelah terbilang sukses menyelenggarakan Gowes Bareng Geolog (GBG) 1 Tangkubanparahu – Sesar Lembang pada acara Temu Akbar Alumni Teknik Geologi ITB 18 Desember 2011 lalu, Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB (IAGL) kembali mencoba Gowes Bareng Geolog 2 dengan isu G. Sadahurip sebagai piramida itu pada Sabtu 28 Januari 2012. Jika GBG 1 diikuti hingga 140 pesepeda alias goweser, kali ini peserta dibatasi hingga maksimum 50. Akhirnya hanya sekitar 40 goweser yang menjalani rute dari lereng Gunung Talagabodas ke Gunung Sadahurip dan berakhir di Situ Bagendit yang menurut panitia 90% adalah turunan.
 menyusuri kebun kentang di kaki Sadahurip (foto: Albar Hakim)
Ternyata jalurnya adalah turunan yang menanjak! Begitu komentar para goweser setelah start awal dari lapangan geotermal di lereng barat laut G. Talagabodas, yang langsung diuji dengan tanjakan-tanjakan pada jalan perkerasan proyek geotermal. Ke arah Situ Bagendit pun setelah turunan curam dari Desa Sukahurip, antara Wanaraja ke Situ Bagendit rupanya harus melalui lembah sungai Ci Manuk. Memang menurun ke jembatan Ci Manuk, dan pasti menanjak setelah itu. Turunan 90% harus dieveluasi kembali, komentar lanjutan peserta GBG 2.
Namun secara keseluruhan acara berjalan lancar. Dengan dipandu komunitas gowes Garut, salah seorang di antaranya adalah pak Camat Cipanas Garut, rute dari lereng Talagabodas menuju kaki Sadahurip melalui turunan cukup terjal pada jalan setapak perkebunan palawija. Jalur sempit dengan tebing kebun, sungai-sungai berlembah V, bahkan jurang sedalam lebih dari 5 m, menjadi tantangan peserta GBG2.
Tidak urung beberapa goweser terjerembab, termasuk saya sendiri. Rekor tiga kali menukik. Pertama terpaksa melocat ke kebun kentang sedalam lebih dari 1 m setelah jari-jari sepeda terkait potongan bambu. Kedua, terjerembab di jalan setapak menurun karena salah mengerem ban depan. Ketiga, ketika justru akan sampai di Kampung Cicapar saat ban depan tidak mulus melewati lubang kecil. Itu masih mending. Seorang teman bahkan terperosok ke dalam sungai kecil yang curam!
Setelah merasakan nikmatnya bergowes-gowes di GBG1, saya jadi keranjingan bersepeda. Membuka internet, akan kita dapatkan bahwa bersepeda ternyata bukan lagi kebutuhan bertransportasi, atau sekadar hobby saja, tetapi telah menjadi gaya hidup. Harga sepeda pun bervariasi dari yang ekonomis, hingga dapat mencapai Rp. 100 juta! Sepeda macam apa pula ini? Namun tidak dipungkiri, virus G0W3S telah menjangkiti terutama para penduduk kota.
Batu Rahong, Jumpa Awang, dan Kuliah Singkat
Di jalan-jalan setapak kebun jagung di lereng tenggara Gunung Sadahurip, pemandangan ke arah timur tampak mempesona. Sebuah lembah, tepatnya ngarai, terbentang dari G. Rahong. Pada sisi selatan, sebuah gawir lava andesit membentuk dinding megah. Kekar-kekar kolom menghiasi tubuh lava andesit itu, yang batuannya tersingkap juga di lereng bawah.
 Lembah Batu Rahong: aliran lava andesit (foto: BB)
Di sini rupanya sudah berdatangan Komunitas Geotrek Indonesia yang sama-sama bergeowisata ke Gunung Sadahurip. Saat kami menikmati pemandangan lembah Batu Rahong, Ferry Danlap-nya GBG berteriak dari lereng bawah bahwa ia bertemu pak Awang H. Satyana, geolog BP Migas yang didapuk jadi interpreter Komunitas Geotrek Indonesia. Saat saya berjumpa dengannya, pak Awang sedang asyik mengamati lembah Batu Rahong. Pak Awang mencatat koordinat dengan GPS dan sempat menunjukkan contoh andesit yang didapatnya di sekitar situ. “Rahong” dalam Bahasa Sunda berarti “lembah dalam yang diapit dinding terjal” atau serupa dengan “ngarai.”
Karena jadwal terus mengejar, Ferry dan Syaiful segera mengingatkan untuk segera melanjutkan gowes. Jalan masih menurun pada jalur sempit diapit dinding terjal di kiri dan jurang di kanan membuat para goweser ekstra hati-hati. Pukul 14.00 akhirnya semua berkumpul di kampung Cicapar. Terlambat lebih dari 2 jam dari jadwal yang direncanakan. Namun semua tidak ada yang protes menyadari beratnya medan. Apalagi kotak makan siang sudah dibagikan.
Sebelum peserta beranjak pada etape terakhir Cicapar – Situ Bagendit, kuliah singkat dari Mang Okim mengulangi lagi argumen-argumen bantahan tentang bangunan piramida Gunung Sadahurip. Argumen ini diperkuat oleh arkeolog dari Balai Arkekologi Bandung, Lutfi Yondri yang menjelaskan bahwa tidak dikenal budaya membuat piramida dalam prasejarah Indonesia. Selain itu bukti-bukti artefak sangat tidak mendukung, bahkan tidak dijumpai. Maka menurutnya sangat sulit menerima adanya budaya masyarakat pembangun piramida yang diklaim oleh TS berumur 6000 tahun sebelum Masehi. Aapalgi untuk membangun Piramida Giza yang lebih kecil dari Gunung Sadahurip saja, firaun harus mengerahkan sekitar 200.000 tenaga kerja dan selesai dalam waktu 20 tahun! Kalau betul Sadahurip adalah bangunan piramida, kemana sisa-sisa budaya masyarakat yang luas dan hebat itu? Kalau jawabannya disembunyikan, yah semua wacana akan berakhir di satu pihak!
 Kuliah singkat dari arkeolog Lutfi Yondri (kiri) dan geolog senior Sujatmiko (kanan); kang Saiful bantu2 (foto: BB)
Batu-batu andesit yang dijumpai seluruhnya bersifat alamiah, baik berupa lava, seperti dijumpai di lembah Batu Rahong, ataupun terobosan magma berupa korok seperti didata Sujatmiko di lereng atas Sadahurip pada observasi sebelumnya. Dari Peta Geologi Lembar Tasikmalaya (Budhitrisna, 1986), Gunung Sadahurip diperkirakan hanyalah sebuah gunung api parasiter yang mengeluarkan lava, bersifat efusif, dari induknya pada kompleks gunung api Talagabodas – Galunggung.
Kuliah singkat ditutup sedikit diskusi setelah saya menjelaskan bahwa wilayah Sadahurip dan sekitarnya di Wilayah Garut, termasuk G. Guntur, G. Mandalawangi, G. Kaledong, dan G. Haruman yang terlihat jelas dari Cicapar, adalah kompleks gunung api yang luas di Pegunungan Priangan yang diperkirakan aktif selama Plistosen hingga sekarang, terutama untuk G. Guntur. Akhirnya pedalpun kembali diinjak, dan jalan beton yang menurun terjal dari Kampung Cicapar dilindas 40 goweser menuju Kota Kecamatan Wanaraja, dan berakhir di Situ Bagendit sekitar pukul empat sore.
Di akhir perjalanan, di pelataran parkir Situ Bagendit, Ferry berteriak, “2014 Kathmandu!!!” Haaaah?
 finish di Situ Bagendit (foto: Gowes Bareng Geologi)
 trek Talagabodas - Sadahurip - Situ Bagendit
Ini adalah versi uncut dari opini oleh Sujatmiko yang dimuat Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) Sabtu, 14 Januari 2012, lengkap dengan foto hasil observasi lapangan pak Sujatmiko (Sekjen KRCB). Selamat membaca.
 Harian Umum PR dg opini Pak Miko
DARI PERSPEKTIF ILMU KEBUMIAN :
GUNUNG SADAHURIP BUKAN BANGUNAN PIRAMIDA
Oleh : Sujatmiko
Gunung Sadahurip adalah sebuah gunung kecil terisolir yang terletak di Desa Sukahurip , Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut. Tingginya yang 1463 meter di atas permukaan laut, membuat gunung mungil ini tampak menyolok di kejauhan, begitu kita memasuki Kecamatan Wanaraja dari arah Garut . Bentuknya yang mirip dengan bangunan piramida, ditambah dengan mitos penduduk setempat tentang keanehan dan keangkerannya, apalagi diperkuat oleh bisikan-bisikan ghoib, membuat Yayasan Turangga Seta yakin bahwa G. Sadahurip adalah sebuah piramida budaya yang dibangun oleh nenek moyang kita.
Keyakinan mereka kemudian dituangkan dalam suatu hipotesa yang menyimpulkan bahwa selain di G. Sadahurip, terpendam bangunan piramida budaya di gunung-gunung berbentuk piramida lainnya di Jawa Barat antara lain G. Kaledong dan G. Haruman , keduanya di Garut, dan G. Lalakon di Bandung. Hipotesa mereka ini tentu saja mengundang kontroversi khususnya bagi kalangan ilmuwan kebumian mengingat geomorfologi model piramida yang merupakan produk dari proses geologi dan gunung api sangat umum ditemukan di banyak penjuru dunia.
Walaupun demikian , berkat semangat dan kemahiran Yayasan Turangga Seta dalam menyosialisasikan hipotesanya dan memanfaatkan nama besar dari beberapa pakar ilmu kebumian yang di awal penelitian mereka ikut berpartisipasi, maka akhirnya Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di Binagraha terpancing untuk ikut nimbrung melalui tim bentukannya yaitu Tim Bencana Katastropik Purba. Tim inilah yang beberapa waktu lalu mengklaim telah menemukan Piramida Sadahurip, yang selain tertinggi dan terbesar di dunia, juga tertua yaitu lebih dari 6000 tahun sebelum Masehi.
Pernyataan-pernyataan lainnya yang tak kalah kontroversialnya kemudian dilemparkan ke masyarakat luas antara lain tentang temuan pintu masuk ke ruang piramida di perut G. Sadahurip , dan yang terakhir tentang kehebatan para pendiri piramida yang diyakini telah mampu memindahkan seluruh kandungan batuan yang sebelumnya menyusun lembah Batu Rahong untuk dijadikan bahan bangunan Piramida Sadahurip.
Pernyataan terakhir ini yang sebetulnya dapat dijelaskan dengan konsep ilmu rupa bumi atau geomorfologi mengindikasikan bahwa Tim Bencana Katastropik Purba tidak dilengkapi dengan tenaga ahli kebumian yang mumpuni, yang selain dapat membaca dan menerjemahkan gejala alam yang telah dan sedang terjadi, juga dapat menjaga martabat dan kehormatan institusi kepresidenan yang seharusnya selalu kita junjung tinggi.
Gunung Sadahurip asli bentukan alam
Kepastian bahwa G. Sadahurip merupakan bentukan alam murni tanpa campur tangan manusia, apalagi tenaga ghoib, didapat setelah penulis melakukan pengamatan geologi langsung di lapangan pada tanggal 8 Januari 2012. Dalam kegiatan ini tim penulis didukung dan dikawal oleh Dan Ramil 1103 Wanaraja Garut, Kapten TNI Didi Suryadi beserta beberapa orang anggotanya , dan Sekretaris Desa Sukahurip, Bapak Syarip Hidayat. Target pengamatan pertama adalah morfologi G. Sadahurip yang tampak simetris sempurna dari arah Wanaraja, tetapi ternyata menjadi tidak simetris dari arah selatan / Kampung Cicapar.
 G. Sadahurip tidak berbentuk piramida dilihat dari Cicapar
Pengamatan selanjutnya difokuskan kepada fenomena geologi yang ditemukan di sepanjang perjalanan , dari mulai Kampung Cipacar sampai ke puncak G. Sadahurip dan kemudian turun ke Kampung Sokol. Singkapan batuan yang ditemukan berupa batuan beku andesit dalam bentuk aliran lava dan batuan intrusif yang masif , yang di beberapa tempat melapuk meninggalkan struktur kulit bawang atau kekar tiang.
 Pelapukan mengulit bawang di lereng Sadahurip dengan batuan asli kolom-kolom andesitis
Selain dari itu, ditemukan juga batuan piroklastika hasil kegiatan gunung api yang kebanyakan telah lapuk . Dengan variasi batuan semacam ini yang sangat umum ditemukan di morfologi gunung berbentuk piramida, maka dapat disimpulkan bahwa G. Sadahurip adalah sebuah gunung api kecil yang utuh dengan bentuk menyerupai piramida. Fenomena semacam ini oleh van Bemmelen disebut sebagai lava dome (The Geology of Indonesia, 1949) dan oleh Arthur Holmes sebagai cumulo dome (Principles of Physical Geology, 1984).
Metode penelitian geologi sederhana yang penulis uraikan ini sebetulnya merupakan materi kuliah Geologi Dasar di seluruh Fakultas Geologi di Indonesia yang seharusnya dipertimbangkan oleh Tim Bencana Katastropik Purba dalam melaksanakan penelitiannya. Dengan demikian maka pemakaian beragam peralatan super canggih seperti geolistrik superstring, georadar, foto satelit 3 D – IFSAR resolusi 5 meter, dan bahkan penentuan umur dengan metode Karbon C-14 atau radiocarbon dating yang tentunya telah menguras dana dan tenaga yang tidak kecil akan dapat dihindari.
Antara bisikan ghoib dan pertimbangan ilmiah
Dalam wawancaranya dengan VIVAnews pada tanggal 15 Februari 2011, Yayasan Turangga Seta yang didirikan sekitar tahun 2004 mengakui bahwa metode penelitian yang mereka terapkan banyak didasarkan atas kepekaan beberapa anggotanya terhadap kehadiran ghoib yang mereka sebut sebagai parallel existence (penulis menyebutnya sebagai bisikan ghoib). Mereka terkesan bangga menyebut timnya sebagai MIT atau Menyan Institute of Technology dengan argumentasi bahwa dalam melakukan perburuan situs prasejarah , yang mungkin dengan ritual pembakaran kemenyan untuk mengundang roh, mereka kadang-kadang mendapat sokongan informasi lokasi dari informan tak kasatmata (VIVAnews, 17 Maret 2011).
Dengan keyakinan semacam itu maka dapat dimengerti mengapa dalam sosialisasi pertamanya di hadapan Wagub Jabar tanggal 3 Maret 2011, Yayasan Turangga Seta terkesan kurang senang ketika penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum., pakar arkeologi dari Balar Bandung, memberikan masukan ilmiah , padahal maksudnya agar Yayasan Turangga Seta yang sebagian besar anggotanya masih muda-muda dapat lebih berhati-hati , baik dalam melakukan penelitian ataupun dalam prosedur dan perizinannya (sesuai dengan isi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010).
Masukan serupa tetapi sedikit lebih keras diberikan lagi kepada perwakilan Yayasan Turangga Seta ketika memperkenalkan hipotesanya di Jurusan Tambang ITB pada tanggal 6 Mei 2011 yang dihadiri juga oleh penulis dan Drs. Lutfi Yondri M.Hum. Pernyataan mereka ketika itu cukup tegas bahwa mereka lebih percaya kepada bisikan ghoib atau parallel existence dari pada pertimbangan ilmiah.
Selain peringatan secara langsung, sanggahan melalui media internet dan media cetak dilayangkan juga antara lain oleh Mang Okim (milis IAGI 20 Maret 2011 : Piramida G. Lalakon di Bandung, Akhir Sebuah Harapan), Dr. Ir. Budi Brahmantyo M.Sc. (PR 3 Agustus 2011: Gunung Lalakon, Sebuah Karya Alam), dan lain-lain. Artikel dan tulisan berikut lampiran gambar-gambar yang menjelaskan dan menyanggah hipotesas piramida tersebut dan telah dikutip oleh Google, dipastikan telah dibaca juga oleh Yayasan Turangga Seta.
Selain dari itu, beberapa pakar geologi terkemuka di Indonesia yang pada awalnya mendampingi dan mendukung secara sukarela penelitian mereka, kemudian menarik diri setelah menyadari adanya penyimpangan metode dan arah penelitian mereka dari kaidah-kaidah ilmu kebumian yang baku (pengakuan Dr.Ir.Danny Hilman M.Sc. di Nasional, 4 April 2011, dan bantahan keras Dr.Ir. Andang Bachtiar M.Sc. di FB karena nama dan reputasinya dimanfaatkan secara tidak benar). Dengan adanya sanggahan dan bantahan dari para pakar tersebut, maka sungguh sulit dimengerti bahwa Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana justru terpengaruh dan bahkan mendukung penuh kegiatan eksplorasi dan penggalian arkeologi yang di beberapa lokasi diketahui melanggar ketentuan dan prosedur yang digariskan dalam Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 .
Pelajaran berharga bagi kita semua
Gencarnya issue tentang Piramida G. Sadahurip ini , yang oleh masyarakat Garut diartikan sebagai adanya bangunan piramida dan/atau kandungan harta karun di perut G. Sadahurip, membuat aparat Kecamatan Pangatikan dan Desa Sukahurip di Garut menjadi sibuk luar biasa. Selain karena membanjirnya para pengunjung ke puncak G. Sadahurip sejak sekitar 6 bulan terakhir , yang ketika penulis mendaki gunung ini pada tanggal 8 Januari 2012 jumlahnya mencapai lebih dari 200 orang, beberapa instansi terkait dan Pemkab Garut tentunya tak kalah sibuknya melayani permintaan dan pertanyaan para pejabat di Jakarta tentang issue piramida tersebut.
 Wisatawan yg penasaran isu piramida melewati lereng Sadahurip dengan lapisan lava andesitis
Hikmah dari semua itu adalah meningkatnya minat masyarakat dan para pelajar untuk mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip melalui jalan setapak dan lereng terjal yang tidak ringan. Untuk melayani pengunjung, paling sedikit tiga warung jajanan telah dibangun mendadak oleh penduduk setempat di lereng G. Sadahurip. Hal ini memberikan indikasi bahwa masyarakat sangat mendambakan sarana wisata minat khusus yang sebetulnya bisa diciptakan oleh para pemangku kekuasaan kalau mau.
Sehubungan dengan itu, maka walaupun G. Sadahurip bukan bangunan piramida budaya, alangkah baiknya kalau minat masyarakat khususnya para remaja dan pelajar yang dengan semangat pantang menyerah mendaki sampai ke puncak G. Sadahurip dapat dipertahankan. Dengan anggaran yang tidak seberapa dan bahkan melalui kerja gotong royong, jalan ke puncak G. Sadahurip dapat diatur dengan membuat tangga-tangga sederhana. Pemandangan alam dilihat dari puncak G. Sadahurip sungguh luar biasa antara lain G. Kaledong dan G. Haruman serta beberapa gunung lainnya yang bentuk piramidanya tak kalah indahnya dari G. Sadahurip.
 Kerucut G. Kaledong dan G. Haruman yg merupakan sisa-sisa gunung api purba, juga disangka piramida. Segede ituuu?
Dan kepada Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, pesan moral yang kiranya perlu disampaikan adalah agar tidak terjun terlalu jauh dalam masalah-masalah yang sebetulnya dapat dilakukan oleh lembaga dan instansi serta institusi pendidikan terkait. Alangkah ironisnya bahwa hilangnya bangunan sangat penting di puncak G.Sadahurip yaitu beton Trianggulasi T 74 yang dibongkar karena dikira mengandung harta karun, lepas dari perhatian, padahal hukuman bagi pencurinya di zaman kolonial Belanda begitu berat.
Bandung, 12 Januari 2012,
Sujatmiko ( Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung dan anggota IAGI )
Ketika beberapa tahun lalu menerima posting ini, saya langsung teringat masa-masa SMP 1975 – 1977. Fakta sejarah aneh Presiden AS Lincoln dan Kennedy telah saya baca saat itu, mungkin dari satu majalah remaja yang dipinjam dari seorang teman yang mampu berlangganan majalah. Saat itu sudah menjadi satu keheranan besar tentang serba-kebetulan yang terjadi pada Presiden Lincoln dan Kennedy. Apakah fakta itu benar?
Saat kembali menerima posting dari salah satu milis (aslinya dalam bahasa Inggris, mungkin bersumber dari situs berbahasa Inggris juga mestinya; setelah sedikit berselancar, rupanya dari about.com), keheranan itu masih juga tersisa. Apakah bukan suatu hoax?
Entahlah. Menurut situs about.com, sumber itu berasal dari satu artikel pada majalah terpandang TIME edisi 21 Agustus 1964 dengan judul: Historical Notes: A Compendium of Curious Coincidences.
Pada zaman internet ini dengan informasi yang melayang-layang di dunia maya, cek dan ricek dapat segera dilakukan apakah datanya benar atau bohong. Misalnya tahun kelahiran Booth yang tertulis di sini 1839 (agar ada unsur kebetulan dengan tahun kelahiran Oswald 1939), ternyata salah. Tahun yang benar adalah 1838. Tapi inipun masih mengandung kebetulan yang aneh. Coba bandingkan antara 1838 dan 1939. Ada unsur perulangan yang hampir serupa.
Fakta lainnya silakan cek sendiri. Gampang saja, tinggal masuk ke situs wikipedia. Semua dapat dicek di sana. Lumayan untuk mengisi waktu luang, terutama bagi mereka yang kecanduan “teori konspirasi” dan “kasak-kusuk.” :b
Inilah fakta sejarah antara Lincoln dan Kennedy yang pernah saya baca waktu SMP itu:
Abraham Lincoln terpilih menjadi anggota Congress pada 1846.
John F. Kennedy terpilih menjadi anggota Congress pada 1946.
Abraham Lincoln terpilih menjadi presiden pada 1860.
John F. Kennedy terpilih menjadi presiden pada 1960.
 Presiden Abraham Lincoln & Presiden John F. Kennedy (sumber: aboutabrahamlincoln.com, penobscotdems.com)
Keduanya terutama sangat memperhatikan hak-hak sipil.
Baik isteri Lincoln ataupun Kennedy kehilangan anak-anaknya ketika berada di Gedung Putih.
Kedua presiden ditembak pada hari Jumat.
Kedua presiden ditembak di kepala.
Berikutnya, makin aneh.
Sekretaris Lincoln bernama Kennedy.
Sekertaris Kennedy bernama Lincoln.
Kedua presiden dibunuh oleh orang-orang selatan (Southerners).
Pengganti kedua presiden adalah orang selatan bernama Johnson.
 Andrew Johnson & Lyndon Johnson (sumber: ohiohistorycentral.org, en.wikipedia.org)
Andrew Johnson, pengganti Lincoln, lahir pada 1808.
Lyndon Johnson, pengganti Kennedy, lahir pada 1908.
John Wilkes Booth, pembunuh Lincoln, lahir pada 1839.
Lee Harvey Oswald, pembunuh Kennedy, lahir pada 1939.
Kedua pembunuh dikenal dengan tiga nama.
Kedua nama pembunuh itu tersusun dari lima belas huruf.
 John Wilkes Booth & Lee Harvey Oswald (sumber: en.wikipedia.org)
Sekarang semakin lebih aneh…
Lincoln ditembak di sebuah teater bernama ‘Ford.’
Kennedy ditembak di sebuah mobil bermerek ‘Lincoln’ buatan ‘Ford.’
Lincoln ditembak di teater dan pembunuhnya lari dan bersembunyi di sebuah gudang.
Kennedy ditembak dari sebuah gudang dan pembunuhnya lari dan bersembunyi di sebuah teater.
Booth dan Oswald terbunuh sebelum disidangkan.
Dan keanehan terakhir…
Seminggu sebelum Lincoln ditembak, ia berada di Monroe, Maryland.
Seminggu sebelum Kennedy ditembak, ia bersama Marilyn Monroe.
 Monroe Maryland & Marilyn Monroe (sumber: umces.edu, filmbug.com)
|
|