Melawan Ketakutan Terhadap Air di Jojogan

Artikel ini diunggah pertama di Kompasiana, 1 Februari 2017.

Gua Jojogan, entrance resurgens Ci Tumang

Jojogan. Nama geografis yang agak asing di tatar Sunda. Nama ini mungkin berasal dari bahasa Jawa seperti satu nama desa yang sama di Pemalang, Jawa Tengah, yang mempunyai arti “tujuan.” Berasal dari kata “jog-jogan” atau dalam bahasa jawa “anjog-anjogan” yang artinya “suatu tempat tujuan kebanyakan orang luar daerah untuk singgah atau menetap di dalamnya dan berhasil dalam kehidupannya”.

Namun Jojogan di Dusun Gunungtiga, Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat bukanlah desa yang menjadi tempat tujuan tertentu, tetapi suatu perbukitan karst yang mungkin sebelum dikembangkan sebagai lokasi wisata “Jojogan Wonder Hill” hanyalah bukit ladang gersang biasa. Mengikuti tetangganya, Citumang, yang sudah terlebih dahulu terkenal sebagai tujuan wisata body-rafting, Jojogan menjadi alternatif wisata dengan atraksi yang sama. Sekarang, Jojogan benar-benar memaknai arti toponimnya sendiri sebagai tujuan wisata yang dikejar para wisatawan. Hampir setiap akhir pekan, wisatawan mengantre ke Jojogan.

Atraksinya cukup meningkatkan adrenalin. Bagi saya yang tidak bisa berenang, menghadapi genangan air dalam mempunyai trauma sendiri. Tahun 2015 saat mengikuti atraksi body-rafting di Citumang, atau cocoknya mengikuti terminologi bahasa Sunda ‘papalidan’ (menghanyutkan diri di sungai), si pemandu menangkap rasa grogi dan cemas saya terhadap air sungai. Sekalipun menggunakan pelampung, rasa cemas itu tetap muncul. Begitulah, beberapa kali pemandu meyakinkan saya untuk ikut terus atau tidak. Saya menyelesaikan papalidan di Citumang dengan banyak kecemasan.

Sekalipun dilengkapi pelampung, rasa cemas itu muncul lagi di Jojogan saat ikut serta sebagai interpreter langganan Jelajah Geotrek yang dikelola Matabumi pada Sabtu Minggu, 28 – 29 Januari 2017. Mula-mulanya peserta dibawa menghulu sungai yang bersumber dari Gua Jojogan. Sejauh 50 m awal, gua bersungai itu masih terang karena atap gua terbuka tembus ke langit. Namun setelah itu, sungai benar-benar keluar dari gua yang gelap. Sejauh 30 m kemudian, sebuah dinding gua menghalangi kami dan sungai mengalir dari lubang gua yang seluruhnya terisi air. Di Citumang atraksi diawali dengan terjun dari ketinggian 7 m ke sungai resurgens (sungai bawah tanah karst yang muncul kembali ke permukaan). Saat itu saya tidak berani melakukannya.

Papalidan di Ci Tumang hulu, Jojogan

Kali ini di Jojogan, saya mencobanya untuk terjun ke air dari ketinggian sekitar 3 m. Sensasinya, saat kita terjun, cahaya senter/lampu yang dibawa pemandu langsung dimatikan. Jadi saat tubuh kita melayang di udara dan jatuh di air, kondisi gelap gulita. Pasrah… tetapi ketakutan jatuh di air berhasil saya tuntasi. Alhamdulillah. Walaupun di tempat berikutnya yang terang, terjun dari 7 m saya tidak berani melakukannya, tetapi dua kali terjun setinggi 2 meteran berhasil saya lalui dengan baik di bagian hilir sungai yang berarus deras.

Karst Jojogan

Setelah kesuksesan Citumang yang mengikuti Gua Pindul di Gunungsewu, Yogyakarta, Jojogan adalah atraksi geowisata sungai karst yang selalu menarik. Sama seperti Gua Pindul atau Kali Suci di Gunungsewu, Jojogan dengan aliran sungai Ci Tumang adalah sungai karst yang sebagian mengalir di atas permukaan tanah, tetapi sebagian segmen sungai masuk ke dalam batuan sebagai sungai bawah tanah. Hal itu sangat khas untuk wilayah karst di mana pun. Aliran Ci Tumang (atau dalam peta geologi disebut Ci Tanjung) berasal dari wilayah utara perbukitan Parigi.

Sungai itu mengalir melewati Santirah yang juga dikembangkan sebagai tujuan wisata yang sama. Ke arah selatan, sungai mengalir di permukaan sebelum masuk ke dalam tanah kira-kira sepanjang 400 – 500 m (titik 1 pada gambar di bawah) dan keluar lagi di Gua Jojogan (titik 2) tempat atraksi terjun di kegelapan. Lorong Gua Jojogan dengan sungai bawah tanahnya sangat jelas dikontrol oleh retakan tegak berarah hampir utara-selatan. Dinding gua tersusun dari batugamping bioklastik berlapis-lapis tipis dengan kedudukan horizontal/mendatar dari Anggota Batugamping Kalkarenit Formasi Pamutuan berumur Miosen Tengah, kira-kira 15 juta tahun. Kondisi geologi seperti ini memang sangat ideal untuk berkembangnya karstifikasi, yaitu proses pelarutan batuan karbonat yang kaya kalsium-karbonat oleh air hujan.

Geomorfologi Ci Tumang (Santirah, Jojogan, Citumang)

Aliran Ci Tumang (atau Ci Tanjung) mengarah ke tenggara untuk kemudian masuk kembali ke dalam gua yang diduga dari peta google-map panjangnya mencapai 1 km sebelum keluar sebagai resurgens di Gua Citumang. Dari google-map tampak bahwa ekspresi permukaan dari kemungkinan arah aliran sungai bawah tanah berupa morfologi retakan yang memanjang menghubungkan tempat sungai masuk ke dalam gua dengan tempat keluarnya (resurgens) Citumang (antara titik 3 dan 4 pada gambar di bawah).

Curug travertin Jojogan

Fenomena karst lain adalah terbentuknya air terjun bertingkat-tingkat, Curug Jojogan. Permukaan yang bertingkat-tingkat itu merupakan endapan travertin kalsium karbonat yang terbawa oleh air sungai yang terjun. Lapis demi lapis karbonat membentuk permukaan yang kemudian membatu menghasilkan permukaan air terjun dengan tinggi total 30 m yang dapat dijelajahi hingga ke atas.

Ketika keesokan harinya peserta Jelajah Geotrek Matabumi mengunjungi beberapa gua di Pananjung, fenomena karst terjadi hampir sama dengan di Jojogan. Walaupun batuannya berbeda formasi, yaitu batugamping terumbu Formasi Kalipucang, tapi berumur sama dengan Formasi Pamutuan, serta proses kartifikasinya juga sama. Gua Cemped atau Gua Miring dan Gua Parat adalah dua gua yang ditelusuri di Pananjung.

Gua Miring diberi nama demikian karena tempat keluar di sisi lain menjadi miring dengan bagian dalamnya sangat tampak dikontrol oleh retakan vertikal yang sempit (selebar 1 – 2 m). Adapun Gua Parat diberi nama demikian karena tembus di kedua sisi, diduga tadinya merupakan sungai bawah tanah. Retakan di kedua gua ini jelas mengontrol pola lorong gua. Di kedua gua, pembentukan ornamen gua berupa stalaktit dan stalagmit berkembang baik. Bentuk-bentuk stalaktit dan stalagmit yang bermacam-macam, diberi nama sesuai bentuk yang ditafsirkannya: pocong, ibu memangku anak, fried chicken, bahkan seperti biasa nama-nama dari dunia perhantuan atau yang berbau ke arah alat vital manusia, kumplit dari kedua jenis. Walaupun kalau dilihat-lihat dengan saksama, ya… tidak mirip-mirip amat. Itu bisa-bisanya si pemandu saja supaya wisata lebih atraktif.

Terjebak macet saat pulang

Kawasan hutan mangrove Batukaras, Nusawiru

Jelajah Geotrek Matabumi kali ini mengambil waktu liburan Imlek, Tahun Baru Cina yang kali ini bershio ayam jago api. Jumat malam kami berangkat dan pagi hari keesokannya langsung menuju kawasan pengelolaan hutan mangrove Batukaras, Nusawiru. Di sini peserta memahami pentingnya hutan mangrove untuk lingkungan. Peserta diberi kesempatan menanam bibit tancang, jenis mangrove yang berakar tunjang. Jenis lainnya adalah pidada dan api-api, serta nipah yang tidak tergolong mangrove tetapi selalu berasosiasi, tumbuh baik di lahan muara sungai Ci Julang yang seluas hanya 12 ha.

Siangnya, geotrek ke Jojogan dan malamnya menginap di hotel di Pangandaran. Esoknya, sayangnya hujan turun, berperahu mengamati menara stack Batulayar di pantai timur Pananjung. Perahu mendarat di pasir putih dan kemudian menjelajah dua gua yang disebut di atas. Matabumi merancang pulang ke Bandung agak siang. Namun tak urung akhirnya baru pukul 2 siang, bus mulai beranjak pergi dari hotel. Rupanya semua wisatawan yang memenuhi pantai barat Pangandaran yang sangat padat, sehati untuk pulang pada jam yang sama. Macetlah lalu lintas sepanjang Pangandaran, Banjar, Ciamis, Malangbong, hingga Nagreg. Perkiraan sampai Bandung pukul 20.00 akhirnya dengan pasrah harus diperpanjang hingga pukul 01.00 dini hari.

Yah begitulah….

Pantai Pangandaran yang padat, pegelek-gelek, eplok cendol-dol-dol :(

Banjir Bandang Bandung Akan Terus Berulang

kliping koran Galamedia tahun 2006

Artikel di Koran Tempo, Senin 21 November 2016 ini ditulis atas permintaan Kurniawan, wartawan Koran Tempo beberapa hari sebelumnya. Saya tidak tahu mengapa meminta artikel kepada saya. Saya pikir dalam rubriknya akan ada beberapa opini. Nyatanya hanya opini saya saja di Kolom Pendapat halaman 11.

Di blog budibumi ini, sebelum artikel ini, saya muat juga klipping koran Galamedia, Minggu 23 April 2006. Saat itu dalam rangka memperingati Hari Bumi dan peluncuran perdana Jurnal Geopalika, saya berujar bahwa “Banjir Bandang Bisa Landa Bandung.” Pernyataan ini mengacu kepada peristiwa banjir bandang sebelumnya yang melanda Kota Trenggalek di Jawa Timur. Pernyataan saya tersebut didukung oleh anggota dewan pakar DPKLTS, Sobirin. Menurutnya, sangat wajar karena hingga saat itu (tahun 2006) sekitar 70% hutan lindung di wilayah Bandung sudah rusak. “Jika kerusakan hutan terus terjadi, pada 2015 di wilayah Bandung sudah tidak ada hutan lagi,” jelas Sobirin. Dalam artikel yang sama, Prof. Otto Soemarwoto, pakar lingkungan dari Unpad, menegaskan bahwa banjir bandang yang menimpa Trenggalek mungkin saja dapat terjadi di Bandung. Hal itu terjadi bila terjadi hujan cukup dahsyat.

Pernyataan 10 tahun lalu itu muncul kembali setelah kejadian banjir bandang yang melanda Terusan Pasteur dan terutama hanyutnya mobil di Ci Tepus di Jl. Pagarsih Bandung. Seolah-olah, perkiraan 10 tahun lalu itu menjadi kenyataan. Padahal banjir besar Pagarsih sebenarnya telah terjadi pada 2012 dan ditandai dengan sebuah meme “wahana olah raga baru arung jeram di Jl. Pagarsih.”

Berikut adalah artikel di kolom Pendapat Koran Tempo, Senin 21 Nov 2016 itu. Selamat membaca.

Secara mengejutkan dan seolah-olah luput dari antisipasi warga Bandung, di Akhir Oktober dan awal November 2016 terjadi peristiwa yang akan dikenang sebagai banjir bandang Bandung. Peristiwa yang dengan tragis menghanyutkan beberapa kendaraan di Jl. Pagarsih, Bandung, walaupun pernah terjadi beberapa tahun yang lalu, tidak ayal menimbulkan kehebohan karena kali ini peristiwanya lebih besar.

Banjir dengan aliran cepat dan berarus deras yang sebenarnya merupakan luapan Ci Tepus secara alamiah memang merupakan peristiwa alam yang berhubungan dengan hujan besar di daerah aliran sungai (DAS) hulu Ci Tepus. Dengan karakteristik seperti itu, banjir Ci Tepus dapat dikategorikan sebagai banjir bandang.

Banjir bandang (flash flood) didefinisikan oleh banyak institusi, kamus, maupun ensiklopedia, sekalipun kalimatnya berbeda-beda, sebagai suatu peristiwa alam naiknya secara tiba-tiba debit sungai dengan kecepatan tinggi yang disebabkan oleh curah hujan besar. Banjir bandang berbeda dengan banjir (flood). Banjir adalah peristiwa alam meluapnya atau naiknya air sungai menggenangi wilayah bantaran sungai. Datangnya tidak secara tiba-tiba, relatif bertahap, dan dapat terpantau. Jika banjir umumnya menggenang cukup lama, banjir bandang hanyalah aliran besar sesaat, namun sangat besar dengan arus kuat.

artikel di Koran Tempo 21-11-16

Dari peristiwa banjir bandang Ci Tepus, banyak yang merasa heran mengapa seolah-olah peristiwanya baru sekarang terjadi? Banyak yang menduga bahwa selain memang pola curah hujan yang menjadi besar di utara Bandung saat peristiwa itu terjadi, juga dicurigai terjadi perubahan tata guna lahan di DAS hulu Ci Tepus. Kecurigaan ini bisa benar karena fakta lapangan menunjukkan bahwa di DAS hulu Ci Tepus di atas Jl. Dr. Junjunan (Terusan Pasteur) terjadi pembangunan permukiman yang rapat bahkan hingga hulunya di wilayah Lembang.

Melalui penelusuran dari peta Street Atlas Bandung (Periplus, 2004-2005), Ci Tepus, yang bermuara ke Ci Tarum di sekitar Cangkuang, mempunyai aliran ke arah hulu, ke utara, melalui Terminal Leuwipanjang, Nyengseret, Pekuburan Astanaanyar (dan di sini bergabung Ci Kakak), memotong terusan Jl. Pasirkoja, Jl. Pagarsih, Jl. Jenderal Sudirman di sekitar Andir, Ciroyom, Jl. Bima, hingga Pekuburan Sirnaraga. Di sekitar Lapangan Terbang Husein Sastranegara, Ci Tepus mencabang dua, satu ke arah barat laut sebagai sungai utama dan bernama Ci Beureum, satu lagi berupa cabang pendek Ci Pedes.

Cabang utama Ci Beureum adalah aliran sungai cukup besar yang mengalir melalui permukiman padat di daerah Setra Duta, mengalir di sebelah barat UPI, dan wilayah Cihideung dimana aliran Ci Hideung juga bergabung. Ke arah hulu, aliran menerus hingga sebelah barat Lembang, dan ujung sungai-sungai ini berada di lereng selatan G. Tangkubanparahu.

Dari kondisi morfologi ini, dapat digambarkan bahwa, gradien sungai (kemiringan aliran) relatif landai dari muaranya di selatan hingga di sekitar Husein Sastranegara. Di atas itu, gradien sungai meninggi selari dengan memasuki kawasan perbukitan yang semakin tinggi di Setra Duta, Cihideung, dan semakin tinggi setelah Lembang. Dalam proses terjadinya banjir bandang, kondisi morfologi seperti ini adalah sangat tipikal. Hal itu tidak hanya terjadi pada Ci Tepus saja, juga sungai-sungai yang berhulu di perbukitan Kawasan Bandung Utara (KBU).

Analisis morfologi menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang rawan terjadinya banjir bandang adalah wilayah dimana terjadi perubahan gradien sungai dari tinggi ke rendah. Bayangkan arus deras yang menggelontor di daerah perbukitan dengan lembah sungai curam, mendadak memasuki lereng landai dengan lembah mendangkal. Luapan dengan dorongan arus keras akan terjadi di tempat-tempat seperti ini. Maka tidak heran wilayah-wilayah rawan itu terjadi kebetulan sejalan dengan poros Terusan Pasteur, Surapati, Cicaheum, Ujungberung, hingga Cileunyi.

Sebuah penelitian kecil pernah dilakukan oleh Sagara, Riono, Adityo dan Brahmantyo pada tahun 2010 untuk dua DAS, yaitu Ci Durian dan Ci Saranten. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bentuk DAS Ci Durian yang cenderung lurus dan sempit, lebih rawan mengalami banjir bandang dibandingkan DAS Ci Saranten yang berbentuk membundar dan lebar. Hal ini selaras juga dengan penelitian yang dilakukan Badan Survei Geologi AS (USGS) yang menunjukkan bahwa dalam curah hujan yang sama, DAS yang menyempit akan dengan cepat meningkatkan debit secara tiba-tiba dibandingkan dengan DAS yang melebar.

Secara geologi, batuan utama d wilayah perbukitan KBU adalah hasil endapan letusan Gunung Sunda Purba berupa breksi denga sisipan lava yang kompak dan keras. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa uji infiltrasi air sangat kecil di wilayah perbukitan dengan lereng-lereng terjal ini. Dapat disimpulkan bahwa perbukitan KBU mempunyai daya resap air hujan rendah, sehingga saat hujan besar akan lebih banyak limpasan permukaan. Kondisi ini diperparah dengan dengan hilangnya hutan di KBU dan digantikan permukiman atau ladang-ladang terbuka. Perubahan guna lahan ini semakin meningkatan limpasan air permukaan. Padahal hasil penelitian Leopold yang dikutip dalam Morisawa (1985) menjelaskan bahwa kenaikan debit sungai secara cepat dalam waktu jeda yang singkat akan terjadi pada DAS dengan permukaan yang impermeabel atau relatif kedap air.

Dari beberapa kajian geologi dan morfologi wilayah utara Bandung, terang bagi kita bahwa banjir bandang akan terus mengancam Bandung. Sungai-sungai yang berhulu di utara Bandung yang mempunyai batuan dasar breksi-lava yang kompak dan keras, apalagi ditambah berubahnya hutan menjadi permukiman atau ladang, serta DAS yang relatif lurus, akan sangat rawan tertimpa banjir bandang. Jadi, dengan perubahan tata guna lahan yang luara biasa di perbukitan KBU,kejadian banjir bandang akan lebih sering kita alami di masa depan. ***

Menyoal T. rex di Ujungberung

Oleh Budi Brahmantyo

Catatan: artikel dimuat di surat kabar Tribun Jabar, Selasa 21 Juni 2016 untuk menanggapi pro-kontra penempatan patung T. rex di Ujungberung. Saat naskah tersebut dikirim ke redaksi pada Minggu, 19 Juni 2016, rupanya patung telah dipindah ke Taman Lansia jl. Cisangkuy, Bandung.

Pro-kontra penempatan patung dinosaurus T. rex, sangat menarik. Memang dari sudut pandang latar belakang Ujungberung, sangat tidak jelas alasan penempatan patung itu di Alun-alun Ujungberung. Namun, justru hal itu mengundang tanda tanya besar yang mudah-mudahan mengundang rasa ingin tahu juga.

T. rex, kepanjangan Tyrannosaurus rex adalah jenis dinosaurus karnivora yang hidup pada Zaman Kapur (Cretaceous Period) di Masa Mesozoik, kira-kira 146 – 65 juta tahun yang lalu. Secara harfiah arti namanya adalah ‘raja kadal yang kejam.’ Tubuhnya bisa mencapai panjang 12 – 13 meter dengan tinggi 5 – 6 m, dan beratnya diperkirakan mencapai 5 – 7 ton.

Bayangkan dengan ukuran-ukuran setinggi dan seberat itu, dilengkapi dengan kepala besar yang kurang proporsional terhadap tubuhnya, dengan rahang kuat bergigi tajam, dinosaurus ini menjadi raja rimba Zaman Kapur. Beberapa literatur menyatakan bahwa seekor T. rex menyerang mangsanya dengan rahang dibuka lebar-lebar. Rahangnya yang kuat dapat meremukkan tulang-tulang mangsanya yang besar. Ia dapat menggigit potongan daging sepanjang 1 m dari mangsanya. Mangsanya yang lebih kecil akan dijepit seperti tang di antara rahangnya, dikibas-kibaskannya sampai mati lalu ditelannya. Bayangkan seekor buaya saat melahap mangsanya seperti yang kita lihat di tayangan televisi.

Menurut dugaan para ahli Paleontologi, seekor T. rex dapat berlari paling cepat 32 km/jam. Jika terjatuh, lengannya yang pendek tidak dapat menahan tubuhnya yang berat dari kejatuhan. Ia mungkin akan cedera atau bahkan tewas. Bila tidak mendapatkan buruannya, ia merebut mangsa yang dibunuh oleh karnivora yang lebih kecil. Namun T. rex tidak dikenal sebagai pemakan bangkai.

Walaupun dalam film-film, hewan purba ini selalu digambarkan garang, sadis, dan buas, tetapi entah bagaimana, ia menjadi favorit kita semua, termasuk anak-anak. Apalagi penggambaran yang nyata pada film Jurassic Park, yang menyelamatkan para tokoh utama film tersebut dari kejaran Velociraptor, menempatkan T. rex bagaikan pahlawan. Stephen Spielberg, sutradara film tersebut, sadar benar bagaimana citra yang “baik” bagi anak-anak telah menerap pada diri T. rex.

Namun film-film itu juga, termasuk buku-buku novel dan komik, yang menempatkan T. rex seolah-olah pernah bersua dengan bangsa manusia. Jika alur cerita menempatkan manusia purba, para pengarang selalu menghadirkan dinosaurus, terutama sang raja kadal kejam ini. Padahal, dari masa hidupnya pada Zaman Kapur, dalam dunia nyata, dinosaurus tidak pernah berhubungan dengan manusia.

Untuk menjelaskan ini, terpaksa kita harus membaca apa yang dikenal dengan skala waktu geologi. Waktu geologi adalah sejarah Bumi kita. Skalanya terrentang sejak Bumi terbentuk kira-kira 5 milyar tahun yang lalu bersamaan dengan terbentuknya Tata Surya. Kolom awal kehidupan dikenal sebagai masa (era), yang terbagi ke dalam tiga masa yaitu Paleozoik, Mesozoik, dan Kenozoik. Setiap masa dibagi ke dalam beberapa zaman (period).

Zaman Kambrium pada Masa Paleozoik, kira-kira 570 juta tahun yang lalu dikenal sebagai zaman awal kehidupan dengan ditemukannya fosil-fosil mirip udang yang hidup melata di dasar laut. Lalu setelah itu, pada zaman-zaman berikutnya kehidupan berkembang dengan luar biasa. Ikan pertama misalnya muncul di Zaman Silur (408 – 438 juta tahun) dan berjaya selama Zaman Devon (360 – 408 juta tahun). Serangga bersayap, reptilia dan sejenis kecoa muncul pada Zaman Karbon (280 – 360 juta tahun) diikuti amfibi pada Zaman Perm (248 – 280 juta tahun).

Zaman Perm menandai berakhirnya Masa Paleozoik, dan dimulainya Masa Mesozoik yang terbagi menjadi tiga zaman, yaitu Trias, Jura, dan Kapur. Inilah masa kejayaan dinosaurus. Masa ini berakhir pada 65 juta tahun yang lalu. Hampir semua raksasa dinosaurus punah, termasuk T. rex, pada titik waktu ini. Banyak dugaan punahnya mereka akibat adanya jatuhan asteroid raksasa yang menghantam Bumi. Benturannya yang maha dahsyat mampu mengubah iklim Bumi dan menewaskan para dinosaurus yang berdarah dingin yang tidak siap beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang drastis. Bagian dari bangsa mereka yang tersisa adalah dari jenis yang berukuran kecil yang dapat sintas pada lingkungan yang berubah ekstrim, yang kemudian bertahan berupa reptilia yang hidup hingga sekarang.

Setelah masa kepunahan masal 65 juta tahun yang lalu itu, Bumi memasuki masa baru yang dikenal sebagai Masa Kenozoik. Pada masa ini, mamalia merajai Bumi. Namun kemunculan bangsa manusia yang paling primitif (yang sulit untuk dikatakan sebagai manusia), baru diketahui sekitar 2 – 3 juta tahun yang lalu. Manusia modern seperti kita Homo sapien, dari temuan-temuan di banyak situs arkeologi di seluruh dunia, diperkirakan baru muncul 30.000 – 10.000 tahun yang lalu.

Bayangkan betapa jauhnya jurang waktu antara manusia purba yang hidup 2 juta tahun yang lalu, dengan kepunahan dinosaurus, termasuk T. rex, 65 juta tahun yang lalu. Mereka sama sekali tidak pernah berhadap-hadapan satu dengan lainnya. Hanya khayalan para pengaranglah yang membuat hal itu mungkin terjadi, seperti menciptakan kembali dinosaurus melalui rekayasa genetika dalam tetralogi Jurassic Park.

Pernahkah hidup di Indonesia?

Seperti disebutkan di atas, T. rex dan bangsa dinosaurus hidup berjaya selama Masa Mesozoik 248 hingga 65 juta tahun yang lalu. Pada masa itu, geologi Indonesia pada umumnya masih berupa lautan. Saat Benua Gondwana pecah pada masa itu, dan benua-benua tergeser memisah, Indonesia masih terdorong-dorong sebagai kerak lautan.

Belum jelas benar pulau mana di Indonesia yang muncul pertama sebagai daratan. Besar kemungkinan sebagian dari Papua. Namun yang pasti, Kepulauan Indonesia hampir utuh menjadi daratan seperti sekarang ini saat memasuki Zaman Kuarter, kira-kira 2 juta tahun yang lalu.

Maka, sangatlah sulit mencari fosil dinosaurus daratan di Indonesia. Jika memungkinkan, paling-paling jenis dinosaurus yang hidup di lautan, leluhur ikan paus atau hiu. Namun masih ada peluang untuk mencarinya di Papua. Satu formasi lapisan batuan berumur Trias tersingkap di antara Timika dan Tembagapura sebagai lapisan yang diendapkan pada lingkungan sungai dan pantai. Mungkin di sanalah kita akan mendapatkan fosil dinosaurus darat pertama.

Jadi T. rex yang hidup di Zaman Kapur tidak mungkin ditemukan di Indonesia. Selain selama Zaman Kapur Indonesia masih lautan, fosil-fosil T. rex hanya ditemukan di Amerika Utara. Sebagai contoh, rekonstruksi replika fosil T. rex Osborn yang dipajang di Museum Geologi Bandung adalah jenis T. rex yang pernah hidup di Kanada.

Nah, apalagi Ujungberung! Morfologi Daerah Ujungberung merupakan peralihan dari kaki Gunung Palasari dan dataran endapan Danau Bandung Purba. Batuannya tersusun dari endapan-endapan hasil gunung api yang diperkirakan sejaman dengan Gunung Sunda purba yang meletus 105.000 tahun yang lalu. Di daerah datarannya adalah endapan-endapan danau purba yang seumur. Secara waktu geologi, umurnya sangat sangat muda.

Namun jenis-jenis gajah, badak, buaya, bahkan tapir, masih mungkin ditemukan fosilnya di wilayah bekas Danau Bandung Purba itu. Seandainya ditemukan fosil T. rex di Ujungberung, ilmu Geologi dijamin bakal hancur berantakan dan perlu direvisi besar-besaran.

Namun menurut hemat saya, sekalipun di Ujungberung bukan tempat hidupnya T. rex, penempatan patungnya di Alun-alun Ujungberung sangat baik untuk menggugah rasa ingin tahu masyarakat. Terlepas bahwa patung itu dinilai jauh dari nilai-nilai kesundaan atau kesejarahan alam, jika dikemas sebagai penggugah ilmu pengetahuan, patung T. rex akan merupakan ikon intelektualitas Ujungberung. Semoga ***

Kilas Balik Lima Tahun GEOMAGZ

Tidak terasa lima tahun sudah majalah geologi populer GEOMAGZ yang anda pegang ini rutin terbit empat kali setiap tahunnya. Saat itu dalam rinai hujan malam bulan Desember 2010 di satu kamar hotel di Cipanas, Garut, nama GEOMAGZ lahir. Akankah terus bertahan?
Majalah ini lahir sebagai transformasi perkembangan Warta Geologi yang rutin memberitakan aktivitas internal Badan Geologi. Ketika terdapat tuntutan untuk menyosialisasikan kegeologian ke masyarakat umum, maka diprakarsai suatu media yang terpisah dari Warta Geologi. Tercetuslah ide menerbitkan satu majalah geologi populer.

Namun, nama “Majalah Geologi Populer” terlalu panjang dan terkesan resmi jika digunakan sebagai nama majalah. Nama majalah dituntut harus populer, tetapi tetap mengusung kegeologian Indonesia. Selain itu namanya harus mudah diingat atau mind-catching, tetapi tetap mencerminkan visi misi Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Setelah diskusi dan pemaparan, serta penelusuran di internet, tim redaksi akhirnya sepakat memilih nama GEOMAGZ. Nama ini dipilih dari beberapa alternatif nama dan pertimbangan nama majalah kebumian yang beredar di dunia. Misalnya melalui telusuran internet diketahui adanya majalah kebumian terbitan Jerman yang bernama GEO.

Penggunaan singkatan magazine sebagai nama majalah, bagaimana pun terinspirasi dari majalah di luar dunia kebumian yang telah terbit, yaitu Lionmag (majalah udara satu maskapai penerbangan nasional), dan Cinemagz (majalah lisensi asing yang terbit di Indonesia dalam bidang film/sinema). Munculnya huruf Z sebagai singkatan ‘magz’ alih-alih ‘mag’ karena ternyata di dunia, nama GEOMAG telah dipergunakan sebagai satu merek mainan konstruksi (seperti Lego) menggunakan batang-matang magnetik. Nama itu juga sudah digunakan oleh Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) untuk satu nama program penyelidikan magnetik mereka.

Nama GEOMAGZ memang terasa keinggris-inggrisan. Namun tim redaksi tetap sepakat dengan nama itu agar juga ada harapan bisa mendunia, walaupun semua artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia, kecuali dwi-bahasa Indonesia – Inggris di rubrik geofoto. Lalu ketua tim redaksi mengetok meja, cukup dengan tangan karena tidak tersedia palu, saat jam dinding menunjukkan jarum telah lewat tengah malam.

Perwajahan GEOMAGZ

Disainer sampul dan isi majalah dibebani tugas yang tidak ringan. Tuntutan sifat kepopuleran majalah menjadi masalah ketika sasaran pembaca ini mestinya menengah ke atas dan mereka yang ingin mengetahui permasalahan kegeologian. Artinya, bergenre populer tetapi bukan dalam pemahaman majalah hiburan.

Beruntunglah ada contoh yang bagaimana pun mempengaruhi gaya penerbitan majalah sejenis, yaitu Majalah National Geographic Indonesia (NGI). Majalah berlisensi Amerika ini yang telah terbit dengan versi Indonesia sejak April 2005 telah menjadi contoh gaya layout GEOMAGZ. Tentu saja tidak persis sama.

Akhirnya, terancanglah GEOMAGZ nomor perdana yang bergaya populer, modern, fleksibel, dan international look. Konsep desain yang diusung GEOMAGZ cenderung playful karena di beberapa bagian keluar dari pakem grid yang konvensional. Namun, tidak megurangi kesan rapi dan clean. Selain perubahan konsep tata letak yang lebih modern dan fleksibel dari majalah pendahulunya, seluruh aplikasi tipografi dalam GEOMAGZ juga mengalami pembaruan. Penggunaan linings dan separator yang lebih sederhana bertujuan untuk menimbulkan kesan lapang sekaligus elegan, yang menambah kenyamanan saat membaca.

Desain baru ini juga memberi ruang lebih besar untuk fotografi, yakni dengan membagi rubrikasi dengan sebuah halaman penuh (spread page). Dengan tampilan seperti ini diharapkan GEOMAGZ dapat tampil lebih segar dan digemari kalangan pembaca lebih luas, serta dapat bersaing dengan perwajahan terbitan luar negeri. Gaya ini dinamis dengan mengalami perubahan tetapi tidak mengubah total tampilan majalah.

Ujian di Nomor Perdana

Nomor perdana untuk volume pertama merupakan ujian bagi GEOMAGZ, apakah majalah ini dapat diterima pembaca. Tantangan nomor perdana juga adalah kekurangan sejumlah artikel untuk dimuat. Akhirnya diputuskan bahwa hampir semua artikel ditulis oleh anggota redaksi. Cover story (cerita sampul) atau topik utama dipilih tentang Sesar Lembang, dengan judul Sesar Lembang, Heartquake di Jantung Cekungan Bandung. Banyak artikel juga bercerita tentang Cekungan Bandung, misalnya letusan Gunung Sunda purba. Begitu pula esai foto masih di seputar Bandung, yaitu Ci Tarum, Urat Nadi Jabar yang Tercemar.

Ketika nomor perdana ini terbit, sambutannya di luar perkiraan. Hampir semua pembaca mengapresiasinya dengan baik. Bahkan Kepala Badan Geologi saat itu, Dr. R. Sukhyar, dalam suatu pertemuan dengan dewan redaksi GEOMAGZ, mengacungkan nomor perdana ini dengan ungkapan pujian atas format dan isi GEOMAGZ. Baginya, GEOMAGZ menjadi corong Badan Geologi yang salah satu fungsinya yaitu mensosialisasikan dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat dalam kegeologian.

Tanggapan positif datang dari berbagai kalangan. Pada umumnya mereka menyambut baik GEOMAGZ yang berpenampilan setara dengan Majalah NGI. Beberapa tanggapan bahkan memberi nilai tambah karena semua artikelnya tentang kegeologian Indonesia.
Namun demikian kritik juga ada. Di antaranya tanggapan terhadap tampilan foto yang kurang jelas. Beberapa menilai artikelnya masih kurang menggunakan bahasa populer sehingga masih sulit dicerna. Ada pula kritik terhadap materi yang hanya fokus di sekitar Bandung. Pengeritik khawatir edisi berikutnya masih tentang Bandung lagi. Bahkan ada yang memberi kritik tentang nama GEOMAGZ sendiri yang menggunakan bahasa asing.

Masukan positif dan kritik itu menjadi pelecut bagi dewan redaksi untuk membuktikan semuanya di nomor kedua. Topik utama tentang Museum Geologi menjadi pilihan. Di nomor kedua ini, artikel dari penulis di luar dewan redaksi mulai banyak dimuat. Namun demikian, artikel-artikel penulis luar tersebut masih didapatkan berdasarkan permintaan.

GEOMAGZ Nomor 3 dengan cerita sampul Gunung Anakkrakatau mungkin menjadi salah satu perwajahan sampul GEOMAGZ yang terbaik. Sampul memperlihatkan foto karya Anton pengamat di Pos Gunung Anakkrakatau yang memperlihatkan letusan Anakkrakatau pada malam hari yang menyemburkan lava. Pada GEOMAGZ Nomor 4 yang jatuh di bulan Desember, GEOMAGZ mengambil cerita sampul tentang peringatan bencana tsunami di Aceh, dengan judul Dekade Teror Gempa Sumatra.

Volume Selanjutnya

Pada GEOMAGZ volume selanjutnya, banyak artikel berdatangan sendiri ke redaksi. Hal ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan karena GEOMAGZ telah dianggap sebagai media yang patut diperhatikan. Pada tahun keduanya, berturut-turut GEOMAGZ mengusung cerita sampul No. 1 tentang Indonesia yang bertekad meraih pengakuan dunia melalui taman bumi dengan judul Indonesia Menuju Jaringan Geopark Dunia. Edisi No. 2 membahas geliat batubara yang sedang menanjak dalam judul Berharap Banyak Pada Batubara. Lalu pada edisi No. 3 kembali mengangkat Krakatau dengan judul Menjelajah Ingatan akan Krakatau 1883, dan keberhasilan Indonesia meraih pengakuan internasional melalui taman bumi dimuat di edisi No. 4 Kaldera Batur, Taman Bumi Pertama dari Indonesia.

Pada Volume 2 No. 3 yang terbit bulan September 2012 seolah-olah selalu menjadi edisinya Krakatau. Setelah di volume 1 nomor 3 tentang Krakatau, maka di volume 2 nomor 3 juga mengangkat tema Krakatau. Bedanya pada volume 2 ini, artikel utama merupakan hasil liputan langsung tim redaksi GEOMAGZ ke Gunung Anakkrakatau.

Liputan yang tadinya merupakan liputan biasa berubah menjadi luar biasa. Sejam sebelum perahu motor yang ditumpangi tim redaksi tiba di Gunung Anakkrakatau, sang gunung meletus. Abunya yang terlontar ke angkasa dapat dilihat jelas dari perahu pada jarak kurang lebih 5 km. Dengan perasaan antara khawatir tetapi bersemangat karena beruntung bisa menyaksikan gunung bersejarah ini meletus, tim redaksi dengan hati-hati mendarat di sisi utara gunung. Lontaran bebatuan yang mengarah ke barat, membuat tim redaksi cukup aman untuk mengamati letusan sang legenda. Namun tidak urung tim redaksi cepat-cepat meninggalkan pulau gunung api itu ketika dirasakan letusan semakin membesar.

Pada akhir tahun 2012 itu, berita gembira datang dari sidang Global Geopark Network (GGN) di Portugal: Kaldera Batur resmi diterima sebagai anggota taman bumi dunia (global geoprak). Hal ini menjadi prestasi kebumian Indonesia yang sangat menggembirakan karena pengukuhan itu sudah dirancang sejak 2010 dan sempat gagal di tahun 2011. Menyambut hal itu, GEOMAGZ Edisi Desember 2012 (Volume 2 Nomor 4) mengusung cerita sampul tentang Geopark Global Kaldera Batur, Bali.

Memasuki tahun ke-3, GEOMAGZ telah menjadi incaran banyak pembaca untuk memilikinya. Hal itu tercermin dari surat-surat elektronik yang masuk yang menanyakan tentang kemungkinan untuk membeli GEOMAGZ. Namun keputusan Badan Geologi tetap mempertahankan GEOMAGZ sebagai non-PNBP sehingga tidak dapat dijual. Di sisi lain, tanggapan yang luar biasa dari pembaca di luar kalangan geologi menunjukkan hausnya masyarakat akan informasi kegeologian yang mudah dicerna dengan bahasa populer. Untuk memenuhi keinginan masyarakat ini, Badan Geologi membuka layanan internet yang mengunggah GEOMAGZ versi elektronik yang dapat diunduh gratis dalam format pdf.

Pada tahun 2015 ini, Edisi Maret 2013 menjadi sangat berkesan bagi tim redaksi GEOMAGZ. Saat itu untuk mengisi cerita sampul dan rubrik Langlang Bumi (yang tadinya bernama Geotrek di Volume 1 dan Geotravel di Volume 2), peliputan ke Jawa Tengah mengajak serta M.M. Purbo Hadiwidjoyo. Kenangan itu begitu terpatri sehingga redaksi merasa kehilangan ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang pada Jumat, 9 Oktober 2015.

Pak Purbo almarhum yang saat itu berusia 90 tahun dengan masih semangat menjelajah dan menjelaskan fenomena geologi di sepanjang daerah yang sering dilewatinya sewaktu muda. Sejak dari Wangon, Purwokerto, hingga ke kampung halamannya di Magelang, lalu berputar ke Wonosobo, Dieng dan Banjarnegara, dan kembali ke Bandung, ia seperti tidak menunjukkan kelelahan pada usianya yang sepuh itu. Begitulah atas sarannya juga ia menamai geologi linewatan untuk judul cerita sampul, sebagai makna geologi daerah yang selalu terlewati.

Selanjutnya, GEOMAGZ Nomor 2, 3 dan 4 Volume 3 tahun 2013 itu berturut-turut mengusung cerita sampul Menelusuri Jejak Penemuan Manusia Purba (hasil liputan ke Trinil dan Sangiran), Daulat Rakyat di Ladang Minyak (hasil liputan ke Cepu), dan Megapolitan Jayabaya, artikel yang dipicu persoalan meraksasanya Jakarta ke wilayah-wilayah sekitarnya.

Memasuki tahun ke-4, empat nomor kembali mengunjungi para pembaca, baik yang mendapatkan edisi cetaknya, maupun melalui edisi elektronik. Cerita sampulnya di tahun ke-4 mengusung: No. 1 Gelegar Kelud 2014, menyambut letusan besar Gunung Kelud 13 Februari 2014 yang menghancurkan kubah lava yang terbentuk di tahun 2007. Pada edisi No. 2 cerita sampulnya mengusung tema industri kreatif, diantaranya melalui geotrek dan Museum Geologi: Meretas Gagasan, Melahirkan Kreativitas. Penerbitan edisi Juni 2014 ini juga menyambut selesainya rekonstruksi kerangka fosil gajah dari Blora yang terlengkap ditemukan di Indonesia. Pada edisi No. 3 judulnya adalah Hidup Harmonis Bersama Gunung Api, yang merupakan tema untuk menyambut Seminar Internasional IAVCEI Cities on Volcanoes di Yogyakarta pada Juli-Agustus 2014. Tema yang sama yang dipergunakan oleh panitia IAVCEI Indonesia. Edisi No. 4 bercerita sampul 10 tahun Tsunami Aceh. Tema ini sebenarnya mengulang tema edisi Desember Tahun Pertama di 2011, namun dalam peringatan 10 tahun bencana berskala internasional itu, GEOMAGZ mengusung kembali sebagai pengingat kita semua.

Di akhir tahun 2014, penghargaan yang tidak disangka-sangka diraih GEOMAGZ. Pada kompetisi mengenai penerbitan yang diselenggarakan oleh Bako Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi, GEOMAGZ berhasil meraih Juara Ke-2 sebagai media yang berhasil, baik dalam sisi isi dan sajian, tampilan, serta keteraturan penerbitan.

Sayangnya pada tahun ini di ajang yang sama, GEOMAGZ hanya berada sebagai nominasi 6 besar dari ratusan publikasi penerbitan media internal Kementerian/Lembaga/Perguruan Tinggi Negeri/BUMN(D). Namun demikian, hal ini menunjukkan bagaimana GEOMAGZ tetap berkategori baik karena menyisihkan ratusan publikasi lainnya.

Di tahun yang kelima di 2015 ini, GEOMAGZ telah terbit dengan edisi No. 1 yang mengusung cerita sampul Kawasan Kars Sebagai Sistem Energi. Persoalan yang mencuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia tentang perseteruan antara rakyat di Jawa Tengah yang mempertahankan lahan pertaniannya dari industri semen, merupakan salah satu hal yang diangkat di nomor ini. Pada edisi No. 2 tema yang diangkat adalah tentang krisis energi dengan terpuruknya harga batubara dan anjloknya harga migas dunia, dengan judul Hari Depan Energi.
Di edisi No. 3 tema yang diangkat adalah masalah pembangunan yang bagaimana pun harus memperhatikan kondisi geologi, dalam judul Restu Geologi Untuk Pembangunan. Judul ini terilhami kata-kata mutiara yang disampaikan seorang sejarawan dunia Will Durant: Peradaban ada karena restu geologi, kapan pun selalu tunduk pada perubahan. Dan, pada edisi yang anda pegang sekarang, tema yang diangkat kembali ke geopark. Hal ini dikarenakan pada bulan September 2015, di forum Asia Pacific Geopark Network (APGN) di San’in Kaigan, Jepang, siding GGN telah memutuskan menerima geopark kedua dari Indonesia resmi menjadi anggota GGN, yaitu Geoprak Global Gunung Sewu.

Mulai Volume 5 ini terdapat rubrik baru yaitu Iber Bumi. Rubrik ini merupakan info grafis di bidang geologi dengan tujuan agar pembaca cepat memahami berbagai fenomena kegeologian yang tadinya rumit. Nama rubrik ini mengambil kekayaan kosakata dari Bahasa Sunda iber yang berarti informasi.

Dua Puluh Edisi

Hingga edisi sekarang, telah terbit sebanyak 20 edisi GEOMAGZ. Beberapa rubriknya menjadi favorit pembaca, di antaranya geofoto, langlang bumi, esai foto, dan profil. Khusus untuk profil, redaksi GEOMAGZ terkadang bertukar pikiran alot di antara anggota dewan redaksi untuk menampilkan sosok yang menonjol di bidang geologi. Sosok tersebut tidak saja bekerja di Badan Geologi, tetapi juga di instansi kegeologian lainnya, atau di perguruan tinggi.

Dalam 20 edisi tersebut, sosok-sosok geologiwan atau yang berkutat di seputar kegeologian, muncul di rubrik profil. Mereka berturut-turut adalah: Kama Kusumadinata (Ahli Gunung Api Pembuat Peta Spidol), J.A. Katili (Bapak Geologi Indonesia), R.P. Koesoemadinata (Bapak Geologi Migas Indonesia), Emmy Suparka (Profesor Geologi Perempuan Pertama Indonesia), Rab Sukamto (Bonek yang Tak Henti Belajar), R. Sukhyar (Bentara Utama Sumber Daya Mineral Indonesia), M.M. Purbo-Hadiwidjoyo (Selalu Bersyukur, Sugih Tanpa Banda), Nana Suwarna (Memetakan Bumi, Mengelola Publikasi), Fachroel Aziz (Keliling Dunia Berkat Fosil Hominid), Yunus Kusumahbrata (Dengan Taman Bumi Masyarakat Sejahtera), A. Djumarma Wirakusumah (Perawi Gunung Api), Sampurno (Membangun Negeri dengan Geologi), Surono (Berdiri di Cincin Api), Adjat Sudradjat (Tinggi Gunung Selaksa Karya), Sujatmiko (Berkah di Balik Batu Mulia), Dwikorita Karnawati (Memadukan Sosioteknika dalam Mitigasi Bencana), R.K.T. Ko (Dokter Gua), Subroto (Dedikasi untuk Energi), Untung Sudarsono (Menggarisbawahi Peran Geologi) dan di edisi ini Sutikno Bronto (Dalam Haribaan Gunung Api).

Sebanyak 20 edisi GEOMAGZ telah terbit selama 5 tahun terakhir. Usia 5 tahun bagi suatu majalah masihlah tergolong muda. Masih perlu kerja keras untuk mewujudkan suatu majalah kegeologian yang dapat dibaca semua pihak sehingga informasi geologi itu menjadi renyah dibaca, enak dipikirkan, tanpa kekurangan kualitas informasinya.

Akankah GEOMAGZ terus berkiprah mencapai target di atas di tahun-tahun berikutnya? Hal itu mestinya suatu keniscayaan bagi Badan Geologi dengan salah satu tanggung jawabnya adalah menyampaikan informasi kegeologian kepada masyarakat luas. ***

Penulis: Budi Brahmantyo, Oman Abdurachman, dan Mashudi (Dewan Redaksi GEOMAGZ).

Piramid Bisa Terbentuk Secara Alamiah

Catatan: Artikel ini merupakan artikel yang diminta oleh sejarahwan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina H. Lubis sebagai bagian dari rangkaian artikel di Majalah Gatra dalam polemik tentang Gunung Padang yang diinterpretasi oleh sekelompok ilmuwan sebagai piramid seperti halnya piramid di Mesir. Artikel dimuat di Majalah Gatra edisi No. 10/tahun 26 4 Januari 2014.  Silakan menyimaknya.

Bandung, GATRAnews – Jauh sebelum kasus Gunung Padang yang diinterpretasikan sebagai piramida buatan para leluhur, telah ada isu yang diembuskan melalui dua gunung, yang juga ada di Jawa Barat. Pertama adalah Gunung Sadahurip di Garut dan kedua adalah Gunung Lalakon di sebelah barat daya Bandung. Kedua gunung tersebut pada satu sisi memang memperlihatkan bentuk geometri piramida yang sempurna. Namun, jika dilihat dari sisi yang berbeda, keduanya adalah bukit atau gunung sebagaimana bukit dan gunung-gunung di sekitarnya.

Gunung Sadahurip di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, secara geologis sebenarnya merupakan kerucut lava yang tersebar di kompleks Pegunungan Talagabodas. Seperti halnya beberapa kerucut lain; Gunung Kaledong dan Haruman, yang berada tidak jauh dari Gunung Sadahurip, batuannya tersusun oleh lava andesit, batuan beku yang umum di jumpai di gunung-gunung api di Jawa.

Singkapan batuannya dengan jelas terlihat, baik di jalan setapak di lereng-lereng gunung tersebut maupun di lembah-lembah sungainya. Namun, bagi para penganut teori piramida, bangunan piramidanya dikubur di bawah andesit yang tersingkap di permukaan tersebut.

Dengan ketinggian puncaknya 1.320 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 300 meter dari kaki gunungnya, Sadahurip dianggap piramida yang sangat besar, berkali-kali besarnya daripada piramida Giza di Mesir. Tentu saja hipotesis ini masih sangat mentah dan kemungkinan besar tidak akan terbukti. Selain di Indonesia tidak terbukti adanya budaya purbakala pembangun piramida, secara geomorfologi, bagian dari geologi yang mempelajari proses terbentuknya bentuk-bentuk permukaan bumi, bentuk piramida dapat terbentuk secara alamiah.

Suatu proses erosi lanjut pada kerucut-kerucut gunung api pada suatu tahap yang disebut planeze, bidang-bidang lapisan dan retakan akan mengontrol proses pembentukan lereng-lereng yang akan miirip piramida.

Hal yang sama juga di Gunung Lalakon, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Bentuk piramidanya hanya terlihat dari sisi timur. Batuannya yang tersingkap dengan baik di kaki bukit dan juga di puncaknya sedikit lapuk, tetapi dapat diperiksa jenis batuannya adalah batuan beku dasitis.

Kerucut-kerucut dengan batuan andesitis dan dasitis di sekitar Gunung Lalakon merupakan sisa-sisa gunung api purba berumur 3-4 juta tahun yang lalu. Banyak bukit-bukit di wilayah ini digali untuk diambil batunya.

Gunung Pancir, tetangga terdekat Gunung Lalakon, hampir seluruhnya telah terkupas oleh usaha penggalian batu. Batuannya yang tersingkap memperlihatkan banyak kolom-kolom akibat kekar kolom, sesuatu yang alamiah pada saat magma membeku ketika naik ke permukaan bumi.

Kolom-kolom andesit juga terbuka dengan sangat sempurna di lokasi galian lain di sekitar Gunung Lalakon, misalnya di Gunung Masoro Lagadar. Di sini, kolom batu berdiameter 30 cm-50 cm berbentuk heksagonal (segi enam) telah lama digali sebagai bahan baku bangunan atau fondasi.

Kolom-kolom ini sangat mirip dengan kolom-kolom batu andesit-basaltis yang digunakan masyarakat megalitik untuk membangun punden berundak di puncak Gunung Padang, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Di Gunung Padang, kolom-kolom batu itu diperkirakan ditarik dari kaki bukit itu sendiri untuk disusun menjadi suatu bangunan yang bertujuan sebagai tempat pemujaan. Hal itu tampak jelas dari pola arsitektural punden berundak yang tersusun dalam lima undak (teras) dan dihadapkan persis ke arah Gunung Gede di utaranya.

Secara geologis, jelas bahwa kerucut Gunung Padang merupakan kerucut lava yang saat membeku membentuk kolom-kolom andesit-basaltis yang berwarna abu-abu gelap tersebut.

Bukti-bukti bahwa kolom-kolom batu ini terbentuk secara in-situ dapat dilihat dari banyaknya sebaran kolom batu yang terserak di kaki bukit. Proses ini wajar dan banyak terjadi di banyak tempat pada bukit berkekar kolom, seperti juga di Gunung Pancir dan Gunung Masoro Lagadar di Kabupaten Bandung itu.

Kekar kolom sendiri terbentuk secara alamiah ketika magma yang membeku di permukaan bumi akan terkontraksi saat bagian luar mendingin terlebih dahulu. Kekar atau retakan akibat kontraksi itu menerus ke bagian bawah sejalan dengan proses pendinginan, membentuk kolom-kolom batu yang sistematis.

Jadi, ketiga bukit dan gunung yang dinterpretasikan sebagai bangunan piramida, apalagi diduga sengaja dikubur, hipotesisnya sangat lemah. Sekalipun dari pengukuran beberapa metode geofisika diduga ada ruangan di dalam Gunung Padang. Misalnya, ruangan tersebut secara geologis dapat terjadi oleh berbagai proses, mungkin suatu retakan atau sebab lain.

Tentu saja penelitian ilmiah yang intensif untuk membuktikan bukit-bukit tersebut sebagai bangunan piramida sangat baik untuk diteruskan. Namun, ketika ada usaha-usaha pembuktiannya yang akan merusak situs yang dihormati seperti Gunung Padang, atau pengelupasan besar-besaran yang akan dilakukan di Gunung Lalakon atau Sadahurip, termasuk di Gunung Padang, itu bukan usaha-usaha yang bijaksana.

Rasa keingintahuan kita sebagai mahluk yang selalu ingin membaca alam tidak harus dilakukan dengan cara-cara yang akan merusak alam itu sendiri.

[Budi Brahmantyo, Kelompok Keilmuan Geologi Terapan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB); Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB)]

[Situs Gunung Padang (Gatra/Wisnu Prabowo). Rubrik KOLOM, Majalah GATRA Edisi no 10 tahun ke 26, Beredar 9 Januari 2014]

Belajar dari Sesar Lembang

Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat Minggu 10 Mei 2015. Tulisan merupakan hasil laporan acara Gowes Bareng Geolog V yang diselenggarakan pada Sabtu 2 Mei 2015. Selamat menyimak.

artikel di PR Minggu "Back2Boseh"

Suara turaes atau tonggeret riang memenuhi udara Bandung, tapi hujan kecil membasahi tanah. Tonggeret yang biasanya penanda datangnya musim kering, suaranya terpaksa harus tersela curah hujan. Itulah tanda-tanda alam mengiringi acara bersepeda bersama menyusuri jalur Sesar Lembang dalam rangka Hari Bumi 2015 Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB dan 6 Dekade Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi GEA ITB.

Namun hujan pagi hari itu rupanya hanya menyegarkan jalan dan rumput. Saat acara bersepeda bersama dengan judul “Gowes Bareng Geolog V (GBG V)” dimulai di Gunung Kasur, Lembang timur, hampir 50 peserta dengan semangat segera mengayuh sepedanya. Jalurnya sengaja dipilih yang lebih banyak menurunnya mengingat pesertanya tidak melulu mereka yang terbiasa ngaboseh, apalagi tujuan utama lainnya justru pada pembelajarannya.

Jalur Gunung Kasur di kaki G. Bukittunggul (+2.206 m) dan G. Palasari (+1.859 m) merupakan awal jalur GBG V. Titik ini dapat dikatakan ujung timur Sesar Lembang, suatu patahan yang membentang berarah timur-barat dari Palasari di timur hingga Cisarua di barat, sepanjang hampir 22 km. Jalur sesar bagian timur ditandai dengan lembah sesar yang curam dimana Cikapundung mengalir mengikuti jalur tersebut hingga Maribaya. Jalur itu pulalah yang dipilih GBG V kali ini.

Gowes Bareng Geolog adalah program yang dicetuskan Ikatan Alumni Teknik Geologi ITB melalui apa yang disebut Sekolah Bumi untuk memberikan pengajaran di lapangan tentang berbagai gejala geologi kepada masyarakat umum. GBG pertama pada 2011 misalnya mengambil jalur Kawah Ratu Tangkubanparahu, Gunung Batu Lembang, dan Tahura Juanda untuk memberikan pemahaman tentang aktivitas gunung api dan sesar. GBG II 2012 memberikan pemahaman tentang G. Sadahurip di Garut yang dikira piramida. GBG III 2012 memberikan pelajaran tentang Kawah Putih dan potensi panasbuminya, dan GBG IV 2013 selain tentang panasbumi Wayang-Windu juga memberikan kampanye lingkungan hulu Citarum di Cisanti.

GBG V kali ini mengambil tema “Learning from Our Fault.Fault di dalam Bahasa Inggris selain berarti ‘kesalahan’ tetapi juga berarti ‘sesar.’ Tema itu tepat karena kita seyogyanya belajar terus dari kesalahan dalam menghadapi bencana alam, salah satunya gempa bumi. Ketika hingga saat ini gempa bumi masih sulit diprediksi kedatangan dan lokasi tepatnya, maka kesalahan antisipasi dan mitigasi harus diperbaiki, terus menerus. Jangan sampai kita selalu merasa ‘kecolongan’.

Saat penjelasan awal di Gunung Kasur pun, peserta GBG V masih terpengaruh kengerian gempa bumi di Nepal yang terjadi 25 April 2015 dengan besaran 7,9. Apa akibatnya jika hal itu terjadi di Bandung, tidak terbayangkan mengingat kita menyangsikan kesiapan Bandung menghadapi gempa bumi besar. Pelajaran gempa bumi 2 September 2009 yang berfokus di Cianjur selatan tetapi terasa kuat di Bandung seharusnya menyadarkan Bandung untuk selalu waspada. Apalagi ada Sesar Lembang yang saat ini diam manis tetapi menjadi ancaman besar.

Sesar Lembang merupakan retakan pada kerak Bumi yang berada hanya kurang dari 10 km di utara pusat kota Bandung. Di sepanjang jalur sesar tersebut berderet dengan padatnya permukiman dan pusat-pusat perniagaan serta fasilitas-fasilitas lain. Kota-kota kecamatan tumbuh pesat mendukung unggulan ekonomi utama di bidang pertanian dan pariwisata. Dua bidang itulah yang memang menjadi potensi di sepanjang 22 km dari Palasari, Maribaya, Lembang, Parongpong hingga Cisarua. Jadi ketika rombongan GBG V menempuh jalur Gunung Kasur – Maribaya, pemandangan indah lahan perkebunan palawija dan aktivitas pariwisata berkelindan dengan baik.

Bersepeda menyusuri Sesar Lembang sendiri dijalani dengan riang. Jalan makadam dan aspal rusak yang menurun dari Gunung Kasur ke Batuloceng menjadi tantangan sendiri. Derit-derit rem belakang sepeda memenuhi udara Lembang timur di antara suara tonggeret yang berderu-deru. Kurang dari setengah jam, semua sudah berkumpul di perempatan Batuloceng, Tugu Bukittunggul.

Di tempat ini peserta diselingi dengan sedikit hiking ke lereng Gunung Palasari. Tujuannya untuk mengagumi tinggalan leluhur di Situs Batuloceng berupa dua artefak batu yang dikenal sebagai si Jabang Bayi dan Batu Kujang. Pak Maman, kuncen penjaga situs, menjelaskan kepada peserta GBG V yang berseragam oranye tentang kedua batu yang dikeramatkan tersebut. Tak ayal beberapa peserta mencoba mengangkat Si Jabang Bayi ke pundaknya sebagai bagian dari ritual di Situs Batuloceng tersebut.

Seperti di Swiss

Kaki-kaki yang lemas setelah naik dan turun Situs Batuloceng segera bekerja lagi mengayuh pedal ke perhentian berikutnya. Udara segar dan sinar Mentari yang mulai menghangatkan Bumi semakin membuat semangat peserta GBG V untuk menjalani rute yang tersisa. Perhentian berikutnya di Kampung Areng, Cibodas, di kaki gawir Sesar Lembang.
Di sini peserta GBG V kembali terkagum-kagum dengan pemandangan yang membuat beberapa peserta menyeletuk, “wah seperti di Swiss…” Bagaimana tidak? Pemandangan gawir terjal sesar Lembang dengan lapisan-lapisan lava yang terangkat dihiasi deretan pohon pinus yang menghijau membawa kesan Pegunungan Alpen di Swiss.

Begitu pula saat perhentian berikutnya di Cibodas Lebak dekat Maribaya, saat peserta GBG V tepat berhenti di lembah dari gawir terjal Tebing Karaton yang terkenal itu. Walaupun masing-masing tampak kecil, tak urung kami melambaikan tangan ke para pengunjung yang berada jauh di atas Tebing Karaton yang juga samar-samar tampak melambaikan tangan juga.

Pukul 13.00 akhirnya GBG V berakhir di pintu gerbang Tahura Djuanda di Maribaya. Setelah diselingi makan siang, kemudian bagi-bagi door-prize, acara ditutup dengan kuliah singkat dan konsultasi batu akik (batu mulia) oleh dedengkotnya, Sujatmiko. Saat peserta bubar, komentar kepuasan tentang acara ini terlontar dari banyak peserta.
Acara boseh bertema pengetahuan seperti Gowes Bareng Geolog memang langka. Acara serupa yang dirintis Pikiran Rakyat dengan “Boseh2Graphy”-nya dengan tema pengetahuan yang lebih umum dan berragam menjadikan acara bersepeda tidak hanya sekadar olah raga dan bersenang-senang saja. Bagaimana pun harus ada transfer pengetahuan untuk selalu ikut mencerdaskan bangsa.

Dengan wajah bahagia dan puas, peserta GBG V akhirnya kembali ke Bandung menerobos jalur Tahura Djuanda dari Maribaya ke Dago Pakar. Biarlah ancaman Sesar Lembang mengendap di pikiran dan hati masing-masing sebagai pengetahuan yang mudah-mudahan bisa menetap dan disebarluaskan. ***

Penulis, pehobby bersepeda, dosen di Prodi Teknik Geologi, FITB, ITB.

Dilema Kars

Catatan:
Artikel ini dimuat di Majalah Geologi Populer GEOMAGZ terbitan Badan Geologi Vol. 5 No. 1 yang mengusung tema kars. Selama menunggu terbitnya artikel ini, dunia kars sedang gonjang-ganjing dengan bergulirnya sidang PTUN gugatan masyarakat Rembang dan Walhi melalui LBH Semarang terhadap Gubernur Jateng atas diterbitkannya izin penambangan untuk industri semen kepada PT Semen Indonesia di Kars Watuputih.

Kamis tanggal 12 Maret 2015, saya menjadi saksi ahli dari pihak penggugat (Walhi). Dalam sidang itu tampak sekali para hakim sedikit sekali memahami permasalahan kars. Hal ini tercermin pada pertanyaan terakhir Hakim Ketua yang baru menyadari bahwa industri semen akan mengeksplotasi kawasan kars yang sebenarnya merupakan penyimpan sumber air.

Dua hari setelah terbit resmi di media daring (sebelum resmi edisi cetak), sebuah demo di depan gerbang kampus Ganesha ITB terjadi menolak PT Semen Indonesia yang akan ceramah di Prodi Pertambangan ITB. Satu spanduknya menohok nurani kita: Scientific OK, Humanity First. Namun, keputusan Sidang PTUN tanggal 16 April sangat mengecewakan dan menyedihkan. Gugatan LBH tertolak dengan alasan gugatannya kedaluarsa, bukan karena substansi permasalahan (Amdal yang tidak benar dan hasil kesaksian para saksi dan saksi ahli). Akhirnya, seperti penutup pada artikel ini: pertentangan antara pro-konservasi dan pro-eksploitasi kawasan kars tidak akan pernah selesai.

Artikel ini merupakan pergulatan pemikiran saya. Jangan berharap ada solusi jitu karena permasalahan kars benar-benar dilema. Bagaikan buah simalakama.

Silakan menyimak.

Dilema Kars

Jika kita diberi hanya satu pilihan antara lingkungan yang baik dengan sumber air bersih yang terjaga dan pengadaan semen atau tepung karbonat yang banyak manfaatnya dalam pembangunan, mana yang kita pilih? Tentu saja maunya kedua-duanya. Namun ketika pilihan hanya satu di antara keduanya, akan seperti buah simalakama. Jika buah dimakan ibu mati, jika tidak dimakan ayah mati. Wilayah kars, itulah buah simalakama.

Dilema pengelolaan kars akan selalu berujung pada pertentangan antara konservasi dan eksploitasi. Dalam konteks dan paradigma pembangunan fisik, tentu saja eksploitasi menjadi pilihan utama. Hal tersebut karena keuntungannya jelas tergambar di depan mata. Batugamping digali, diolah, dibuat semen, dijual, dan rupiah pun mengalir. Hal itu semua terhitung dengan angka-angka yang jelas dalam bilangan nyata dan bersifat tangible.

Ketika sekarang ini masalah lingkungan menjadi bagian pertimbangan pembangunan jangka panjang yang harus bersifat berkelanjutan, paradigma mulai bergeser ke arah konservasi. Tekanan internasional yang harus berlabel serba hijau bagi produk-produk industri, ikut menggeser paradigma ini. Semua jenis sumber daya alam tidak serta-merta menjadi komoditas yang langsung dieksploitasi, tetapi harus melalui kajian analisis mengenai dampak lingkungan. Kajian ini akan menghitung kemungkinan dampak negatif yang timbul dari suatu proyek besar dan bagaimana penanganannya. Namun karena semua baru prakiraan ke masa depan yang belum terjadi, nilainya masih abstrak dan bersifat intangible.

Untuk menjembatani masalah ini, Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan suatu panduan umum valuasi ekonomi dampak lingkungan (VEDL). Tujuannya adalah pertama, sebagai panduan pelaksanaan valuasi ekonomi dampak lingkungan dalam penyusunan AMDAL. Kedua, memperkenalkan konsep kuantifikasi nilai lingkungan. Ketiga, memperkenalkan teknik dan pendekatan dalam memperkirakan nilai dampak lingkungan.

Situs KemenLH menyatakan banyaknya manfaat dari pelaksanaan VEDL dalam penyusunan AMDAL. Beberapa manfaat itu antara lain dapat menggambarkan nilai suatu dampak lingkungan dari rencana usaha dan/atau kegiatan secara lebih jelas dengan menyajikan kerugian lingkungannya. Manfaat lainnya, valuasi ekonomi dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menentukan penting atau tidaknya suatu dampak lingkungan dari rencana usaha dan/atau kegiatan secara kuantitatif, dan juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlunya pengelolaan lingkungan untuk menghindari kerugian ekonomi yang lebih besar sebagai dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Lebih jauh, manfaatnya adalah dapat digunakan sebagai salah satu dasar yang jelas dan beralasan dalam menerima atau menolak suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Sekarang ini mulai pula diperkenalkan istilah jasa lingkungan. Jasa lingkungan adalah penyediaan, pengaturan, penyokong proses alami, dan pelestarian nilai budaya oleh suksesi alamiah dan manusia yang bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan. Terdapat empat jenis jasa lingkungan yang dikenal oleh masyarakat global, yaitu jasa lingkungan tata air, jasa lingkungan keanekaragaman hayati, jasa lingkungan penyerapan karbon, dan jasa lingkungan keindahan lanskap.

Dalam konsep ini muncul pula istilah PJL (Pembayaran Jasa Lingkungan). Menurut situs worldagroforestry.org, PJL yang mulai dikenal di negara-negara berkembang, terutama di Asia, mempunyai konsep yang menjanjikan efisiensi untuk mencapai tujuan konservasi dengan anggaran terbatas. Konsep PJL mengenalkan pengaturan dan kesukarelaan yang inovatif bagi penjual dan pembeli jasa lingkungan yang pada awalnya dimaknai secara sempit. Misalnya, penyediaan jasa lingkungan sangat tergantung pada permintaan dari pemanfaat jasa lingkungan yang umumnya terbatas dari kalangan swasta dan industri. Hal ini wajar mengingat merekalah yang sanggup membayar. Namun, pemahaman sempit seperti ini bahkan berakibat tidak terjadinya PJL. Menurut situs worldagroforestry.org, upaya peningkatan kehidupan dengan penerapan suatu mekanisme dipercayai akan mengurangi keefektifan PJL. Padahal dalam kenyataannya, terdapat banyak kasus masyarakat berupaya mempertahankan dan melindungi lingkungan mereka bagi kepentingan pihak lain dan memperoleh pengakuan dan penghargaan sebagai imbalan.

Lalu bagaimana di lingkungan kars? Timbulnya konflik yang seolah-olah tiada akhir antara pengusaha yang akan mengeksploitasi kars, berhadapan dengan masyarakat yang berusaha mengkonservasinya, menunjukkan kedua konsep di atas mungkin belum dilaksanakan. Kasus-kasus pengembangan tambang untuk industri semen di Pati dan Rembang, Jawa Tengah, di Pangkalan, Karawang, Jawa Barat, atau di Baturaja, Sumatera Selatan, menunjukkan benturan kepentingan yang cukup rumit untuk diselesaikan. Sekalipun kedua konsep VEDL dan PJL diterapkan, diperkirakan akan banyak ketidaksepakatan dan akan berjalan tidak efektif, apalagi pada kawasan proyek yang bersifat eksploitatif seperti usaha pertambangan dan galian batu.

Konsep VEDL untuk wilayah kars misalnya menghitung jumlah burung walet yang akan menghasilkan berjuta-juta rupiah dari penjualan sarangnya. Contoh lain adalah perhitungan ekonomi hasil hutan di wilayah kars, atau harga air bersih yang didapatkan dari sumber-sumber air di wilayah kars jika diasumsikan dijual. Perhitungan ini akan berkali-kali lipat jika dianggap sumber dayanya terjaga keberlanjutannya. Hasil ini kemudian dibandingkan jika seluruh kawasan kars tersebut berubah menjadi industri semen dengan nilai devisa yang dihasilkan.

Pertentangan pun pasti terjadi karena industri semen jelas perhitungan jumlah cadangan batugampingnya serta harga-harganya (tangible) dengan waktu yang pasti, sementara VEDL adalah proyeksi ekonomi yang bersifat perkiraan yang intangible dengan waktu yang tidak pasti. Satu hal yang lebih pasti adalah hasil ekonomi dari industri jelas pembagiannya, sementara VEDL tidak jelas. Apalagi jika hal itu menyangkut fungsi ekologi satu spesies yang hidup di gua seperti codot misalnya. Seekor codot dalam satu malam bisa mengkonsumsi serangga (nyamuk) hampir seberat tubuhnya sendiri. Bayangkan jika ribuan codot keluar satu malam, berapa ratus ribu ekor nyamuk yang dimakan mereka. Hal ini jelas mengurangi ancaman bahaya penyakit yang ditularkan melalui nyamuk ke manusia. Hitung-hitungan fungsi ekologis ini jelas abstrak karena mengandung ketidakpastian yang tinggi.

Di kawasan tambang batugamping untuk semen, konsep PJL pun pasti tidak mungkin diterapkan karena lingkungan pasti berubah dan tidak terjaga keasriannya. Padahal konsep PJL adalah perusahaan membayar masyarakat yang menjaga lingkungannya karena dengan terjaganya lingkungan, komoditas yang dikelola perusahaan terjaga keberlanjutannya. Konsep ini mungkin lebih mengena pada perusahaan yang memanfaatkan air bersih, atau perusahaan yang berkaitan dengan pariwisata yang memerlukan terjaganya bentang alam (lanskap). Konsep geoprak adalah kemungkinan yang dapat melaksanakan PJL dengan baik.

Penetapan kawasan bentang alam kars

Di luar dari dua konsep yang diperkenalkan di atas, saat ini solusi bagi pengelolaan wilayah kars adalah dengan regulasi. Inisiasi regulasi dimulai dengan munculnya Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1456 K/20/MBM/2000 Tahun 2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Kars (selanjutnya Kepmen 1456). Kepmen 1456 ini membagi kawasan kars ke dalam tiga kelas. Kelas 1 adalah kawasan kars yang singkatnya mempunyai sumber air bersih (sungai bawah tanah), gua aktif, dsb. sehingga menjadi kawasan lindung. Kelas 2 mempunyai gua-gua tetapi tidak aktif dan tidak mempunyai sumber air, sehingga boleh dieksploitasi/tambang asal melalui Amdal. Adapun Kelas 3 boleh ditambang karena tidak mempunyai kriteria seperti di Kelas 1 dan 2.

Kepmen 1456 akhirnya harus diganti sejalan mulai berlakunya Undang-undang Republik Indonesia No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang (selanjutnya UU 26/2007). Dalam turunannya yaitu Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN; selanjutnya PP 26/2008), dinyatakan bahwa bentang alam kars adalah kawasan lindung nasional yang harus ditetapkan. Akhirnya pedoman penetapan bentang alam kars keluar melalui Peraturan Menteri ESDM No. 17 tahun 2012 mengenai Penetapan Kawasan Bentang Alam Kars (selanjutnya Permen 17/2012).

Permen 17/2012 yang dikeluarkan pada tanggal 20 Juni 2012 oleh Menteri ESDM saat itu, Jero Wacik, bertujuan untuk melindungi kawasan kars yang berfungsi sebagai pengatur alami tata air; melestarikan kawasan kars yang memiliki keunikan dan nilai ilmiah sebagai obyek penelitian dan penyelidikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan mengendalikan pemanfaatan kawasan kars. Menurut peraturan ini, status kawasan bentang alam kars merupakan kawasan lindung geologi sebagai bagian dari kawasan lindung nasional. Dalam peraturan ini juga diatur tata cara penetapan kawasan bentang alam kars, yaitu melalui proses penyelidikan oleh pemerintah daerah terlebih dahulu, baru kemudian ditetapkan oleh Menteri ESDM.

Kelemahan penetapan ini tetap menimbulkan pertentangan karena ketika pemerintah daerah melakukan penyelidikan, umumnya mempunyai kepentingan instan, dan industri menjadi pilihan utama. Apalagi jika dikaitkan dengan masa jabatan kepala daerah yang minimal hanya 5 tahun jika tidak terpilih kembali. Itulah akibatnya mengapa konflik antara pengusahan industri semen (yang biasanya didukung penguasa) berhadapan dengan masyarakat petani yang biasanya didukung LSM terus terjadi di kawasan kars.

Ditinjau dari geologi sendiri, konflik ini memang berhubungan dengan objek yang sama. Proses karstifikasi yang berlangsung baik dan menghasilkan bentang alam eksokars dan endokars yang unik dan sesuai dengan kriteria Permen 17/2012 terjadi pada batugamping murni yang kandungan kalsium karbonatnya mendekati 100%. Jika dianalisis kimiawi batuannya, kandungan CaO >50% dengan kadar silika dan magnesium rendah. Padahal kualitas batugamping seperti inilah yang juga sangat baik sebagai bahan baku semen dan diincar industri semen. Pilihan zonasi jelas tidak dapat diterima kedua pihak yang berkonflik karena manfaatnya justru berada pada kawasan yang sama.

Di Indonesia yang berada di wilayah tropis, hampir semua batugamping yang tersingkap ke permukaan pasti mengalami proses karstifikasi. Perkembangan bentang alam kars hampir terjadi di seluruh pulau yang mengandung formasi batugamping. Kasarnya, sedikit sekali wilayah berbatugamping di Indonesia yang tidak memenuhi kriteria bentang alam kars seperti di Permen 17/2012. Hampir seluruhnya secara ilmiah adalah bentang alam kars yang seyogyanya menjadi kawasan lindung nasional seperti yang diamanatkan melalui UU 26/2007 dan PP 26/2008.

Lalu apakah kita berhenti membangun? Selama pembangunan terus berjalan, bagaimana pun kita tetap membutuhkan semen. Thailand dan Tiongkok melarang sama sekali industri semen di negaranya. Malaysia sudah sangat membatasi. Jika hal ini diikuti oleh semua negara di dunia ini, lalu darimanakah semen didatangkan untuk membangun?

Inilah dilema yang sangat sulit. Hingga saat ini tidak ada bahan pengganti batugamping yang menjadi 70 – 80% bahan baku semen. Usaha pengurangan persentase batugamping untuk semen memang sudah dilakukan, tetapi hasilnya kurang efektif dan mengurangi kualitas semen. Solusinya memang harus menang-menang. Namun, solusi ini disangsikan efektifitasnya oleh rakyat yang berada di pihak yang ‘lemah’ baik dari sisi kekuasaan maupun dari sisi kekuatan ekonomi.

Sebagai penutup, sebagai penggugah, mari kita bayangkan jika eksploitasi batugamping untuk semen terus dilakukan sampai suatu saat batugamping musnah dari muka bumi. Jika saat itu adalah sekarang, akan berhentikah pembangunan? Atau suatu saat ada penemuan bahan yang bukan batugamping tetapi berfungsi hidraulis seperti batugamping dengan kekuatan yang setara dengan semen dari batugamping? ***

Boseh Ci Kapundung: Tempat Lava dan Lahar Mengalir

Artikel pendek ini adalah pangantar untuk suatu acara fun-bike yang di Bandung disebut ‘boseh’ dan diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat (PR) bertajuk Boseh2Graphy #11 Susur Ci Kapundung ke-2 pada Sabtu, 28 Feb 2015. Selamat ngaboseh atau bergowes menyusuri Ci Kapundung yang berarti Sungai Kapundung (= buah menteng).

Ci Kapundung, sungai utama yang membelah Kota Bandung, mengalir kira-kira sepanjang 35 – 40 km. Hulunya berada pada lereng selatan Gunung Bukittunggul +2206 m dpl. Dari mata airnya, Ci Kapundung kemudian mengalir ke arah barat menyusuri lembah jalur Sesar Lembang, sesar yang mematahkan perbukitan Bandung Utara dengan Lembang pada arah barat – timur.

Di Maribaya, ke Ci Kapundung bergabung cabang sungai dari arah G. Tangkubanparahu + 2084 m bernama Ci Gulung. Lembah terjal pertemuan Ci Gulung ke CI Kapundung dapat diamati dengan sangat menakjubkan dari Tebing Karaton (atau nama aslinya Cadas Jontor).

Peta aliran Ci Kapundung dan hubungan antara air tanah dan air sungai (sumber Darul, dkk. 2014).

Setelah itu Ci kapundung mengalir ke arah baratdaya membelah Taman Hutan Raya Djuanda hingga ke Bengkok. Mulai dari Maribaya, dasar sungainya berupa batu basalt, berupa aliran lava dari magma yang encer. Salah satu fenomena yang langka adalah Batu Karembong (batu selendang) yaitu aliran lava tumuli yang membentuk seperti selendang (pita) atau juga tali yang terpilin. Fenomena lava yang berjenis pahoehoe ini dijumpai di Warung Opat dan Curug Lalay, Tahura Djuanda.

lava basalt pahoehoe, dikenal sebagai batu karembong (batu selendang)

Aliran lava ini yang berasal dari magma yang suhunya kira-kira 1000 derajat C berakhir di Curug Dago dan sedikit jejaknya masih dapat ditelusuri hingga lembah Ciumbuleuit. Di air terjun Curug Dago, kita dapat mengamati penampang batuan di belakang air terjun yang terdiri dari lapisan aliran piroklastik dan lahar di bagian bawah, endapan sungai di bagian tengah, dan aliran lava di bagian atas. Di sini lava memperlihatkan struktur kekar kolom yang mencerminkan hasil proses kontraksi ketika magma mendingin.

Ke arah hilir, aliran memasuki kawasan perkotaan yang padat. Mulai dari Jembatan Siliwangi hingga bermuara ke Ci Tarum di Bojongsoang, Dayeuh Kolot, alirannya berada di atas endapan lahar dari G. Tangkubanparahu. Singkapan endapan lahar dapat dijumpai di antara sampah-sampah sungai, seperti di dekat Sabuga ITB, di Babakan Ciamis sebelum via-duct, atau di Jembatan Ancol.

Sudah menjadi nasibnya sungai di perkotaan Indonesia menjadi tempat pembuangan sampah. Bayangkan rumah-rumah yang berada di Balubur hingga Sasakgantung umumnya membelakangi sungai. Pipa-pipa buangan langsung dikocorkan ke Ci Kapundung. Penghuni Kota Bandung masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan segala macam, mulai dari sampah, air kotor, limbah industry, bahkan isi septic-tank!

struktur menali (ropy) ciri lain lava pahoehoe

Ada satu uga menyangkut Ci Kapundung yang berbunyi: Sunda Nanjung lamun nu pundung ti Bandung ka Cikapundung, geus balik deui. Artinya kira-kira: Sunda berjaya jika yang sakit hati dari Bandung ke Cikapundung sudah kembali lagi. Bagi saya yang sakit hati dan kembali lagi itu seharusnya adalah bersihnya air sungai. Upaya ini harus dibarengi dengan revolusi mental seluruh rakyat Bandung tentu saja. Jika itu berhasil niscaya masyarakat Kota Bandung yang dominan urang Sunda akan dianggap hebat. Lalu merembet ke seluruh Jawa Barat dan seluruh urang Sunda.

Air sungai Ci Kapundung hingga tahun 1950-an diberitakan masih jernih. Bisakah kita mengembalikannya seperti sebelum tahun 1950? Bisa! Mari mulai dari kita sendiri… dan selamat ngaboseh menyusuri sungai terpanjang di dunia ini (karena melintasi Asia Afrika).

Curug Dago dg 3 lapisan batuan: lahar/iroklastik di bagian bawah, endapan sungai di tengah, dan aliran lava basalt di atas yg membentuk kekar2 kolom

Berikut foto-foto kegiatan Boseh2Graphy #11 Susur Ci Kapundung 2 pada Sabtu 28 Feb 2015:

foto bersama di atas endapan lahar di hulu Jembatan Siliwangi (foto: Dudi Sugandi)

diskusi di tepi Ci Kapundung (foto: Sonni Rozali)

finish di Novotel Bdg jl. Cihampelas; berfoto bersama PR-nya Ernita

bicyclefie :)

David ke Tebing Karaton Sendirian

David

Jaman sekarang mendapati seorang anak kelas VI SD menjelajah sendirian adalah sesuatu hal yang agak mengejutkan. Minggu Ahad, 1 Februari 2015 ketika kami dalam perjalanan cukup mendaki di jalan berbatu Kampung Kordon-2, sambil istirahat memandang dan mengambil foto ke arah Cekungan Bandung, seorang anak kecil juga melakukan hal yang sama. Saya bersama adik saya datang mendekat ke anak itu. Sebenarnya sekalian minta untuk diambilkan foto juga.

“Mau ke Tebing Karaton?” Ia menjawab iya.

“Sendirian? Nggak sama teman-teman atau keluarga?”

“Kakak-kakak saya, teman-teman saya, tidak ada yang mau ikut, ya saya sendirian saja. Dari rumah di Pasir Koja naik angkot hingga Tahura Juanda, terus jalan sendiri ke sini.”

Hebat benar anak ini yang menyebutkan namanya David Chaniago Primadonal, sekolah di SD Jamika Bandung kelas VI, bungsu dari empat saudara. Ayahnya dari Padang seorang pedagang ayam potong di Pasar Andir, Bandung. Ibunya Sunda, dan David lahir di Riau.

“Primadonal?” tanya kami serius.

“Iya. Primadonal…” oh Primadonal Bebek? Kami pun tertawa. Langkah kami sudah mendekati pertigaan Ciharegem dan sebuah papan sederhana menunjuk arah kiri: Tebing Karaton 300 meter.

Lembah terjal Ci Kapundung dari Tebing Karaton/Cadas Jontor (Foto: Wiana Wisanti)

Tebing Karaton adalah tujuan wisata baru yang mendadak populer bagi warga Kota Bandung. Penduduk setempat mengenalnya sebagai toponim Cadas Jontor. Namun gara-gara banyak mahasiswa yang suka blusukan, kemping dan panjat tebing di Cadas Jontor yang bertebing vertikal ini, mereka mengenalnya Tebing Karaton. Nama itu dikukuhkan oleh satu poster yang menjelaskan asal-usul nama ini dengan tanda tangan Ase Sobana, penduduk setempat yang merintis, tertanggal 1 Mei 2014 dengan tanda hapusan di sana-sini. Di poster itu tertulis alasan mengapa bukan ‘keraton’ dalam pengertian istana, tetapi ‘karaton’ yang bermakna kemegahan alam dalam Bahasa Sunda.

Akhirnya nama itulah yang kemudian populer. Kepopuleran Tebing Karaton mencuat di tahun 2014 gara-gara banyak yang berfoto selfie berlatar jurang dalam lembah Maribaya dari ujung tebing dan diunggah ke media sosial. Namun, masyarakat lebih banyak menyebut Tebing Keraton, alih-alih Tebing Karaton.

Peta dari GoogleMap dengan tambahan informasi Sesar Lembang dan Sesar Cikapundung, serta titik lokasi Tebing Karaton

Tebing Karaton atau Cadas Jontor secara geologi sebenarnya bagian dari frontslope (lereng depan) punggungan Sesar Lembang. Tebing ini tepat berada di atas lembah pertemuan dua sungai di Maribaya, Ci Kapundung dan Ci Gulung. Ke arah barat daya, kita dapat mengamati lembah Ci Kapundung yang terjal di Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda. Ke arah barat kita dapat menyaksikan dinding vertikal Maribaya yang menjadi bidang Sesar Lembang yang berarah barat-timur.

Ke utara saat cuaca baik, deretan G. Burangrang dan Tangkubanparahu serta depresi Lembang di depannya akan terlihat jelas. Ke arah timur laut, lembah Cibodas terbentang dengan perkebunan palawija dan lereng atasnya ke arah G. Bukittunggul berubah menjadi hutan pinus, kina, dan hutan heterogen. Tepat ke dasar jurang di sisi timur, aliran Ci Kapundung dan cabangnya tampak menoreh sangat tajam membentuk lereng-lereng bukit yang terjal bahkan tegak.

Dam (1996) seorang peneliti Belanda mencantumkan adanya sesar berarah timurlaut-baratdaya tepat di lembah Maribaya di bawah Tebing Karaton. Sesar ini memotong Sesar Lembang yang berarah barat-timur. Menurutnya, lembah lurus Ci Kapundung yang berlereng terjal berarah timurlaut-baratdaya adalah hasil dari aktivitas sesar ini. Begitu juga bagaimana aliran Ci Kapundung menerobos dinding Sesar Lembang diakibatkan adanya sesar ini, yang kita namakan saja Sesar Cikapundung.

Cadas Jontor, sesuai namanya adalah tonjolan batu (cadas). Jontor dalam Bahasa Sunda berarti “menjorok”. Batuannya kemungkinan merupakan hasil letusan dahsyat Gunung Sunda Purba yang meletus membentuk kaldera 105.000 tahun yang lalu, atau menurut hasil penelitian disertasi Kartadinata (2001), bahkan gunung api induknya, Gunung Pra-Sunda, yang meletus kira-kira 200.000 tahun yang lalu.

Saat kami tiba di Tebing Karaton, wisatawan lokal sudah memenuhi ujung tebing. Dengan membayar karcis Rp. 11.000,- (Rp. 76.000,- untuk wisatawan mancanegara), kami – seperti wisatawan lainnya – berfoto-foto dengan latar belakang lembah Maribaya yang terhampar jauh di bawah. Wisatawan berkerumun dan antre hanya untuk satu tonjolan batu yang paling favorit untuk berfoto.

David pun dengan kamera digitalnya sibuk selfie. Saat kami lebih dahulu meninggalkan Tebing Karaton, David masih asyik bermain walaupun hujan gerimis mulai turun. Sambil berjalan pulang, kami membicarakan si David ini yang punya kemauan kuat untuk mengunjungi tempat yang sesungguhnya cukup jauh dari pusat Kota Bandung. Ah, di zaman ketika sebagian anak-anak kota lebih asyik bermain di mal dengan mainan serba elektronik, atau menjadi autis dengan gawainya masing-masing, ternyata masih ada anak seperti David yang berani sendirian menjelajah untuk menikmati alam.

Jangankan seorang anak kelas VI SD, seorang mahasiswa pun belum tentu ada yang berkemauan kuat seperti David untuk mengunjungi objek alam. Sendirian. Semoga banyak David-david lain di negeri indah ini yang berkemauan untuk menikmati alam yang menyuguhkan pesona tiada habis-habisnya ***

sketsa Lembah Ci Kapundung dari Tebing Karaton (diwarnai hijau oleh Muhammad Thamrin :) )

Di Atas Dua Gunung Api: Ekskursi Pascakonferensi ‘Kota di Atas Gunung Api’

Oleh Budi Brahmantyo, Heryadi Rachmat, dan Estu Kriswati

(dimuat dengan sedikit beda suntingan di GEOMAGZ Majalah Geologi Populer, Badan Geologi, Vol. 4 no. 4, Desember 2014)

Hup, dengan sekali angkatan, bongkah batu besar itu sudah terjunjung di atas kepala Angie. Begitu kuatkah Angie, seorang ahli vulkanologi asal Amerika itu? Angie, nama panggilan Angela Kristen Diefenbach salah seorang peserta fieldtrip Cities on Volcanoes mungkin kuat, karena telah berjalan menyusuri Gunung Anakkrakatau. Namun, bongkah besar yang diangkatnya memang nyatanya bongkah batuapung yang jauh sangat ringan apabila bongkah itu berupa basalt atau endapan piroklastik yang kompak. Massa jenisnya dapat mencapai 0,64 gr/cm3 lebih dari seperempatnya daripada jika material yang terlontarkan membeku sebagai lava basalt dengan berat jenis kira-kira 2,65 gr/cm3.

Angie (foto: Igan S. Sutawijaya)

Atraksi Angie mengangkat batuapung yang kemudian diikuti para geologiwan atau vulkanologiwan lainnya menjadi satu peristiwa yang cukup mengesankan peserta ekskursi lapangan pascakonferensi Cities on Volcanoes (CoV) ke-8 di Gunung Anakkrakatau di Selat Sunda, Lampung. Sementara itu di sisi lain sejauh 1.244 km dari Krakatau ke arah timur, kegiatan yang sama berlangsung di Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di gunung api yang baru-baru ini dikenal pula sebagai Gunung Samalas yang diperkirakan meletus pada tahun 1257 dengan letusan yang melebihi kekuatan letusan Tambora 1815, dua profesor pencetus ide itu ikut serta dalam ekskursi lapangan di lereng-lereng Rinjani yang endapannya menurut mereka sebagai endapan kelas dunia.

Ekskursi ke dua gunung api dengan letusan bersejarah dari Indonesia itu, merupakan rangkaian acara konferensi internasional bertema “Cities on Volcanoes 8: Living in Harmony with Volcano, Bridging the Will of Nature to Society” yang diselenggarakan di Yogyakarta, 9 – 13 September 2014. Konferensi dan seminar international tersebut merupakan acara IAVCEI (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior) yang diselenggarakan di Yogyakarta, Indonesia, dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi (BG), sebagai tuan rumah. Konferensi itu sukses dihadiri 431 peserta dari 36 negara, termasuk Indonesia sendiri.

Dari beberapa tawaran ekskursi pascakonferensi, banyak peserta yang tertarik pada dua gunung api saja, yaitu Anakkrakatau dan Rinjani. Gunung Batur dan Bromo yang sempat ditawarkan akhirnya dibatalkan sebagai tujuan ekskursi karena hanya diminati sedikit peserta, jauh dari batas minimal kuota peserta. Akhirnya sebanyak 24 peserta menjejakkan kakinya di Anakkrakatau pada tanggal 15 September 2014, dan di sisi lain 10 peserta mendaki bibir kaldera Segaraaanak Gunung Rinjani. Ekskursi Gunung Anakkrakatau dipandu Igan Sutawijaya, Agus Budianto, dan Estu Kriswati dari PVMBG, BG, serta Budi Brahmantyo dari Geologi ITB. Ekskursi di Rinjani dipandu Mochammad Nugraha Kartadinata, Yudhi Wahyudi, dan Heryadi Rachmat dari PVMBG dan Museum Geologi, BG, serta oleh Profesor J.C. Komorowski dari Universitas Sorbonne, Perancis.

Di Atas Produk Letusan Anakkrakatau 2012

Krakatau memang selalu menarik. Tentu saja karena letusannya pada 27 Agustus 1883 yang sangat dikenal dunia. Namun rupanya selain letusan itu, letusan terakhir di 2 September 2012 juga menjadi daya tarik tersendiri mengapa para peserta konferensi CoV8 banyak yang memilihnya. Letusan 2 September 2012 bahkan menjadi kenangan tersendiri bagi beberapa anggota redaksi Geomagz.

Pada tanggal tersebut, perahu kecil Sri Kembang yang ditumpangi tim Geomagz sedang berada kira-kira satu jam lagi pengarungan Selat Sunda ke Krakatau ketika tampak asap membumbung cukup tinggi dari puncak Anakkrakatau. Gunung Anakkrakatau meletus. Tim Geomagz yang tadinya hendak meliput kondisi tenang Gunung Anakkrakatau, mendapat suguhan yang luar biasa dengan letusan tersebut. Sekalipun rencana mendaki hingga bibir kawah batal, tetapi pemantauan lontaran-lontaran bom gunung api dari sisi utara merupakan laporan langsung pandangan mata yang menakjubkan.

Saat tim Geomagz kembali ke daratan Banten pada malam harinya, laporan yang masuk dari Pos Pemantauan di Pasauran tentang makin meningkatnya aktivitas gunung api, ikut terliput pada artikel Geotravel di Geomagz. Satu foto yang menunjukkan letusan lava pijar karya seorang jurnalis majalah nasional saat terpaksa evakuasi dari Anakkrakatau di sore harinya, ikut menghiasi halaman geofoto. Artikel dan geofoto tentang aktivitas letusan di awal September itu menjadi sajian berita yang sangat hangat pada Geomagz Volume 3 Nomor 3 Edisi September 2012.

Sungguh merupakan kesempatan menarik ketika sebanyak 24 peserta ekskursi pascakonferensi CoV8 akhirnya menjelajah lereng utara – timur laut Gunung Anakkrakatau, tempat awal yang sama dengan tim Geomagz menyaksikan lontaran bom-bom gunung api pada 2 September 2012. Penjelajahan di mulai dari batas pantai pasir dan punggungan aliran lava 1996. Udara yang panas dan sinar Matahari di bulan September yang terik, untungnya diimbangi tiupan angin laut.

Darcy Bevens, seorang ibu yang telah melebihi paruh usia, malah tampak bersemangat mengamati batu demi batu, merasakan angin laut yang segar dan menyaksikan laut yang terhampar biru. Walaupun bukan berlatar belakang geologi atau vulkanologi, Bevens cinta gunung api dan laut. Pekerjaannya di satu universitas di Hawaii adalah membuat model penyajian edukatif berbasis geologi dan gunung api. Hobinya yang utama adalah berselancar, selain mendaki gunung. Di Hawaii, ia juga seorang instruktur selancar.

Lain lagi dengan para peserta dari Jepang. Mereka tampak serius dengan mengamati, mengukur dan mencatat setiap fenomena hasil letusan 2012 itu. Mereka terlibat dalam diskusi panjang dengan Agus Budianto atau Igan Sutawijaya dari PVMBG. Peserta dari negara-negara lain tidak kalah seriusnya. Diskusi di antara mereka sendiri atau dengan interpreter hampir terjadi di setiap titik pengamatan.

Bom raksasa produk letusan 2 Sep 2012 yang masih teronggok di lereng timur laut (Foto: BB)

Penjelajahan lereng utara – timur laut yang telah dipenuhi batu-batu bom dan endapan letusan 2012 mencapai puncak daya tariknya saat mendapati bongkah-bongkah batuapung yang berwarna lebih terang dari sekitarnya. Lalu atraksi pemotretan angkat batuapung pun dilakukan oleh hampir semua peserta. Namun di latar belakang, pada lereng atas, masih teronggok bom raksasa sebesar rumah. Tampak mengerikan membayangkan bagaimana bongkah raksasa itu saat jatuh menimpa permukaan tanah.

Matahari menjelang menggelincir di ufuk barat. Rombongan telah mencapai punggungan bekas kawah yang terbentuk tahun 1960an. Ketika rombongan menyusuri puncak punggungan ke arah selatan, beberapa fenomena bom gunung api, mulai dari bom kerak roti atau bom tahi sapi dijumpai dari letusan-letusan lebih tua. Namun di ujung selatan, punggungan ini ditutupi aliran lava basalt dari tipe bongkah dan aa hasil kegiatan letusan 2012. Aliran lava ini tampak membentuk punggungan kasar yang meluncur dari bibir kawah ke arah lereng selatan. Di tepi pantai, bongkah-bongkah lava 2012 berwarna hitam kemerah-merahan itu menutup akses pantai yang dindingnya menyingkap endapan awan panas dari letusan tahun 2001.

Akhirnya rombongan tiba di kaki tenggara Gunung Anakkrakatau sebelum istirahat di dekat base-camp Cagar Alam Krakatau. Di lereng bawah ini, Agus Budianto memperlihatkan peralatan PVMBG yang berkali-kali hancur dihujani bom gunung api dari beberapa kali letusan. Fenomena lain yang tidak kalah menariknya adalah adanya lekukan di permukaan akibat jatuhnya bom gunung api. Masih tampak membekas dalam, lekukan itu yang dikenal sebagai bomb sag, bahkan masih memperlihatkan bongkah bomnya yang sedikit tergeser ke lereng lebih bawah. Sebuah bom setinggi 1 m dengan panjang-lebar 3 x 2 m, memperlihatkan lekukan bomb sag di belakangnya yang berdiameter lebih dari enam meter. Jelas, bom-bom itu adalah produk yang masih segar dari letusan awal September 2012.

Lekukan akibat jatuhnya bom gunung api (bomb sag) di lereng tenggara Anakkrakatau, produk lettusan 2 September 2012.

Ekskursi Anakkrakatau diakhiri keesokan harinya dengan mengamati produk-produk Krakatau praletusan 1883 di Pulau Sertung dan Pulau Rakata. Hamparan batuapung di pantai selatan Pulau Sertung yang mengambang di pantai bercampur sampah berbagai jenis dari bekas pelampung pancing, bola bohlam, sandal jepit, dan sebagainya, rupanya jadi perhatian sebagian peserta. Peserta dari Inggris terkagum-kagum mengamati satu bola bohlam yang masih utuh tidak pecah terseret ke pantai. Akhirnya, setelah dibawa berkeliling ke sisi utara Pulau Sertung yang memperlihatkan endapan awan panas 1883, dan dinding kaldera Pulau Rakata yang memperlihatkan korok-korok andesitis, mereka terpesona saat diberi waktu untuk snorkelling di lepas pantai Pulau Rakata.

Dari kesan-kesan mereka melalui surat elektronik beberapa hari setelah kembali ke negara masing-masing, mereka mengaku sangat puas atas pengalaman menjelajah Anakkrakatau pada ekskursi selama tiga hari itu. Ekskursi dimulai saat kedatangan pada 14 September 2014 dari Bandara Cengkareng langsung mampir di mercusuar Cikoneng, Anyer. Mengamati sisa puing-puing mercu suar lama akibat tsunami Krakatau 1883 seolah melupakan kelelahan akibat penerbangan subuh dari Yogyakarta. Sorenya menjelang istirahat di hotel, kunjungan ke pos pengamatan gunung api di Pasauran, tidak menyurutkan semangat mereka. Apalagi saat hari ke-2 dan ke-3 ketika mereka menjelajah Anakkrakatau, sama sekali tidak tampak wajah lelah.

Jelajah Produk Letusan Gunung Samalas, Rinjani

Semangat serupa itu berlaku juga bagi para peserta ekskursi ke Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hari pertama, peserta langsung di bawa ke satu singkapan endapan piroklastik yang sangat tebal hasil dari letusan sangat dahsyat ultra-plinian di Tanah Embang, dilanjutkan ke produk yang hampir sama di Lembah Sempage.

observasi malam demi arang (foto: Heryadi Rachmat)

Matahari sudah tenggelam ketika Heryadi Rachmat “memaksa” peserta untuk menutup hari pertama ekskursi ke satu lokasi di Punikam, Korleko, Lombok Timur. Para peserta yang sudah kelelahan tadinya tampak berwajah lesu. Namun saat menemukan singkapan endapan aliran piroklastik dengan kandungan arang sepanjang 2,5 m, mereka terpana. Bahkan wajah-wajah lelah sirna digantikan semangat untuk mengamati singkapan walaupun harus menggunakan senter karena hari sudah gelap. Dalam perjalanan kembali ke hotel, Profesor Komorowski mengirim pesan singkat kepada M. Nugraha Kartadinata: “Yes Pak Heryadi took us to a pdc on the beach at Prangabaya by night! Crazy and we have charcoal! See you soon.”

Profesor Komorowski dan rekannya seorang geografiwan dari Perancis, Prof. Franck Lavigne, adalah dua orang yang memperkenalkan ke dunia tentang sebuah letusan dari Rinjani yang diperkirakan lebih dahsyat daripada letusan Tambora 1815. Mengacu pada naskah lontar yang dibacakan kepada peserta ekskursi pada hari ke-3 dan ke-4 di Mataram dan Sembalun, letusan dahsyat gunung itu berasal dari Gunung Samalas, nama Rinjani lama, yang terjadi pada tahun 1257.
Sebelumnya pada hari ke-2 mereka menyaksikan endapan jatuhan piroklastik letusan 1257 tersebut di Nipah, utara Senggigi.

Endapan tebal dalam satu kali peristiwa letusan itu cukup meyakinkan bahwa letusan 1257 dari Gunung Samalas mestinya sangat dahsyat. Kekaguman itu dijumpai juga di singakapan aliran dan jatuhan piroklastik di Luk yang telah bercampur dengan endapan alluvial dari bahan yang sama. Bahkan di satu lokasi yang disebut Stasiun 9, peserta ditunjukkan fenomena letusan sekunder (secondary explosive). Letusan ini terjadi ketika massa awan panas yang bersuhu tinggi masuk ke

para mahasiswa Prancis bimbing Prof. Lavigne sedang sampling endapan piroklastik Samals (Foto: Heryadi Rachmat)

laut. Saat terjadi kontak panas dan dingin, letusan-letusan terjadi pada massa awan panas dan menghasilkan lapisan-lapisan endapan awan panas baru yang tersusun baik.

Memang ke Gunung Rinjani tanpa ke Danau Segaraanak merupakan perjalanan yang kurang lengkap. Akhirnya, ditemani M. Nugraha Kartadinata, kesepuluh peserta mendaki melalui jalur Senaru pada dua hari terakhir ekskursi di Rinjani. Sama seperti kesan-kesan mendalam peserta ekskursi ke Anakkrakatau, kesan-kesan yang sama tentang ekskursi ke Rinjani diterima panitia melalui surat elektronik (surel) setelah seluruh peserta kembali ke negaranya masing-masing.

Perjalanan di atas dua gunung api yang mencatatkan sejarahnya di atas Bumi ini, merupakan suatu kesan yang begitu terpateri di pikiran dan perasaan peserta ekskursi pascakonferensi CoV8, seperti kesan-kesan melalui surel yang diterima panitia kemudian. Bagi para pengamat kebumian, khususnya bagi geologiwan dan terutama vulkanologiwan, bagaimana pun memang harus menginjakkan kakinya terlebih dahulu di Krakatau atau Rinjani, atau gunung api lain yang bersejarah seperti Tambora atau Toba, sebelum ajal menjemput dan nyawa meninggalkan dunia fana ini. ***

Budi Brahmantyo adalah staf dosen di Prodi Teknik Geologi, FITB, ITB dan koordinator KRCB.
Heryadi Rachmat adalah peneliti di Museum Geologi Bandung, Badan Geologi.
Estu Kriswati adalah peneliti di Pusat Vulkanologi dam Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi

foto bersama di pantai utara P. Lombok (koleksi Heryadi Rachmat).